
Hari-hari yang simo jalanan seperti biasa berjalan dengan baik. Dia akan pergi ke akademi di pagi hari dan akan berlatih di malam hari. Tidak ada hari-hari yang membuatnya sedih ataupun bosan, sebab dia selalu saja sibuk. Apalagi menyadari dirinya perlu membaca buku untuk mengetahui dunia yang sedang dia pijaki sekarang.
Jika sebelumnya waktu istirahat di gunakan untuk duduk menikmati pemandangan taman belakang, maka sekarang dia hanya bisa menikmati bau-bau buku di perpustakaan. Walau kadang-kadang dia sendirian, dia tidak pernah bosan untuk membaca. Bahkan dia tidak pernah melihat sekelilingnya, entah sedang ramai ataupun tidak.
Saat membaca, telinga simo seperti sedang di matikan. Dan matanya akan fokus membaca buku.
Walau kadang-kadang jauzan merasa bosan harus menikmati waktu istirahatnya sendirian, dia tidak mengeluh, sebaliknya dia merasa senang dengan perubahan simo. Baginya, simo perlu mengetahui banyak hal, atau setidaknya dasar-dasarnya saja.
Selama sendirian, jauzan di temani Talina. Gadis itu tidak henti-hentinya mengikuti jauzan bak seorang anak yang selalu mengikuti Ibunya.
Jika jauzan bertanya kepada gadis itu mengapa, maka dia hanya akan berkata, “aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam atau jika bisa aku ingin kau menjadi miliku.” Jawabnya seraya tersenyum manis memperlihatkan senyuman terindah yang dia miliki.
Jauzan menyadari Talina menyukai, tapi ada sesuatu hal yang membuatnya tidak tertarik dengannya. bahkan jika talina memberikan tubuhnya secara percuma dia tidak akan memperdulikannya. Mungkin meliriknya pun tidak.
Dengan berpura-pura jauzan tetap berusaha bersikap baik kepadanya. Walaupun dirinya merasakan agak sedikit enak kepadanya. Tapi dia tidak punya pilihan lain, jika mengatakan yang sebenarnya, dia takut, itu akan melukai perasaannya yang sedang tumbuh itu.
Namun jauzan sadar jika hal yang dia lakukan tidak baik, maka dia akan mengatakan sebenarnya secepat mungkin yang dia bisa.
Dengan keberadaan talina, jauzan merasa lebih gembira ketimbang sendirian. jauzan juga kadang-kadang akan mengunjungi ruangan kelas talina saat jam istirahat mulai dan sebelum menemuinya dia akan terlebih dahulu mengantarkan simo ke perpustakaan.
Mengapa jauzan tidak ikut ke perpustakaan?
Alasannya cuma satu, jauza sudah bosan dengan semua itu. Bukan karena dia malas, tapi dia sudah mencicipi semua buku di perpustakaan itu. bahkan sampai sekarang dia masih mengingatnya.
...****...
Hari itu simo memutuskan untuk tidak membaca buku, dia ingin menikmati waktu istirahatnya bersama jauzan, sudah lama dia tidak menikmati waktu istirahat bersama pemuda itu. Ada rasa bersalah muncul dalam benaknya, karena tidak menemani jauzan, padahal dia sudah berjanji akan melindunginya.
Walau jauzan baik-baik saja, simo tetap merasa bersalah. Apalagi namila selalu mengajarinya sihir dengan lembut dan sabar. Meski kadang-kadang namila suka marah-marah.
Sikap suka marah-marah itulah yang membuat simo menyukainya dan selalu ingin melindunginya. Entah mengapa jika simo membayangkan ekspresi wajah marah namila, dia merasa senang.
Selain itu, selama berlatih dengan namila, simo akhirnya menerobos 4 bintang sekaligus. Sekarang dia sudah berada di tingkat bumi tahap 4 bintang 9 dan sebentar lagi akan menerobos tahap 5. Walau hanya 4 bintang itu sudah terbilang cepat. Apalagi dia berlatih hanya beberapa jam sehari, itu pun di malam hari.
Saat tanda keluar dari kelas, simo mengerutkan keningnya karena heran. Dari kerumunan siswa itu, dia tidak melihat kenzo, maka dia memutuskan untuk bertanya kepada jauzan di sampingnya.
Jauzan menggelengkan kepalanya pelan. “aku tidak tahu, tapi yang pasti aku tidak melihatnya akhir-akhir ini. Jangan-jangan....” jauzan menghentikan ucapannya, sebab mereka masih berada di tempat yang ramai.
__ADS_1
Simo mengangguk, karena mungkin saja yang jauzan berpikiran sama dengannya.
“kita bicara di tempat lain saja.” Simo langsung menyambar pergelangan tangan jauzan dan menuntunnya ke taman belakang.
Saat simo memegang tangan jauzan dia terlihat memerah dan merasa kurang baik.
Saat menyentuhnya simo dapat merasakan tangan Jauza lembut dan kecil yang membuatnya heran. Walaupun begitu ada hal yang lebih penting yang harus dia pikirkan sekarang.
Saat tiba di taman belakang yang sepi, simo langsung menanyakan tentang hal-hal yang jauzan ketahui tentang kenzo.
Maka semua hal jauzan jawab tanpa sedikit pun dia kurangi, sebab dia sangat mempercayai simo.
“Simo jangan-jangan Kenzo di tangkap?!” seru jauzan.
“mungkin saja, tapi kita harus mencari ivander terlebih dahulu.”
Mereka mencari-cari ivander ke segala tempat, tetapi tidak menemukannya, mereka juga menanyakan teman-teman kelasnya, tapi tidak satu pun dari mereka yang mengetahuinya.
“Aku yakin kenzo dan ivander di tangkap oleh organisasi itu.” Ucap jauzan dengan serius.
“Kita harus memastikannya terlebih dahulu.”
“Simo, apa kau yakin ada hubungannya dengan pria gemuk itu?” tanya jauzan seraya memandang Jeremy dari kejauhan.
Simo mengangguk.
Setelah memastikan di sekolah tidak ada, jauzan dan simo memutuskan untuk menanyakan ke rumahnya. Saat bertanya, Jeremy hanya mengatakan jika ivander dan kenzo pergi ke hutan dan tidak kembali lagi. Jeremy juga sudah melaporkannya, tapi belum ada hasilnya.
Jeremy juga memohon kepada simo dan jauzan agar membantunya dalam pencarian. Jeremy berjanji akan memberikan uang berapa pun yang mereka inginkan.
Simo merasa curiga dengan Jeremy yang masih berdiam di rumah. Apalagi saat mereka datang tidak ada tanda-tanda khawatir ataupun cemaskan dari wajah Jeremy, sebaliknya dia terlihat biasa saja. Oleh karena itu simo memutuskan untuk memantaunya dari jauh
Dan benar saja tidak beberapa lama Jeremy tertawa keras dan mengatakan jauzan dan simo bodoh.
Mendengar itu jauzan menjadi marah, dia ingin memberi pelajaran kepada Jeremy, tapi sebelum itu simo menarik tangannya dan menyuruhnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh.
“apa yang harus kita lakukan? Tanpa petunjuk, kita tidak akan mengetahui keberadaan kenzo dan ivander. Kau tahu kan sulit mencari mereka. Apalagi di kota seluas ini.”
__ADS_1
“Aku tahu, tapi kita harus mencoba mencarinya ke hutan dulu.”
“Bagaimana jika itu adalah jebakan untuk menangkap kita?”
“Jebakan? kenapa kau bisa berpendapat seperti itu?” tanya simo seraya mengerutkan keningnya.
“ah, itu.... Karena aku mengetahui di hutan ada banyak sekali jebakan, jadi mungkin saja pria gemuk itu menaruhnya untuk menangkap kita supaya tidak mencari kenzo dan ivander lagi.” Jawab jauzan dengan cepat.
“Masuk akal, tapi kita harus mencobanya. Begini saja aku yang memimpin dan kau di belakangku, jika ada perangkap maka aku yang akan terkena lebih dulu dan jika kau tidak bisa membantuku, kau bisa pergi mencari bantuan. Bagaimana?”
“ide yang cukup bagus. Baiklah jika begitu, ayo kita pergi.” Jauzan menarik tangan simo.
Saat tiba di hutan, hari sudah mulai gelap. Cahaya orange menyusup ke sela-sela ranting pohon. Burung-burung berkicau. Angin berembus tenang.
Simo dan jauzan mengikuti jalan ke hutan, yang merupakan bekas jalan menuju kota lain.
Sepanjang perjalanan mereka, tidak ada hal-hal yang mencurigakan yang terlihat, petunjuk pun tidak ada, maka mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.
“Simo bisakah kita beristirahat di pinggir sungai di sana?” Tanya jauzan seraya menunjuk arah utara yang memang terdengar suara germicik air.
“Jaraknya terlalu jauh untuk ke sana dan juga hari sudah hampir malam, kita harus mempercepat pencarian.”
“Baiklah.” Jawab jauzan lemas. Apa yang dikatakan simo ada benarnya.
Tidak beberapa lama mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hanya memerlukan beberapa menit saja mereka tiba di bekas pertarungan yang dashyat. Pohon-pohon hancur, tanah berlubang, batu-batu hancur.
“Apa yang terjadi?” tanya jauzan heran melihat pemandangan di depannya.
Simo menggelengkan kepalanya pelan. “aku tidak tahu, tapi sepertinya ini adalah bekas pertarungan.” simo menerka-nerka.
“Mungkin saja, tapi kenapa bisa sebesar ini? Ayo kita lihat.”
“Tunggu.” Simo menghentikan jauzan yang membuatnya bertanya-tanya.
“lihat ini.” Simo mengambil batu dan melemparkannya ke lubang. Saat batu itu menyentuh permukaan tanah, tiba-tiba saja batu itu menghilang.
“jebakan?”
__ADS_1
“Iya, Seperti pria gemuk itu memang sudah merencanakannya dari awal dan mungkin saja itu adalah bekas pertarungan ivander dan Kenzo sebelumnya.”
“mungkin, ayo kita...” jauzan tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena dia dikejutkan oleh seorang gadis yang tiba-tiba muncul di udara.