
Kini wajah cantik putri Naria di penuhi rasa kekhawatiran. Dia memandang ke arah danau dan berharap simo muncul di sana, dan membawa ikan.
Sudah setengah jam simo tidak muncul-muncul dari permukaan air, hal itu sangat membuatnya khawatir. Dia berjalan mundar mandir di pinggir danau dan sesekali memandang ke dalam.
Jika putri Naria bisa berenang dan menyelam, dia akan melakukan hal itu. Tapi sayang sekali, dia tidak bisa melakukannya. Semua ingatan tentang dirinya waktu kecil menghilang. Dia hanya mengingat ingatan-ingatan beberapa bulan sebelumnya. Oleh karena itu dia bagaikan anak kecil yang tidak bisa apa-apa.
Meski khawatir, wajah cantiknya selalu bersinar dan masih indah untuk di pandang.
Putri Naria berteriak-teriak memanggil simo, tapi tidak ada jawaban. Dia melakukannya lagi dan lagi, namun tidak ada jawaban.
“apa yang terjadi dengannya?” Putri Naria sangat khawatir. Dia memejamkan mata dan berdoa berharap simo muncul.
Setelah beberapa saat akhirnya terdengar suara dari dalam danau. Putri Naria memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Jaraknya dengan sesuatu yang muncul itu terlalu jauh, sehingga sulit untuk melihatnya.
Ketika semakin mendekat, wajah kekhawatiran tiba-tiba di gantikan dengan wajah gembira yang tiada tara.
Simo datang membawa beberapa ikan. Diikat dengan tali yang entah dari mana dia mendapatkannya.
“Kenapa kau lama sekali?” tanya putri Naria ketika simo sudah berada di pinggir.
“ikan-ikan di sini terlalu sedikit. Meski aku sudah lama berada di dalam air, aku hanya bisa mendapatkan 5 ikan saja. Ayo kita panggang, kau pasti sudah lapar.”
“Di bandingkan dengan lapar, aku justru lebih khawatir denganmu!” jawab putri Daria seraya mengikuti simo.
Mereka kemudian duduk di tempat yang sebelumnya.
Sembari menata batu untuk memanggang, simo menjawab, “kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Dengan kekuatanku saat ini, aku bisa bertahan di air lebih lama. Seharusnya kau menata batu untuk memanggang ikan ini.”
“tapi aku khawatir. Jika kau tenggelam, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Selain itu, tanpa adanya kau, aku tidak akan bisa keluar dari sini. Sudah tentu aku lebih khawatir denganmu dari pada perutku. Kau seharusnya senang ada wanita cantik sepertiku ini mengkhawatirkanmu.”
Simo diam sebentar lalu menyalakan api.
“Kau diam di sini, aku harus mempersiapkan ikan-ikan ini.”
“tunggu! lihatlah ini.” Putri Naria memperlihatkan telapak tangan yang ada bola air melayang-layang di atasnya, layaknya seperti air itu tidak mempunyai gravitasi.
“aku tidak sengaja melakukan itu dan berlatih. Hanya 10 menit saja aku berhasil melakukannya dengan baik. Lihatlah, aku bisa menggerakkan bola air itu.” Ucap putri Naria seraya melihat-lihat bola air di tangannya bergerak-gerak sesuai keinginannya.
“kau memiliki elemen yang sama dengan temanku.” Simo beranjak pergi ke pinggir danau. Ingatan-ingatan tentang Namila mulai muncul di dalam pikirannya.
“Hey, Tunggu. Kau seharusnya berkata hebat. Aku bisa melakukannya beberapa menit saja, dan itu tidak terlalu sulit. Aku dengar orang yang bisa melakukannya adalah orang-orang hebat dan memiliki kekuatan. Sepertinya di antaranya adalah aku.” Putri Naria berdiri dan menatap simo melakukan pembedahan kepada ikan-ikan yang barusan dia tangkap.
Tiba-tiba saja wajah cantik putri Naria menjadi dingin, sedingin es. Dia kemudian berjongkok menatap simo yang lihai melakukan pembedahan dengan batu pisau yang ada di sekitar danau.
Putri Naria tidak berkata apa-apa lagi, dia mengamati simo melakukan pembedahan.
“kau jangan terlalu memaksakan diri.” Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari bibir manis putri daria. Namun tentunya dengan wajah yang dingin.
Simo diam sebentar, dia mengingat ucapan ini, ucapan yang selalu dia dengar. Dia kemudian melanjutkan pembedahan.
__ADS_1
Setelah selesai mereka kembali dan dengan akar-akar yang ada di gua, mereka memanggangnya.
Tidak ada pembicaraan beberapa menit sebelum akhirnya simo memulai pembicaraan.
“kau mirip dengan temanku.”
Putri Naria mengangkat wajahnya dan memandang simo.
“apa aku terlihat seperti itu?” Jawab putri Naria dingin.
Simo mengangguk. “hanya sedikit. Wajahmu sangat persisi sama dengannya. Tapi dia memiliki rambut hitam, sedangkan kau memiliki rambut biru keperakan. Dia juga memiliki kekuatan elemen air sama sepertimu.” Simo memutar ikannya.
“Siapa namanya?” wajah putri daria di penuhi rasa ingin tahu yang tinggi.
“Namanya .... Namila.”
Putri Naria terdiam. Dia merasa mengenal nama itu, tapi tidak tahu di mana, dan entah kapan. Ingatan-ingatan tentang dirinya seperti ada yang hilang setelah bertemu dengan ibunya beberapa bulan sebelumnya. Setelah memutar ikannya, putri Naria berucap, “nama yang indah. Temanmu sekarang berada di mana?”
Simo sejenak terdiam dan menggelengkan kepalanya.
“kau tidak tahu?”
Simo mengangguk.
“apa dia mati?” putri Naria memandang lekat-lekat ke arah simo. Dia merasa ada sesuatu yang buruk terjadi kepada orang yang bernama namila itu.
“aku tidak tahu.” Jawab simo lalu memandang ke bawah dan memutar-mutar ikannya. Dia tidak mau membahasnya kali ini.
...****************...
Setelah beberapa menit mengejar, akhirnya baron berhenti di sebuah tebing. Dia tersenyum menyeringai dan memandang Safia di bawahnya.
“dasar pengecut!” umpat Safia karena kesal dan marah. Pedang es mulai muncul di udara, tepat di belakangnya. Berputar-putar seperti matahari. Siapapun yang ada di sekelilingnya akan merasakan dinginnya aura dan es itu, bahkan Baron merasakannya meski berada jauh dengan Safia.
Safia memegang erat kedua pedang esnya. Samar-samar akan muncul asap putih dari pedangnya. Asap putih akan lebih kelihatan jika matahari sedang tepat berada di atas.
Dia menggertak giginya, dan memandang marah Baron. Jika ada orang yang melakukan hal buruk kepada ayahnya, dia tidak akan segan-segan membunuhnya! Meski dia lebih kuat darinya.
Perlahan-lahan muncul 5 orang di samping Baron. Mereka semua berpakaian hitam dengan wajah tidak kelihatan karena memakai jubah.
Ketika mereka muncul, dengan bangga baron berkata, “gadis itu adalah emas! kita harus menangkapnya. Kedepannya, kita bisa memanfaatkannya menjadi anak buah. Dia memiliki beberapa Elemen. Dengan bakatnya seperti itu, dia bisa menghancurkan sebuah kota dengan mudah.”
Lima orang itu mengangguk kemudian melompat. Di udara mereka menjadi satu. Ini adalah teknik gabungan lima orang sekaligus. Dengan melakukan itu, lima orang itu ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat.
Dengan melakukan gabungan, mereka bisa meningkatkan kekuatan mereka menjadi dua kali lipat. Yang sebelumnya tingkat alam, maka sekarang menjadi tingkat alam tahap 5.
Selain itu, alasan mereka melakukan itu, karena merasa safia bukan gadis yang mudah untuk di kalahkan.
Di udara, orang itu mengarahkan telapak tangan ke depan. Pusaran angin seperti angin topan muncul, membuat pohon-pohon di sekitarnya bergoyang-goyang dan membuat daun-daun beterbangan. Angin itu bergerak cepat ke arah Safia.
__ADS_1
Meski angin tersebut kuat, Safia masih bisa berdiri tanpa tergoyah.
Ketika satu meter dari Safia, tiba-tiba muncul dinding es tebal menahan serangan angin itu.
Banggg!!
Angin topan berusaha menghancurkan dinding es.
Sementara itu, melihat dinding es Baron tersenyum dan merasa bangga karena sudah mendapatkan orang kuat. Dia hanya perlu menunggu, cepat atau lambat gadis itu akan jatuh ke tangannya.
Setelah serangan pertama tidak berhasil, pria berjubah mengarah satu tangannya lagi. Bola api perlahan-lahan terbentuk, membesar dan terus membesar. Bola itu sangat panas. Meski berwarna kuning, tidak di pungkiri api itu sangat panas.
Kemudian dengan cepat api itu di tembakan.
Wusss bommmm!!!
Tetapi meski api sangat besar dan kuat, Safia masih bisa menahan dengan dinding es yang sangat tebal. Meski setengah berhasil mencair.
“kalian telah menyerangku dengan dua serangan, maka kini aku yang melakukan serangan!” di tangan Safia muncul segumpal api berwarna ungu.
Dia menggenggam api tersebut dan mengarahkannya ke depan. Api perlahan-lahan membentuk busur dan anak panah. Safia menarik busur dengan keras. Dia tersenyum dan berkata, “terima ini!”
Melihat hal itu, baron dan pria berjubah terkejut. Bagaimana pun, ternyata gadis kecil di depannya bisa menggunakan elemen gabungan. Jika sudah sekecil itu bisa melakukan hal-hal yang mengejutkan, bagaimana kalau dia sudah besar?
Tanpa menunggu Baron dan pria jubah, Safia melepaskan anak panahnya.
Wusss!! Bommm!!!!
...****************...
Setelah mendengar berbagai ucapan dira, kali ini Benito semakin terdesak. Apa yang di katakan dira ada benarnya. Di dalam melakukan rencana kudeta, dia lah yang paling kecil.
Rencana yang mereka lakukan juga merupakan rencana yang Benito susun. Dia adalah orang yang unik dan memiliki kekuatan unik juga. Oleh karena itulah beberapa orang menjadi setia dengannya dan ingin mengikuti rencana melakukan kudeta.
Jika rencananya berhasil, dia akan menjadi raja. Walaupun bawahannya bersumpah setia dengannya, belum tentu hal itu benar-benar mereka lakukan. Dan meskipun dia bisa melakukan pengendalian, tentu saja mereka sudah tahu, dan belum tentu tidak mencari cara untuk terhindar dari hal tersebut.
Selain itu, kemungkinan terbesar adalah dia hanya sebagai raja boneka; raja yang selalu di kendalikan oleh bawahannya sendiri.
Namun, jika dia bisa membuat rencana cadangan, tentu saja, dia akan terhindar dari hal-hal tersebut.
Tapi sebelum itu, dia harus bisa mengendalikan dira untuk membunuh musuh-musuhnya dan membunuhnya setelah dia melakukan apa yang di inginkannya.
Setelah hening beberapa saat, Benito kembali duduk.
“Aku akan membiarkanmu pergi dan membunuh beberapa orang termasuk penjahat kelas tinggi. Aku juga akan memberikan peta markasku, dan beberapa markas lain. Tapi kau harus cepat dan datang kembali setelah menyelesaikan tugasmu. Apakah kau bersedia?”
Dira tersenyum. Rencananya sudah mulai berjalan. Walaupun belum tentu sepenuhnya berhasil.
“kenapa tiba-tiba? Aku tidak akan melakukannya sebelum kau memastikan keselamatan putri Dhiya kahrya. Kau mungkin saja membunuhnya setelah aku pergi. Aku ingin jaminan untuk hal itu.”
__ADS_1
Benito mengangkat tangannya. Perlahan-lahan warna-warni muncul di tangannya. Lalu muncul sebuah jam pasir dengan warna-warna di dalamnya.
“aku akan memberikan ini sebagai jaminan.”