
Setelah mengajak simo, gadis itu langsung pergi setelah mengatakan itu, dan simo mengekorinya.
Mereka pergi ke sebuah rumah di tengah hutan. Itu tidak lain adalah rumah yang di kunjungi Delisa sebelumnya.
Saat tiba di sana, gadis berpakaian putih itu tidak langsung masuk, dia diam dan menatap ke arah pintu. Namun, setelah beberapa saat, akhirnya dia berkata, “Yang mulia ratu mungkin sekarang sedang berada di dalam. Jika kau ingin membantunya, kau harus menunggu sebentar. Yang mulia sedang berbicara dengan seseorang. Aku tidak tahu apa yang di bicarakan, tapi instingku mengisyaratkan jika kau ingin membantunya, kau harus menunggunya. Setidaknya setengah jam dari sekarang.”
Simo mengerutkan kening. Dia keheranan apa yang di bicarakan ibunya di dalam, dan mengapa dia tidak boleh masuk. Dia pun bertanya.
“Karena musuh yang di lawan bukan orang sembarangan. Aku tidak tahu seberapa kuat dia, tapi aku cukup yakin, kau harus menunggu beberapa saat. Kebingungan? Aku katakan, kekuatan tidak hanya berdasarkan aura. Kekuatan lebih dari itu. Jika kau ingin mengukur kekuatan lawanmu, kau harus mengukur semua aspek yang di milikinya.”
Simo diam beberapa saat dan mengangguk. Dia mengerti, kekuatan bukan soal kuat, melainkan mulai dari strategi, keberuntungan, celah dan mampu mengenali lawan. Jika kau memilikinya, tidak peduli apakah musuhmu lebih kuat dari dirimu, asalkan kau mengenali musuhmu, masih ada celah untuk menang.
“Siapa namamu?”
Gadis itu menoleh. “Kau duluan.” Dia kembali memandang ke depan.
“namaku simo.”
“aku ala.”
“Ala?” simo sedikit terkejut mendengar nama itu. Itu nama yang sederhana dan kedengaran aneh.
Ala tidak cemberut atau terlihat marah, namun dia berkata, “Mereka yang tidak mengerti namaku akan menganggapnya aneh.”
“Maaf, jika itu membuatmu tersinggung.” Simo merasa bersalah saat menanyakan nama ala.
“tidak perlu. Aku terlalu sering mendengar orang-orang mengejek namaku. Aku tidak mengerti mengapa mereka terkejut mendengarnya. Padahal nama itu hanya biasa-biasa saja, tidak menarik ataupun terasa aneh. Mungkin orang lain menganggapnya aneh.”
“Apa kau ingin mendengar sebuah cerita?”
Simo langsung mengangguk.
“Ayahku sangat senang akan hal baru-baru. Dia akan berkreasi dengan apa yang di temukannya. Suatu hari, ketika dia kecil, dia mendengar beberapa pembicaraan dari anak-anak kota. Ayahku melihat dan mendengar, anak-anak itu berbicara mengenai diri mereka masing -masing yang mirip dengan ayah dan ibu mereka. Stelah itu ayahku menanyakannya kepada orang-orang di rumah. Saat itu dia mengenal jika mereka yang lahir akan mewariskan beberapa hal dari ayah atau ibunya.”
__ADS_1
Ala menarik nafas kemudian duduk dan melanjutkan, “ketika ayahku sudah besar, dia menikah dengan perempuan bernama ala, ibuku. Saat ibuku mengandungku dan memaksa diriku keluar dari perutnya, dia meninggal sesaat diriku keluar dari perut hangatnya. Ayahku sangat sedih atas meninggalnya.
Dan dia memberiku nama Ala, nama yang sama dengan nama ibuku. Dia sangat berharap jika dengan memberikan nama seperti itu, di harapkan aku hanya mewarisi ibuku seperti salinannya, supaya dia selalu bersamanya dan menghilang kesedihannya. Namun, aku tetap aku, ibuku tetap ibu. Hanya wajah cantiknya saja di warisinya.”
“Tidak ada yang lain. Kata ayahku, aku seperti boneka yang kaku dan tidak menarik sama sekali. Mudah di perintah dan di kendalikan. Sedikit berbicara. Dan tidak peka dengan kesedihan orang lain. Namun, ayahku tetap merawatku.”
“Aku bukan seperti itu, aku sama seperti yang lainnya. Aku hanya ingin tidak menangis dan tidak ingin berbuat hal yang sama seperti yang lainnya. Setelah melihat berbagai peristiwa, aku jadi tahu, bawah semua itu hanya siklus yang tidak pasti, dan selalu berubah-ubah. Mengapa aku harus menangis seperti orang lain? Bukankah semua peristiwa itu sudah berulang kali terjadi? Maka dari itu, aku memilih sikap ini.”
“Tidak mengerti tidak apa. Ini hanya ucapan, semua orang berhak menentukan pendapatnya masing-masing.”
Simo merasa bingung dengan apa yang di ceritakan ala. Mengapa dia menceritakan itu? Namun, simo menghargainya, dan berterima kasih karena ala telah menghiburnya.
“lalu, siapa namamu? Aku lupa.” tanya ala ulang.
“Simo, namaku simo.”
“Nama yang unik. Apakah ada cerita di balik nama itu?”
“Tidak.”
Simo diam sejenak mengingat-ingat berbagai peristiwa yang di alami sebelumnya. Dia kemudian menjawab tidak setelah beberapa pertimbangan.
“Sayang sekali. Kau berasal dari mana?”
“Aku berasal dari kekaisaran gunung salju.”
“Kekaisaran gunung salju.... Tempat yang indah. Aku dengar kekaisaran itu adalah kekaisaran yang kuat. Mempunya puluhan batalion dan pasukan yang sangat kuat. Orang-orang kuat juga ada di sana. Tidak heran, kau berasal dari sana. Selain kuat, aku juga dengar ada gunung yang di selimuti salju sepanjang tahun, katanya itu adalah salju abadi. Apakah aku salah?”
“Tidak. Kau benar, memang benar ada gunung seperti itu.”
“Jika nanti aku berkunjung ke sana, aku akan mencarimu untuk menikmati gunung itu. Apakah kau mau?”
Simo tidak bisa selain mengangguk sebagai tanggapan bahwa dia menerimanya. Dia tidak tahu mesti harus menjawab apa selain mengangguk.
__ADS_1
“Apakah kau pernah pergi ke sana?”
Simo mau tidak mau mengatakan tidak ingat, walaupun sebenarnya dia mungkin tidak pernah ke sana. Tentu saja, dia tidak akan mengatakan tidak pernah ke sana.
Untungnya ala tidak berkata lebih lanjut mengenai itu. Dia kemudian berdiri. “sudah saatnya.”
Simo pun mengekorinya. Meski baru beberapa menit duduk, simo tidak mempertanyakannya.
Bommm!!!!
Rumah di depannya pun hancur lembur seperti di ledakan oleh sesuatu. Simo hendak menghindar, anehnya semua pecahan bangunan itu seolah menghindari mereka berdua. Simo hanya bisa menganggap itu adalah kekuatan Ala.
“Sepertinya dia musuh yang tidak sabaran,” gumam Ala sambil menatap aura merah, hitam dan kuning yang keluar dari rumah tempat ledakan tadi.
Dira juga ada di sana sambil menatap Benito yang tersenyum jahat.
Dalam sekali langkah, Ala sudah berada di samping Dira. Dan, simo pun menyusulnya.
“Yang mulia, aku tepat waktu datang.”
“Ala, kau memang selalu tepat waktu.”
“Anakku juga berada di sini. Simo, apakah kau bersikap tidak baik kepada Ala sebelumnya? Ibu harap kau tidak melakukannya.” tanya Dira sambil menatap tajam simo. Entah mengapa dira terlihat sangat protektif terhadap Ala.
“ibu, kenapa ibu berkata seperti itu?”
“Tidak apa-apa, hanya memastikan saja. Kau seorang pemuda, bagaimana mungkin tidak tertarik dengan Ala yang cantik ini.”
“Ibu! Aku sudah mempunyai seseorang. Ibu sepertinya terlalu curiga denganku.”
“Apa!? Kau sudah mempunya seseorang, siapa itu? Apakah dia cantik?”
“kalian bertiga, apakah kalian melupakanku?”
__ADS_1
Di tengah-tengahnya pembicaraan, Benito menyela. Dia tersenyum jahat sambil mengendalikan aura merah di sekelilingnya.
Aura itu bagaikan seperti api yang menyala-nyala. Selain itu, kedua mata Benito mengeluarkan aura merah tipis. Aura itu berputar-putar di sekeliling Benito. Angin di sekelilingnya juga lebih keras dari sebelumnya.