
Dua orang itu tersenyum, seperti memperlihatkan kekuatan mereka kepada dira. Namun semua itu tidak bisa mengubah ekspresi dira sedikit pun. Dira terlihat biasa-biasa saja di hadapan mereka. Walau dia tahu mungkin saja dua orang di depannya adalah dua jendral hebat dan kuat, dia seperti tidak mempedulikannya.
Melihat ekspresi dira, kedua orang itu merasa sedikit kecewa, sehingga seseorang yang memegang palu dengan kasar menghantamkan palunya ke lantai.
Hantaman itu menimbulkan lengkungan acak di lantai. Membelah lantai yang indah itu dan membuat seperti karya seni jelek. Siapa pun akan menggelengkan kepalanya pelan karena tidak suka. Selain menghabiskan uang yang banyak, Disain lantai itu tidak mudah di buat.
Namun jika untuk pamer kekuatan, baik biaya atau kesulitan membuat tidak akan di lirik. Begitulah yang ada di dalam pikiran dua orang itu.
“Kalian jangan melakukan apa-apa.” Ujar Raja memerintah.
Seperti tidak memiliki sikap sopan sedikit pun, salah satu orang berujar, “memangnya siapa kau? Kau tidak lebih hanya boneka rakyat.”
Mendengar ucapan itu, raja tertegun dan terkejut. Dia tidak menyangka ucapan itu keluar dari mulut salah satu jenderalnya.
“maaf yang mulia, aku tidak tahan melakukannya.” Suara lembut dan menggoda terdengar dari belakang dua Jendral.
Perlahan-lahan seorang wanita cantik dengan gaun merah panjang keluar. Gaunnya sangat panjang. Di kedua sisinya dua pelayan menemani sembari membawa payung besar.
“kalian berdua bunuh dia, lalu dia.” Kata wanita itu seraya menunjuk raja dan Dira.
“Apa maksudmu?” Tanya Raja tidak percaya. Raja Terkejut dan heran setelah mendengarnya. Terlebih lagi wanita itu adalah selirnya.
Selain raja, wanita paru baya yang menyelamatkan raja dan beberapa prajurit ikut beraksi persis seperti raja, hanya saja mereka tidak bertanya.
“apa kau sudah tuli? Kau tidak lebih hanya boneka rakyat.”
“Bibi, kenapa kau berkata seperti itu?” tanya irina tidak percaya.
“aku tidak perlu menjelaskannya, yang pasti ini kebaikanmu dan ibumu.”
Mendengar ini, Irina bingung dan terlihat tidak mengetahui apa yang dikatakan bibinya itu.
Melihat itu, wanita itu tidak mempedulikannya. Dia dengan cepat memerintahkan dua jendral untuk membunuh raja.
Kedua Jendral itu mengangguk lalu melesat. Yang memakai palu dengan cepat meletakan palunya ke belakang lalu mengayunkan sekuat tenaga.
Palu itu memiliki panjang 5 meter dan memiliki berat 50 kilogram, sehingga apabila mengenai seseorang, sudah di pastikan akan kesulitan menghadapinya, apalagi jika itu orang bisa.
Bomm!!!
Suara ledakan terdengar kala palu itu membentur sesuatu. Sejenak orang itu tersenyum, tapi setelah melihat akar-akar menahan serangannya, membuatnya kecewa.
Dia lalu kembali. Menjaga jarak dan memandang dira kesal.
__ADS_1
Melihat putrinya melindunginya, raja menyesal mengasingkan putrinya itu. Bahkan dia pernah berpikir membunuhnya.
“kalian harus melawanku dulu.” Kata dira tenang.
Kedua orang itu melesat menyerang Dira.
...***...
“kenapa kau bisa ada di sini?” tanya simo kepada lasmaya yang tengah menikmati ikan bakar.
Lasmaya berhenti makan kemudian berkata, “ceritanya sangat panjang kak, tapi aku akan menceritakannya secara singkat. Setelah beberapa hari aku latihan, aku di berikan ibu untuk melihat dunia di atas tebing, tapi dengan syarat, aku harus kembali dalam dua jam. Di perjalanan itu, aku melihat dua orang manusia membawa barang yang aku berikan kepada kakak, jadi karena aku menduga mereka telah mencelakai kak, aku langsung saja membunuh mereka dan pergi mencari kakak.”
Mendengar itu, simo dan Namila menghela nafas. Walau mereka di jebak oleh Sakya dan wulin, mereka masih berharap mereka akan mendapatkan akhirnya yang baik.
“Kenapa kakak menghela nafas? Apakah udara di sini kurang baik?”
“Tidak, hanya saja, aku harus pergi secepatnya dari sini.” Jawab simo berbohong.
Lasmaya mengangguk lalu bertanya, “kakak, siapa orang yang bersama kakak ini?”
“dia Namila, temannku.”
“ohh..”
Simo beranjak berdiri lalu berolahraga sebentar.
“pergi ke mana?” tanya lasmaya.
“Aku harus pulang.”
“pulang? kenapa sebentar saja? Bukankah kakak baru saja datang?”
“Tidak, kakak sudah lama di sini dan sekarang sudah waktunya untuk pergi.”
Mendengar ini, ekspresi lasmaya sedikit pucat. Mungkin dia ingin simo lebih lama di hutan, tapi mau bagaimana lagi, jika simo memutuskan seperti itu, maka dia tidak dapat menolaknya.
Melihat itu, simo pun berkata, “Tenang saja gadis kecil, kita akan bertemu lagi.”
“iya, ini.” Timpa namila seraya memberikan bungkusan yang dia dapat dari ayu. Meski Namila tidak tahu isinya dan entah penting atau tidak dia tetap memberikannya. Dia tidak tega melihat lasmaya seperti itu. Walaupun pertemuan pertama mereka tidak baik, tetap saja dia tidak suka melihat lasmaya sedih.
“apa ini?” tanya lasmaya.
“hadiah.” Namila tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah, saatnya kita pergi. Terima kasih lasmaya, kakak akan selalu mengingatmu.”
Lasmaya mengangguk.
Namila dan simo lalu memecahkan Kristalnya. Sebelum namila dan simo benar-benar hilang, lasmaya berkata untuk tidak melupakannya. Dia berkata seraya melambaikan tangan dan tersenyum.
...***...
Setelah beberapa kali penyerangan, dua jendral itu akhirnya menyadari, Dira sangat kuat. Mereka berdua sampai kelelahan melawannya. Walaupun mereka belum menggunakan energi alam kecilnya, mereka sudah kelelahan terlebih dahulu!
Kini ada jarak antara Dira dan dua jendral itu.
Tanpa memberikan nafas, dira langsung menyerang dengan akar-akar beracunnya. Saat beberapa cm dari tubuh dua orang itu, akhirnya mereka memilih melompat. Namun, usaha mereka tidak berhasil, akar-akar itu tetap menyerang mereka.
Karena tidak ada pilihan, yang memakai palu dengan cepat mengeluarkan pusaran angin di sekitarnya tumbuhnya. Ini adalah energi alam kecilnya yang merupakan elemen angin.
Dengan raungan, orang itu berlari lalu mengayunkan palunya dengan sang kuat.
Bomm!
Ledakan pun terjadi saat palu itu berbenturan dengan akar-akar itu. Karena tekanannya kuat, akar-akar itu sedikit bengkok, tapi tidak ada tanda-tanda akan patah ataupun hancur.
Sementara dira fokus pada yang membawa palu, yang satunya lagi dalam sekejap mata muncul di belakang Dira. Dia mengayunkan pedangnya, tapi dengan cepat akar dari bawah muncul menghalangi serangannya. Yang membawa pedang tidak mundur, dia dengan cepat melapisi pedangnya dengan api lalu menyerang akar-akar itu.
Walaupun dengan api dan angin, itu belum cukup membuat akar-akar itu hancur, patah pun tidak.
Sebagai Seorang yang berada pada tingkat alam, tentu saja memiliki kekuatan yang dahsyat, tapi kini dua orang yang berada di tingkat itu belum bisa mendesak dira sedikit pun.
Walaupun Dira tidak pandai dalam bertarung secara langsung, dia bisa mengendalikan akar-akar dengan lihai, sehingga dia dapat bertarung dengan konsisten, memanfaatkan keahliannya itu.
Setelah beberapa kali berusaha meremukkan akar dira, akhirnya mereka memilih mundur.
Yang memakai palu lagi-lagi maju. Mengayunkan palunya secara acak dan sesekali mengeluarkan bola angin.
Beberapa menit berlangsung, akhirnya dia mengeluarkan panah angin, pedang angin dan hempasan angin. Namun semua serangannya tidak mempan.
Maka yang satunya lagi maju dan mengeluarkan teknik-teknik pedangnya. Mengeluarkan bola api, tebasan api, dan lain sebagainya. Tapi meski mereka berdua menyerangnya secara bersamaan, itu belum cukup membuat akar-akar itu hancur.
Mereka lagi-lagi Memilih mundur.
Sementara itu, ekspresi selir Yang sebelum percaya diri, kini terlihat khawatir dan cepat-cepat masuk ke dalam istana, sedangkan untuk raja dan beberapa orang lainnya merasa lega karena Dira membantu mereka.
Kedua tangan Jendra itu bersatu, lalu tekanan energi yang sangat kuat terpancar dari dalam tubuhnya. Energi api dan angin Perlahan-lahan berbaur satu sama lainnya. Itu adalah teknik gabungan!
__ADS_1