Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 23 perpisahan


__ADS_3

Perlahan-lahan simo membukanya matanya.


“simo, apakah kau sudah sadar?” tanya Rina yang sudah ada di depan simo.


“rina bisakah kau mundur sedikit.”


“Emm.” Rina mengangguk lalu mundur beberapa langkah.


Simo memegang kepalanya yang terasa pening.


“kenapa bumi terbalik lagi ya?” tanya simo lirih melihat semuanya terbalik persis saat dia di gantung.


“Maaf simo, ini ulah aoba, aku tidak berani melawannya, aku sudah mengatakan bahwa aku yang mengajakmu untuk menolong semuanya, tetapi aoba tetap menggantungmu.” Jawab Rina dengan nada sedih.


“Oh... menggantung.” Ucap simo yang masih lirih.


Tiba-tiba saja simo terperanjat. “ah! Aku digantung lagi.”


“Iya, maaf.” Ucap Rina seraya menunduk, seperti Rina merasa bersalah.


Mendengar itu, aoba yang tidak jauh berada mendekati simo lalu berkata, “kenapa? Apa kau tidak menerimanya cucuku. Dasar cucu durhaka.” Ujar aoba seraya kedua tangannya di pinggang.


“tidak, kakek, tidak, aku hanya terkejut saja.” Sahut simo seraya tertawa. Simo takut melihat kakeknya yang marah. Dan jika kakeknya marah maka dapat di pastikan hukumannya di tambah lagi.


“Ngomong-ngomong apakah semuanya selamat?” tanya simo.


“iya, berkatmu kami jadi selamat. Yang mulia ratu juga akan memberikanmu hadiah lagi.”


“di mana semuanya?” tanya simo yang tidak melihat satu pun peri di sekitarnya.


“mereka semua sedang di obati karena kehabisan nafas dan untung saja ada kau, Jika tidak, binasakan kami di tangan manusia jahat itu.”


“Kakek sudah dengar aku sudah menyelamatkan mereka semua, kenapa kakek menghukumku seperti ini, seharusnya kakek bangga memiliki cucu sepertiku ini.”


“Bangga katamu! cucuku kau sebagai seorang cucu seharunya meminta ijin dulu sebelum pergi, apa kau tidak mengkhawatirkan kakekmu ini, yang sudah tua seperti ini dan untung saja kau baik-baik saja, jika tidak mungkin kakek sudah terkena serangan jantung.”


“maaf, tapi kakek kan kuat, mana mungkin terkena serangan jantung.”


“berani kau melawan lagi!” pekik aoba.


Simo tersenyum kecut. “tidak kek, tidak.”


“ Aoba, maaf jika itu membuatmu khawatir. Jika kau marah kau bisa menghukumku.” Ucap Rina yang merasa bersalah telah meminta bantuan dari simo.


“tidak Rina, kau tidak salah, tapi aku yang salah karena belum bisa mendisiplinkan simo. Sekarang kau pergilah dulu, kau sepertinya sudah kelelahan.”


“tidak, aoba aku ingin menemani simo di sini saja.”


“tidak boleh! Biarkan dia memikirkan masalahnya sendiri.”.


“tapi...” ucap Rina terhenti saat melihat muka aoba yang marah. Rina lalu menunduk lemas. “baiklah.”


Rina lalu pergi dari sana tanpa mengucapkan salam apa pun.


...****...


Aoba mengundur jadwal keberangkatan 1 hari itu di karenakan simo belum sepenuhnya sembuh dari lelahnya saat bertarung dengan Nara.


Setelah simo di bebaskan dari hukumannya, dia bercerita kepada aoba dan mengatakan dirinya tidak ingat saat-saat terakhir bertarung dengan Nara, bahkan yang dia ingat hanya saat angin tornado itu mendekatinya.


Mendengar itu aoba mengerutkan keningnya, dia heran bagaimana bisa simo bisa amnesia mendadak seperti itu.


Sebelumnya Aoba heran, bagaimana simo bisa membunuh lawan yang begitu kuat. Dia pikir akan menemukan jawabannya dari simo, tetapi malahan dia semakin heran apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Sore itu lagi-lagi Aoba menanyakannya, tetapi simo dengan tegas menjawab dia tidak tahu.


“Sudahlah, sekarang kau istirahat dan besok kita akan berangkat.”


Simo mengangguk lalu masuk ke dalam gua.


“Apa yang sebenarnya terjadi, emm.” Aoba memikirkannya seraya mengelus- elus janggutnya yang panjang.


...****...


Di pagi hari yang cerah, di perbatasan hutan semua peri berkumpul mengucapkan salam perpisahan kepada simo, aoba dan semua penduduk.


Untuk pertama kalinya ras peri memperlihatkan dirinya di depan publik.


Semua penduduk yang melihatnya tidak dapat menahan dirinya untuk melihatnya dari dekat, apalagi semuanya cantik-cantik dan imut.


“aku sebagai wakil dari semua rasku mengucapkan terima kasih kepada Kalian.” Ucap ratu peri dengan nada lembut kepada aoba dan simo di depannya.


“jangan berterima kasih yang mulia, aku melakukan itu karena ingin membantu temanku yang kesusahan.” Sahut simo.


“Meski begitu aku harus berterima kasih kepadamu. Aku tidak akan memaafkan diriku jika belum mengucapkan terima kasih.”


“dan kau aoba, aku juga harus berterima kasih kepadamu setelah menjaga kami bertahun-tahun sebelum kau datang.”


“sama-sama.” sahut Aoba ramah.


Ratu peri menepuk tangannya lalu salah satu pelayannya datang membawa dua buah kristal.


Ratu peri mengambilnya. “ kalian berhak mendapatkan.” Dua kristal itu melayang ke tangan simo dan Aoba.”


“kalian jangan pernah menolaknya, karena itu adalah hasil kalian, bahkan kalaupun karena keinginan kalian sendiri.”


“Tapi yang mulia....” simo merasa keberatan.


“baiklah.” Ucap simo meski terpaksa menerimanya.


Sedangkan aoba menaruh kristal itu di bawah dan seketika krista itu pecah lalu membentuk kubah pelindung tembus pandang.


“jangan mengatakan apa pun, aku belum tentu bisa melindungi kalian lagi.” Ucap Aoba yang melihat keberatan ratu peri.


“baiklah.” Kata ratu dengan lemah dan tidak berdaya.


“dan sekali lagi kami sangat berterima kasih.” Sang ratu menunduk sebagai ucapan terima kasih.


Melihat itu aoba dan simo hanya bisa mengangguk.


“yang mulia, kau tidak perlu seperti itu.” Lia datang menghampiri sang ratu. Dia keberatan dengan ratu peri yang berterima kasih secara pribadi dengan aoba dan simo.


“apa maksudmu Lia?” ratu peri mengerutkan keningnya. Ratu peri tidak paham apa yang ingin Lia lakukan. Baginya dia sekarang sudah melakukan hal yang sepantasnya dan. Sebagai seorang ratu dia seharunya bisa melindungi rasnya dari ancaman yang ada di luarnya, akan tetapi dia malahan ikut terkena musibah seperti itu. memang sudah seharunya dia melakukan itu dan bagi seorang ratu itu masih belum cukup untuknya atas semua yang sudah terjadi.


Lia tidak menjawab, sebaliknya dia meniup seruling yang dia bawa.


Setelah seruling itu berhenti di mainkan semua ras peri berkumpul di belakang Lia, seperti mereka akan mendapatkan hadiah yang besar.


“Apa yang kau lakukan Lia?” ratu peri semakin tidak mengerti.


Aoba dan simo juga tidak paham apa yang akan di lakukan Lia. Mereka hanya diam dan menunggu.


Semuanya seketika menunduk.


“Kami sebagai ras peri mengucapkan terima kasih kepada yang mulia, simo dan Aoba yang telah menjaga kami selama ini.” Ujar mereka serempak seraya memberi hormat.


“apa maksudnya ini?” tanya ratu lagi.

__ADS_1


“yang mulia, anda tidak perlu mengucap terima kasih secara pribadi kepada simo dan aoba dan juga jangan pernah anda merasa bersalah atas semua yang terjadi. Kami yang seharunya berterima kasih kepada anda, simo dan aoba yang telah menjaga kami.” Ucap Lia.


“tapi.... Aku sebagai seorang ratu seharusnya mendapatkan hukuman setelah apa yang terjadi dan telah membahayakan nyawa kalian.” Ratu peri mengucapkan dengan nada lembut dan ada rasa bersalah dari kata-kata dan wajahnya.


“Tidak yang mulia, jangan salahkan diri anda, kami senang telah memiliki pemimpin seperti anda.”


“Ya kami akan selalu setia dengan anda.” Ujar semua peri serempak dan memberi hormat.


“K-kalian.” Ratu peri berkaca-kaca setelah melihat rasnya memberi hormat kepadanya dan untuk pertama kalinya dia terharu terhadap rasnya yang sangat setia.


Sejak dulu ratu peri sangat ingin sekali menjadi ratu yang baik bagi semua rasnya oleh karena itu dia selalu belajar dari pengalaman ratu terdahulu.


Dia ingin jika suatu saat menjadi ratu akan menjadi ratu yang baik dan selalu membawa kecerahan dan kebahagiaan bagi rasnya. meski dia tahu itu adalah pikiran yang mustahil untuk di wujudkan, dia tetap terus berusaha dan akhirnya karena keberuntungan dia di pilih menjadi ratu peri selanjutnya.


Saat dia dilantik, dia berjanji akan selalu membuat ras peri aman dan damai.


Setelah pelantikan itu, semuanya berjalan lancar, akan tetapi dia sangat kelelahan untuk mengatasi berbagai masalah yang khususnya ancaman dari luar.


Saat dia berada di titik terendahnya dan pasrah ada keajaiban yang datang, yaitu seorang pria paru baya berdiri dan ikut membatunya.


Itu adalah bantuan terbesar yang dia dapatkan, namun setelah itu ada satu masalah yang dia tidak bisa atasi, musuh meracuni udara dan membuat semuanya pingsan termasuk dirinya sendiri dan itu adalah pukulan terberatnya karena tidak waspada.


Dia pikir semua kepercayaannya akan musnah setelah itu, akan tetapi dia salah, semua rasnya tetap mendukungnya, meski pernah membahayakan nyawa seluruh rasnya.


Rina maju dengan senyuman manis bermekar di wajahnya seraya membawa satu karangan bunga dan mendekati ratu peri.


“rina.”


“yang mulia anda layak mendapatkannya.” Rina mengalungi ratu dengan karangan bunga itu.


“terima kasih Rina dan semuanya.” Ratu sangat terharu, bahkan dua buih air mata jatuh.


Dua peri maju dan mengalungi karangan bunga kepada simo dan aoba.


“Terima kasih.” Ucap simo dan aoba.


Sementara itu semua penduduk yang melihatnya memperlihatkan ekspresi wajah yang gembira dan ada juga yang terharu.


Rina mendekati simo.


“Simo apa kau akan pergi selamanya?” tanya Rina dengan nada lirih dan sedih. Rina tidak rela jika simo pergi, dia ingin sekali bersamanya dan jika dia bisa dia ingin selamanya dengannya.


Rina mengucapkan itu dengan wajah yang lemas dan redup.


“Aku tidak tahu, tetapi mungkin kita akan bisa bertemu lagi.”


“ini...Pakai ini ya.” Rina mengeluarkan gelang yang dia buat.


Simo mengambilnya. “terima kasih Rina.”


“jika kau merindukanku kau bisa melihat gelang itu.” ucap Rina dengan wajahnya memerah.


Simo mengangguk.


“yah, aku tidak bisa bertemu lagi denganmu.” Lia mendekat.


“Kenapa tidak, kita akan bertemu lagi.”


“simo aku harap kau bisa bertemu orang-orang hebat dan kuat serta mendapatkan pengalaman yang bagus.”


Simo mengangguk.


Setelah perpisahan, simo, aoba dan semua penduduk meninggalkan desa. Ada rasa sedih, gembira yang menghiasi perpisahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2