
Anulika melawan Diana dengan segenap kekuatan yang dia punya. Jika saja tubuhnya tidak hancur, dia pasti akan lebih kuat dan mampu memberi perlawanan kepada Diana.
Dia kini bergerak dengan cepat, bahkan lebih cepat dari Diana. Meski pun cepat, ini bukan kemampuan maksimalnya.
Dia menyerang Diana dengan serulingnya. Dan di lain sisi, dewi es menyerang dengan tombaknya.
Melihat semua serangan yang di arahkan anulika dan Dewi es, membuat Diana geli. Pasalnya, ini adalah perlawanan yang sangat mudah dan tidak terlalu kuat. “ hahaha! Apa ini saja kekuatanmu? Bagaimana bisa ini akan menyelamatkan adikmu yang malang itu?”
Diana lalu melentangkan kedua tangannya, menahan serangan anulika dan Dewi es. Satu sisi, tongkatnya menahan seruling anulika, dan di sisi lainnya telapak tangan menahan ujung tajam tombak es.
Walaupun dengan telapak tangannya, dia bisa menahan dengan mudah tanpa kesulitan sedikit pun, bahkan tangannya tidak tergores. Saat bersentuhan, itu menimbulkan hempasan angin yang tinggi.
Tidak membiarkan anulika menyerang lagi, Diana bergerak cepat menyerangnya. Dia menendang, memukul, mengayunkan tongkatnya dan lain sebagainya. Dewi es juga tidak terhindar dari serangannya.
Namun, meskipun demikian, anulika dan Dewi es Masih bisa bertahan dan berusaha menyerang balik.
Di sisi lain, tidak jauh dari mereka, simo sudah berada di atas bukit dan sedang berhadapan dengan Diana dan Kesatria es yang gagah. Kedua matanya terlihat bahagia, menikmati setiap serangan yang di lontarkan Diana dan Kesatria es itu.
Walaupun di sini simo yang menjadi pihak yang di rugikan, dia tetap memperlihatkan kebahagiaan di wajahnya. Hal ini tentu membuat Diana kesal, namun juga waspada dengan kekuatan-kekuatan yang simo munculkan hari ini, dia bahkan belum mengeluarkan elemennya.
Simo tersenyum, lalu bergerak cepat mengarah musuhnya. Kesatria es memegang erat tombaknya lalu melesat. Selanjutnya pertarungan pedang pun terjadi. Kecepatan simo dan Kesatria es itu sangat cepat.
Mereka tampak seimbang, namun, kesatria es lah yang di rugikan di sana karena kecepatan dan teknik-teknik tombaknya lebih lemah dari simo yang sudah ahli. Terlihat jelas, setiap kali simo mengayunkan pedangnya, kesatria es akan sedikit terdorong atau beberapa bagian pedangnya retak dan hancur.
Teknik-teknik yang simo pakai adalah teknik pemberian kaisar pedang yang sangat ahli. Teknik ini sangat cepat, namun juga memberikan daya kekuatan yang besar, tapi anehnya tidak terlalu menghabiskan energi, jadi simo dapat dengan mudah menggunakannya.
Selain itu, aura pedang berwarna putih, menambah hawa dingin di sekitarnya, sehingga memudahkannya untuk bergerak, dan aura merah membuatnya terlihat aus darah dan tidak akan segan-segan membunuh musuhnya dengan keji.
Dengan gabungan tersebut, tidak heran Simo bisa mengungguli kesatria es.
__ADS_1
Tapi, seperti teknik umum yang lain, tentu saja ada kelemahannya. Simo sedikit sulit mengontrol arah pedangnya Karena terlalu cepat. Selain itu, aura pedangnya juga sulit di kontrol karena memiliki haus darah yang tinggi.
Jika dia tidak bisa mengontrolnya, maka dia akan di rasuki setan dan mengeluarkan semua kekuatan yang tidak di perlukan.
Sudah beberapa detik pertarungan di mulai, simo masih tetap unggul dengan kekuatannya. Melihat ini, Diana pun terjun dalam pertarungan.
Pertarungan kini tiga lawan satu, memang tidak adil dan tidak seimbang, tapi simo tidak memperlihatkan apa pun. Sebaliknya dia tersenyum dengan majunya Diana.
...****************...
Setelah berlari di bawah rantai, akhirnya Namila berhasil mencapai pintu menara. Dia menengadah, melihat betapa besarnya Pintu tersebut. Pintu itu memiliki dua pintu dengan atas membentuk segitiga. Di sekitar ada relief tumbuhan-tumbuhan, seperti pohon, bunga, tanaman rambat dan lain-lain.
‘ini sungguh besar.’ Namila kagum dengan pintu tersebut. Selain besar, pintu itu juga mewah. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah melihat pintu sebesar ini.
Dia menoleh ke belakang, melihat simo dan Anulika bertarung.
‘aku harus cepat.’ dia kembali memandang pintu tersebut.
Dia sedikit terkejut dan menarik tangannya. Perlahan-lahan pintu terbuka, memperlihatkan ruangan yang besar dengan patung-patung gadis berdiri di samping kanan dan kiri. Jalan itu menuju pintu yang lebih besar di ujung.
Patung-patung itu berdiri menghadap ke arah Namila dengan tersenyum.
Dengan perasaan sedikit takut, Namila berjalan perlahan-lahan. Suara langkahnya bergema ketika dia berjalan masuk. Itu sedikit mengejutkannya, tetapi setelah beberapa saat, dia akhirnya bisa terbiasa.
Pintu tertutup setelah 5 langkah dari pintu. Suaranya sangat kencang, membuatnya lagi-lagi terkejut.
“Tempat apa ini?” gumamnya seraya melihat-lihat patung yang ada. Patung-patung itu berpose sama; mereka memperlihatkan tubuhnya yang molek dan sedang menari. Di patung-patung tersebut juga di sinari cahaya dari atap yang berlubang-lubang. Sepertinya itu memang di buat begitu.
Namila berjalan. Dia tahu, ini adalah tempat jiwa Azka di segel, tapi dia masih merasa tempat ini aneh. Selain itu aura yang di pancarkan juga sangat kelam.
__ADS_1
“kakak, jangan lari!”
Namila menoleh ke arah samping. tepat di antara patung-patung tersebut, dua orang gadis berlari yang satu memiliki rambut biru. Wajahnya seperti anulika hanya saja dia lebih muda, dan satunya lagi seorang gadis lebih kecil mirip Azka.
Gadis yang lebih kecil kelelahan. “kak Tunggu...!” Katanya sembari mengulurkan tangannya dan berusaha mengatur nafasnya.
“hehehe. ayolah, kakak sudah pelan-pelan.”
Gadis yang lebih besar tertawa, melompat-lompat, lalu berputar.
Plak
Suara air jatuh, suaranya menggema di ruangan, membuat Namila terkejut dan menoleh. Dia menghela nafas setelah mengetahui itu adalah suara air menetes. Bagaimana bisa ada air? Dia bertanya kepada dirinya sendiri.
Dia kemudian memandang dua gadis itu, namun mereka tidak ada lagi di sana. ‘mungkin hanya ilusi.’
Namila menarik nafas, kemudian berjalan lagi. Ada rasa takut ketika berjalan di dalam ruangan ini. Meski namila orang yang memiliki kekuatan, dia tentu masih takut dengan hal-hal seperti ini.
Ketika tiba di depan pintu ke dua, dia melihat patung seorang pria berdiri di atas pintu. Dia memiliki tubuh manusia. Satu tangannya normal dan satunya lagi, lengan yang terbentuk oleh 5 ular kecil-kecil dengan mulut terbuka ke arah Namila seperti sedang ingin menggigitnya.
Satu kakinya, kaki kodok, dan satunya lagi kaki normal. Rambutnya putih panjang. Lidahnya menjuntai ke bawah dan memperlihatkan giginya yang tajam.
Ketika namila melangkah satu lagi, suara seram terdengar.
“Akhirnya, aku mendapatkan mangsa.”
Suara itu tidak lain berasal dari patung tersebut. Perlahan-lahan patung itu bergetar dan hancur, mahkluk yang sama pun muncul. Ular-ular hijau membuka mulut dan memperlihatkan gigi dan lehernya yang panjang.
Mahkluk itu melompat di depan namila, membuat lantai hancur.
__ADS_1
“He he he. Akhirnya aku menemukan mangsa,” katanya Seraya menjilat bibirnya. Ular-ular hijau siap siaga di lengan kananya.
Anulika secara refleks mengambil ancang-ancang. Pedang air muncul di tangan kanannya. Memandang tajam ke arah makhluk gabungan itu.