
Dalam sekejap mata semua murid yang berlatih, berkumpul dan memusatkan perhatian mereka kepada dua sosok yang ada di tengah lapangan. Mereka tertarik dengan pertarungan itu, karena pertarungan itu merupakan hal yang langka terjadi, bahkan selama mereka di akademi baru pertama kalinya ada pertarungan yang seperti tidak seimbang terjadi.
“Pasti joshu menang.”
“lihat pedang itu, pasti memiliki kekuatan yang hebat.”
“Sangat di sayangkan jika dia harus melawan joshu.”
Bisikan demi bisikan terdengar. Ada yang mendukung, menghina dan tertawa.
“Hey! Semuanya, bagaimana jika kita bertaruh. pasti akan menyenangkan. Apalagi yang bertarung salah satu murid kelas A, kalian tidak ingin kan jika pertarungan ini terlewati begitu saja.” Ujar seorang gadis cantik yang membuat semuanya terdiam. Gadis itu tidak lain adalah Amelia.
Segera semua perhatian murid-murid beralih kepadanya. Para murid diam sejenak lalu mengangguk dan segera berkumpul untuk bertaruh.
Berbagi teriak terdengar. Ada bertaruh kepada simo dan ada juga yang bertaruh kepada joshu.
Tidak beberapa lama itu terjadi dengan hasil akhir banyak orang yang bertaruh kepada joshu.
Joshu adalah salah satu murid berbakat yang ada di akademi. apalagi dia adalah murid kelas A dan semua murid kelas A sangat mengenalnya, mulai dari segi kemampuan, sikap, kekuatan maka dapat dipastikan mereka lebih memilih Joshu ketimbang simo yang terlihat biasa-biasa saja. Apalagi mereka tidak mengenalnya sama sekali. Itu membuat dukungan kepadanya sangat sedikit.
Terlihat di meja, hanya 1kantong koin penuh yang bertaruh kepada simo sedangkan joshu 10 kantong koin penuh.
“Baiklah, sekarang kalian bisa bertarung.” Ujar kai dengan suara yang keras membuat semuanya seketika diam menatap dua sosok yang berdiri di lapangan.
Joshu menarik pedangnya sedangkan simo hanya diam. pedangnya pun tidak dia lepas.
“bisakah kita mulai.” Ucap joshu dengan nada sopan dan tenang. Meski begitu di dalam hatinya dia sangat bersemangat ingin merasakan kekuatan simo, apalagi dia melihat sosok simo bukan orang yang bisa-bisa saja. Meski dia merasakan kekuatan simo jauh lebih rendah, tidak ada rasa sombong ataupun meremehkan. sebaliknya dia sangat waspada. Siapa tahu orang itu menyembunyikan kekuatannya, itulah yang joshu pikirkan.
Simo mengangguk tenang.
Seketika joshu berlari dan mulai mengayunkan pedangnya dengan keras. Dia mengeluarkan semua teknik pedang yang dia pelajari.
Simo hanya menghindar dengan santai. meski gerakan pedang itu terlihat cepat di mata para murid bagi simo itu sangat lambat dan tidak menantang.
Melihat serangannya selalu di hindari membuat Joshu meningkatkan kekuatannya.
Joshu sebenarnya sudah mengetahui itu akan terjadi karena dia sangat mengenal gurunya yang tidak akan pernah salah orang dalam memilih lawan untuknya, oleh karena itu dia tidak menurunkan pertahanannya sedikit pun, sebaliknya dia terus memperkuatnya dan ingin mendesak simo.
Sementara itu semua murid terkejut melihat pertarungan yang seperti antara murid dan guru. Mereka tidak menyangka jika simo bisa menghindari serangan demi serangan dengan mudah. Apalagi simo terlihat tidak mempunyai kesulitan dalam menghindarinya.
Di belakang kerumuan murid, di tempat yang sedikit tinggi, Kai terseyum melihat pertarungan itu. dia puas dengan hasil yang di dapatkannya. Sebelumnya dia sudah memprediksi situasi itu akan terjadi. Saat dia melihat simo di gerbang memberikan logo itu, dia yakin jika orang yang memiliki logo itu bukanlah orang yang bisa-bisa saja, apalagi seorang murid yang masuk satu bulan sebelum ujian akhir.
“kai apa yang terjadi?” tanya Hendry yang membuat konsentrasi kai terganggu saat menonton pertarungan.
“Sepertinya kita akan mendapatkan seorang yang jenius.” Jawab kai dengan santai.
Mendengar itu, Hendry lalu menoleh ke area tempat simo bertarung. Ekspresinya seketika berubah saat melihat simo bertarung yang hanya bisa menghindar, dengan marah dia berkata, “kai, apa yang kau lakukan? bertarung dengan murid A, itu tidak sepadang dengan simo yang baru menginjak tahap fisik. Tolong hentikan pertarungan itu, aku sudah membawa seorang murid yang akan mengujinya!” bentak Hendry.
__ADS_1
“Kau tenang saja. Sudah aku bilang kita akan mendapatkan siswa yang jenius, jika kau tidak percaya kau bisa melihatnya sekarang.”
Mendengar itu Hendry langsung menyela kerumuan para murid. Saat dia sudah di depan, dia terkejut melihat pertarungan yang sangat tidak seimbang seperti latihan.
“bagaimana..... Bisa?” Hendry terkejut saat melihatnya dari dekat, dia tidak menyaka jika simo yang menghindar bukan karena tidak mampu melawan, tetapi dia hanya bermain-main.
“guru, apakah dia orang yang hendak guru uji, tapi sepertinya dia sangat kuat bahkan jika aku melawannya mungkin saja aku akan kalah telak.” Ucap seorang gadis yang di bawa Hendry seraya menunjuk ke arah simo.
“huh, seperti aku sudah terlalu kahwatir dengannya.” Hendry menggelengkan kepalanya. Dia terlalu ceroboh karena tidak percaya dengan bocah yang baru dia kenalnya. “baiklah, kau bisa pergi sekarang.”
Mendengar itu, tentu saja gadis itu tidak pergi. dia tertarik dengan pertarungan yang ada di depan matanya.
“Tuan Hendry, maaf jika saya salah, tidak bisa menghentikan pertarungan itu.” ucap Amelia yang datang dengan wajah bersalah.
Hendry menggelengkan kepalanya. “tidak, kau tidak salah. Pasti itu karena keinginannya kan?”
Amelia mengangguk. “jika saja saya bisa menariknya, mungkin pertarungan itu tidak akan terjadi.”
“sudahlah, kita lihat saja, bagaimana penampilan siswa baru itu.”
Di arena simo terus menghindar serangan demi serangan. Dia terlihat sangat rileks dan santai. Setiap serangan yang Joshu lontarkan, simo bergerak ke samping kanan atau kiri dan sesekali dia menunduk.
Melihat setiap serangannya tidak pernah mengenai simo, membuat joshu kesal, dia ingin sekali membuat simo mengeluarkan pedangnya agar reputasinya tidak di cela, tetapi setiap serangannya hanya bagaikan mainan bagi simo.
Joshu melompat ke belakang. “bisakah kau menggunakan pedangmu itu! Kau terlihat takut menyerang jika kau menghindar terus atau jangan-jangan kau memang takut?”
“Baiklah, jika itu yang kau inginkan.” Di saat bersamaan simo menarik pedangnya dengan kasar lalu menebaskannya ke tanah, membuat kain putih yang menyelubunginya seketika berterbangang dan pecah menjadi ribuan.
Simo langsung melesat dengan cepat. Tidak sampai seperempat detik dia sudah berada di depan joshu.
Melihat itu, Joshu seketika tekejut dengan refleks dia menahan serangan simo.
Trangkkk!!
Semua penonton diam seribu bahasa, mereka tidak menyangka dalam sekali serangan membuat pedang joshu patah menjadi dua bagian.
“Ah, bagaimana bisa!?” ucap joshu yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia lalu memandang simo yang sudah berada beberapa meter darinya.
“Apakah kau ingin lanjut?” tanya simo.
Mendengar itu, joshu hanya bisa menghela nafas pasrah. “ seperti aku sudah kalah. Jika aku bertarung denganmu di medan perang tanpa sihir ataupun energi alam kecil maka aku sudah lama mati di tanganmu.”
“Terima kasih atas pengalamannya.” Joushu memberi hormat.
Simo hanya mengangguk.
Joshu lalu pergi dengan wajah pucat dan lemas.
__ADS_1
Seketika terlihat beberapa murid ikut pucat karena telah bertaruh kepada joshu.
Sementara itu di belakang para murid, kai tersenyum puas. “sepertinya akan menarik.” Dalam sekejap mata kai sudah berhadapan dengan simo.
“tuan, apakah aku sudah layak bersekolah di sini.”
“Tentu, tapi sebelum itu, aku ingin lihat seberapa hebat kemampuanmu.”
“kai! Apa yang kau lakukan?” ujar hendry yang bergegas mendekati kai. Wajah Hendry terlihat marah.
“apa maksudmu? Kau ingin bertarung dengan seorang yang belum setengah umurnya darimu.”
“Iya, aku ingin lihat, seberapa kuat dirinya.” Ucap kai dengan santai.
“tidak, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Sekarang hentikan ini, dia sudah lulus. Aku akan melaporkannya kepada kepala sekolah jika kau bersi keras melawannya!”
Mendera itu, kai terlihat biasa-biasa saja seperti dia sudah terlalu sering menerima ancaman itu.
“Kau tidak perlu berbicara seperti itu. Kita serahkan saja semuanya kepada dia.” Ucap kai seraya mengarahkan pandangannya kepada simo.
Mendengar itu, hendry tidak bisa berbuat apa-apa, selain dia hanya bisa berharap simo menolaknya dan membuat semuanya selesai. Dia khawatir jika simo akan terluka. Apalagi dia dapat merasakan simo masih di tingkat fisik. itu akan membuat pertarungan yang tidak seimbang dengan kai yang sudah mencapai tingkat alam tahap 3 bintang 3.
Melihat dua orang di depannya, simo sedikit terganggu. Dia juga tidak menyangka jika hendry membelanya seperti itu. baru satu kali dia bertemu dengan Hendry, tetapi sepertinya Hendry sudah menganggapnya sebagai muridnya.
“Jadi apa yang akan kau pilih?” tanya kai.
“Tidak, tuan, aku tidak akan bertarung denganmu.” Ucap simo dengan yakin. Meski dia bersemangat untuk bertarung, dia lebih memilih untuk menyembunyikan kekuatannya. bukan karena simo takut, tapi dia mengingat pesan kakeknya untuk tidak bertarung, meski dia sudah diberikan kebebasan, dia masih ragu-ragu untuk mengeluarkannya.
Mendengar itu kai terlihat kecewa. Dia sangat berharap bisa beradu pedang dengan simo, apalagi setelah melihat teknik pedangnya. Itu membuatnya lebih bersemangat, tetapi sepertinya simo tidak meladeninya.
“aku harap lain kali kita bisa bertarung.” Ucap kai lalu menghilang.
Simo mengangguk.
Setelah itu semua murid bubar dan masuk ke dalam kelas dan hanya menyisakan simo, Hendry dan Amelia.
“Apa kau tidak apa-apa nak?” tanya Hendry.
“tidak tuan.”
“hey, simo ayo kita lanjutkan.” Ucap amelia seraya menarik tangan simo membuatnya harus mengikutinya.
“Tunggu dulu amelia, kita harus berpamita....”
“tidak perlu, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi.”
Melihat itu, Hendry hanya tersenyum.
__ADS_1