Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 32 pergi ke ibu kota


__ADS_3

“tidak!” Naria maju ke depan dan menghalangi simo bergerak maju. “aku tidak akan membiarkannya! Meski kau sudah pulih, aku tahu, tidak semudah dan sesingkat itu untuk pulih. Kali ini tolong kau jangan pergi. Biarkan saja aku yang memeriksanya, kau beristirahat saja di sini!”


“setelah melihat situasinya, aku akan datang lagi dan melaporkannya.” Lanjut Naria.


Simo memandang bingung Naria. Gadis di depannya ini sangat terlalu mengkhawatirkannya. Dia mulai lebih yakin gadis di depannya adalah namila.


“kau tenang saja, aku bisa mengatasinya.” Simo memegang tangan Naria dan menggesernya ke samping, dan berjalan melintasinya.


“kakak, ayahku sangat kuat, kakak tenang saja.” Safia menyusul ayahnya.


“Tidak! Aku bilang tidak!” Naria berlari dan menghadang Safia dan simo dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin simo pergi.


“apa kau lupa dengan janjimu!? Kau pria kurang ngajar!”


Simo tertegun mendengar ucapan Naria. Dia ingat pernah berjanji dengan namila tentang hal itu. Namila sangat mengkhawatirkannya, sehingga harus menagih janji kepadanya.


“tidak. tapi hari ini namila tidak ada, jadi aku menepatinya atau tidak, itu tidak akan apa-apa. Aku juga bisa mengatasi hal seperti ini, jadi bisa di katakan aku menepatinya. Waktu itu, dia bilang jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak pernah memaksakan diri. Aku menjadi heran mengapa kau bisa mengetahuinya? ” Simo ingin menggali lebih dalam informasi dari Naria. Dia berusaha tidak terlihat terkejut dengan apa yang di katakan Naria.


Naria tidak menjawab pertanyaan simo.


“Jika kau takut akan terjadi sesuatu, diamlah di sini, dan tunggu aku kembali.” Simo berjalan melintasi Naria yang memperlihatkan ekspresi terkejutnya.


Safia tidak peduli dengan ekspresi Naria, dan mengikuti simo.


“apakah kau tega tidak mendengarkanku?” ucap Naria dengan nada sedih, memandang simo dan Safia menjauh. Tapi Simo dan Safia tidak mempedulikannya.


“jika kau ingin pergi, maka pergilah! Aku tidak peduli denganmu lagi!” Dengan perasaan kecewa di hatinya, Naria berlari.


Ketika langkah ke sepuluh, simo dengan cepat menggunakan teknik lauthing linght dan muncul di depan Naria.


“Kenapa kau menghentikanku? Cepat pergi! Aku juga akan pergi. Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita!” Naria berjalan berpapasan dengan simo. Saat itu dia berbisik, “kau tidak akan pernah menemukanku lagi.”


Naria hendak berlari, tapi simo menggenggam tangannya. Dia tidak pernah menyangka dengan berkata seperti itu, Naria bisa semarah ini dam mengancam akan tidak pernah bertemu dengannya lagi.


“Apa kau Namila?”

__ADS_1


“kalau iya memangnya kenapa!? Kau tidak menepati janjimu!”


Naria menarik tangannya dan pergi.


Simo menghela nafas. “Baiklah, aku tidak akan bertarung lagi, dan akan mengamati saja.”


Naria berhenti. “aku tidak percaya. Kau selalu melanggarnya!”


“mungkin ibuku dalam bahaya, aku tidak mungkin meninggalkannya. Oleh karena itu, aku harus melihat situasi di ibu kota.”


“Ibumu??” Naria berbalik dengan wajah bertanya-tanya.


Simo mengangguk. “apakah kau melarangku memenuhi tugasku?”


“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi!?” Naria mendekati simo. “apa kau sengaja membuatku marah? Huh, aku tidak menyukainya.” Naria memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Jika aku memberitahumu, kau tidak akan mengungkapkan identitasmu selama ini.”


“Soal itu ...” Naria menunduk dan kemudian mengangkat wajahnya. “aku ingin memberitahumu nanti. Ingatanku belum sepenuhnya kembali. Baiklah, jangan di pikirkan, ayo kita pergi ke ibu kota. Ingat, kau jangan memaksakan diri, jika kau melakukannya, kau tidak akan pernah melihatku lagi.”


Setelah mengatakan itu kepada simo Namila memandang Safia yang terlihat bingung dengan semua yang terjadi. “Safia, ayo ke sini. Kita akan pergi ke ibu kota. Kita lihat apa yang terjadi. Kakak harap semuanya akan baik-baik saja.”


“simo, namaku sudah berubah, aku adalah putri Naria, jadi kau tidak boleh macam-macam denganku. Jika kau melakukannya, maka bersiap-siaplah untuk di hukum.”


Simo mengangguk.


“baiklah ayo kita pergi!” seru Naria dan mulai berjalan sambil menggandeng tangan simo dan Safia.


Dengan demikian, rombongan simo bisa pergi dengan lega. Sepanjang perjalanan mereka tidak bercakap-cakap sedikit pun. Mereka saling memiliki ruangan pribadi mereka masing-masing.


Dan selama itu, kota menjadi sepi, hanya terdengar teriakan-teriakan pertarungan dari jauh. Simo berhenti sebentar di atas bangunan. Dia memicingkan mata berusaha melihat apa yang ada di langit.


“ibu. Bertahanlah, aku akan datang.”


Setelah melihat ibunya sedang bertarung sendirian, simo memutuskan untuk bergerak lebih cepat. Dia khawatir ibunya terluka oleh 9 orang itu.

__ADS_1


Meski terlihat ibunya masih bisa menahan serangan-serangan, simo tau, sulit untuk mengalahkan sembilan orang sekaligus.


Setelah berlari cukup jauh, mereka akhirnya tiba di depan gerombolan para prajurit.


“simo, kita sepertinya sulit untuk maju lagi. Prajurit itu terlihat aneh dan mengeluarkan aura pembunuh yang sangat tinggi. Kita harus berhati-hati dengan mereka,” lapor Naria sambil menunjuk puluhan prajurit di hadapan mereka sedang berlari menuju arah mereka.


“Aku tahu. Aku bisa menggunakan teknik lauthing linght untuk sampai lebih cepat. Apa kalian tidak apa-apa jika berada di sini?”


“Ayah! Aku akan membunuh mereka tanpa sisa. Tidak ada yang kubiarkan selamat!” ujar Safia. Gadis itu bersemangat ketika menyadari ada musuh yang tidak terlalu kuat dan lemah.


“Tidak apa-apa, asalkan kau selamat dan tidak memaksakan diri.” Naria menghela nafas. “ Jika aku memiliki pengetahuan tentang kekuatanmu lagi, mungkin aku bisa menolongmu lagi.”


“tidak apa-apa aku bisa mengatasinya. Aku berjanji tidak akan memaksakan diri.”


Simo menghilang dengan cepat di depan Safia dan Naria.


“Safia, apa kau siap melawannya?”


“tentu saja kakak! Meski kekuatanku belum pulih sepenuhnya, aku masih bisa mencincang para prajurit aneh itu.”


“Huh, kau tidak seperti anak lainnya, tapi tidak apa, aku menyukainya. Safia, mari kita bertanding! Siapa yang paling banyak membunuh musuh!” ketika mengatakan itu, Naria melesat maju.


“Kakak! Kau curang! Ini tidak adil!!” Safia menyusul.


...****************...


Setelah menggunakan teknik lauthing linght, simo akhirnya mendarat tidak jauh dari lokasi pertarungan orang-orang akademi. Dia prihatin dengan mereka semua yang sudah kelelahan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka.


Simo memandang pertarungan di atas. Menurutnya, semua orang itu berada di tingkat alam. Dengan kekuatannya sekarang setidaknya, dia bisa membunuh satu orang darinya, dan meringankan beban Ibunya.


“guru, apa kau memiliki sedikit kekuatan?”


“uhmm, hanya sedikit, tapi untuk apa?” dengan sedikit kekuatan yang di punyainya, Kaisar pedang tidak mengetahui apa yang terjadi di luar, dia fokus memulihkan diri, tapi dia mengetahui tingkat kultivasi orang-orang di luar.


“aku ingin membantu ibuku. Dia sekarang melawan 9 orang sekaligus, aku takut ibuku terluka.”

__ADS_1


“dasar bodoh! Dengan kekuatanmu sekarang, mungkin kau bisa membunuh satu orang, tapi bagaimana caranya kau bisa lolos dari yang lainnya? Mereka akan mengetahui keberadaanmu jika kau melakukan itu. Jangan remehkan kekuatan orang yang berada di tingkat alam.”


“guru, kita tidak berada di dalam hutan; kita kini berada di dalam kota. Di bawah, orang-orang sedang bertarung dengan para prajurit. Asalkan kita bisa melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan melakukannya di dekat orang-orang yang bertarung, aku yakin mereka akan kesulitan mencari keberadaanku, dengan seperti itu aku bisa lari.”


__ADS_2