
“aku akan memberikan ini sebagai jaminan.”
Tangan dira perlahan-lahan bergerak mengambil jam pasir itu. Jam itu adalah sumber kekuatan Benito, jika dia tidak memilikinya mustahil dia bisa membunuh Putri Dhiya kharya, karena setengah energinya sudah terkuras, terlebih lagi dia tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk membunuh putri Dhiya kharya.
Tapi jika dia melakukan dengan pisau, dia tentu bisa melakukannya.
Dira tidak bertanya hal itu lagi, dia ingin mendapatkan jam pasir itu. Meskipun Benito licik, dia yakin, Benito tidak akan membunuh putri Dhiya kharya tanpa pertimbangan apa pun.
Jika sampai dia melakukan itu, itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri, karena dia tidak lagi memiliki tameng untuk melawan dira.
Ketika tangan Dira hendak mendapatkan jam pasir, Benito menarik tangan dan tersenyum.
Dira sedikit terkejut dengan hal itu. Ketika dia hendak berbicara, Benito memotongnya, “kau harus cepat melakukannya, jika tidak, aku tidak akan membuang waktu lagi untuk menggores kulitnya yang putih.”
Benito melempar jam pasir ke arah dira. Saat dira mendapatkannya, dia berkata, “kau bisa menggenggam kata-kataku.”
Meski dira terlihat dingin, hatinya kini sangat gembira. Dengan jam pasir berada di tangannya, cepat atau lambat dia bisa membunuh Benito sesuka hatinya. Dia tidak menyangka Benito bisa memberikan ini untuk membunuh rekan-rekannya. Ini adalah kecerobohan yang sangat besar yang pernah dia lakukan.
Tanpa membuang waktu, Dira langsung menghilang. Dia takut jika Benito menghentikannya.
...****************...
Ledakan pun terjadi di langit ketika panah Safia mengenai target. Api ungu sedikit hitam meledak di udara seperti kembang api ungu. Ledakannya membuat beberapa pohon langsung terbakar dan hangus. Asap tebal mengepul ke atas, seolah ada kebakaran hutan.
Safia tersenyum dengan serangannya. Walau belum tentu mengenai musuh, dia yakin, setidaknya musuhnya akan terluka karena serangannya.
Baron yang memperhatikannya sedikit mengerutkan kening. Dia tentu khawatir dengan bawahannya. Walaupun dia yakin tidak semudah itu mengalahkannya, dia mempunyai perkiraan besar, serangan Safia membuat bawahannya terluka.
Setelah asap menghilang, Pria berjubah masih bisa terbang melayang, tapi beberapa pakainya robek-robek dan terbakar. Siapapun akan mengetahui jika dia kini sedikit marah dan mengerutkan kening karena heran.
Bagaimana pun juga Safia masih Kecil, serangan seperti itu sangat mustahil di keluarkan, bahkan pelindung apinya kesulitan untuk menahan serangannya.
Dari serangan itu, siapapun akan tahu api Safia lebih kuat dari api pria berjubah, jika tidak, panah Safia tidak akan mengenainya.
__ADS_1
Pria itu marah karena baru hari ini dia di lukai oleh seorang gadis kecil yang sedang belajar. Hal itu membuatnya geram. Jika orang lain mendengarnya lima lawan satu dengan kekalahan lima, itu sangat memalukan, di tambah musuhnya adalah seorang gadis kecil.
Pria berjubah menghilang seperti hantu. Dalam sekejap mata, dia muncul di belakang Safia.
Safia terkejut, tapi dia dengan refleks mengeluarkan pedang air dan mengayunkan ke belakang sedikit ke atas. Pedang air dan Pedang api bersentuhan, menimbulkan suara yang khas.
Kemudian pria berjubah menghilang dan muncul di lain sisi dengan gerakan yang sama.
Sementara itu, baron mengerutkan kening dan keheranan. Gadis kecil di depannya lebih jauh lagi dari pada di sebut jenius. Gerakannya sangat cepat dan momentum yang dia lakukan sangat tepat, bahkan dengan sepersekian detik seperti itu!
Selain itu, tubuh fisiknya juga sudah lumayan seperti di miliki pria dewasa normal. Kemudian kemampuannya mengeluarkan elemen juga sangat lihai. Dia seolah bukan gadis kecil yang selalu di lindungi ibunya.
“Jika seperti ini, aku harus terjun bersama.”
Baron melambaikan tangannya ke depan. Pedang-pedang angin muncul di sekitarnya. Pedang-pedang itu berwarna biru dan sangat mengkilap. Ini adalah salah satu elemen angin terkuat, elemen angin biru.
Walaupun ini tidak adil, melawan Safia, di medan perang tidak ada adil dan tidak adil, hanya ada bertahan atau gugur.
Baron kemudian menggerakkan tangannya ke depan. Lima pedang angin bergerak dengan kecepatan tinggi mengarah Safia.
Safia terkejut dengan serangan mendadak seperti itu, tetapi dia bisa menghindarinya dengan melompat-lompat mundur.
Namun sayang sekali, dia kehilangan fokus terhadap pria berjubah. Pria itu memanfaatkan kesempatan itu, dia muncul di belakang Safia dan mengayunkan pedang apinya.
Pertama Safia bisa menahannya, Tapi kedua, dia harus membiarkan tubuhnya di gores-gores pedang. Di udara dia berteriak kesakitan seiring pria berjubah menyerangnya.
“ini adalah balasanku!” ucap pria berjubah dan terus menyerang.
Baron tersenyum menyeringai. Kemungkinan besar Safia akan jatuh ke tangannya.
Setelah gerakan ke sepuluh, pria berjubah melompat mundur seiring tubuh Safia terjatuh.
Pria itu tersenyum. Akhirnya dia bisa membalas perlakuannya.
__ADS_1
Namun, ini belum selesai. Safia perlahan-lahan berdiri. Wajahnya sangat marah dan di penuhi kebencian. Energi alam kali ini terpancar lebih besar dan kuat.
Baron mengerutkan kening, dia heran apa saja lagi kemampuan gadis aneh di depannya. Baginya kekuatan ini sudah tidak masuk akal. Sebelum Safia mulai melancarkan serangannya, baron berteriak kepada pria berjubah, “cepat! Buat dia pingsan! Kita akan lebih sulit untuk mengalahkannya lagi!”
Setelah mengatakan itu, baron melesat ke udara. 10 pedang angin biru muncul di belakangnya dan langsung mengarah Safia.
Kecepatan, kekuatan dan besar pedang itu lebih besar dari pada sebelumnya. Ketika bergerak, akan menimbulkan suara aneh dan melengking. Tidak hanya satu, melainkan 10 pedang melesat.
Pria berjubah mengerti, dia lalu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah Safia. Kemudian muncul pusaran angin dan semburan api yang sangat besar. Pusaran dan api itu tidak bergerak lurus, melainkan bergerak saling berlawanan; api ke kiri sementara angin ke kanan. Serangannya itu di tunjukan untuk menyerang kedua sisi samping Safia.
Dengan tatapan marah, dan kebencian di hatinya, Safia berkata, “beraninya kalian menyerangku seperti itu! Aku tidak akan memberikan ampun kepada kalian!”
Setelah mengatakan itu, Safia mengarah kedua telapak tangan ke samping. Dari sana muncul tentakel api ungu berbentuk tangan, yang semakin panjang semakin besar.
Selain itu, di belakangnya muncul tentakel api ungu, yang merambat ke atas. Kemudian pecah menjadi sepuluh, menyerang pedang-pedang angin dan mengikatnya.
Booommmm!!!!
Ledakan angin terjadi ketika semua tentakel itu menghalangi semua serangan. Menahan tiga serangan secara bersamaan, adalah hal yang sulit, di tambah semua kekuatan serangan sangat kuat.
Buih-buih keringat mulai membasahi tubuh Safia. Tangan dan kakinya mulai gemetar karena mulai tidak tahan dengan serangan yang menerjang. Perlahan-lahan semburan api dan angin mulai bergerak maju. Begitu pun juga dengan pedang-pedang angin yang mulai bergerak.
‘aku tidak bisa menahannya lagi.’ Batin Safia sambil menahan sekuat tenaga.
Baron tersenyum setelah melihat Serangannya mulai berhasil. Ternyata tidak sekuat yang dia kira. Dengan tersenyum menyeringai dan penuh kebahagiaan di dalam hatinya, dia berucap, “sebentar lagi, aku akan mendapatkan anak buah baru yang sangat kuat.”
Setelah dia berkata, akhirnya semua pertahanan Safia hancur. Pedang-pedang angin, api dan pusaran angin menyerang Safia.
Walaupun kekuatannya terlihat sangat kuat, Baron dan pria berjubah tidak memaksimalkan efek serangannya, mereka hanya menginginkan Safia pingsan dan terluka.
Teriakan kesakitan terdengar setelah semua serangan di arahkan, menimbulkan ledakan api, angin di sekitar Safia.
Baron dan pria berjubah tersenyum dan tertawa mendengar jeritan itu.
__ADS_1
Namun hal aneh tiba-tiba terjadi.