
Tidak membiarkan Thomi menarik nafas. Sam dengan tersenyum melesat menyerang Thomi dengan segala teknik pedang yang dia miliki. Sedangkan Thomi dengan kedua patahan tongkatnya terus berusaha melawan.
Sebelumnya saat mengetahui tongkat thomi mudah di Potong, dia sedikit terkejut dengan kekuatan sam yang kuat. Tongkat yang dia bawa bukankah sembarangan tongkat. Melainkan tongkat yang kuat, hanya saja di desain sederhana seperti itu.
Tongkat itu thomi beli, karena pedagangnya mengatakan, tongkat itu memiliki sihir penguat di dalamnya. Selain itu, pohon yang di gunakan bukan pohon sembarangan. Bahan-bahan yang di gunakan berasal dari pohon senjata. Pohon itu sekuat baja dan memiliki daun-daun setajam pisau.
Namun ternyata itu tidak lebih hanya bohong semata untuk menarik minat thomi membelinya. Di dalam hatinya, dia mengumpat -ngumpat pedagang yang menjual barang palsu itu. Dan dengan kesal dia terus berusaha menahan berbagi serangan yang sam lontarkan.
Beberapa kali thomi mengertakkan giginya menahan serangan sam yang cepat dan lugas.
Jika itu orang lain maka akan menyerah, namun berbeda dengan thomi yang memiliki hati bersemangat yang membuatnya terus melawan. Meski lebih banyak menahan ketimbang melawan.
...****...
Sementara itu di sisi lain, Talina dan Suman bertarung dengan sengit. Talina dengan payungnya sedangkan Suman dengan pedang.
Sama seperti kakaknya, Suman begitu lugas menyerang Talina dengan pedang panjangnya.
Setiap ayunan pedangnya, itu terlihat dengan mudah di ayunkan dan seperti tidak memiliki berat sedikit pun, namun itu sebenarnya memiliki kekuatan yang kuat.
Oleh karena itu Talina kesusahan menahan serangan Suman yang kuat. Apalagi dirinya merupakan tipe gadis yang berasal dari kaum bangsawan yang lemah dan terbiasa dengan kasih sayang Ibunya.
Alasan dia masuk ke akademi karena permintaan ayah dan Ibunya yang menginginkan Talina berjasa kepada negara dan pemerintah. Mereka tidak memperdulikan entah Talina menyetujuinya atau tidak, yang pasti Talina harus mau melakukannya.
Sebagai seorang gadis yang baik, Talina dengan terpaksa melakukannya dan berusaha untuk terus memperjuangkan harapan ayah dan ibunya.
Namun kenyataan tidak bisa di bendung, dia adalah gadis yang lemah dan ingin kasihan sayang.
Oleh karena itu dia mendapatkan kelas C. Ayah dan ibunya yang mendengar itu merasa kecewa dan sedih. Dan begitu pun Talina.
beberapa hari Talia meratapi nasibnya yang buruk. Talina menangis dan khawatir jika ayah dan ibunya akan membencinya selamanya, tetapi tidak seperti dirinya khawatir, ayah dan Ibunya datang memberikannya semangat dan harapan lagi.
“semoga kau tidak mengecewakan kami lagi.”
Kata-kata itu selalu ada dalam hati talian yang membuatnya terus bersemangat untuk berlatih. Meski bakatnya rendah, dia tidak pernah sesekali berpikir untuk menyerah ataupun merasa rendah diri, karena dia yakin suatu hari nanti dirinya akan memenuhi harapan orang tuanya.
“menyerahlah! Gadis payung!” ujar Suman seraya mengayunkan pedangnya dengan lugas. Dia menyerang dengan satu tangan tanpa kesusahan sedikit pun.
Sedangkan Talina menggunakan kedua tangannya untuk menghalau berbagai serangan yang Suman lontarkan.
Dari awal Talina memang mengetahui jika dirinya akan kalah akan tetapi dirinya tetap berpikir positif untuk melawan sekuat tenaga dan mengobarkan semangatnya.
__ADS_1
“Aku tidak akan menyerah!” ujar Talina seraya mendorong pedang Suman lalu berusaha menyerangnya kembali.
“ahaha, kau tidak akan bisa!” Suman meningkatkan kekuatannya dan membuat Talina terdesak.
Tidak sampai satu menit, Talina tersungkur di tanah.
“menyerahlah!” Ujar Suman seraya mengarahkan pedang besar.
“Tidak, aku tidak akan menyerah!” di saat mengatakan itu, Talina berusaha berdiri dan mengayunkan payungnya, Tapi sebelum menyentuh Suman, dirinya sudah kembali tersungkur.
“menyerahlah gadis payung.” Ujar Suman.
“Tidak! Hiyaaa!” Talina lagi-lagi ingin menyerang Suman akan tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.
“Aku peringatkan sekali lagi, menyerahlah!”
Semua orang merasa terharu dan kasihan melihat Talina seperti itu. Meski Talina tidak menang, itu tidak penting. Yang penting apa yang dilakukan Talina, itu sudah cukup membuat mereka memujinya.
“gadis yang gigih.” Gumam Klarika. Dia terlihat senang ada siswa yang gigih seperti itu, tapi dia juga merasa sedih melihat gadis itu terkapar dengan menyedihkan.
“tidak. Sebelum kau kalah, aku tidak akan menyerah!” ujar Talina dengan keras dan menatap Suman dengan tajam. Kedua matanya memerah, rambutnya acak-acakan dan tubuhnya di penuhi keringat. Sungguh menyedihkan!
“Oh, kau tidak ingin menyerah, maka jangan salahkan aku jika kau terluka....!” di saat mengatakan itu, Suman mengangkat pedangnya dan mulai mengayunkan.
Talina yang melihatnya pedang itu semakin dekat hanya bisa memejamkan matanya dengan erat. “ayah, ibu maafkan Talina.” Batin gadis itu dengan perasaan sedih karena belum bisa memenuhi harapan ayah dan ibunya.
Trangkk!!
Semua orang tertegun begitu pun Klarika. Tidak beberapa lama semuanya menarik nafas lega. Sebelum pedang itu mengenai Talina, jauzan tepat waktu menahan serangan Suman dengan pedangnya.
“kau!” Suman sedikit terkejut melihat jauzan dengan mendadak muncul di depannya.
“dia sudah kalah, kau tidak perlu Menyerangnya lagi.” Kata jauzan dengan nada sedikit dingin.
“siapa yang mengizinkanmu untuk mencampur urusanku!” pekik Suman.
“Entah ada yang mengizinkannya atau tidak, itu terserahku.”
Mendengar itu Suman menjadi marah, karena jika bukan karena jauzan mungkin saja Talina sudah terkapar tidak sadarkan diri.
“Bu Klarika! Kenapa anda memberikan dia sesuka hatinya mencampuri pertarunganku!” ujar Suman yang ingin mencari keadilan untuk dirinya dan ingin membuat jauzan menerima hukuman, namun kata-kata yang keluar dari mulut Klarika sebaliknya.
__ADS_1
“maaf Suman. Apa yang jauzan katakan ada benarnya. Ibu nyatakan kau dan kakakmu sudah menang.” Jawab Klarika dengan suara yang keras
Suman pun menoleh ke arah kakaknya. Dan benar saja sam sudah mengalahkan thomi dan sedang berjalan ke arahnya.
Suman menggertak gigi dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dirinya ingin sekali membuat gadis payung itu terkapar tidak sadarkan diri, namun sepertinya gadis itu memiliki keberuntungan yang melimpah.
“adikku, kau tenang saja suatu hari nanti kita akan membalas mereka.” Ucap Sam seraya menepuk pundak Suman.
Pertarungan mereka di lakukan secara terpisah dan fokus terhadap lawan-lawan mereka jadi wajar saja Jika mereka tidak mengetahui jika pasangannya memang atau tidak. Yang pasti keduanya bisa mendengar.
Suman menarik nafas, lalu berkata, “Baik kakak.”
Melihat situasi sudah baik, jauzan menoleh ke gadis itu.
“terima kasih.” Ucap Talina dengan nada sedih.
“Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu kepadaku. Untuk yang tadi itu sungguh berbahaya, kau tidak boleh mengulanginya lagi ya. Jika kau mengulanginya lagi, kau tidak akan bisa memenuhi harapan orang tuamu.” Jauzan mengulurkan tangannya.
“Eh, kenapa kau bisa tahu?” tanya Talina sedikit terkejut. Setahunya dia tidak pernah bercerita apa pun solah itu. Apalagi dengan jauzan seorang siswa baru. Saat mengatakan itu, Talina menerima uluran tangan jauzan.
Saat tangannya bersentuhan dengan tangan jauzan, Talina merasakan tangan Jauzan begitu lembut seperti tangan seorang wanita dan membuatnya bingung sekali heran.
Selain itu, Talina juga merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
“kau tidak boleh seperti itu lagi ya.” Saran jauzan yang di jawab anggukan oleh Talina.
Setelah itu, jauzan menghilang sekejap mata yang membuat Talina terkejut dan mencari-carinya, namun dia tidak menemukannya.
Talina memutuskan untuk mendekati thomi lalu menarik tangannya.
“Ah, sepertinya aku harus berusaha lagi.” Kata thomi seraya membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.
“ya, aku juga. Tahun depan kita akan mengalahkan mereka!” ujar Talina dengan nada yang sudah baikkan.
Mereka lalu keluar dari lapangan.
Meski mereka tidak memenangkan pertarungan, mereka masih mendapatkan pengalaman yang melimpah dan akan mendukung perkembangan mereka untuk ke depannya.
Selain itu, Talina menjadi senang dan bahagia setelah bertemu dengan jauzan. Dia berencana ingin mengetahui lebih banyak tentangnya.
...****...
__ADS_1
mohon kritikan dan sarannya ya