
Klarika dan gadis itu duduk berseberangan dengan simo dan Safia. Gadis itu tetap menunduk dan murung. Simo menduga dia pasti mengalami sesuatu yang buruk.
“simo, kau tahu mengapa aku memanggilmu ke sini?” tanya Klarika dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dan bersandar di meja. Ekspresi serius terlihat di wajahnya.
“ini pasti ada hubungannya dengan gadis itu bukan?” tanya simo sama dengan ekspresi serius.
“kau benar. Aku ingin kau mengantarkannya pulang. Kau juga ingin misi yang menantang bukan? Dengan kau pergi bersamanya, mungkin kau bisa bertemu dengan musuh yang kuat. Ibu juga sudah mengetahui Safia itu bukan anak biasa, dengan begitu kau akan terancam di sepanjang jalan. Di sini, jika kau tidak membawanya, aku khawatir anak angkatmu tidak akan selamat. Jumlah yang mendukung Kaisar sangat banyak dan kuat, sementara jumlah yang ingin melindungi anakmu sangat sedikit.”
Mendengar itu, Safia sedikit khawatir dan memegang tangan simo. Meski dia masih kecil dia sangat pintar dan tahu dirinya dalam terancam. Dia juga sebenarnya sudah beberapa kali ingin di culik, tetapi tidak mengatakannya kepada simo.
Simo yang merasakan ketakutan Safia, memegang tangannya erat-erat. Dia tidak akan membiarkannya jatuh ke pihak yang salah dan memanfaatkannya.
“apa ibu ingin aku dalam bahaya? Bagaimana kalau kaisar akan membawa banyak orang untuk menangkap Safia.”
“apa kau pikir kaisar akan melakukan itu? Tentu saja tidak. Mengirim banyak orang, membuat orang-orang akan curiga. Apalagi hanya ada kau di sana, Kaisar tidak akan melakukannya. Selain itu, ibumu adalah ratu di kerajaan radia, jika kau berhasil masuk ke sana, kau akan aman.”
Mendengar itu, simo terkejut. Sudah lama dia tidak bertemu dengan ibunya. Dengan nada semangat dia bertanya, “apa ibu mengenal ibuku!?”
Klarika mengangguk dan tidak memperlihatkan ekspresi semangat sedikit pun di wajahnya. “ jadi, apa kau akan menerimanya?”
“iya, aku akan menerimanya, tetapi aku tidak bisa membawa Safia, itu terlalu berbahaya. Bagaimana kalau anda menjaganya di sini. Aku akan lebih tenang melakukan misi ini.”
Mendengar itu, klarika mendesah. “ di sini ada banyak sekali orang, dan belum tentu mereka netral, bisa jadi, ada di antara mereka adalah anak buah Kaisar. Selain itu, aku tidak selalu ada di sini. Jika itu pun ada, kalau ada orang-orang kuat yang mengincarnya dan aku tidak bisa menyelamatkan, Apakah kau akan memaafkanku?”
Simo terdiam. Dia memikirkan cara terbaik untuk melindungi Safia. Biarpun dia adalah anak angkatnya, simo merasa dia sudah terikat benang dengannya. Sebuah benang merah yang tak terlihat.
Setelah beberapa saat memikirkannya, akhirnya simo berkata, “jika aku pergi bersamanya, kau harus menyiapkan beberapa orang untuk menghadang orang-orang kaisar. Aku tidak mau mengambil risiko yang membuatnya dalam bahaya.”
“Apa kau mulai menyayanginya?” tatapan Klarika menelisik mata simo seperti ingin mengetahui sesuatu yang sangat rahasia. Tapi tentu dia tidak akan bisa melakukannya.
__ADS_1
Simo berbalik menatapnya kemudian tersenyum dan berkata, “begitulah. Aku tidak mau kehilangannya.”
“apakah ini ada hubungannya dengan Namila?”
Simo terdiam. Ingatan-ingatan tentang Namila tergambar jelas di pikirannya. Dia mulai bertanya-tanya mengapa bu Klarika mengatakan itu dan mengapa dia seperti terlalu peduli dengannya.
“Apa aku akan pergi sekarang?” simo mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin mengingatnya lagi. Dia ingin tenang dan menghilangkan perasaan itu. Jika Namila tidak mati dan bertemu dengannya, maka itu adalah suatu keberuntungan, jika tidak itu adalah takdir.
Namun meski begitu, simo tetap sedih atas kehilangannya.
“Iya. Tapi sebelum itu, perkenalkan di sampingku adalah putri Dhiya kharya, dia adalah salah satu anak raja kerajaan radia dan merupakan bibimu. Kau harus mengantarkannya pulang dengan selamat.”
Mendengar itu putri Dhiya kharya terkejut dan sedikit mengangkat wajahnya. Dia tidak pernah berpikir klarika berkata seperti itu. Dia cepat-cepat bertanya, Namun klarika mengisyaratkan untuk diam.
Simo juga terkejut mendengar. Bagaimana tidak, seorang gadis yang lebih muda darinya di sebut bibi. Dia dengan kesal memukul meja, membuat semuanya terkejut. Dia kesal karena di permainkan klarika. Pertama, ingin mengungkit hal-hal yang tidak ingin diingat, kedua, membohonginya karena memperkenalkan gadis di depannya adalah bibinya.
“bu Klarika, apa Anda ingin membuatku marah hari ini?” Tanya simo dengan nada yang sedikit marah.
Melihat itu, simo menghela nafas dan mengatur nafasnya yang memburu. Entah kenapa dia bisa semarah itu. Mungkin karena berlarut-larut dalam kesedihan.
“Aku tidak berbohong.” Jawab klarika dengan kepercayaan diri yang tinggi. “Jika kau tidak mempercayainya, kau bisa bertanya kepada ibumu. Jangan memukul meja seperti itu.”
Klarika menarik nafas. “aku akan mempersiapkannya. Kau pergi sekarang. Nanti sore datang kembali ke sini. Jangan terlambat, aku tidak mau menunggumu.” Klarika lalu pergi meninggalkan ruangan.
Di Sore hari, kereta kuda akhirnya berjalan keluar kota dan melewati pepohonan di hutan. Kereta itu tertutup. Di tarik tiga kuda yang berbaris. Mereka semua berwarna putih.
Simo mengemudikannya. Dia memakai pakaian robek-robek seperti seorang petani. Di kepala ada topi bambu khas para petani pakai.
Tidak hanya dia saja, putri Dhiya kharya dan Safia juga. Di dalam sudah di penuhi sayur-sayuran yang akan mereka jual ke kerajaan radia, tapi sebenarnya itu hanya penyamaran agar mereka tidak di curigai dan di rampok. Namun mereka salah, setelah beberapa mil simo memacu kuda 5 orang menghadangnya. Di tangannya sudah ada parang.
__ADS_1
Di kepala mereka ada kain merah yang di ikat. Mereka semua nyaris memiliki kumis dan wajah sanggar.
Selain mereka bertiga, di dalam, delisa juga ada di sana dengan wajah marah, bahkan sejak pertama kali berangkat. Dia marah karena ibunya yang memerintahkannya seperti ini. Dia tidak suka di perintah.
Simo menarik tali, menyebabkan kereta kuda berhenti mendadak dan membuat putri Dhiya kharya sedikit terguncang.
“ada apa kakak simo?” Tanyanya dan ingin keluar, tetapi di hentikan Delisa dengan pedang menghadang.
“diam di sini.” Tatapannya tajam dan mengeluarkan aura dingin yang mencekam.
Putri Dhiya kahrya mengangguk takut dan kembali duduk.
“Kakak Dhiya, ayahku sangat hebat, dia bisa mengalahkan para bandit tersebut.” Riang Safia yang duduk berseberangan dengannya.
“bandit?”
Safia mengangguk dan tersenyum.
Setelah Delisa keluar, dia langsung melompat ke depan. Saat di udara dia berputar dengan indah, menyebabkan gaun biru selutut sedikit mengembang. Dan membuat para pandit tersebut melongong karena keindahannya.
Namun ketika mendarat, mereka menyesal, karena tidak ada senyum sedikit pun di wajahnya.
“apa kalian mencari mati?” segumpal api ungu muncul di tangan Delisa. Dia memiliki elemen yang sama dengan ibunya.
Melihat api tersebut semua bandit langsung ketakutan. Mereka salah mengira, jika itu adalah kereta petani yang membawa hasil tanahnya.
“E ... Nona, maafkan kami. Kami salah orang.” Seru salah satunya. Mereka semua berkeringat dingin.
Perlahan-lahan para bandit mundur dengan masih menghadap ke arah Delisa. Mereka takut, jika Delisa menyerangnya.
__ADS_1
Delisa tersenyum sebelum akhirnya berkata, “apa aku memaafkannya?”
Setelah mengatakan itu, Delisa dengan cepat membuat panah api ungu dan langsung menembak para bandit tersebut.