Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 19 hukuman


__ADS_3

Delisa tersenyum, ketika berada tidak jauh dari namila. Namun, berbalik dengan delisa, namila memperlihatkan ekspresi dingin dan sorotan mata yang tajam, seperti mengintai musuhnya.


Namila merasa ada hal buruk akan terjadi, dan dari perkiraannya, gadis di depannya ingin melakukan sesuatu yang jahat.


Selain itu, dia merasakan tekanan yang kuat terpancar dari Delisa. Menurutnya, ini sudah di tingkat bumi tahap 7 bintang 7. Delisa bisa di tempatkan di antara orang-orang jenius di akademi.


Itulah yang membuat namila waspada, dia yakin, jika sedikit saja lengah, maka mungkin saja dia akan terluka, dan yang paling parah mati.


“ santai saja, aku tidak akan melakukan apa-apa untuk saat ini, tapi nanti aku tidak bisa menjaminnya.”


“apa yang ingin kau lakukan?” kata Namila dingin.


“tidak ada. Hanya saja, aku ingin merasakan kekuatanmu nanti. Sekarang aku hanya ingin berbincang-bincang denganmu.”


“Aku tidak percaya.”


“terserah, tapi yang pasti aku akan melawanmu, bersiap-siaplah.”


Setelah mengatakan itu, delisa Kemudian pergi.


Setelah dirasa Delisa pergi, akhirnya namila bisa menghela nafas lega. Walau dia sekarang sudah berada di tingkat bumi tahap 5, yang di mana dua tingkat di bawah Delisa, dia merasa kemungkinan untuk menang sangat kecil.


Dia juga berpikir delisa tidak mungkin datang hanya untuk mengatakan itu saja. Pasti ada tujuan tersembunyi darinya, selain ingin bertarung dengan Namila.


Menyampingkan hal itu, namila lagi-lagi menghela nafas, dan berusaha bersikap seperti biasa.


“wahh..”


Akhirnya simo muncul dari dalam air. Dia perlahan-lahan menuju pinggiran sungai sembari membawa beberapa ikan.


Dia memakai baju dan mengeringkan celananya dengan api. Setelah itu, mengeluarkan isi perut ikan, membuang sisiknya. Lalu mencari kayu bakar yang ada, dan menyalahkan api


Setelah mulai memanggang ikan, simo sedikit mengangkat alisnya, melihat namila terlihat murung. Dia juga baru menyadari namila tidak berkata sepatah kata pun semenjak dirinya kembali dari menangkap ikan. Simo menyadari ada sesuatu yang terjadi selama dia menangkap ikan.


“tidak ada.” Jawab namila singkat, lalu mengambil ikan dan mulai memanggangnya.


Melihat namila seperti itu, simo hanya bisa diam. Dia mengerti terkadang ada beberapa hal yang tidak boleh dia tahu, meski merupakan orang terdekatnya.

__ADS_1


...****************...


Langit sore terlihat berwarna kuning oranye dengan hiasan awan-awan mendung. Dengan matahari sebagai senter yang paling terang dan indah di langit. Cahayanya memancar ke seluruh alam, menerpa wajah simo yang kini duduk di tepi tebing. Dia sedikit tersenyum dan mengingat kenangan-kenangan yang pernah dia alami sebelum pergi dari kota di bawah kakinya.


Tidak jauh dari sana masih ada pohon besar yang selalu menjadi objek terbesar di sana. Pohon itu masih sama, hanya saja daun-daunnya mulai menguning. Kulitnya juga sudah lebih keras dan mulai menutupi luka-luka di buat simo yang tidak namila sembuhkan.


Simo senang melihat cahaya matahari, dia juga menyukai hangat yang di pancarkannya. Walau hangatnya seperti cahaya Matahari pagi, itu tidak bisa di bandingkan dengan langit orange saat ini.


Perlahan-lahan suara langkah kaki mendekati simo. Seorang wanita paru baya mendekati simo.


Simo sedikit melirik, lalu berkata, “bu Klarika, Kenapa anda datang ke sini?”


Ada rasa heran mengetahui Klarika ke tempatnya. Dia heran dari mana Klarika mendapatkan informasi mengenai tempatnya berada saat ini, dan ini tidak seperti biasanya Klarika mencarinya. Apalagi setahunya dia tidak melakukan kesalahan sedikit pun.


“Aku hanya ingin berkunjung, apa itu tidak boleh?”


“boleh saja, tapi mengapa ibu menemuiku sekarang?”


“apa kau lupa? Aku akan memberikanmu hukuman setelah terlambat pulang, hari inilah kau akan mendapatkannya.”


“Maaf bu, hari ini aku tidak ingin melakukannya. Bisakah kau datang besok?”


Setelah mendengar itu, simo berdiri. Walau dia sebenarnya tidak ingin melakukannya, dia tidak bisa mengabaikan Klarika selaku walinya. Namun, bukan berarti dia takut dengan Klarika, dia hanya menghormatinya, tapi dia juga takut, jika Klarika melaporkan perbuatannya kepada kakeknya.


“aku akan menerimanya, tapi hanya tiga serangan. Jika aku berhasil mengalahkanmu dalam tiga serangan kau harus pergi dari sini.” Kata simo sedikit malas.


Tiga serangan. Mendengar itu, membuat Klarika terkejut. Dia lalu memandang simo, melihat apakah dia bersungguh-sungguh atau tidak, tapi sepertinya simo memang bersungguh-sungguh.


Walau Klarika juga Melihat simo malas, dia mengetahui simo tidak bercanda.


Jika orang lain mendengar itu, maka mereka akan tertawa dan menganggap simo terlalu sombong, menganggap dirinya terlalu meninggikan kemampuannya, tapi untuk Klarika, hal itu tidak boleh di pandang remeh.


“baiklah. Aku menerimanya. Lagi pula aku juga ingin menguji kemampuan siswaku.”


Simo menarik pedangnya. Perban yang mengikatnya seketika terlepas seperti di hempaskan angin kencang dari dalam. Setelah perban melayang, simo mengayunkan pedangnya ke belakang, simo langsung melesat. Kemudian mengayunkan pedangnya dengan keras. Bersamaan dengan itu, dia memancarkan energi alam kecilnya.


Ini menyebabkan rumput-rumput bergoyang-goyang tidak karuan karena kekuatan energi alam kecil dan kekuatan fisik simo.

__ADS_1


Klarika langsung jungkir balik dengan pedang simo sebagai titik tolaknya, kemudian berputar di udara sebelum akhirnya mendarat tidak jauh dari simo.


Merasakan kekuatan energi alam kecil simo, Klarika berdecap kagum sekaligus terkejut. Hanya beberapa hari latihan di pulau sijiriah, membuat peningkatan simo sebesar ini, apalagi jika di biarkan beberapa bulan. Sebuah kemajuan yang cepat.


Latihan di pulau sijiriah memang membuat seseorang menjadi lebih kuat dan memiliki pengalaman yang banyak, tapi terlepas dari semua itu, bahaya yang mengintai tidak dapat di pungkiri, membuat orang meregang nyawa atau jika beruntung terluka ringan.


“Apa ini serangan pertamamu?” tanya Klarika dengan nada seperti biasa, tapi di dalam hatinya dia masih terkejut.


Simo mengangguk tanpa ekspresi.


Menyerang pertama kali dengan mengayunkan pedang, itu sungguh tidak menguntungkan dan membuang kesempatan pertama kalinya, namun Klarika tidak berkata apa-apa. Dia menyadari mungkin saja ini adalah rencananya yang tidak Klarika ketahui.


“Jika begitu, ini seranganku.”


Klarika mengeluarkan semua energi alam kecilnya, membuat tanah bergetar hebat. Lalu dari dalam tanah muncul retakan-retakan, kemudian bercahaya terang dan akhirnya muncul seekor gorila tanah.


Gorila itu meraung, dan melompat. Di udara dia meraung dan mengarah pukulannya.


Bomm!


Setelah pukulan gorila mendarat, sebuah ledakan terjadi, lalu di susul dengan retakan-retakan.


Debu mengepul ke atas, membentuk kubah dan menutup pandangan Klarika. Retakan-retakan meluas beberapa meter dari pusat serangan.


Klarika menghela nafas. Walau dia belum mengetahui apakah simo bisa menghindar, dia tidak mempedulikannya. Dengan kekuatan dan kecepatan tekniknya, dia yakin tekniknya mengenai simo, dan jika menghindar, paling tidak simo akan terluka.


Setelah debu itu menghilang, kedua alis Klarika merajut, kedua matanya sedikit membesar, memandang kejadian aneh di depannya. Simo tidak menghindarinya, namun sebagai gantinya, dia menahan pukulan gorila dengan satu tangannya tanpa kesulitan yang berarti. Retakan-retakan terlihat di tangan gorila dan di sekitar simo dengan kedalaman beberapa meter.


Dengan menggunakan teknik lauthing linght, simo seketika muncul di belakang gorila. Dia langsung mengayunkan pedangnya dengan keras. Perlahan-lahan pedang simo membelah gorila tanah dari kepalanya sampai kaki, tanpa kesulitan yang berarti juga. Itu seolah memotong mentega dengan pisau.


Setelah tiba di bawah, tiba-tiba saja tubuh gorila tanah meledak menjadi beberapa bongkahan tanah.


Melihat itu, Klarika tidak menyangka teknik dan kekuatannya bisa di kalahkan dengan mudah, padahal itu salah satu teknik terkuat yang selalu dia gunakan untuk lawan yang lebih kuat dari simo, seperti kai atau Hendry.


“bu Klarika, sekarang giliranku.”


Tanpa menunggu jawaban Klarika, simo berlari dan mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Klarika dengan tenang menyanggah bilah pedang simo dengan satu tangannya. Dia menghela nafas, lalu berkata, “tidak perlu di lanjutkan lagi


__ADS_2