
Setelah pertempuran yang drastis itu terjadi, para siren kembali mengajak para manusia untuk berdamai yang sekarang di pimpin oleh isla.
Para manusia yang sebelumnya kebingungan dengan pertarungan yang terjadi, berangsur-angsur berkumpul dengan ayu dan Andros di depan.
Meski mereka tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang menang, mereka bisa menghela nafas lega.
Andros terlihat ragu-ragu dalam mengambil keputusan, sehingga dia menyerahkannya kepada ayu.
Andros sebenarnya, ingin berdamai, terlebih lagi istrinya sebagai siren.
Walau dia terkejut dan tidak menyangka istrinya, isla adalah seorang siren, dia tetap mencintainya, apalagi sekarang istrinya tampak lebih cantik.
Selain karena itu, dia juga mengerti jika bukan para siren lah yang melakukannya sebab, jika para siren yang melakukannya, pasti dia sudah di bunuh oleh istrinya sendiri, dia juga menebak yang menjadi pihak yang bersalah atas semua hal yang telah terjadi di sebabkan oleh sosok besar yang dia lihat.
Setelah apa yang terjadi, dia setuju dengan keputusan simo. Awalnya dia tidak setuju, tapi sekarang dia menyetujuinya.
“tidak paman, sebagai seorang pemimpin, aku tidak boleh mengambil keputusan sepihak. Aku harus menanyakannya Kepada orang-orang di desa.”
Semua orang mengangguk. Apa yang dikatakan ayu ada benarnya. Untuk menghindari ketidak adilan dalam mengambil keputusan, pemungutan suara adalah metode yang tepat untuk hal itu.
“kami bisa mengganti rugi atas semua yang telah kami lakukan, meski kami melakukan karena di perintahkan dan di ancam, hanya saja jika itu bukan sesuatu yang bisa kami lakukan.” Kata Isla.
Ayu mengangguk pelan dan berbalik, dia lalu memerintahkan untuk pulang untuk memungut suara. Saat memerintahkannya ada sesuatu yang tidak ayu perlihatkan. sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat ingin dia sembunyikan rapat-rapat.
Karena kapal telah terbelah, maka para manusia harus memperbaikinya sebelum bisa pergi dan karena sudah mulai malam, mereka memutuskan untuk beristirahat dan melakukannya di pagi hari.
Tapi, ayu sebagai pemimpin tahu hal itu tidak baik. Selain karena suhu yang dingin, mungkin saja akan menimbulkan demam dengan segera memerintahkan untuk memperbaikinya sekarang.
Tapi mereka menolaknya karena kelelahan dan tidak baik bekerja di malam hari.
Karla yang melihat situasi tidak baik, menyarankan para siren akan memperbaiki kapal mereka dan berjanji akan menyelesaikan dalam waktu 2 jam.
Para manusia langsung menerimanya begitu saja. Dengan begitu, para siren pun terbang ke segala arah untuk memotong kayu.
Dengan Kemampuan terbang mereka dan rancun yang mematikan, tidak heran mereka bisa melakukannya dengan baik, tapi mereka tidak bisa memperbaiki kapal, maka itu di kerjakan oleh manusia yang sebelumnya kelelahan kini menjadi lebih bertenaga.
Selama perbaikan, Andros menghampiri Isla yang tengah berdiri bersama Karla menyaksikan orang-orang memperbaiki kapal.
Mereka membicarakan tentang Isla yang bisa hidup tanpa sayap, berani melawan leluhur mereka yang kejam.
Saat Karla melihat Andros mendekat dan mengetahui ada sesuatu yang penting ingin di bicarakannya, dengan sopan dia pergi.
“istriku, apa kau akan meninggalkanku?” tanya Andros hati-hati. Saat menanyakannya dia sangat takut jika istrinya meninggalnya sendirian, di tambah sekarang dia hanya punya istrinya saja.
Dengan pelan Isla menjawab, “ jika aku pergi... Apa kau tidak akan keberatan?”
“Ah, tentu saja tidak, pasti kau akan bahagia setelah lama terpisah dari kelompokmu kan?” jawab Andros riang, tapi tidak untuk hati dan perasaannya. Walaupun dia berkata ceria, siapa saja bisa mengetahui jika dia sedang bersedih.
“aku tidak akan pergi.”
“ah, jika begitu aku sangat.... Kau bilang apa tadi?”
__ADS_1
“aku tidak akan pergi meninggalkanmu, meski terpisah dari kelompok dan kampung halamanku, aku tidak akan pergi, dan juga aku sudah menjadi istrimu. Sebagai seorang istri, tidak baik meninggalkan suaminya bukan?”
“i-iya, tapi apa kau tidak keberatan?” Tanya Andros ragu-ragu dan tidak menyangka istrinya memilih tidak meninggalkannya.
“tidak, bagiku ini sudah menjadi takdir hidupku yang harus aku jalankan.”
“jika begitu, aku senang mendengarnya.”
“maaf, aku tidak bisa menolong anak kita.” Kata Isla dengan wajah sedih, kemudian melanjutkan, “ jika saja aku mengetahuinya dari awal mungkin semua ini tidak akan terjadi dan mungkin kalian bisa pergi tanpa harus memperbaiki kapal."
Melihat kesedihan di wajah isla, Andros tidak tahan untuk merangkulnya. Walau wajah Isla terlihat tidak begitu sedih, Andros tahu jika di dalam hatinya, istrinya sekarang sedang bersedih.
Dengan perlahan-lahan Isla menyadarkan kepalanya di dada Andros. Dia dapat merasakan kenyamanan setelah melakukannya.
“mau buat apalagi, semuanya sudah terjadi. Walau anak kita sudah pergi meninggalkan kita, kita tidak boleh bersedih, mungkin dia akan marah jika melihat kita.” Andros kemudian memandang langit malam, lalu berkata, “lihat mungkin saja dia sekarang tengah bersedih, melihat dirimu yang seperti ini.”
“kau benar, semoga saja dia tidak kecewa dengan sikap Ibunya.”
“dia tidak akan mungkin kecewa, justru akan bangga memiliki ibu sepertimu yang kuat pemberani dan pastinya galak.”
“kau bilah aku galak!?” seketika Isla menjauh dari Andros dan seketika Wajahnya yang sedih di gantikan wajah cemberut karena marah.
“tidak, kau sangat cantik.” Jawab Andros seraya berkeringat dingin. Dia keceplosan mengatakanya. Dia mengingatkan Isla yang dulunya lembut dan mudah di goda.
“tidak bicara selama 2 hari.” Isla mendengus kesal, lalu meningkatkan Andros sendirian.
“eh, istriku.” Andros mengejarnya.
Beberapa orang tersenyum melihat tingkah pasangan serasi itu, dan membuat mereka terhibur seraya memperbaiki kapal.
...****...
Simo masih tidak sadarkan diri setelah apa yang dia alami. Walau begitu, kondisi sudah stabil, dan hanya menunggu dia siuman saja.
Malam hari begitu dingin dan tidak baik untuk kesehatan, tapi itu seolah tidak berlaku bagi Namila, dia seolah merasakan kehangatan yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Apalagi jika itu bersama-sama orang yang di sukainya.
“seandainya kau sadar hari ini, betapa Indahnya langit jika di nikmati bersama-sama.” Gumam namila mengangkat wajahnya.
Tidak beberapa lama, ayu datang mengajak namila ke suatu tempat untuk membicarakan hal penting.
Tapi Namila menolaknya karena harus menjaga simo yang masih tidak sadarkan diri.
“tidak lama, hanya beberapa menit saja, tempatnya tidak jauh.” Kata ayu berusaha mengajak namila.
“tidak, walau itu jauh atau pun dekat, aku tidak bisa.” Jawab namila. Dia tidak menanyakan bagaimana ayu bisa di sini, dari mana dia datang dan apa yang terjadi sebelumnya, karena dia sudah mengetahuinya dari awal.
Dengan menghela nafas, ayu duduk di samping namila.
“Jika dia berkhianat apa kau akan tetap di sisinya?” tanya ayu. Walaupun itu tidak sopan, setidaknya namila bisa berjaga-jaga untuk tidak terlalu mencintai seseorang.
Namila sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, dia dengan pelan menjawab, “ seadanya dia berkhianat, maka aku tidak akan mengampuninya. Kau tahu semuanya di ciptakan berpasangan.”
__ADS_1
“Ya, aku tahu, jika simo adalah matahari yang harus menyinari tumbuhan-tumbuhan yang lain selain dirimu, apa kau akan menerimanya?”
“Dia tidak akan melakukan itu.” Jawab namila marah, kemudian berkata, “jika kau hanya ingin mengatakan itu, pergilah, aku tidak menerima perkataan seperti itu di sini.”
Mendengar itu, ayu tertawa lalu berkata, “maaf, aku hanya bercanda. Aku percaya dia tidak akan melakukan itu.”
Namila tidak menjawab.
Ayu menghela nafas, kemudian berkata dengan lemah, “apakah kebencian akan menghilang sewaktu-waktu?”
Namila diam sejenak kemudian menjawab ragu-ragu, “m-mungkin.”
“apakah kau pernah merasakannya?”
Namila menggelengkan kepalanya.
“seandainya aku tidak memiliki kebencian pasti semuanya akan baik-baik saja.”
Namila tahu apa yang ayu bicarakan, Walau dia tidak secara terang-terangan mengatakannya, dia tahu sekali apa yang ada di pikirannya. Kebenciannya terhadap siren sudah berbaur dengan darahnya, dia ingin melawannya, Tetapi itu terlalu sulit untuknya.
“Jangan berkata seperti itu, semua orang memiliki sikap seperti itu, dan itu wajar. Kau coba saja berteman dengan mereka dan rasakan sisi baik mereka sebelum kebencian mengendalikanmu sepenuhnya.”
Ayu diam sejenak kemudian mengangguk.
Saat ayu ingin berkata, terdengar suara teriakan dari kapal yang membuatnya heran.
...****...
Di saat bersamaan dira sudah memasuki kota, tempat kelahirannya. Ada rasa senang, sedih dan gembira kala mengingat kenangan dahulu kala.
Walaupun dia keluar hanya sekali, dia masih ingat jelas bagaimana rasanya waktu dia masih kecil.
Saat berjalan, beberapa orang memandangnya.
Ada juga yang berbisik-bisik membicarakannya.
Selain itu, ada orang-orang sibuk dengan pekerjaannya, walaupun itu di malam hari.
Beberapa menit melangkah, dia melihat beberapa orang berkumpul dengan wajah takut.
Di depan mereka seorang wanita paru baya berdiri bersama beberapa prajuritnya. Dia adalah irina.
“kalian semua sudah waktunya membayar pajak.” Ujar irina.
“maaf tuan putri, kami sedang tidak memiliki uang.”
“aku tidak peduli. Kalian semua berbaris dan serahkan uang kalian.”
Dengan lemah dan menunduk, orang-orang berbaris. Walau di antara mereka tidak memiliki uang. Jika tidak menurutinya, maka hukumannya akan menghampiri mereka, entah di penjara atau di cambuk.
Mereka adalah orang-orang kelas bawah yang memiliki penghasilan yang rendah. Karena tidak mampu membayar pajak 1 tahun lalu, kini di lipat gandakan.
__ADS_1
Mereka percaya bisa membayarnya, tapi kenyataan tidak sesuai harapan.
“cepat serahkan uangmu!” bentak prajurit yang ada di depan barisan.