Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 27 gunung berapi part 2


__ADS_3

Ekspresi tidak senang terlihat di wajah dira, dia ingin menendang dan membunuh orang di depannya, tapi Pamannya langsung menghentikannya dan menggelengkan kepalanya.


Jika bukan karena pamannya yang sangat dia percayai, dia pasti akan membunuhnya kali ini, Meski sangat berbahaya.


Dira hanya bisa menahan emosi dengan mengepalkan tangannya erat-erat.


“kalian berdua harus bersujud di hadapanku dulu sebelum terjun ke sana. Ini adalah penghormatan terakhir yang harus kalian lakukan.”


“dasar bajingan!” dira ingin maju, tapi Pamannya memegang tangannya, dan dengan wajah sayu menggelengkan kepalanya.


“kenapa? Apa kau ingin melawan? Ingat, semua nyawa berada di tanganku, kau tidak bisa melakukan apa-apa hari ini.” Kata pria itu sambil memperlihatkan ekspresi sombongnya.


‘awas kau!’ batin dira. Dia tidak menyukai Wajah pria itu, jika bisa Dira ingin membunuhnya saat ini, dan tidak peduli apa yang akan terjadi.


Tapi setelah menarik beberapa tarikan nafas, dira menjadi lebih tenang.


“kami akan melakukannya, tapi apa jaminan kalian kalau semuanya baik-baik saja?” Dira berbicara dengan tenang.


“jaminan ya? Kau akan melihatnya nanti dari neraka.”


“kau!”


Dira menghela nafas, menahan emosi.


“Tuan, anda terlalu sombong,” akhirnya pamannya mulai berkata, “aku sarankan bagaimana kalau kau bersumpah di sini dengan darah, dengan seperti itu, kami bisa pergi dengan aman.”


Mendengar itu, dira terkejut dan menoleh ke arah Pamannya.


Pamannya dengan tenang mengangguk mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja.


Karena terlalu percaya kepada pamannya, dira tidak berkata-kata, tapi tentu saja dia sangat penasaran apa yang akan di lakukan pamannya hari ini.


Hugo sangat misterius.


“kau pintar juga, tapi aku tidak akan mendengarkanmu, tapi aku berjanji tidak akan melakukan apa-apa kepada para penduduk, apa kau bisa menerimanya?”


“Tidak. jika kami pergi begitu saja tanpa kepastian, kami tidak akan melakukannya.”


Pria itu mengerutkan kening karena kesal.


“baik, aku akan melakukannya, dan akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, apakah kau menerimanya?”


“Tentu saja tuan. Kau harus meneteskan darahmu ke dalam larva itu, kemudian bersumpah tidak akan melukai penduduk, dan akan selalu setia dengan sumpahmu. Jika kau melanggarnya, kau akan mendapatkan kesialan sepanjang hidupmu.”


“Kata-katamu boleh juga. Baiklah, aku akan melakukannya.”

__ADS_1


Pria itu mengambil salah satu pedang dari 10 prajurit yang dia bawa.


“tuan, kau harus bersumpah dengan menggunakan pisau.”


“di mana pisaunya?” tanyanya Kepada semua prajurit yang ada.


Semuanya saling menatap dan menggeleng.


“maaf tuan, kami tidak membawanya.”


“kau sengaja mengulur waktu?” Tanyanya kepada Hugo dengan marah dan kesal. Dia merasa sumpah ini adalah hal yang di lakukan untuk membohonginya.


“untuk apa aku mengundur waktu? Tuan, ini adalah sumpah suci, jika tuan menggunakan pedang, maka itu tidak bisa di sebut sumpah suci, lantaran pedang itu sudah pernah merasakan darah manusia. Bagaimana bisa kau bersumpah dengan pedang kotor seperti itu? Aku hanya ingin sumpah anda suci dan benar-benar melakukannya.”


Pria itu mengangguk dan menatap para prajurit, “kalian cepat cari, dan temukan!”


“B-baik tuan.”


Dua prajurit langsung bergegas pergi dengan memacu kudanya.


“Adakah pesan-pesan terakhir yang kalian sampaikan? Karena ini adalah hari akhir bagi kalian, kenapa kalian tidak menulis atau menyampaikan apa pun itu? Hah?”


Dira sangat membenci ekspresi sombong pria di depannya, jika bukan karena Hugo menghentikannya, dia pasti akan bertindak nekat.


Dira memalingkan wajahnya.


Wajah Hugo tetap tenang berhadapan dengan situasi seperti itu, dia seolah terlalu sering mengalaminya, atau memiliki rencana yang sangat dia percayai.


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya.


“Kenapa, apa kalian tidak ada pesan? Aku sudah berbaik hati dengan kalian. Tapi, melihat wajah yang mulia ratu, membuatku kesal, tapi tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa di sini. Kalian nikmati saja pemandangan yang indah dari sana. Oh, tenang saja aku tidak akan mendorongnya.”


Dira membencinya, dia berusaha menutupi telinganya.


30 menit pun berlalu, akhirnya prajurit yang tadi akhirnya datang membawa pisau.


Dia bergerak cepat memacu kudanya, dan berhenti dengan cepat.


“tuan, ini pisaunya.” Prajurit itu berjongkok, menyerahkan pisau panjang di depannya.


“bagus!” Pria itu mengambilnya dan mendekati Hugo.


Sebelum melakukan sumpahnya, dia memerintahkan bawahannya untuk memegang Hugo dan dira, tentu saja ini di lakukan untuk berjaga-jaga.


Saat hendak mengores telapak tangan, tiba-tiba seseorang muncul dan tertawa.

__ADS_1


“hahaha! Kau akhirnya bisa membawanya.”


“kakak! Kau datang!”


Pria itu mendekati pria yang di sebut kakaknya itu.


Pria yang datang tidak lain adalah pria yang bertarung dengan simo.


“kau ternyata hebat juga. Aku tidak menyangka kau bisa membawanya ke sini.” Kata pria itu.


“Di mana yang lain?”


“mereka berada di bawah kak, dan sebagian lagi berada di kota untuk berjaga-jaga. Aku yakin rencana hari ini akan berjalan mulus. Kak, kenapa kau meninggalkan para penduduk?”


“Aku bosan.” Pria itu mengingat pergi karena kesal setelah di permainkan simo. Dia tanpa sadar mengepalkan tangannya.


“Tapi kau tenang saja, aku sudah menyuruh dua orang itu ke sana berjaga-jaga.”


Selain itu, alasan dia mengirimnya untuk memastikan bahwa pemuda yang menyerang sudah mati. Dia merasa ragu-ragu dengan pemuda itu.


“baiklah, kak, jika kau bosan, kau bisa menikmati pertunjukan ini bersamaku.” Adiknya tidak mengetahui kekesalan kakaknya


“Kau benar.”


Sang adik berjalan dan mulai melakukan apa yang di perintahkan oleh Hugo.


Sebelum menggores tangannya, kakaknya tiba-tiba menghentikannya.


“Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kalau kau sudah gila karena terlalu senang.” Pria itu awalnya ingin menikmati wajah dira dan Hugo, tapi setelah melihat apa yang di lakukan adiknya, membuatnya heran dan bertanya-tanya.


“aku akan bersumpah, kak, dengan seperti ini, mereka akan bisa pergi dengan tenang ke neraka.” Wajahnya menjadi polos ketika dia berkata seperti itu, sepertinya dia sangat menghormati kakaknya.


“Dasar bodoh! Jangan lakukan itu! Darahmu sangat berharga. Kau hanya perlu menendang mereka ke jurang itu! Tidak perlu seperti itu, biarkan saja mereka pergi tidak tenang! Cepat lakukan!”


Mendengar itu, sang adik tersadar dan mengangguk. Dia menertawakan dirinya karena hal ini. Entah mengapa dia bisa melakukan hal bodoh seperti ini.


Memikirkan ini membuatnya malu.


“Kalian cepat buang saja mereka berdua!” Perintahnya kepada prajurit yang memegang Dira dan Hugo.


Sejenak dua prajurit itu terdiam dan menerimanya. Sejak tadi, mereka mengetahui kebodohan tuan mereka tapi mereka tidak berani melakukan apa-apa karena takut.


Ekspresi Hugo menjadi sedikit pucat setelah mendengar perintah itu, tapi kemudian tersenyum.


“Tuan, apakah anda tahu siapa aku?”

__ADS_1


Dira yang ada di sampingnya menjadi lebih bingung dan heran apa lagi yang akan di lakukan oleh pamannya. Oleh sebab itulah dia diam dari tadi dan mengamati saja


__ADS_2