Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 7 mengawal


__ADS_3

Setelah simo mengangkat batu tersebut semua penduduk berjalan menuju tempat pengungsian.


Mereka akan menuju gua yang berada di bukit, jalan yang mereka tempuh bukanlah sesuatu yang mudah karena mereka harus mendaki bukit yang tinggi dan curam, dan itu pastinya akan memerlukan tenaga yang begitu besar, apalagi membawa semua barang barang.


Beberapa jam mereka berjalan. bulan perlahan lahan naik menggantikan matahari, hari mulai gelap,mereka tetap melanjutkan perjalanan.


Beberapa jam mereka berjalan tidak terasa sudah larut malam semua penduduk sudah kelihatan kelelahan dan begitu pun simo yang sudah di banjiri keringat. aoba yang melihatnya menghentikan perjalanan.


“Baiklah semuanya istirahat sebentar.” Ujar aoba. Mereka sekarang sudah berada di bawah bukit dan setengah perjalanan sudah di tempuh.


“Boogg.” Simo membanting batu itu dan seperti biasa para penduduk terkejut dan memandangnya dengan kagum.


Simo mengusap keringat di wajahnya. “kakek aku ingin mandi sebentar!”


Aoba mengangguk.


Simo lalu berjalan mencari cari sumber air sekitar dan tidak beberapa lama ia mendengar suara air terjun yang tidak begitu jauh.


Simo berjalan mendekatinya, suara itu semakin keras dan keras.


“pasti bunyi air itu ada di balik semak semak ini.” Gumamnya sambil memandang semak semak di depannya.


Saat ia melihat ke dalam semak semak itu.


Ia terkejut dan berdecak kagum, matanya mau tidak mau harus melihat pemandangan yang begitu indah di depannya.


Bukan karena pemandangan alam yang indah, tetapi seorang gadis cantik yang seumuran dengannya tengah menari nari indah di atas bunga teratai.


Ia memakai gaun biru yang panjang dan anggun, kulitnya putih halus bagikan Dewi. Wajahnya bagaikan Dewi bulan yang lembut dengan rambut hitam panjang.


Ia menari nari dengan indah dari satu daun ke daun yang lainya seperti tidak ada gaya gravitasi yang mempengaruhinya. setiap ia melompat, air di bawahnya menari nari indah mengelilingi gadis itu.


Simo merasa kagum dengan gadis itu, ia ingin sekali mendekatinya, tetapi ia takut bagaimana jika ia orang yang kejam dan jahat


Dulu kakeknya pernah mengatakan wajah bukan gambaran untuk setia orang dan memberitahunya bahwa Jangan mendekati orang asing sebelum mengetahui siapa ia.


Simo memutuskan untuk tidak mendekatinya dan hanya mengamatinya dari jauh sambil berjaga jaga.


Dari penampilannya simo mengetahui ia bukan orang biasa dan sepertinya ia adalah seorang putri dari kerajaan dan itu pasti ada seorang yang menjaganya.


Simo memutuskan untuk mencari sumber air yang lain karena ia takut ketahuan, tetapi saat ia berbalik sebuah pedang sudah mengarah ke arahnya.


“siapa kau?” tanya dari seseorang pemuda yang memakai seragam.


“E... Aku hanya lewat saja.”


“apa kau mengintip?”


“Tidak! tidak! aku baru saja lewat.” Sahut simo dengan cepat.


“ kau berbohong!”


Melihat pemuda itu yang sepertinya tidak mau melepaskannya, simo memikirkan sesuatu untuk melawannya.


“Matilah!” ujarnya dengan pedang yang sudah mulai di ayunkan, tetapi gelombang air mancur bergerak menghalangi dan membuat pedang itu terlempar.


Pemuda itu terkejut. “nona namila.” Ucapnya melihat gadis tadi yang sudah berada tidak jauh darinya.


Simo merasa lega karena sudah di selamatkan jika tidak maka nyawanya akan menjadi taruhannya dan juga ia tidak tahu tingkat kekuatan pemuda itu.


“apa yang terjadi?” tanya namila dengan dingin dan aura intimidasi yang kuat.

__ADS_1


“Nona, dia sudah mengintip anda dan mungkin sudah merencanakan hal jahat.”


Namila memandang simo dengan tajam.


“tidak, aku... Tidak sengaja melihatnya.” Ujar simo melihat tatapan namila yang tajam.


“Kau pasti berbohong!” tungkas pemuda itu.


“ kau sudah melihatnya?” tanya namila sambil mengarahkan pedangnya yang dingin itu kepada simo


Pedangnya itu membuat simo tidak nyaman, sepanjang hidupnya ia tidak pernah melihat tatapan yang begitu dingin dan tajam seperti itu.


Melihat keadaan yang sepertinya tidak dapat mengelak dengan dingin ia berkata. “aku sudah melihatnya.”


“nara berikan dia pedang.”


Nara terkejut atas permintaan nonanya, tetapi ia tidak bisa menolaknya dengan kasar ia melemparkannya.


“Kau ingin bertarung.” Ucap simo dengan dingin setelah ia menangkap pedang yang di berikan, Sikapnya berubah drastis seolah olah ia sebelumnya hanya berpura pura.


“aku tidak akan membiarkan seseorang yang sudah mengintip ku pergi dengan utuh.”


Nara yang melihat situasi akan terjadi pertarungan Memilih untuk pergi menjauh.


Air di sungai bergerak seperti pusaran kecil menari nari di tangan namila lalu membentuk pedang air.


Namila mengarahkan pedangnya sebagai tanda bersiap siap untuk bertarung.


“aku namila putri tahap bumi tingkat satu!”


“baiklah, aku simo tahap fisik tingkat 9.” Ujar simo


“lumayan.” Ucap namila lalu melesat menuju simo


“trangkkk.” Dua bilah pedang saling beradu.


Saat pedangnya bersentuhan dengan pedang air itu Simo merasa aneh terhadap pedang air itu, sudah jelas ia melihat pedang itu terbuat dari air, tetapi mengapa bisa sekeras pedang sungguhan.


Setelah kedua belah pihak mengukur besar kekuatan lawan secara bersamaan mereka melompat.


“aku tidak menyangka ada seorang bocah jenius di tempat terpencil seperti ini.” Ujar namila.


Mendengar ucapan namila, simo merasa sedikit tersinggung. bukankah dia juga bocah. Pikirnya.


“Aku juga tidak menyangka ada seorang gadis ****** di hutan seperti ini.” Wajah simo menjadi lebih dingin.


Mendengar itu namila menjadi marah. “Kau!”


“aku pastikan kau akan menyesal mengatakannya.” Namila mengangkat pedangnya setinggi yang dia bisa.


“Pedang duri naga!” beberapa duri duri tubuh di bilah pedang yang sedikit panjang dan mengeluarkan aura dingin yang mencekam.


Namila lalu berlari.


“Menarik.” Simo pun berlari.


Namila mengayunkan pedangnya dengan Kuat dan begitu pun simo.


“Traangkk.” Kedua pedang itu menyilang dan saling tahan.


Duri duri pedang itu memajang dan menyerang simo sehingga mau tidak mau ia harus melompat ke belakang.

__ADS_1


“Tidak akan ku biarkan.” Dengan cepat namila menancapkan pedangnya kemudian tanah bergetar lalu muncul beberapa tiduri duri panjang yang lebih besar menyerang simo.


“Nona memang hebat.” Gumam Nara yang tidak jauh darinya, ia dari dulu mengetahui namila memang jenius, tetapi ia tidak pernah melihat namila bertarung secara langsung dan ternyata memang benar.


Nara juga kagum dengan simo yang ternyata juga hebat dan tidak menyangka ada seorang anak yang hebat di hutan terpencil seperti ini.


Serangan namila membuat simo jungkir balik mundur hingga duri duri itu tidak bisa menjangkaunya.


“Sungguh hebat.” Gumam simo.


“ kau tidak akan bisa lari dari ini.” Ujar namila yang sudah ada di atas duri duri itu dengan tiga pedang air melayang di atasnya.


“bagaimana bisa!?” gumam simo yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Namila mengarahkan pedangnya membuat tiga pedang itu berterbangan mengarah simo.


Sebelum pedang itu menyentuh simo dengan cepat ia memotongnya, tetapi bukanya semua pedang itu terpotong malahan pedang itu tertembus layaknya air bisa yang berbentuk pedang saja.


“Bagaimana bisa!?” ia terkejut dan tidak bisa menghindar.


“Barakkk.” Tiga pedang itu berhasil menghantam tubuhnya dan membuat ia terpental beberapa meter.


Namila tersenyum penuh kemenangan. “Sepertinya aku yang akan memenangkannya.”


Tidak beberapa lama simo bangkit. “Menarik.” simo perlahan lahan bangkit nada bicaranya lebih dingin dari sebelumnya.


“sepertinya aku harus menyerangmu sekali lagi.” Tiga pedang air kembali terbentuk.


Simo lalu berlari mengarah Namila.


Namila dengan cepat mengarahkan pedangnya.


Simo menghindari setiap serangnya dengan baik karena ia tahu mungkin saja pedang itu tidak dapat di potong ataupun di tangkis.


Hingga ia mencapai namila lalu mengayunkan pedangnya, tetapi dapat di tangkis oleh namila.


Duri duri pedang namila lagi lagi menyerang simo. Dengan pengalaman sebelumnya, simo lalu menendang Namila hingga beberapa meter sebelum duri duri itu menyentuhnya.


“Nona!” ujar Nara lalu bergegas membantu namila bangun.


“Bajingan beraninya kau melukai nona!” Nara hendak menyerang simo tetapi di halangi oleh tangan namila.


“aku tidak apa apa, pergilah.”


Nara merasa keberatan dengan permintaan namila, tetapi ia tidak bisa menolaknya.


“baik nona.” Ia memberi hormat lalu menjauh.


“Kau hebat juga, bisa menyerangku, tetapi.” Nada namila menjadi lebih dingin dan serius. “kau tetap harus kalah!!” Namila menancapkan pedangnya.


Kemudian dengan cepat muncul tanaman rambat air yang besar menyerang simo.


Simo lalu melompat ke belakang dengan cepat terus menghindar dan menghindar, ia menyadari memang dari awal ia tidak bisa mengimbangi namila, mereka berada di tingkat kultivasi yang sangat berbeda.


“tidak akan aku biarkan kau lari.” Namila yang ada di atas tanaman rambat itu lalu memperagakan gerakan seperti ia sedang memegang panah dan juga seperti menarik busurnya.


Dengan cepat air di bawahnya melilit ke kakinya lalu tangan dan membentuk busur dan anak panah yang terbuat dari air. “ kau tidak akan selamat!”


“Wusss.”


...******...

__ADS_1


jangan lupa like dan komentar biar author semangat nulisnya.


__ADS_2