
Angin sepoi-sepoi berembus, menyebabkan gumpalan api lilin bergoyang-goyang kala itu.
Di ruangan kecil, Toru duduk di samping dira yang tengah tertidur lelap. Suara nafasnya tenang.
Karena tidak ada yang perlu dilakukannya lagi, Toru hendak meninggalkan kamar, tetapi dengan cepat tangan seputih salju dan sedikit kasar memegang pergelangan tangannya.
“Aku mohon jangan pergi.” Kata dira, yang seketika bangun. Entah kapan dia bangun.
Toru sedikit terkejut dengan kejadian tiba-tiba seperti itu, tetapi tidak ada jejak keterkejutannya di wajahnya, dan sebaliknya dia memperlihatkan wajah lembutnya.
Toru mengangguk, sebagai jawabannya. Dia kembali duduk, tetapi berbeda dengan tadi, dira memegang tangannya, seperti tidak ada lagi kesempatan untuknya besok.
Dira kembali tertidur.
Tangan yang sedikit kasar dan beberapa goresan terasa oleh Toru, hal itu membuatnya heran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada gadis di depannya saat ini. Selain itu, dia juga heran mengapa gadis cantik di depannya seperti gelandangan saat bertemu.
Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan seorang gadis cantik yang memiliki tangan kasar.
Seraya memikirkannya, tiba-tiba saja dira mengeratkan genggamannya. Tidak sempat Toru bereaksi, dira bangun tiba-tiba. Nafasnya tergesa-gesa, buih-buih keringat bermunculan di pelipisnya. Jelas sekali dia mengalami mimpi buruk lagi.
Dengan segera, Toru memanggil pelayanan dan memerintahkannya untuk mengambil segelas air.
Setelah meminum air, dira bisa menghela nafas lega dan lebih tenang.
Setelah itu kembali tertidur tanpa memberikan kesempatan toru bertanya.
Setelah kejadian itu, toru setiap malam akan menjaganya. Walaupun dia tidak tidur semalaman, karena dira selalu bermimpi buruk, dia tidak merasa keberatan, apalagi dia mulai menyukainya.
Seorang gadis cantik yang entah dari mana, bagaimana ataupun mengapa, dia tidak mempedulikannya.
Setelah beberapa hari dira tinggal di kamp Toru, akhirnya kesadarannya kembali normal, seperti sedia kala.
Dira terlihat lebih cantik dan segar. Hal itu membuat Toru semakin menyukainya.
Suatu ketika Dira akhirnya menceriakan semua hal yang terjadi, mulai saat dia dikurung, di siksa dan tidak dianggap.
Toru terlihat beberapa kali mengangguk dengan ekspresi wajah datar. Namun di dalam hatinya, dia marah, sangat marah dan mengutuk orang-orang yang telah menyiksa dira.
Walaupun dia mengetahui mengapa dira di perlakukan seperti itu, tetapi itu sudah kelewatan! Selain itu, dia juga paham bagaimana seorang pria kehilangan seorang yang berharga di dalam hidupnya, itu bagaikan tenggelam dalam kegelapan tanpa ujung. Meski begitu, seharusnya Dira di tinggalkan di suatu tempat saja, biar orang-orang di sana lah yang menjaganya.
“Hebat ‘kan?” Tanya Dira dengan wajah berseri-seri seperti layaknya gadis pada umumnya, yang penuh dengan kegembiraan.
Walaupun umurnya sudah 15 tahun, dia seperti gadis berumur 6 tahun saja.
Mereka sekarang duduk di depan kamp, menunggu Matahari terbit, yang katanya akan terlihat bintang yang sangat besar melintasi langit.
Hal itu tidak membuat toru tertarik, tetapi jika yang memintanya Dira, dia tidak akan segan-segan melakukan. Toru sudah sangat menyukainya.
Toru mengangguk.
__ADS_1
“dari mana kau tahu jika sekarang ada bintang yang bergerak?”
“dari sebuah buku. Sebelum aku di penjara, aku hidup seperti tuan putri pada umumnya, tapi bedanya, di saat gadis-gadis lain bermain, aku memutuskan untuk membaca buku saja, bukan karena ingin terlihat rajin, tetapi bagiku semua hal yang sangat indah pasti tertera dalam buku.”
“apa ibumu menyukai buku?”
Dengan sedih, dira menggelengkan kepalanya.
Melihat itu, Toru buru-buru ingin meminta maaf, tapi dira dengan cepat berkata, “saat aku lahir, aku tidak mengingat ibuku atau pun merasakan air susunya. Dia meninggal karena melahirkanku. Seandainya....”
“jangan berkata seperti itu. Kau layak hidup dan kau layak mendapatkan semua orang-orang dapatkan. Ingat, segala sesuatu yang lahir pasti memiliki fungsinya masih-masing, jangan pernah mengatakan itu lagi.”
“Kau seperti guruku waktu dulu.” Tiba-tiba saja dira gembira.
“eh? Apakah aku kelihatan seperti itu?”
Dira mengangguk.
“Benarkah?”
Dira mengangguk lagi, kemudian berkata, “sudahlah, sepertinya bintang itu malu untuk muncul.”
“Tunggu.” Toru dengan buru-buru memegang tangan dira, yang menyebabkannya menoleh.
“Kita tunggu sebentar, nanti bintangnya mau muncul. Mungkin belum waktunya untuknya muncul.”
“Baiklah.” Dira kembali duduk.
Seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh menghadap Toru. Dia sepertinya membawa berita buruk.
“ada apa?”
“Kami melihat beberapa pasukan dari kerajaan terdekat, mendekati kamp.”
Setelah prajurit itu mengatakannya, seketika dira menjadi pucat dan sedih. Toru yang menyadarinya, sesaat menoleh ke arah Dira, kemudian memerintahkan prajuritnya untuk pergi dan mengawasi tindakan mereka.
“baik, pangeran.” Prajurit itu memberi hormat kemudian pergi.
“tenang saja, kau hanya Perlu sembunyikan, bukan?” kata toru menenangkan dira.
Dira mengangguk, “di mana aku bisa bersembunyi?”
“kau bisa bersembunyi di kamarku untuk beberapa waktu, sampai mereka pergi.”
Dira mengangguk, kemudian hendak pergi tetapi, Toru tidak membiarkannya.
“lihat bintang itu.” Kata Toru seraya menunjuk kilatan cahaya yang sedikit besar, melintasi langit setengah biru dan hitam.
Dira memandangnya dengan senyuman indah di wajahnya, yang membuat Toru tidak bisa berpaling darinya.
__ADS_1
Tidak beberapa lama, dira masuk ke kamar toru. Walaupun Toru enggan, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
“ingat, bersembunyi di lantai, di sana kau akan aman.” Pesan terakhir yang Toru katakan.
Dira mengangguk.
Di pagi hari yang cerah, beberapa prajurit datang ke kamp toru. Mereka berjumlah 10 orang, masing-masing dari mereka memiliki kekuatan tingkat fisik. Selain itu, mereka di pimpin oleh seorang wanita yang memakai gaun ungu dengan wajah cantik, dia adalah saudara angkat Dira. Namanya Irina.
Saat tiba di kamp, mereka tidak di sambut apa pun, tidak ada seorang pun prajurit yang berjaga-jaga di sana. Irina mengerutkan keningnya, ia tahu betul kamp ini luas dan mewah. Menurutnya pasti bangsawan lah yang memilikinya.
Selain itu, kamp ini ada di tengah hutan yang rawan dengan perampok dan penyerang, seorang anak kecil pun tahu hal itu, jadi mengapa tidak ada seorang pun?
Hanya satu yang ada di pikirannya, sudah di rampok.
“Kalian periksa kamp itu dengan teliti.” Pintanya.
10 prajurit itu hendak memeriksanya, tetapi ada suara yang menghentikan mereka.
“Untuk apa Kalian memeriksanya.” Toru muncul dengan seragam prajurit, demi menghindari identitasnya di ketahui. Selain itu, demi berjaga-jaga, dia sudah memerintahkan beberapa prajuritnya bersembunyi di dekat kamp.
Walaupun rawan, itu lebih baik, dari pada dia menghadapi 10 prajurit pilihan di depannya sekarang.
“siapa kau!?” ujar prajurit itu.
“Hamba adalah seorang prajurit di sini. Tugas hamba hanya menjaga kamp ini dari hewan buas selagi majikan hamba pergi berburu.”
“Berburu?” seketika kedua alis Irina terangkat sebab di hutan ini sudah tidak ada lagi hewan untuk di buru. Hal itu di sebabkan para penduduk tidak henti-hentinya berburu.”
“Iya.”
“Kau jangan berbohong! di sini tidak ada apa pun untuk di buru!” bentak prajurit itu.
“Benarkah? Jadi kami sia-sia saja datang ke sini.” Kata Toru dengan wajah terkejut yang di buat-buat.
“apa kau melihat seorang gadis gelandangan?” tanya Irina.
“gelandangan? Tidak, hamba tidak melihatnya.”
Irina memerintahkan untuk memeriksa semua kamp yang ada. Namun toru menghentikannya, dan berkata, “ jangan periksa, nanti majikan hamba datang. Biasanya dia akan marah besar, jika apa pun miliknya di perlakukan secara tidak sopan.”
“minggir!” prajurit itu mengibaskan pedangnya.
“Tidak!”
Tanpa basa-basi, prajurit itu menarik pedangnya, lalu mengayunkannya ke arah leher toru. Sepertinya dia ingin membunuhnya.
Namun, hal itu tidak terjadi, sebab dua jari Toru berhasil menjepit bila pedangnya. Tidak ada darah yang keluar!
Prajurit itu sedikit terkejut, dengan cepat dia menarik pedangnya, tetapi tidak bisa.
__ADS_1
“Maaf tuan, aku sangat menghormati majikan ku, anda tidak boleh bertindak tidak sopan seperti ini. Jika anda bersikeras, maka anda harus melewatiku dulu.” Kata toru dingin.
‘menarik’ batin Irina seraya tersenyum. Dia mulai tertarik dengan Toru