
Satu jam pun berlalu, mereka masih berada di dalam gua, bahkan cahaya pun tidak masuk sama sekali. Itu membuktikan betapa dalamnya gua tersebut.
Sepanjang perjalanan berbagai hewan dan serangga mereka temui. Hai itu membuat putri daria ketakutan dan selalu bersembunyi di belakang simo. Dia takut kelabang, ular dan jangkrik, baginya itu sangat mengelikan dan menjijikkan.
Meski simo sedikit tidak senang dengan sikap putri daria yang terlalu takut, tapi dia mengerti, seorang putri sepertinya tidak pernah menelusuri gua, mungkin sekalipun tidak pernah. Oleh karena itu, dia bersikap hormat dan berusaha melindunginya.
Simo juga dengan senang tiasa membunuh para ular dan serangga itu. Dia membunuh dengan mudah, layaknya membunuh semut. Bahkan ketika dia menebas-nebas para ular, dia seolah hanya mengayunnya dengan lembut. Tetapi sekali saja, tebasan itu sudah memisahkan ular dari kepalanya.
Ketika putri Daria melihat itu, ada rasa kengerian dan takut terhadap simo. Oleh karena itu, dia menjaga jarak dengannya. Meski simo tidak kelihatan orang jahat, putri daria merasa memiliki keharusan untuk menjaga jarak dengannya. Di tambah simo adalah orang yang baru dia kenal, yang tentunya tidak tahu apa saja yang akan dia lakukan.
Namun ketika semakin mereka berjalan-jalan, dan simo mulai mengajak putri Daria berbicara, hatinya semakin lebih nyaman dan menjadi akrab dengan simo. Dia bahkan berani memarahinya.
Kini mereka berada di pinggir danau dan duduk di salah satu batu. Dengan ada danau, membuat di sekeliling mereka tapak lebih terang dengan warna biru air yang ada.
Dengan begitu simo tidak menggunakan api birunya lagi, karena baginya cahaya dari air danau sudah lebih dari cukup untuk mereka melihat.
Setelah beberapa saat berlalu, terdengar suara dari perut putri daria. Suara itu tidak lain adalah renggekkan perutnya yang ingin di isi. Simo hanya bisa memandangnya, tanpa ingin bertanya.
Putri daria yang di pandang seperti itu, memerah dan dengan malu dia berkata, “aku lapar.” Dia sedikit menunduk dan malu mengatakan itu.
Simo tersenyum kemudian masuk ke dalam danau untuk mencari ikan.
Putri daria sebenarnya tidak ingin membuat simo melakukan itu, dia hanya ingin berada di sampingnya. Entah mengapa dia merasa nyaman dan sesuatu yang hilang itu semakin lama semakin menghilang.
Meski dia baru bertemu dengannya, dan belum mengetahui namanya, bahkan sedikit berbicara, dia merasa sudah lama mengenalnya, dan seolah sangat akrab.
Jika dia ingin bersama selamanya dengannya, mungkin dia akan betah.
Namun setelah beberapa saat, dia menepis berbagai pikiran negatif di dalam benaknya. Dia tidak ingin menghianati tunangannya, dan berpaling ke arah lain.
Dia berharap tunangannya selamat di atas. Sebelumnya, tunangannya mendorongnya ke belakang dan membuat dirinya tertangkap. Entah mengapa ketika tunangannya dalam masalah dia tidak terlalu memperhatikannya.
...****************...
Safia berdiri. Kedua tangannya memegang erat dua pedang es dengan api dan air mengalir di bilahnya. Dengan marah dan penuh kebencian dia memandang Pria paru baya yang ada di depannya, yang kini sudah kelelahan dan sedikit terluka.
Sembari memegang dadanya, Baron mengerutkan kening. Dia tidak menyangka gadis kecil di depannya memiliki kekuatan sekuat itu dan mampu menahan beban besar. Selain itu, gadis di depannya juga tampak tidak kelihatan kelelahan, dan hanya menampakkan dendam dan kengerian.
Sebelumnya, setelah bertemu dengannya, baron ingin menangkapnya dan ingin menjadikan boneka, tetapi saat ini rasanya mustahil untuk melakukannya, bahkan untuk mengalahkannya sangat sulit.
__ADS_1
Dengan kemarahan di wajahnya, Safia berkata, “Di mana ayahku? Kau harus mengembalikannya!”
Jika Baron tidak menggunakan kekuatan untuk mengurung para penduduk, dia pasti akan lebih mudah untuk mengalahkan Safia dan membawanya pergi. Tapi hari ini hanya dia akan berlari ke markas dan mengalahkannya di sana bersama dengan yang lain. Dia berharap dengan seperti itu, akan membuat Safia mudah di kalahkan dan di tangkap
Baron tertawa, “jika kau ingin ayahmu kembali, kau harus mengalakanku!” Baron lalu pergi dengan kecepatan tinggi.
Melihat hal itu, Safia semakin geram, dan dengan cepat mengejar baron.
Di antara orang-orang yang pingsan, rina perlahan-lahan bangun dan memandang sekitarnya. ‘apa yang terjadi?’
Dia kemudian berdiri dan memegang perisai merah yang mengelilingi semuanya. Dia hanya mengingat dia ingin mencari simo dan tiba-tiba semuanya menjadi kacau dan tidak sadarkan diri.
Jika kekuatan baron hanya bisa membuat para manusia pingsan dan terkuras energinya dengan waktu yang lama, maka berbeda dengan Rina, dia hanya pingsan beberapa menit saja. Bahkan kekuatan masih ada, walaupun hanya kekuatan fisik.
Meski dia sudah menjadi manusia, di dalam tubuhnya tentu saja masih ada darah peri, sehingga kekuatan baron tidak terlalu mempengaruhinya.
Rina mengetuk-ngetuk perisai. Dia dapat merasakan betapa kerasnya perisai tersebut. Dia memukul dan menendang, tapi tidak ada efek sama sekali.
Tentu saja dengan kekuatannya saat ini, dia pasti tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tapi dia akan berusaha untuk keluar dari sini, sebab, udara semakin menipis dan kesulitan bernafas.
...****************...
Ini adalah teknik yang bisa di lakukan Benito, yaitu mengendalikan tubuh dengan elemen warna yang dia miliki.
Elemen ini sangat langkat. Jika orang memilikinya, maka orang itu akan bisa mengendalikan warna-warna yang ada di sekitar mereka. Mereka bisa membentuknya sesuka hati dan menjadikannya senjata.
Alasan dira diam, menonton dan hanya bisa mengikuti alur, adalah karena teknik yang di gunakan Benito bisa membunuh putri Dhiya kharya dengan sendirinya.
Oleh karena itu, dia tidak bisa bertindak gegabah karena menyangkut keselamatan putri Dhiya.
“apa yang kau inginkan?” dira mengerutkan kening. Nadanya jelas terdengar marah. Dia mengatakan itu sambil memukul meja di depannya.
Meski Dira bersikap tidak sopan, Benito tidak terganggu, dan dia dengan tenang menaruh cangkirnya kemudian berdiri.
“Bunuh dirimu sendiri.” Benito mengeluarkan pisau dan melemparkannya ke arah meja. Pisau itu dengan mudahnya menusuk meja, solah meja itu bukan terbuat dari kayu, bahkan tanpa kesulitan apa pun.
Dira memukul meja dengan telapak tangannya kemudian berdiri. “kau memang orang yang licik!”
“aku tidak perlu mendengar ocehanmu, yang terpenting bagiku adalah membunuhmu. Kau hanya punya dua pilihan, mati atau gadis itu yang mati.”
__ADS_1
Mendengar itu dira menggertak gigi menahan amarah. Jika soal kekuatan, dia tidak akan kalah dengan Benito, Tapi soal kelicikan, dia tidak bisa melawannya.
Dengan marah Dira duduk dan berkata, “lalu setelah aku bunuh diri, kau lalu membunuh putri Dhiya kharya, itu sungguh tidak adil!”
“kau harus melepaskannya dulu, setelah itu, aku akan membunuh diriku sendiri.”
Mendengar itu, Benito tertawa, kemudian duduk. “apa kau pikir aku akan melakukan itu? Bagaimana kalau kita sama-sama melakukannya; aku akan melepaskan, dan kau bunuh diri.”
Dira tertawa, “lalu setelah itu, kau akan membunuh putri Dhiya kharya? Aku tidak percaya. Bagaimana kalau aku membawa seseorang untuk melindungi Dhiya kahrya, baru kita melakukan bersama-sama? Itu terdengar adil, kan?”
“Aku tidak menyetujuinya. Kau mungkin saja melakukan rencana lain untuk menyelamatkan dirimu dan gadis itu tanpa ada yang terbunuh. Jangan lupa, baron mengurung orang-orang kota dan akan membunuh mereka secara perlahan-lahan, jika kau tidak cepat menolongnya. Aku khawatir mereka akan menjadi tumpukan mayat di pemakaman itu. Ingat juga, semua orang yang memiliki energi alam kecil tidak bisa hidup di dalam kurungan itu. Kau juga tidak akan bisa meminta bantuan dari luar kota, karena orang-orangku sudah berjaga-jaga di sana. Kau hanya punya dua pilihan, bunuh diri demi warga dan gadis itu, atau membiarkannya.”
Dira mengepalkan tangannya erat-erat karena marah. Dia berharap simo bisa mengatasinya. Meski dia belum mengetahui kemampuan simo, Namun dia tahu, simo memiliki kekuatan yang tidak bisa di remehkan. Selain itu, dia percaya kecerdasan ayahnya akan mengalir dalam tubuhnya.
Dira tiba-tiba tersenyum dan berkata, “apakah baron memang melakukan itu?”
Melihat dira tersenyum, Benito mengerutkan kening. “apa maksudmu?”
“sebelum aku melihatnya, aku tidak akan mempercayainya. Kau pikir aku bodoh, dengan mudah mempercayai baron melakukan itu?”
“seorang anak bau kencur sepertimu, bisa memerintah baron yang merupakan salah satu penjahat kelas tinggi, itu sangat mustahil, bahkan jika kau memiliki kekuatan yang langka, sudah tentu Baron yang akan memerintahkanmu, bukan kau.”
Mendengar itu, Benito mengepalkan kedua tangannya.
dira melanjutkan, “aku khawatir, kau hanya di manfaatkan saja olehnya. Ingatlah, kelicikan yang lebih besar akan mengalahkan kelicikan yang lebih kecil. Jika semua rencana yang kau susun dengan baik berjalan dengan lancar, maka belum tentu kau akan menjadi raja.”
“kenapa kau bisa mengetahui aku ingin menjadi raja?” ketika mengatakan itu, Benito memukul meja, membuat minuman di cangkir bergejolak dan sedikit tumpah.
“jika bukan karena itu kau tidak akan melakukan ini, kan?”
“dengan rencana yang telah kau susun, kau hanya akan menjadi boneka bagi yang lebih tua, tentunya di antaranya tidak lain adalah Baron.”
Benito terdiam.
“Lalu jika kau tidak berguna lagi, kau hanya perlu di tendang dan di bunuh oleh mereka seolah kau tidak berguna dan memiliki sumbang sih yang besar ke pada mereka. Ingatlah, belum tentu orang yang kau percaya, mempercayaimu. Belum tentu orang yang menyukaimu adalah orang yang tulus kepadamu.”
Benito tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa mengepalkan tangannya dan memukul meja di depannya dengan keras, membuat gelas beterbangan. Ketika di udara, dia dengan cepat mengambilnya dan membuang jauh-jauh.
Apa yang di katakan Dira ada benarnya. Meskipun dia memiliki kekuatan yang unik, dia tidak akan bisa melawan beberapa orang sekaligus.
__ADS_1
Benito dengan marah memukul meja dan berdiri, lalu berkata, “aku hanya ingin kau bunuh diri atau gadis itu mati! Aku tidak peduli apa yang kau bicarakan. Kau hanya punya dua pilihan, mati atau dia yang mati!”