Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 6 siswa baru


__ADS_3

Pagi itu adalah hari pertama simo masuk ke akademi dan seperti siswa baru pada umunya, dia akan pergi ke kantor guna untuk mengetahui kelas mana dirinya akan masuk. Menurut informasi yang simo dapatkan, berkemungkinan besar dia akan mendapatkan kelas A atau B karena kemampuannya saat bertarung melawan Joshu yang terbilang luar bisa.


Saat jarak simo dengan pintu kantor tinggal beberapa meter, dia mendengar perdebatan yang sengit antara para guru. mereka seperti berdebat merebutkan siswa baru yang akan masuk, yang tidak lain adalah simo.


Mereka berdebat cukup panjang karena kepala sekolah memberikan kebebasan untuk menentukan kelas untuk simo dan tentu saja para guru itu akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan siswa yang di kabarkan dapat mematahkan pedang dalam sekali tebasan itu.


Jika mereka mendapatkannya maka reputasi kelas akan meningkat dan para wali kelas akan mendapatkan hadiah atau penghargaan dari pemerintah karena sudah memberikan kontribusi besar terhadap pertahanan kekaisaran.


Simo yang mendengarnya bingung karena dia tidak tahu jika kepala sekolah memberikan kebebasan untuk menentukan kelasnya. Karena di rasa situasi cukup tegang, simo memutuskan untuk diam sejenak guna mendapatkan informasi dan akan masuk jika situasi di rasa cukup tenang.


Yang paling sengit dalam perdebatan itu adalah wali kelas C yang tidak segan-segan mengeluarkan kekuatannya saat berdebat dan tentu saja karena wali kelas C ingin sekali memiliki siswa yang berbakat, mengingat semua siswa kelas C memiliki kemampuan yang rendah. Baginya itu adalah kesempatan yang harus dia perjuangan, meski harus dengan kekuatan.


Setelah sekian lama mereka berdebat akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan batu, kertas, gunting yang akhirnya di menangkan oleh wali kelas C.


Merasa dirinya menang, wali kelas C berteriak semangat dan tersenyum bahagia karena dapat memiliki salah satu siswa berbakat. Meski dia belum mengetahui seberapa kuat, bagaimana rupanya, lelaki atau perempuan, dia tetap bahagia.


Sementara itu semua wali kelas yang kalah terlihat tidak terlalu peduli, terutama wali kelas A, kai karena dia hanya ingin menguji kemampuan pedang simo, tidak lebih, sedangkan Hendry terlihat tidak peduli karena masih berada di tingkat kelas yang lebih tinggi. Bagi Hendry hanya satu orang saja.


Setelah di rasa situasi lebih tenang, simo menghampiri pintu kantor sekolah lalu mengetuknya beberapa kali dan mengucapkan salam, permisi lalu memasuki ruangan.


“Oh, ternyata kau ya, siswa baru yang jenius itu.” Ucap seorang wanita paru baya yang cantik dan merupakan wali kelas C.


“iya. Nama saya simo. saya ingin bertanya di mana kelas yang saya dapat?” ucap simo yang berbasa-basi. Meski dia mengetahui jika kelasnya sudah pasti kelas C, dia tetap bertanya, jika tidak maka dapat dipastikan dirinya akan dicurigai mendengar perdebatan mereka yang sengit.


“Kau bertanya kepada orang yang tepat. Mari ikut aku.” Ucap wali kelas C lalu berjalan.

__ADS_1


Simo langsung memberi hormat kepada kai dan Hendry sebelum mengikuti wali kelas C yang terbilang cantik itu.


Saat perjalanan menuju ruangan kelas, simo di hujani berbagai pertanyaan terkait ilmu pedang dan tingkat kultivasi dan tentu saja simo tidak akan menjawabnya dengan detail, karena dia masih ragu-ragu mengeluarkan semua hal tentang dirinya termasuk tingkat kultivasinya. Selain itu, wali kelas C juga memperkenalkan dirinya yang bernama klarika dan menyuruh simo memanggilnya bu klarika serta tidak usah bersikap terlalu sopan Karena baginya itu terasa aneh. Simo hanya mengangguk bertanda dia menerimanya.


Saat sudah mencapai ruangan kelas, Klarika langsung membiarkan simo untuk memperkenalkan diri sebagai siswa baru. Saat mendengarnya semua siswa terkejut karena seorang siswa, baru sekolah saat ujian akhir akan tiba.


“Apa kalian tidak suka?” tanya Klarika yang menyadari semua siswanya terkejut. Dia memperlihatkan ekspresi wajah yang tajam dan mengerikan seolah wajahnya yang cantik hilang tidak jejak.


“Tidak, tidak bu.” Ujar mereka serentak karena takut dengan Klarika yang galak dan tidak segan-segan menghukum mereka yang melakukan kesalahan, meski itu merupakan kesalahan kecil sekalipun.


Simo memandang klarika yang duduk di mejanya, dia ingin memberi isyarat, apakah dirinya boleh duduk yang dijawab anggukan dan senyuman manis. Senyuman itu membuat simo mengerti jika wali kelas akan bersikap baik kepada orang yang mempunyai kemampuan yang hebat. Dia juga mengerti jika klarika menegur murid-murid tadi, karena dia ingin membatu simo untuk bebas dari soal-soal yang memberatkannya dan merupakan tanda bahwa klarika pilih kasih.


Saat simo berjalan, semua tatapan tertuju padanya. Tatapan itu terlihat penasaran, bingung dan heran yang membuat simo tidak nyaman dan mempercepat langkah kakinya.


Setalah itu dia mengambil penggaris kayu yang ada di meja lalu di gunakan untuk menunjuk gambar peta itu. “Ini adalah gambar pulau sijiriah, sebuah pulau yang terletak di laut Utara kekaisaran gunung salju dan berseberangan dengan teluk mindanau, jadi pulau itu letaknya sangat dekat dengan daratan, akan tetapi.” Semua murid meningkatkan konsentrasinya termasuk simo meski dia tidak paham mengapa klarika menerangkan itu. “pulau itu memiliki portal-portal yang bisa membawa kalian ke ujung dunia sekalipun.”


Mendengar itu semua siswa menjadi takut kecuali simo yang sangat ingin bepergian dari kekaisaran gunung salju guna untuk meningkatkan kekuatan ataupun mencari identitas aslinya.


Klarika tersenyum menikmati reaksi para muridnya. Saat pandangannya menyapu semua murid, dia sedikit terkejut melihat simo yang terliat bersemangat, membuatnya senang karena sikap seperti itu akan lebih berkembang ketimbang takut.


“pulau itu adalah tempat latihan yang akan kita gunakan untuk persiapan ujian akhir dan aku ingin kalian semua harus ke sana dan semua siswa tidak boleh yang tidak ke sana, meski ada alasan peting ataupun tidak.” Ucap klarika bersama memukul papan tulis dengan ujung penggarisnya dengan keras yang membuat semua murid sedikit terkejut.


“bu, aku ingin bertanya, kenapa kita harus ke sana dan kenapa tidak di sekitar kota saja?” tanya salah satu gadis seraya menaikkan salah satu tangannya. Semua siswa mengangguk setuju kecuali simo.


“pertanyaan yang bagus, ibu ingin kalian cepat berkembang, setidaknya 3 bintang setelah kalian kembali dari sana. Ibu ingin sekali mengalahkan kelas B atau jika bisa kelas A dalam ujian kali ini. Meski kita kelas C, kita harus bisa mengalahkan kelas tertinggi sekalipun.”

__ADS_1


Mendengar semua itu, semua siswa tidak ada yang merespons dengan positif, karena mengalahkan kelas B saja sudah terbilang mustahil apalagi kelas A yang akan hanya menjadi mimpi saja sebab mereka semua sangat berbakat. Bahkan tingkat mereka yang paling rendah setara dengan tingkat tertinggi di kelas mereka.


“Apa kalian sudah menyerah sebelum bertanding?” ujar Klarika yang melihat semua wajah siswa muram.


Mendengar itu, semua siswa tetap muram.


Melihat itu, Klarika hanya bisa menghela nafas. “Baiklah, sekarang kalian semua cari pasangan masing-masing.”


Dalam beberapa menit akhirnya semua siswa mendapat pasangan kecuali simo yang merupakan siswa baru yang tidak mengenal siapa pun kecuali wali kelasnya sendiri.


“kau simo, ibu tidak bisa membantumu sekarang, jadi kau punya dua pilihan, yang pertama kau berlatih sendirian tanpa pasangan dan waktu latihan di perpendek atau tidak ikut dalam latihan kali ini.


Simo ingin menjawab, tetapi seorang dari luar dengan cepat mendahuluinya dan berkata bahwa dia akan menjadi pasangan simo.


Wali kelas mengerutkan keningnya. Dia penasaran dengan seorang pemuda yang ada di samping Pintu, setahunya dia tidak mendapatkan siswa baru lagi.


“ maaf bu, aku terlambat lagi.” Ucap seorang pemuda yang seperti seorang gadis.


“siapa kau?” ujar wali kelas.


“apa ibu lupa jika kemarin ibu memberikanku sebuah hadiah yang kata ibu sebagai hadiah selamat datang.” Ucap pemuda itu bersama mengeluarkan sebuah logo yang membuat wali kelas seketika terkejut.


“apa aku boleh masuk?” tanya pemuda itu seraya menyunggingkan senyuman maninya seperti gadis yang menggoda.


“i-iya.” Ucap klarika dengan ragu-ragu.

__ADS_1


__ADS_2