Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 55 menara


__ADS_3

Anulika di seberang memandang mereka. Tentu dia iri dengan perlakuan sepasang kekasih di depannya, tapi dia berusaha untuk bersikap seperti biasa. Dia kemudian berkata, “aku telah di bunuh olehnya.”


Anulika memandang api biru di depannya, mengamati setiap percikan-percikan api yang melayang.


Simo yang mendengarnya, menoleh.


“apa dia memang adikmu?”


Anulika mengangguk pelan. “tapi bukan jiwa aslinya. Andai aku tahu itu dari awal, aku pasti akan lebih hati-hati. Namun...” kini wajah anulika redup, kedua alisnya menurun, bibirnya sedikit ke depan. “itu sudah terjadi. Tapi...” dia terlihat marah sekarang. “Aku tidak akan melepaskan orang yang telah berani menggunakan tubuh adikku.”


“Aku mengerti.” Ucap Simo singkat.


Sebenarnya, dia mempunyai beberapa pertanyaan untuk di tanyakan kepada Anulika, tetapi dia sadar bukan waktunya untuk itu, bukan hanya sekarang, tapi untuk selamanya. Dia takut jika bertanya seperti itu, itu akan membuat anulika marah.


“setelah ini, apa yang akan kau lakukan?” lanjut simo.


“kau ikuti saja.” Jawab anulika singkat lalu pergi ke luar.


Simo memandangnya dari jauh, dia dapat merasakan kesedihan di dalam hati anulika, namun dia tidak dapat melakukan apa-apa, hanya orang terdekat yang bisa membantunya sekarang.


Simo memindahkan kepala namila dengan lembut, lalu mencari selimut yang sebelumnya dia persiapkan. Lalu menyelimuti namila dengan lembut. Ketika melakukannya, terdengar suara dari mulut namila, sepertinya dia sedang bermimpi indah.


Simo lalu duduk dan mempersiapkan pedangnya untuk berjaga-jaga.


...****************...


Butiran-butiran salju lembut melayang-layang di udara lepas, membiarkan dirinya di main-mainkan oleh sang angin yang tak berwujud itu. Di tengah-tengah salju yang menari, terdengar deru angin yang sedikit pilu, Seolah itu adalah tangisan seseorang.


Anulika berdiri di mulut gua, pandangannya menyapu hamparan kelap-kelip lampu jauh di sana. Kedua matanya mengandung kekosongan ketika dia melihat, seolah Pandangannya jauh ke depan, tapi pikirannya jauh ke belakang.


“kakak, ini adalah kue untuk kakak.”


Seketika dia mendengar suara lembut dan ceria dari belakangnya. Dia berbalik.


“kakak, selamat ulang tahun.”

__ADS_1


Seorang gadis cantik menyodorkan kue Kepadanya. Senyumannya sangat lembut, seperti api yang hangat dan air yang dingin.


Anulika tersenyum, lalu meniup lilin di kue tersebut. Saat meniupnya, gadis itu perlahan-lahan menghilang, seolah di sapu oleh angin yang keras.


Anulika berteriak dan ingin menggapainya, namun sayang sekali dia tidak bisa.


“Azka!”


Dia berteriak ingin mencari keberadaannya, namun dia tidak ada.


“hanya ilusi.”


Dengan kekecewaan di wajahnya, Anulika berbalik dan kembali melihat hamparan salju di depannya.


Tidak berselang lama, dia tiba-tiba merasakan kehangatan dan kelembutan dari belakang, seperti seorang sedang memeluknya. Dia menoleh ke bawah. Sepasang tangan kecil yang kotor saling mengait di pinggangnya. Tangannya halus, ada sedikit goresan di sana, warnanya putih dan sedikit kekuningan.


“kakak, aku akan kembali.” Kata seorang gadis. Nadanya sangat pilu. Dia menangis. Dia lalu menyandarkan kepalanya di atas punggung Anulika dengan lembut.


Anulika perlahan-lahan mengerakkan tangannya menyentuh sepasang tangan itu. Namun saat beberapa cm darinya dia berhenti.


Di hamparan salju itu, dua orang perempuan saling melepas rindu, yang satu ilusi dan satunya lagi nyata.


...****************...


Keesokan harinya, mereka mulai melakukan perjalanan lagi. Anulika seperti biasa akan menjadi komandan untuk menunjuk jalan. Dia terlihat dingin dan tidak berkata apa pun sepanjang perjalanan.


Bebatuan dan kerasnya es serta salju, membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Di tambah dengan kemiringan yang cukup curam, membuat mereka tambah kesulitan.


Hal ini terutama terjadi kepada simo dan namila. Namun, untungnya mereka saling membahu dan menolong.


Tentu saja, di mana pun ada kesulitan di situ pasti ada sesuatu yang indah dan membahagiakan, mereka dapat melihat pemandangan yang indah dari ketinggian tersebut. Itu sebuah pemandangan yang sangat indah dengan deretan pegunungan dan pohon-pohon cemara yang tinggi dan di selimuti salju. Di langit tersebut, simo dan namila dapat melihat awan-awan putih seperti kapas terbang, yang jumlahnya sangat banyak, layaknya hamparan kapas.


Selain karena sulit untuk di daki, mereka tentu tahu bahaya lain yang mengancam mereka dari atas. Tentu saja itu tidak lain adalah longsor salju yang kadang-kadang terjadi dan sangat berbahaya.


Hal ini tentu saja akan menjadi lebih mudah karena simo dan Namila dapat menggunakan kekuatan mereka untuk menyelamatkan diri. Tapi, jika itu orang biasa, maka presentase mereka selamat kemungkinan sangat kecil.

__ADS_1


Alasan mereka tidak menggunakan kekuatan mereka untuk mendakinya, karena anulika terlihat tidak akan mau melakukannya, entah apa alasannya.


Mereka ingin bertanya, namun anulika seperti memiliki suasana yang tidak baik. Hal itu terlihat ketika mereka bertanya beberapa pertanyaan saat di gua, yang tidak dia gubris sedikit pun. Sebaliknya, dia hanya memerintahkan untuk mengikutinya.


Waktu berlalu sangat cepat. Akhirnya rombongan Anulika tiba di atas perbukitan itu.


Seraya mengusap keringat di dahinya, simo dan Namila terkagum dengan pemandangan yang ada di balik pegunungan tersebut. Mereka tanpa sadar sedikit membuka mulut dan tertegun sejenak melihatnya.


Bukan soal pemandangan, tapi sebuah menara yang tinggi dan melayang dengan 8 rantai sebagai penyanggahnya, Seolah bangunan itu hendak terbang.


Di atas menara tersebut ada patung Wanita yang berdiri memegang tongkat dengan ujung berbentuk bintang. Satu kakinya menyentuh atap menara dan satunya lagi sedikit di tekut ke belakang.


“kita harus cepat.” Ucap Anulika dingin, lalu melompat di rantai tersebut.


Saat hendak berlari, suara feminin yang menarik terdengar.


“Akhirnya kalian datang.”


Butiran-butiran salju muncul, lalu bersatu membentuk kaki, tangan lalu tubuh. Seorang gadis berdiri di salah satu rantai dengan anggun. Angin kencang meniup-niup gaunnya yang indah. Dia mirip Azka, dan merupakan orang yang sama ketika simo hadapi di alam mimpi Azka. Namun, ada sedikit perubahan di wajahnya. Dia memiliki warna mata yang berbeda. Di kanan berwarna hijau dan kiri berwarna biru es.


Kedua sudut bibirnya bergerak saling berlawanan, lalu ke atas. Dia tersenyum jahat seraya melihat Anulika, simo dan Namila berdiri memandangnya.


“Sudah aku duga kau akan kemari,” katanya kepada Anulika yang masih menatapnya dengan tajam.


“hari ini, aku pastikan akan membunuhmu.” Saat mengatakan itu, orang yang mirip Azka itu mengangkat salah satu tangannya. Energi dingin meledak, menimbulkan gelombang di sekitarnya, bersama dengan itu juga, beberapa rantai berbunyi dan gunung-gunung di sekitar longsor.


Perlahan-lahan muncul es tepat di atas tangannya. Es itu berwarna biru cerah dan ramping, bulat seperti tanaman akar. Bergerak, menelusuri telapak tangan Azka, lalu ke bawah, melilit tangannya, kemudian ke bawah lagi.


Lalu dengan cepat, es itu melilit tubuhnya, nyaris tidak tersisa, kecuali wajahnya. Rambutnya juga mengeras, dan sangat tajam. Bulu-bulu halus di tubuh mencuat ke luar seperti bulu babi.


Dan terakhir, di tangannya muncul sebuah tongkat yang panjang dan ramping. Dia lalu mengarahkannya ke arah anulika, simo dan namila. Saat di arahkan gelombang kuat terdengar dan membuat simo, namila dan anulika tertekan.


“sekarang aku tidak akan membiarkanmu lolos,” katanya Seraya mengarahkan tombak itu.


Anulika memandang tajam ke arahnya yang memiliki wujud seperti itu. Ada rasa marah dan benci kepada orang yang telah merasuki tubuh adiknya dan memanfaatkannya hingga di titik ini.

__ADS_1


Dengan wajah marah, Anulika mengeluarkan seruling dan mengeluarkan dewi esnya. Kali ini, dewi esnya lebih besar dan kuat. Ini tidak lain adalah teknik terkuatnya saat ini.


__ADS_2