
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dua orang muncul di bangunan yang paling kanan. Mereka adalah para penjaga dan mulai menjaga di luar.
Salah satunya menguap karena mengantuk, dan berkata dengan sedikit malas, “tuan sangat malas! Kenapa dia masih tidur saja hari ini! Bukankah kita seharusnya melakukan rencana kudeta dan menjadi kaya raya.”
“jangan terlalu keras-keras, nanti tuan mendengar,” Ucap yang satunya lagi dengan nada lemah dan sedikit berbisik.
“biarkan saja. Telinganya mungkin sama malasnya dengan dirinya, bahkan suara sekeras ini tidak mungkin di dengarnya. Apa kau menyukai tuan pemalas itu?”
“kenapa aku harus menyukainya? Kau jangan berkata sembarangan. Aku masih normal.”
Berbagai pembicaraan mereka lontarkan dari jauh. Walaupun jaraknya jauh dari tempat Dira berada, dia dapat mendengar dengan sangat jelas apa yang di katakannya. Tapi sayangnya itu adalah pembicaraan yang tidak berguna.
Dira tidak bergerak, dia terus mengamati gerak-gerik mereka berdua. Walaupun dia bisa membunuh mereka berdua dengan cepat, tapi Dira tidak tahu seberapa kuat orang-orang yang ada di dalam sana, sehingga membuatnya sedikit takut.
Ya! Meski dia bisa mengalahkan tingkat surgawi sekalipun harus tetap waspada.
Hanya dua orang saja ada dari pengamatan Dira. Dia tanpa ragu-ragu mengerakkan jari-jarinya.
Dari belakang para penjaga muncul tentakel akar kecil. Perlahan-lahan bergerak menuju atas. Ketika berada di dekat dengan leher penjaga itu dengan cepat menusuknya.
Mereka seketika mati. Akar-akar yang menusuk menyangga mayat keduanya supaya tetap seperti menjaga. Mereka sebisa mungkin terlihat hidup dan berjaga-jaga.
Untung saja tindakan dira tidak mengundang keributan.
Sejenak mengamati, dira berjalan mengendap-endap sambil memperhatikan sekelilingnya.
Dia kemudian bersembunyi di samping pintu, tempat para penjaga berada.
Dia dapat mendengar suara nafas dari dalam, Yang menandakan ada seseorang.
Tanpa membuang waktu, dira langsung mengerakkan jarinya.
Tetapi, tidak terdengar suara jeritan di dalam.
Dira mengerutkan kening. Seharusnya dia sudah mati. Apa ada seseorang yang mengetahuinya?
Dira memilih diam. Dia tahu, jika bergerak, akan mengundang banyak masalah.
“Ah... Tamu tidak di undang datang.”
Suara Seorang pria paru baya terdengar dari dalam bangunan. Kemudian terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dan keluar.
Dira dengan cepat bersembunyi di balik gerbang. Ketika dia ingin membunuhnya, dia sudah tahu di mana tempatnya berada, dan juga tidak ada seorang pun di sana.
__ADS_1
Seorang pria paru baya akhirnya muncul. Dia tersenyum ke arah gerbang seperti sedang mengetahui Dira bersembunyi di sana.
“Tamu tidak baik jika bersembunyi seperti itu. Keluarlah...!”
Karena sudah ketahuan, Dira keluar dan menatap tajam ke arah pria itu.
“Kenapa kau ingin membunuhku?”
“seharusnya kau sudah mengetahuinya.”
Walaupun Dira menatapnya tajam, pria itu sebaliknya memberikan wajah yang ramah.
Pria itu menghela nafas. “aku tidak ada hubungannya dengan rencana yang mereka lakukan. Aku hanya ingin tidur sepanjang malam dan tidak melakukan apa-apa. Pergilah... Aku akan tidur lagi.”
Pria itu menghela nafas dan menguap sebelum berjalan menjauh.
“aku tidak percaya!”
Dira mengeluarkan kayu panjang dan melempar dengan cepat ke arah pria itu.
Tiba-tiba tatapan pria itu tajam dan mengambil kayu itu dengan dua jarinya dan berbalik.
“Nona, jika kau ingin bertarung, kau tidak perlu menyerangku diam-diam seperti ini.”
Pria itu bertepuk tangan, kemudian tiga bayangan hitam muncul di depannya.
Ketiga pria berpakaian hitam mengeluarkan energi alam mereka masing-masing. Mereka semua berada di tahap bumi menengah.
Walaupun mereka lebih lemah dari dira, dia tidak buru-buru mengklaim kemenangan berada di tangannya, sebaliknya, dia mengeluarkan kekuatannya.
3 akar-akar seperti tentakel muncul di belakang dira.
Tiga Pria di depan sedikit tersenyum setelah melihat kekuatan dira. Mereka sangat mengetahui apa saja kekuatannya sehingga membuatnya yakin, walaupun tidak bisa membunuh, setidaknya bisa mengurungnya.
Tiga orang itu langsung menarik pedangnya dan bergerak maju.
“kalian tangkap dia! Aku akan menahan akar-akar itu!” Ujar pria yang paling depan.
Dua pria di belakangnya mengangguk dan memulai bergerak maju mendahuluinya.
“Hmp! Kalian pikir, aku akan membiarkannya semudah itu!”
Akar-akar Dira bergerak maju menyerang dua orang yang paling depan. Kecepatannya sangat cepat, bahkan tidak bisa menandingi penglihatan dua orang itu.
__ADS_1
“Serahkan kepadaku!” seru pria di belakangnya melepas dua benang dengan batu di ujungnya.
Ketika melintasi dua ujung akar Dira, pria itu menarik keduanya secara bersamaan, membuat batu berputar-putar mengikat ujung akar dira kemudian berusaha menghentikannya.
Walaupun benang itu tipis dan mudah di patahkan, tidak di pungkiri, bisa menahan serangan dira.
Ekspresi terkejut terlihat di wajah Dira. Dia lalu melambaikan tangan kanan ke depan, membuat akar yang satunya lagi bergerak menyerang.
Ketika bergerak, akar itu pecah menjadi dua dan menyerah dua pria yang paling depan.
Dua Pria itu saling memandang dan mengangguk. Ketika akar itu berada satu meter darinya. Mereka berdua secara bersama-sama melompat dan berjalan di atas akar-akar itu.
“Kalian terlalu meremehkanku!”
Dira menjentikkan kedua jarinya, menyebabkan duri-duri muncul di akar-akar yang di lalui oleh dua orang itu.
Mereka lalu melompat dan mendarat di tanah, kemudian berlari mengarah dira.
Dira tersenyum dan menggerak-gerakkan jarinya, menyebabkan muncul puluhan cabang-cabang dari akarnya dan menyerang dua orang itu. Kali ini mereka tidak bisa menghindar lagi!
Walaupun terdesak, mereka tidak terlihat khawatir. Mereka saling pandang dan mengangguk, dan secara bersama- sama berseru, “ dinding tanah!”
Empat sisi mereka muncul dinding tanah dan melindungi mereka, bahkan di atas pun ada yang melindungi.
“Terlalu percaya diri,” ucap Dira meremehkan.
Bommm!!!
Sekali serangan, dinding-dinding itu hancur tanpa sisa. Sejenak Dira tersenyum, tapi setelah melihat mereka tidak ada di sana, membuatnya terkejut.
“Kami ada di sini!!” Ujar dua pria jubah hitam yang muncul dari belakang dira sambil melompat.
Mendengar itu, Dira tersenyum dan tenang, bahkan dia tidak menoleh sedikit pun. Samar-samar dia berucap, “terlalu percaya diri.”
Dua orang itu tersenyum dan menarik pedangnya, Namun seketika perut mereka terasa panas dan sakit yang mematikan. Mereka memandang perut, darah segar keluar dari dalam purut mereka, kemudian akar-akar keluar dari sana, merobek tubuh mereka.
Mereka berdua langsung mati di tempat.
Dira tersenyum dan menggerakkan jarinya, menyebabkan akar-akar itu melempar dua jasad mereka ke sembarang arah.
“m-mati?” teman yang satunya lagi terkejut. Dia tidak pernah menyangka, dua temannya harus merenggang nyawa hanya beberapa menit saja.
Namun dia lengah, akar-akar muncul di belakangnya, dan menusuknya dengan keras. Darah mengalir deras, mulutnya memuntahkan darah segar. Ekspresinya kini sangat pucat.
__ADS_1
“A-aku a-akan—”
Pria itu akhirnya mati sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya.