
Saat melesat, keduanya memiliki aura yang begitu kuat. Bahkan Herry, sebagai seorang jendral dapat merasakan tekanan yang begitu kuat tersebar dari tubuh simo. Apalagi saat simo melesat, aura biru perlahan-lahan muncul dan berbaur dengan aura hitam itu.
Tidak beberapa lama terdengar suara tombak dan pedang saling berbenturan.
Sementara itu, di dalam alam mimpi, kaisar pedang mengerutkan keningnya. Dia heran dan bingung, mengapa simo bisa memiliki kekuatan sekuat ini. Walaupun kaisar Pedang tidak melihat pertarungan, dia dapat mengetahui apa yang tengah terjadi di luar.
Dia berdiri, lalu memandang langit yang penuh dengan awan-awan hitam, seperti akan ada badai besar terjadi, tetapi anehnya tidak ada kilatan-kilatan Petir yang terlintas. Selain itu, jika memang akan ada badai seharusnya buih-buih air sudah berjatuhan.
“Aneh.” Katanya.
“hemm, seharusnya ini bukan bertanda baik.” Gumam kaisar pedang. Dia ingin terbang, tetapi rumput di sekitar kakinya memanjang, lalu mengikatkan tangan dan kakinya.
“apa ini.” Kaisar pedang berusaha melepaskannya, tetapi rumput itu terlalu kuat. Dia akhirnya menggunakan ribuan tebas tidak terlihat untuk memotongnya.
“apa sebenarnya ini.” Gumamnya seraya melihat rumput di tangannya, yang tidak tergores sedikit pun.
Kembali ke simo, dia dengan brutalnya mengayunkan pedangnya. Kedua matanya terlihat kosong, seperti tidak ada kehidupan sedikit pun.
Setiap ayunan yang dia lakukan, itu sudah cukup membuat Herry kesulitan untuk melawannya. Jika sebelumnya Herry dengan mudah mengalahkan simo, maka sekarang berbeda.
“anak ini Monster.” Batin Herry seraya berusaha melawan simo. Walaupun aura merah yang terpancar di dalam tubuhnya sangat kuat, itu masih seimbang dengan simo.
Karla dan beberapa siren lainya terlihat kagum dengan simo. Mereka tidak henti-hentinya memandangnya seraya bertanya, dari manakah dia berasal.
Untuk namila berbeda, dia terlihat takut dan tidak henti-hentinya berdoa. Namila tahu apa arti aura dan tatapan kosong simo. Saat seperti itu dia akan tidak terkendali, dan hanya kasih sayang yang bisa menyadarinya sekarang.
Bommm!
Baik simo maupun Herry terpental, lalu membentur dinding gua. Di antara mereka tidak ada yang tidak membuat lubang di gua.
“Bajingan!” pekik Herry seraya mengusap darah di bibirnya. Walaupun benturan itu tidak membuat dampak yang fatal, itu membuatnya marah dan sangat marah.
Simo perlahan-lahan berdiri dan melompat ke bawah. Dia perlahan-lahan memandang Herry yang sudah melayang.
“Bocah! kau sungguh hebat, tapi akulah yang akan keluar sebagai pemenangnya! Hahahaha!” dengan cepat Herry menggigit ibu jarinya. Saat itu, keluar aura merah darah dengan cepat ke atas, seperti nyala api.
Tidak beberapa lama aura itu seketika menghilang.
__ADS_1
“Lihat ini.” Tubuh Herry membesar dan membesar. Akhirnya berhenti saat mencapai puluhan meter. Tombaknya juga ikut membesar.
Gua hancur seketika. Sungguh dia sangat besar!
Semua orang menjauh, termasuk simo, dia melompat dan berdiri di atas tebing sembari melihat betapa besarnya tubuh raksasa itu.
[Hahaha. Sekarang kau hanya sebutir debu.] Ujar Herry. Suaranya bergetar, dan menggema di arena sekitar.
Itu adalah salah satu kemampuan para raksasa yang sudah mencapai tahap tertentu. Hanya sedikit raksasa yang bisa melakukannya.
Suara itu bergema hingga sampai ke kawanan kapal-kapal yang hendak ke Markas para siren.
Semua orang menjadi penasaran, dan menunjuk ke arah Herry berdiri. Walaupun jarak Herry jauh, mereka masih bisa melihatnya dengan jelas. Keributan pun pecah.
“paman, apakah keputusan kita sudah benar?” tanya ayu yang merasa keputusannya tidak benar, dan kurang tepat untuk di jalankan sekarang. Gadis itu sekarang berdiri seraya memandang Herry takjub.
“Ini bukan masalah tepat atau tidaknya di lakukan, tapi seberapa besar kau memiliki usaha untuk melakukan dengan sebaik-baiknya.” Andros berhenti, kemudian melanjutkan, “Kita hanya perlu menunggu mereka selesai bertarung.”
“aku mengerti paman.” Ayu kemudian berlari menjauh. Walaupun dia penasaran dengan sosok Herry, dia tidak ada waktu untuk menanyakannya.
Tidak beberapa lama semua kapal bergerak perlahan-lahan, lalu berhenti.
Kembali ke simo, dia sekarang berdiri di tebing seraya memandang Herry tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. Hanya ada tatapan kosong dan penuh hawa membunuh di kedua matanya.
[bocah! Hari ini kau akan mati!] Ujar Herry meremehkan
“kau pikir, kau saja yang bisa melakukannya, lihatlah ini!” Ujar simo, yang membuat Herry terkejut, sebab kata-kata yang keluar dari mulut simo tidak boleh di remehkan.
Dan, benar saja, aura hitam peka keluar dari tubuh simo. Perlahan-lahan tubuh Simo melayang ke atas, melambung tinggi. Aura itu mengalir tiada henti, membentuk makhluk raksasa di bawah simo. Perlahan tapi pasti aura itu membentuk seekor naga hitam raksasa berwarna hitam dengan wujud yang transparan.
Naga itu memiliki empat kaki dengan kuku yang panjang. Dia meraung keras.
Ekspresi wajah Herry seketika menjadi jelek setelah melihatnya. Kekuatan simo sudah melebihi perkiraannya.
[Chih, aku akan membunuhmu!] Herry melompat ke arah simo, dan pertarungan kembali terjadi.
“semoga dia baik-baik saja.” Gumam namila lirih seraya berdoa demi keselamatan simo. Tahap ini sudah di luar kendalinya, dan dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya Kepada simo yang bertarung tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Tenang saja, aku yakin dia akan baik-baik saja.” Kata Karla menepuk bahu Namila.
Namila mengangguk.
Di langit, naga hitam itu bertarung dengan sangat baik. Naga itu sesekali mengeluarkan semburan api panas, dan sesekali berusaha melilit tubuh raksasa itu.
Namun Herry masih bisa menghindarinya.
Pertaruhan terus berlanjut hingga akhirnya simo meningkatkan kekuatannya tanpa sadar. Naga itu, kemudian membesar, dan lebih besar dari tubuh Herry. Hal itu jelas membuat pertarungan tidak seimbang.
Dari mana pun, Herry sekarang tidak bisa menandingi kekuatan simo. Oleh karena itu dia berencana untuk lari, tetapi gerakannya di sadari, dengan cepat naga itu melilit tubuh Herry dan meningkatkan suhu tubuhnya.
Herry yang kepanasan berusaha untuk kabur, akan tetapi kedua tangan dan kaki tidak bisa di gerakan sekarang.
[Bajingan! Aku akan membalasnya nanti! Tunggu pembalasanku!]
Bommm!
Akhirnya tubuh Herry meledak seperti bom. Tidak beberapa lama menjadi butiran-butiran debu yang berterbangan, kemudian jatuh seperti hujan.
Semua Siren yang melihatnya terkejut, dan tidak menyangka simo dapat membunuh Herry yang begitu kuat.
Semua bergembira setelah Melihat butiran-butiran itu, kecuali Namila. Gadis itu bergerak dan menangkap tubuh simo yang perlahan-lahan jatuh. Dia sekarang tidak sadarkan diri.
Namila langsung memeriksa tubuh simo, dan menghela nafas lega setelah menyadari simo hanya kelelahan. Ada rasa aneh setelah menyadari simo hanya kelelahan, padahal Pertarungannya sungguh luar biasa, jika orang normal setidaknya itu akan membuat beberapa bagian tubuhnya terluka.
Walaupun begitu, namila tidak ingin mempermasalahkannya, yang terpenting sekarang semuanya baik-baik saja.
Sementara itu, rombongan kapal ayu mulai bergerak lagi menuju markas siren, yang sekarang sudah hancur, dan meninggalkan puing-puingnya saja.
“Lihat! Ada rombongan kapal yang akan kesini!” ujar salah Seorang Siren yang menyadari rombongan kapal ayu.
Semua orang terkejut, dan tanpa sadar menoleh ke arah yang di tunjukkan. Beberapa di antara mereka mengerutkan keningnya, karena ingin melihat siapa yang ada di dalamnya.
“Lara, kau pergilah, lihat apa yang mereka inginkan.” Kata Karla berdiri.
Siren yang bernama lara mengangguk, lalu pergi menuju kawanan kapal-kapal itu.
__ADS_1