
“nona...! Nona....! Nona...!” Ujar seseorang pria paru baya dari luar rumah ayu yang membuat diskusinya terganggu. Suaranya sedikit serak, tapi memiliki semangat perjuangan yang tinggi.
“iya....!” Ujar ayu, kemudian memandang simo dan namila secara bergantian, mengisyaratkan apakah dirinya boleh meninggalkannya sebentar. Walaupun ayu sebenarnya enggan keluar, karena dia mendapatkan informasi penting mengenai siren dan kekuatannya, tetapi sebagai tuan rumah yang baik dia harus melakukannya.
Simo dan namila tersenyum, kemudian mengangguk.
“Maaf, tunggu sebentar.” Ucap ayu dengan nada lemah dan sopan, lalu undur diri.
Saat ayu keluar, betapa terkejutnya dia setelah melihat semua warga memakai perlengkapan dan senjata. Selain itu terlihat jelas ada rasa bersemangat dari setiap orang yang ada di sana.
“nona, kami sudah siap melawan para siren itu, entah kami pulang dengan selamat atau tidak kami tidak memperdulikannya!” ujar Pria paru baya berjalan ke depan.
“iya!” ucap semuanya serentak.
“k-kalian.” Setetes air mata ayu terjatuh. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sekarang. Apalagi inilah momen yang sangat dia inginkan, selepas untuk menyelamatkan semua penduduk desa, melawan siren juga akan membuat dendam ayahnya terbalaskan dan membuat ibunya tersenyum.
“ayo nona tunggu apa lagi ayo kita tunjukkan kepada para siren itu, betapa kuatnya kita.”
Semua penduduk mengangguk dan ingin berbalik, tapi sebelum itu ada suara yang membuat langkah mereka terhenti. Apalagi itu suara yang belum pernah mereka dengar
“tunggu!”
Simo datang bersama namila di saat yang tepat. Saat datang, dia menyebarkan pandangannya ke segala arah, memeriksa perlengkapan apa saja yang sudah di persiapkan para penduduk.
“S-simo.” Seru ayu yang langsung di jawab anggukan oleh simo.
“Nona siapa dia?” tanya dari salah satu penduduk.
“dia adalah temanku dan akan memimpin perlawanan melawan para siren.” Jawab ayu yang membuat semua penduduk heran dan terkejut. Bagaimana bisa nona yang paling di hormati dengan mudahnya memberikan tanggung jawab yang besar ke pada orang asing.
Semua tatapan tertuju pada simo dan namila. Ada yang menatap heran, kagum, iri dan kebencian.
“chih! Atas dasar apa dia boleh memimpin kami, apalagi dia orang asing dan mungkin saja dia tidak tahu apa yang terjadi di desa ini.” Seru seorang pria muda berjalan ke depan, membuat semua penduduk bertepian memberikan jalan. Suara pria itu terdengar meremehkan.
Namanya Frey yang merupakan salah satu prajurit desa yang terkenal akan kekuatan dan ketangguhannya dalam beberapa tahun belakangan.
Saat sudah di depan, dia memandang tajam ke arah simo, kemudian tersenyum.
__ADS_1
“ayu, semua penduduk pasti ingin mendapatkan pemimpin yang hebat dan bijaksana, mulai dari tingkat pengetahuan, strategi dan keyakinan dalam mengambil keputusan. Selain itu seorang pemimpin juga harus kuat, bagaimana jika aku yang mengujinya.” Tutur Frey itu yang membuat semua penduduk mengangguk setuju.
Apa yang di katakannya ada benarnya. Apalagi jika itu memimpin pasukan yang lebih besar. Tentu saja setiap pasukan tidak ingin di pimpin oleh orang yang bodoh.
Mendengar itu, ayu tersenyum, lalu berkata, “baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan memintanya untuk bertarung denganmu, tapi bukan satu ronde melainkan tiga, sebagai bukti kelayakannya.”
Ayu bahkan tidak meminta persetujuan simo, dia juga tidak memandangnya, karena dia sangat yakin simo mampu memimpin para penduduk, terlebih lagi dia sudah mengetahui informasi penting mengenai para siren, dan juga dengan adanya namila di samping simo itu akan lebih mempermudah dalam memimpin para warga.
“baiklah, jika begitu, sudah di putuskan untuk bertarung 3 ronde, aku akan menunggunya di lapangan dan semua warga harus datang melihat Pertarungan kami untuk melihat apakah dia layak atau tidak. Aku sangat mematikannya.”
Setelah berkata seperti itu, Frey berbalik dan kembali berbaur di dalam kerumunan penduduk.
...****...
Setelah semua penduduk kembali ke rumahnya masing-masing, ayu memutuskan untuk duduk di teras rumah seraya memandang langit biru yang di hiasan awan-awan.
“ibu, ayah putrimu ini akan membuat kalian tenang di sana.” Batinya kemudian tersenyum membayangkan wajah ibu dan ayahnya tengah tersenyum di hamparan langit biru tiada ujung itu.
Sementara itu, simo dan Namila setelah selesai mandi tidak sengaja melihat ayu tengah duduk di teras rumah. Mereka berdua melihatnya dari jendela yang tidak jauh berada.
“apakah kita akan menghampirinya.” Tanya namila.
“aku mengikutimu saja.”
Setelah itu simo dan namila menghampiri ayu. Walaupun itu terkesam tidak baik, mengganggu orang di saat seperti itu, mereka berdua harus melakukannya, sebab sudah waktunya untuk menujukan kekuatan simo di depan para penduduk.
Walaupun itu tidak perlu di lakukan, simo tetap melakukannya. Selain untuk pamer, itu juga akan membuat kepercayaan penduduk Kepadanya tidak di ragukan lagi.
“apakah sudah waktunya?” tanya ayu kemudian menoleh.
Simo dan namila mengangguk.
“Ayo kita pergi.” Ayu kemudian beranjak berdiri. Setelah simo dan Namila di sampingnya, dia mulai berjalan menuruni tangga.
Hanya perlu 20 menit untuk sampai di alun-alun desa padang pasir. Saat perjalanan, simo, namila, dan ayu berbincang-bincang mengenai siren yang sebelumnya berhenti di tengah jalan. Simo menceritakan sebagai lagi mengenai siren dan di tambahkan oleh namila. Selain itu, mereka juga membicarakan rencana penyerangan dan waktu yang tepat untuk melakukan serangan.
Saat tiba di alun-alun desa, semua penduduk sudah ada di sana. Di tengah-tengah lapangan sudah ada Frey yang menantang simo. Tanpa istirahat simo datang menghampiri pemuda itu.
__ADS_1
“ suatu pertarungan tidak akan seru jika tidak ada taruhan, bagaimana kalau temanmu itu di jadikan taruhan?” ujar Frey tersenyum seraya melirik namila. Saat melihatnya, simo sangat mengetahui apa yang dia inginkannya.
“maaf temanku bukan barang yang seenaknya saja di pertaruhkan, lagi pula kau akan kalah, untuk apa bertaruh.” Jawab simo dengan nada dingin. Apa pun yang terjadi tentu saja dia tidak akan mengorbankan wanita yang dia sukai.
Sringg!!!
“chih, dasar sombong!”
Setelah menarik pedangnya, Frey tanpa ragu bergegas menerjang simo.
Simo dengan tenang memejamkan matanya dan memusatkan konsentrasinya di area sekitar. Dia dapat merasakan lembutnya buaian angin yang menerbangkan Dedaunan, hempasan sayap burung-burung yang beterbangan, juga bulu-bulu burung yang perlahan-lahan turun.
Sesuai instingnya, simo mengerutkan keningnya, secara bersamaan menarik pedangnya, lalu mengayunkannya.
Wuss trangkk kreak!
Dalam sekali tarikan, angin kencang muncul dari sarung pedang simo yang telah dia ganti saat tiba di desa, dan sekali ayunan, pedang itu mampu membuat retakan di pedang Frey Itu adalah teknik yang sekarang simo pelajari dan masih berada di tingkat Pertama.
Frey terkejut, kemudian secara refleks mundur ke belakang, sebagai antisipasinya jika ada serangan susulan. Di wajahnya terlihat jelas ada rasa kebingungan, keheranan setelah merasakan angin dari pedang simo.
Semua penduduk yang melihatnya juga kebingungan dan heran bagaimana bisa pemuda asing di depan mereka saat ini dengan mudah meretakkan besi yang kuat. Bahkan jika itu pria dewasa sekalipun sang sulit untuk melakukannya.
Dengan masih bingung Frey dengan cepat melesat menyerang simo berbagai ayunan.
Sementara simo dengan mudahnya mengayunkan dan menahan serangan Frey hingga simo berhasil membuat pemuda itu terkapar dan Pedang patah menjadi dua.
Beberapa warga terkejut, beberapa juga kagum dan memuji-mujinya.
Frey Perlahan-lahan berdiri, dia ingin menyerang lagi, tetapi setelah melihat pedangnya terpotong menjadi dua, ekspresi wajahnya menjadi pucat dan dengan sedih menghela nafas, lalu undur diri.
Tidak ada lagi hal harus dia lakukan, tidak ada hal lagi yang bisa dia gunakan untuk menutup rasa malunya. Dia tidak menyangka hanya beberapa detik saja sudah kalah di tangan orang asing di desanya sendiri.
Selain rasa malu, jelas reputasinya sebagai prajurit desa menurun drastis.
“apa kau ingin menyerah begitu saja!” ujar seseorang yang membuatnya menoleh. Dengan tiba-tiba Pedang yang entah dari mana mengarah kepadanya. Dengan refleks dia menangkapnya, lalu mencari-cari orang yang melempari pedang dan berbicara kepadanya.
...****...
__ADS_1
jika ada yang salah mohon lapor ya