
“apakah anak itu mati?” gumam Florian. Dia merasa kekuatan itu belum cukup membuat simo kalah dan mati. Dia cukup yakin, bawah serangan itu akan membuat simo terluka.
Namun, dia sangat berharap anak itu mati saat ini. Simo adalah anak yang sangat berbahaya jika di biarkan tumbuh, dan akan sangat baik jika dia mati hari ini. Jika tidak, entah apa yang akan dia lakukan untuk kedepannya. Dan entah semengerikan apa kekuatannya di masa mendatang.
Getto tidak berkata, dia menikmati ledakan terjadi. Tapi, sayang sekali dia harus berakhir kecewa karena simo berhasil menahannya dengan aura hitam mengelilingi tubuhnya. Bahkan dia tidak terluka. Ekspresi senangnya tadi harus runtuh.
Getto Sangat berharap simo akan mati dengan serangannya.
“chih! Anak itu memiliki keberuntungan yang tinggi,” gumam getto tidak senang.
“Hah.... Sudah aku duga, dia belum mati. Andai dia berada di pihakku, dia pasti akan sangat membantu,” gumam Florian dengan perasaan kecewa.
“maaf membuat kalian berdua kecewa! Sekarang giliranku!” simo langsung melempar pedangnya ke arah getto. Aura hitam yang mengelilinginya seakan membuatnya seperti piring hitam.
“Buruk!” Florian melesat mendekati getto dan membantunya membuat perisai.
“Kerahkan semua kekuatanmu! Serangannya kali ini sangat kuat!”
Melihat wajah florian, getto mengerti dan mengikutinya. Tidak lama kemudian ledakan besar pun bergema di tempat mereka berdua. Saat pedang simo menyentuh perisai air, itu menciptakan suara yang melengking dan keras.
Air yang sangat tebal itu berterbangan ke segala arah. Tanah di sekitar mereka berdua retak-retak karena tekanan pedang simo.
Dari jarak 10 meter atau lebih sedikit, mereka akan kesulitan melihat apa yang terjadi. Jika itu orang biasa, maka mereka akan langsung bersimpuh karena kekuatan itu.
Simo tersenyum sinis memandang pedangnya. Semua kekuatannya sudah di fokuskan untuk menyerang mereka berdua. Saat ini, simo yakin, jika mereka berdua tidak mati, setidaknya mereka tidak akan bisa bertarung lagi dengannya.
“akh..!”
Simo tiba-tiba merasa jantungnya sangat sakit. Dia tanpa sadar mendekapnya. Sedikit darah keluar dari mulutnya dan juga jantungnya.
“sepertinya efek dari kekuatanmu sudah mulai kelihatan. Cepat kalahkan mereka, dan sembuhkan dirimu. Dengan tubuhmu saat ini, kau tidak akan bisa bertahan lebih lama dari pada ini,” ucap kaisar pedang dalam batin simo.
Meski Kaisar pedang belum pulih, dia tentu saja merasakan apa saja yang terjadi di dalam tubuh Simo. Mereka berdua adalah satu, jadi, mereka akan saling merasakan satu sama lainnya.
Simo mengangguk. Dia kemudian mengangkat tangannya ketika melihat pedangnya mulai menembus pertahanan terakhir getto dan Florian.
Ketika kekuatannya sudah terkumpul tiba-tiba Florian berteriak.
“kami menyerah! Kami akan pergi dari sini! Kami tidak akan ikut campur lagi!”
__ADS_1
“florian! Apa yang kau katakan!?”
“Kita tidak akan bisa membunuhnya! Jika kau ingin mati, aku tidak melarangnya. Tapi, aku menyerah dengan pemuda itu. Meskipun ini sangat memalukan aku tidak punya pilihan lain. Apakah kekayaan itu lebih berharga dari nyawa!?”
“kau pengecut!” hardik getto.
“kau terlalu bodoh!” setelah mengatakan itu, Florian kembali memandang simo. “aku bilang menyerah! Cepat Tarik pedangnya!”
Apa yang di katakan Florian ada benarnya, mereka berdua memiliki sisa kekuatan yang sangat sedikit, sementara simo terus melakukan serangan-serangan yang sangat mematikan.
Mendengar itu, simo melentangkan tangannya ke depan. Dalam sekejap mata, pedangnya berputar dan kemudian kembali ke genggamannya.
Florian menghela nafas dan menarik kekuatannya, yang di ikuti getto dalam suasana hati yang tidak baik. Ketika melihat simo, dia tersenyum menyeringai, tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
“Sekarang pergi dari sini!” simo menatap tajam Florian dan getto.
Kedua orang itu terlihat kelelahan. Mereka berdua berusaha mengatur nafasnya. Keringat bermunculan di seluruh tubuh mereka.
Florian mengangguk. “terima kasih.” Florian kemudian memandang getto di sampingnya. “ayo kita pergi.”
“Tidak! Hahahaha! Dasar bocah bodoh!”
“pengecut! Kau tidak perlu berbicara denganku.” Getto mengalihkan pandangannya menatap simo. “florian, biar aku sampaikan, dia sudah mencapai batasnya. Kita akan lebih mudah mengalahkannya sekarang. Benar yang kau katakan, dia akan melemah. Ini saatnya menyerangnya! Wajahnya sudah pucat, sepertinya dia sudah melemah.”
Getto mengeluarkan tangannya dari balik punggung. “ anak muda! Ini pembalasanku!”
Getto mengangkat tangannya. Air-air muncul dari genggaman tangannya, memanjang kemudian membentuk busur besar. Dia menariknya. Air-air muncul dari tangannya, menari-nari membentuk anak panah panjang berkilauan.
“hahaha! Anak mudah kau harus mati hari ini!”
Wussss!!!
Anak panah melesat.
Florian tidak menghentikan tidakan getto setelah melihat wajah simo memang sudah pucat. Dia menduga itu adalah efek dari kekuatannya sendiri. Ini hanya masalah waktu hingga simo lebih lemah.
Sementara itu, simo memandang serius anak panah air. Dia tidak tahu apa yang di maksud Getto, tapi sekarang dia yakin, dia harus membunuh dua orang di depannya.
“kalian licik!” simo mencibir. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Aura hitam muncul bersamaan dengan aura merah. Dia sudah mulai kehabisan kekuatan. Dengan menggabungkan kekuatan aura pedang, dia berharap kekuatannya jauh lebih meningkat dan mempercepat selesainya pertarungan.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit. Simo tanpa sadar memegang dadanya, dan mengeram kesakitan. Rasa sakitnya kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Aura hitam yang keluar dari pedang mulai melambat.
“Anak muda! Dengan tubuhmu yang kecil itu, kau tidak akan bisa menampung kekuatan besar seperti itu. Matilah dengan tenang!”
Pandangan simo mulai kabur, tapi, dia berusaha menjaga kesadarannya dengan menggelengkan kepalanya.
“Muridku, kau harus pergi dari sini. Kondisi tubuhmu sangat tidak baik. Cepat!”
‘tidak. aku harus mengalahkan mereka. Ini hampir selesai.”
Simo meraung, memaksa kekuatannya keluar lagi. Dan seperti apa yang di harapkannya, kekuatannya mengalir deras. Seseorang dapat melihat samar-samar ujung pedangnya terlihat samar-samar naga hitam melingkar dan meraung. Kedua matanya berwarna merah darah segar.
Getto dan Florian merasa dingin mencekam setelah menatap naga itu. Selain itu, mereka juga merasakan aura kuat dari pedang itu.
Ekspresi getto yang semula tampak santai, kini terlihat aneh.
“Siapa anak itu?” getto tanpa sadar bertanya. Kekuatan yang di keluarkan simo setara tingkat alam tahap lima bintang 9 mendekati tahap enam. Jika dia pulih dia mungkin bisa lebih dari itu, namun kini kondisinya sangat memprihatinkan. Dan dia memaksa tubuhnya bekerja keras.
Setelah kekuatannya terkumpul, simo mengayunkannya ke bawah dengan keras. Bersamaan dengan itu, naga hitam meraung, dan bergerak mengarah anak panah itu.
Setelah mencapai anak panah itu, ledakan energi kembali terjadi. Tidak lama berselang, panah air itu hancur lebur dan naga bergerak cepat.
“Bahaya!” merasa bahaya mendekat, Florian berteriak dan mengajak getto menghindar, tapi mereka terlambat. Naga itu memiliki daya ledak yang sangat dahsyat. Di area sekitar mereka semuanya hancur lembur. Aura hitam memenuhi tempat sekitar. Beberapa bangunan hancur dan roboh.
Simo sambil mengeram, memegang dadanya yang sakit.
“Tidak bisa. Aku harus bertahan lebih lama. Ibu membutuhkanku.” Ekspresi simo saat ini pucat. Jelas sekali dia menahan sakit yang luar biasa.
“Simo, cepat beristirahat! lukamu terlalu parah,” ucap kaisar Pedang.
“tidak. Aku harus bertahan.” Simo mengatur nafasnya.
“hah.... Terserah kau saja, tapi jangan mati.”
“Tentu saja.”
Simo mengamati daerah ledakan. Dia tersenyum karena tidak ada keberadaan dua orang itu. Dia kemudian berbalik. Ketika hendak pergi, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat sakit. Pandangannya samar-samar Kabur. Kali ini dia tidak bisa menjaga kesadarannya. Dia memegang kepalanya yang sakit.
__ADS_1