Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 28 kerja sama


__ADS_3

Dengan ekspresi dingin, anulika menjawab, “bukan, tapi datang untuk membunuhmu.”


Mendengar itu, pria gemuk itu tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai mengeluarkan air matanya. Air liurnya muncrat ke sembarang arah, rahangnya terbuka lebar. Beberapa detik tertawa, dia akhirnya berkata, “membunuhku? Dasar orang bodoh! Aku adalah salah satu kelompok bayaran, kau tahu, kan aku dari mana?”


Melihat itu, tidak ada perubahan apa pun di wajah anulika. “iya, aku mengetahuinya. Kau Adalah latif dari trio kesatria bayaran.”


“jika kau mengetahuinya, Kenapa kau masih ingin bertarung denganku!?”


“Aku tidak menginginkannya, tapi aku harus memeriksa gedung terbengkalai itu. Jika kau membiarkan kami memeriksanya, kami tidak akan bertarung denganmu.”


“Memeriksanya? Heh, kau pikir aku akan membiarkan kalian melakukan itu? Itu sama saja dengan membuatku rugi. Aku di sewa oleh seseorang untuk menjaga tempat ini. Jika kau dan teman-temanmu ingin selamat, maka pergilah, aku membiarkannya.”


Latif berbalik hendak pergi, tapi anulika menghentikannya.


“Maaf latif, meski kau di bayar, aku tidak punya pilihan lain, Selain melawanmu.”


Latif menghela nafas, lalu berbalik. “baiklah, jika itu yang kau inginkan, aku tidak punya pilihan lain.” Latif mempersiapkan 5 tongkat di sela-sela jarinya. Tongkat-tongkat itu berbentuk seperti cakar harimau. Tidak lupa juga, dia mempersiapkan cakramnya.


Aura dingin seketika terpancar dari tubuh anulika. Aura ini seketika membuat tumbuhan beberapa meter darinya membeku. Dia kemudian mengeluarkan serulingnya, lalu meniupnya dengan lembut.


“Teknik alunan seruling, sungguh teknik yang indah, namun mematikan.” Gumam Latif.


Perlahan-lahan dewi es terbentuk di udara. Kali ini tidak hanya tombak di bawanya, tapi juga pedang. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka, aura suci menyebar dari kedua matanya. Bersamaan dengan itu, aura dingin mencekam lagi-lagi menyebar.


Di punggung anulika muncul dua sayap yang indah. Di sekitar Anulika muncul beberapa tombak es yang melayang dan berputar-putar.


Melihat ini, latif tersenyum, lalu berkata, “kemampuanmu sungguh berkembang akhir-akhir ini ya, walau begitu, kau masih belum cukup melawanku.”


“Aku tidak mempedulikannya!”


Anulika melesat dengan mengambil salah satu tombaknya. Saat anulika melesat, dewi es pun ikut menyerang.


Di sisi lain, baik simo ataupun Namila terkagum melihat kemampuan anulika, mereka tidak menyangka anulika memiliki beberapa teknik kuat lainnya. Ini terutama terjadi pada namila yang tidak pernah melihat kekuatan anulika.


Anulika menyerang latif dengan mengayunkan tombaknya dari arah kiri, bersamaan dengan itu, tombak-tombak yang melayang juga ikut menyerang. Sementara di sisi lainnya, dewi es menyerang dengan serpihan-serpihan es tajam dan ikut menyerang dengan tombak dan pedangnya.


Walaupun di serang dari dua sisi sekaligus, Latif masih bisa menahannya. Latif dengan kecepatan yang tinggi menahan serangan anulika dan dewi es. Meski di bawah tekanan yang dingin, latif seperti tidak terlalu ditahan oleh kekuatan dingin anulika.


Latif menggunakan tongkat untuk menahan serangan anulika dan cakramnya untuk dewi es.


Anulika terus menyerang latif dengan tombaknya. Dia mengayunkannya ke kanan, kiri, atas dan bawah. Walau kecepatan anulika tinggi, Latif dapat menebak ke mana pun arah serangan anulika berjalan, dan begitu pun serangan dewi es.


“Hahah! Walaupun kalian bertarung bersama-sama melawanku, kalian tidak akan bisa mengalahkanku!” seraya mengatakan itu, latif terus menangkis serangan Anulika.


Tidak lama berlangsung, anulika dan dewi es melompat mundur, menarik nafas. Buih-buih keringat mulai berjatuhan, nafas Anulika tidak beraturan, hawa panas menyelubungi tubuhnya.


Melihat ini, simo berkata, “bantu dia namila.”

__ADS_1


“tapi....” Namila enggan membantu anulika, apalagi kini dia sedang menyembuhkan simo.


“Tenang saja, aku baik-baik saja. Kau bantu dia, meski tidak bisa mengalahkannya, kita bisa melarikan diri. Jika anulika kalah, maka kita tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.”


Walaupun enggan, Namila tetap menuruti perintah Simo. Lagi pula apa yang dikatakannya ada benarnya. Jika anulika kalah maka kemungkinan pergi dari sini hidup-hidup sangat mustahil.


Namila mengeluarkan pedang airnya, menoleh ke arah simo seperti mengisyaratkan sesuatu, lalu melesat menyerang Latif.


“hahahah! Tiga lawan satu.” Latif melayani namila dengan baik.


Melihat namila ikut dalam pertarungan, anulika mulai bertarung lagi.


Kini, tekanan dan lawan Latif lebih menekankan dari pada sebelumnya.


Anulika dan namila menyerang dengan teknik yang biasa-biasa saja, tidak terlalu kuat atau lemah. Ini dikarenakan, namila memerintahkan untuk menahan latif, bukan mengalahkannya. Itu dilakukan untuk memberikan waktu pada simo untuk berpikir melarikan diri.


Anulika menyetujuinya. Dia menyadari bahwa mereka bertiga tidak akan mungkin bisa mengalahkan Latif yang kuat.


Setelah melihat pertarungan masih seimbang, atau lebih tepatnya, latif bermain-main, simo memutuskan untuk pergi ke alam mimpinya untuk meminta bantuan kaisar pedang dan beberapa siren.


Walaupun dia masih tidak percaya dengan para siren, dia sudah tidak punya pilihan lain selain meminta bantuannya.


“Apa kalian bisa membantuku?” tanya simo saat berada di bawah pohon.


Para siren duduk di dahan-dahan pohon dengan anggun.


“apa kau ada masalah?” Anika ikut bertanya.


Simo mengangguk. “kini aku dan teman-temanku dalam bahaya, aku sangat memerlukan bantuan kalian. Apakah kalian bersedia membantuku? Aku akan memenuhi semua keinginan kalian, tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan itu, jika itu adalah perbuatan jahat.”


Mendengar itu, anika tertawa kecil. “ah... akhirnya kau meminta bantuan kami. Kami tidak akan meminta sesuatu yang buruk ataupun meminta yang lainnya. Untuk apa kami memintanya, jika itu sudah terpenuhi?”


Mendengar itu, simo terkejut. “bukankah kalian ingin pergi dari sini?”


“Itu dulu, tapi sekarang tidak. Baiklah. Apa yang bisa kami bantu?”


Sebelum simo menjawab, daria berkata, “kau terlalu hati-hati dengan kami. Kau terlalu tidak mempercaya kami. Jika kau terlambat ingin memerlukan bantuan kami, kami pasti tidak akan memberikannya. Tapi kau tepat waktu, katakanlah, kami akan membantumu.”


Simo pun menjelaskan apa yang terjadi.


“Baiklah, kami akan membantumu, tapi ini akan memerlukan energi alam kecil yang banyak, apakah kau mempunyainya?”


Simo dengan lemas menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak mempunyainya. Adakah cara lain untuk melakukannya?”


“simo, apa kau melupakan gurumu ini?” ucap Kaisar pedang dari belakang simo.


“Guru.” Simo menoleh.

__ADS_1


“Aku punya caranya, kau tenang saja.” Ucap Kaisar pedang lalu tersenyum.


*****


Setelah 50 serangan, Latif masih berdiri kokoh, seperti serangan namila dan anulika tidak ada efeknya.


Kini mereka menjaga jarak dengan Latif. Buih-buih keringat bermunculan di pelipis anulika dan namila. Keduanya basah kuyuh oleh keringat, yang paling parah Anulika, gadis itu basah seperti mandi.


Keduanya sama-sama kelelahan, Tapi yang paling parah adalah anulika, dia menggunakan energi alam kecil lebih besar dari Namila.


Setelah tarikan nafas kesepuluh, Namila berujar, “anulika! Apa kau bisa membekukan air?”


“tentu saja, tapi kenapa kau berkata seperti itu? Sejak dari tadi aku sudah membekukan beberapa airmu.”


“Dengarkan aku! Aku akan menyerangnya dengan air, kau hanya perlu membekukannya. Apakah kau mengerti?”


“jangan tanya! Aku mengerti.” Jawab anulika kesal.


Mereka tidak menyadari, jika rencana mereka sudah diketahui Latif. Walau begitu, Latif tidak menyerang ataupun ingin menggagalkannya, karena dia ingin melihat sampai mana batas kedua Gadis di depannya ini. Latif hanya tersenyum melihat diskusi mereka.


“sekarang!”


Namila melesat seraya menarik pedangnya. Saat dekat dengan Latif, gadis itu langsung mengayunkan pedang ke atas.


Tak!


Latif dengan mudah menahan serangan namila dengan tongkat kayunya.


“nona, kau tidak akan bisa menyerangku.”


“maaf paman, tapi bukan hanya ini saja seranganku.” Kata namila lalu tersenyum.


Mendengar itu, latif sedikit terkejut. Tapi, dia segera menyadari ada bayang air dari belakangan yang hendak menyerangnya.


“Heheh, ini hanya trik murahan.” Latif mengayunkan satu tangannya ke belakang, untuk menahan bayangan air namila.


Saat menoleh ke arah namila, bukan Namila yang berada di depannya, tapi bayangan air.


“Paman! Ini seranganku yang ke-tiga.”


Dari telapak tangan Namila muncul tentakel-tentakel air yang semakin panjang semakin besar.


Latif hendak menghindar, tapi tiba-tiba saja muncul beberapa bayangan air, yang memegang kaki dan tangannya.


Saat ingin menghancurkannya, tentakel itu sudah melilit tubuhnya.


“anulika sekarang!”

__ADS_1


“serahkan saja kepadaku!”


__ADS_2