
Setelah memberikan sambutan yang manis itu, putri Naria memandang sekitarnya. Dia merasa familiar dengan pemuda yang ada di balkon. Dia seolah mengenalnya sangat lama. Namun tidak ada satu pun petunjuk mengenai pemuda itu di pikirannya.
Putri Naria kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, menatap indahnya istana. Dia kemudian berjalan dengan tangan di pegang oleh tunangannya.
Ketika mereka melewati prajurit dan tiba di depan istana, semua prajurit membungkuk. Lestari dan dira sudah ada di depan istana. Mereka lalu menghampiri putri Naria dan tunangannya.
“apakah anda tuan putri dari kerajaan bulan?” tanya dira lalu tersenyum.
Putri Naria ragu-ragu mengangguk.
Dira kemudian mengalihkan perhatian kepada pemuda tampan di samping putri Naria.
“aku tebak. Kau pasti pangeran kerajaan matahari terbit bukan?”
“benar yang mulia. Kami datang untuk menghadiri acara peringatan. Maaf, kami tidak membawa apa-apa.”
“Tidak perlu, kalian sudah datang saja membuatku senang. Ayo masuk ke dalam.”
Dira menuntun mereka ke dalam.
Simo kembali menatap ke depan dan menghela nafas. Dia tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia ingin pergi ke suatu tempat yang tenang dan indah. Dia kini menginginkan kesendirian, dan hanya di temani sang angin.
“Ayah! Kenapa ayah murung?” tiba-tiba Safia bertanya. Gadis itu mengetahui ayahnya sedang dalam suasana hati yang buruk.
“Apa ayah terlihat seperti itu?”
“Emm... Ayah terlihat seperti itu. Aku tidak suka. Tersenyum ayah.”
“Baiklah.” Simo tersenyum terpaksa.
Safia tersenyum dan tertawa. “ayah hebat! Aku tidak bisa tersenyum seperti itu. Dan ayah terlihat lebih baik dari sebelumnya.”
“Ayo kita masuk ke dalam.”
Ketika simo hendak masuk, rina ada di depannya. Dia tersenyum dan mendekati simo.
“Simo, Kau mau ke mana?”
“Aku ingin masuk.”
“Diamlah di sini, aku ingin mendengar ceritamu.”
Melihat Rina datang, dahi Alyssa mengerut. Jelas sekali dia tidak suka dengan Rina. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Simo mengangguk. Dia mulai menceritakan semuanya. Mulai dari dia masuk ke akademi hingga tiba di kerajaan radia. Dia menceritakannya tidak terlalu detail karena sedang dalam suasana yang tidak baik.
“itu sungguh mengagumkan!” ujar Rina dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
Simo hanya mengangguk. Dia tidak terlalu mengharapkan kekaguman Rina. Baginya itu hanya hal biasa saja.
Setelah itu mereka bercerita dan membicarakan banyak hal. Lalu mengingat-ingat masa lalu bersama. Simo yang tadinya dalam suasana hati yang tidak baik, menjadi lebih baik.
Di sore hari, Simo duduk sendiri di taman. Dia memilih sendiri dan ingin menyendiri. Safia kini tertidur lelap.
Dia menikmati pemandangan sekitar dan memandang cahaya matahari sore
Tidak berselang lama, putri Daria duduk di sampingnya. Seraya menatap matahari, dia berkata, “apakah kita pernah bertemu?”
Karena terlalu fokus, Simo terkejut dan menoleh, namun lagi-lagi dia dikejutkan oleh rupa daria yang sangat mirip dengan Namila.
‘dia sangat mirip dengan Namila’ simo tertegun beberapa saat. Dia dari pagi memang melihat putri Naria, tetapi dia tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Ketika melihatnya, dia menyadari putri daria mirip dengan Namila, hanya saja dia tampak lebih cantik dan memiliki rambut biru keperakan yang indah.
Simo lalu memandang ke depan. Mungkin saja hanya mirip. Dia tidak ingin berharap besar terhadap hal itu, dan jika itu adalah namila dia pasti mengingat dirinya.
“aku tidak tahu. Mungkin kau pernah melihatku dan menganggapnya adalah pertemuan.”
“Mungkin saja. Siapa namamu?” daria masih menatap ke langit.
“kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Memangnya kenapa!?” ujar Putri daria dan menoleh.
“tidak apa, tapi .... Aku mempunyai nama yang jelek.”
Mendengar itu, simo diam. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Tapi kenapa dia harus peduli sekali dengannya? Selain itu, nama itu di berikan oleh kakeknya bukan orang tuanya.
“Ah ... Maaf, aku terbawa suasana. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu. Maaf, aku pergi dulu.”
Simo membiarkannya pergi. Dia kemudian menikmati pemandangan lagi.
Hingga tiba di malam hari, dia akhirnya beranjak dari sana dan sesuai janji simo tidur dengan Safia.
Matahari naik begitu cepat. Simo terbangun dengan rina tidur di sampingnya. Gadis itu selalu melakukan itu, meski simo melarangnya. Namun seberapa keras dia melarangnya, Rina tidak akan mempedulikannya. Gadis itu keras kepala!
Simo hanya bisa menghela nafas karena itu. Meski dia tidak marah, tentu saja dengan keberadaan Rina membuatnya terganggu. Bagaimana kalau ibunya masuk ke dalam kamar dan melihat itu?
Simo tentu saja sulit mengelak dan membiarkan dirinya di ejek. Kemudian menahan malu.
Tapi untungnya hal itu tidak pernah terjadi.
Simo kemudian pergi ke balkon. Dia merentangkan kedua tangannya dan bersandar di balkon. Pemandangan pagi memang membuatnya lebih tenang. Dia mengerutkan kening setelah melihat putri daria duduk sendiri di taman. Dia memandang lekat-lekat gadis itu. Gadis yang mempunyai rupa yang sama persis dengan Namila.
Apa jadinya jika namila ada dan melihat hal ini? Tentu saja dia akan terkejut dan terheran karena kemiripan mereka berdua. Andai saja Namila ada tentu saja simo akan lebih bahagia. Simo memandangnya lama. Dia seolah melihat Namila di sana karena kemiripannya. Jika saja dia benar-benar namila, dia akan pergi menghampirinya.
Kemudian setelah beberapa saat datang pemuda tampan bersamanya, mengajak putri daria ke dalam. Simo melihatnya sebelum akhirnya mereka berdua masuk ke dalam.
__ADS_1
“ayah! Kenapa ayah! Tidak membangunkanku!” ujar Safia marah dan berjalan mendekati simo.
Simo terkejut, dan dengan cepat menggendong Safia sambil berkata, “ayah akan melakukannya nanti.” Gadis kecil ini semakin lama membuat orang kesal saja.
“ayah, kenapa kakak Rina ada di sana.” Tunjuk Safia.
“Ayah tidak tahu.”
“Ayah bohong! Ayah pasti membiarkannya masuk, kan?”
“Tidak.”
“bohong!” Safia menggelembungkan pipinya dan menyilangkan tangan di depan dada, lalu mendengus.
Simo hanya bisa menghela nafas. “Baiklah, ayah tidak akan membiarkan rina masuk, dan akan berjaga, agar dia tidak masuk diam-diam. Ayah berkata jujur, tidak membiarkan rina masuk lagi.”
“apa ayah tidak berbohong,?”
Simo mengangguk.
“aku sayang ayah!” Safia memeluk leher simo dengan erat.
“Ayah! Kapan kita akan pulang?”
“besok, besok kita akan pulang. Apa kau rindu pulang?”
“tentu saja ayah! Siapa yang tidak rindu dengan pulang? Aku ingin melihat kakek dan bermain bersamanya.”
Setelah mereka membangunkan rina dan memperingatinya, mereka lalu pergi ke bawah untuk makan.
Selama mereka makan, rina selalu mendesak untuk menyuapi simo dan terus berusaha. Membuatnya tidak enak dan menyerah.
Safia dan beberapa orang lain terganggu, namun mereka hanya diam dan memberikan tatapan tidak senang. Sementara putri daria merasa ada sesuatu yang tidak baik di dalam hatinya, yang membuatnya tidak nyaman dan makan dengan cepat.
Kemudian para bupati datang dari berbagai daerah karena undangan. Mereka datang pagi-pagi sekali. Ada yang datang ada juga yang tidak karena sedang sibuk.
Satu persatu para bupati datang. Ada yang dengan keluarga atau dengan teman dekatnya. Satu persatu masuk ke aula dan berdiri di samping kanan dan kiri. Mereka semua duduk dan menikmati pelayanan yang di berikan.
Ketika dira datang, semuanya memberi hormat. Dira mengangguk dan berjalan anggun bersama lestari.
Di sisi lain, putri Dhiya kharya duduk di balkon. Dia tidak terlalu mempedulikan acara tersebut. Dia memilih berdiri di atas dan akan ikut ketika yang lainnya keluar pergi berziarah.
Ketika itu datang, makan akan ada berbagai petunjuk yang mengiringinya. Putri Dhiya suka para penari yang berjalan-jalan, suka dengan berbagai bunga yang di taburi. Dia akan menanti-nanti acara ini setiap tahun.
“Tuan putri, ayo ikut denganku.”
Setelah mendengar suara itu, putri Dhiya kharya menoleh. Seketika dia terdiam seperti membatu di hadapan seorang pemuda yang entah dari mana. Kemudian cahaya merah menyelimutinya dan menghilang begitu saja.
__ADS_1