
Sembari terus menyerang simo, Jerome sudah hampir menyelesaikan Persiapan penyerangannya. Melihat hal itu, kepala sekolah tersenyum dan berkata kepada Dira, “Yang mulia, lihatlah kekuatan siswaku. Aku percaya serangannya kali ini akan sangat kuat dan mampu mengalahkan siswa itu. Dia tidak akan mungkin bisa menahannya. Di bawah tekanan Amara dan serangan ini, maka terjadilah kerja sama yang baik.”
“Jika dia tidak kalah, bagaimana?”
“Jika dia tidak kalah, aku yakin, dia akan mundur dan terluka. Kekuatan Jerome saat ini hampir setengah dari energi yang di milikinya, mustahil tidak menimbulkan efek apa pun.”
“Kita lihat saja.” Dira menjawab lalu mengakhiri pandangan ke arah simo, sambil berpikir : mengalahkan dengan satu serangan? Anak itu bahkan mampu mengalahkan dua orang berada di tingkat alam, bagaimana bisa dia kalah dengan hal itu. Setelah ini, aku harus menanyakan tingkat kultivasinya yang sebenarnya.
Meski agak kesal, kepala sekolah tidak lanjut bertanya. Selain itu, hal itu juga membuatnya bertanya-tanya apa lagi kemampuan siswa dari akademi gunung salju, sehingga mampu membuat ratunya sangat percaya dia bisa bertahan dari serangan Jerome saat ini. Memikirkan ini membuatnya bergumam, “bocah ini sungguh menarik.”
Agni yang melihat persiapan Jerome dan simo yang seolah tidak memperhatikannya membuatnya heran dan bertanya-tanya, apakah yang akan di lakukan simo selanjutnya. Serangan Jerome tidak lemah kali ini. Dia yakin, jika itu mengenainya, tubuhnya pasti akan tersengat listrik yang tidak dapat di bayangkan bagaimana rasanya.
Namun meski begitu, dia juga berharap akan ada kejutan lagi.
Selain itu yang membuatnya heran, dia juga bertanya-tanya di mana sebelumnya dia melihat simo, rasanya dia sangat familiar dengan wajah dan pedangnya.
Di sisi lain, para siswa mulai bergumam saling adu argumentasi mengenai bagaimana efek serangan Jerome kali ini, beberapa dari mereka menjawab pasti simo akan kalah, mengingat tingkat kultivasinya berada di bawah Amara dan Jerome. Namun, ada juga yang percaya simo akan bisa bertahan mengingat bagaimana dia sebelumnya.
Rina yang menyaksikan pilar petir di langit, tidak bisa menahan ketakutannya. Bibirnya sedikit bergetar, dan dengan suara takut dia bertanya kepada Naria, “apakah simo bisa menahan serangan ini?”
Naria tersenyum. “Dia akan mengalahkannya. Dia tidak mungkin bisa di kalahkan dengan serangan tunggal seperti itu. Benar kan Safia?”
“Ya! Ayahku sangat hebat, dan anaknya juga hebat. Jika aku di berikan berpartisipasi dalam pertarungan ini, aku tidak akan mengelak sama sekali!” Safia menjawab gembira dan tersenyum.
Melihat Naria dan Safia membuat rina lebih lega. Dia tidak tahu seberapa kuat simo, dan ini adalah pertama kalinya dia melihat pertarungan sekuat ini yang membuatnya takut.
Setelah mendengarnya, rina kembali memandang ke arah lapangan.
__ADS_1
Saat semuanya sibuk berbicara, akhirnya simo berhasil membuka kembali matanya. Dia langsung menjaga jarak 20 meter dari Amara dan Jerome. Dalam jarak seperti itu, dia mampu melihat persiapan Jerome dengan jelas. Tapi, tentu saja hal ini bisa dia atasi.
Dia langsung menggunakan teknik lauthing linght. Dalam sekejap dia berpindah di samping Jerome.
Melihatnya, Amara langsung memperingati Jerome dan kembali menggunakan pilar cahayanya.
Jerome sadar, dan langsung melompat ke belakang. Namun, simo sudah mengayunkan pedangnya. Dia tidak bisa menghindar dan hanya bisa menangkisnya.
“Jika ini yang kau mau! Aku akan memberikannya!”
Petir yang sangat dahsyat meledak di sekitar mereka berdua ketika dua bilah pedang mereka beradu. Tanah-tanah yang ada di sekitarnya retak-retak akibat serangan Jerome.
Akan tetapi, simo masih mampu menahannya sambil menggertak giginya menahan sakit. Walaupun dia sudah berada di tahap alam, dia masih bisa merasakan sakit akibat serangan ini. Selain itu, pilar cahaya yang di keluarkan Amara memiliki kekuatan gravitasi yang kuat, membuat tubuhnya dua kali lipat lebih berat. Kedua kakinya masuk ke dalam tanah beberapa cm.
Jerome tersenyum menyeringai menyaksikan ekspresi simo.
“Terima kasih,” ucap Jerome lalu berusaha berdiri. Dia langsung melihat tangan kanannya yang di penuhi aliran petir yang perlahan-lahan menghilang. Yang membuatnya terkejut, tangannya terasa sangat sakit dan bergetar. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu. Jika serangannya, tidak akan mungkin menyerang balik, meski dia mengeluarkan kekuatan yang kuat.
Hanya satu yang mungkin menyebabkannya, dia langsung menatap simo, dan benar saja. Simo masih berdiri. Tatapannya kali ini terlihat sedikit memerah, membuat Jerome merasa pirasat buruk dan suasana yang tidak nyaman. Selain itu, dia seolah tidak merasakan sakit sedikit pun dari serangan Jerome!
“Orang ini terlalu kuat untuk kita berdua. Aku tidak punya lagi kekuatan melawannya. Dia bahkan belum mengeluarkan teknik-teknik terkuatnya. Dia sungguh seperti monster.”
“Meski aku memiliki empat puluh persen kekuatan, hasilnya tidak akan pernah berubah. Dia akan keluar menjadi pemenang.”
“kita tidak perlu mengalahkannya hingga energinya habis, kita hanya perlu mengikat dan menjatuhkannya,” Ucap Amara sambil memandang simo yang berdiri kokoh.
Meski mereka saling bertentangan di akademi, hari ini mereka seperti tim yang sangat baik dan saling membantu.
__ADS_1
“Bagaimana caranya?” tanya Jerome sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
“aku akan menggunakan serangan tunggal dan mengalihkan perhatiannya. Sementara kau, menyerangnya saat dia lengah dan meringkus kedua tangannya. Apakah kau mengerti?”
Jerome diam sejenak lalu menjawab, “Apakah ini, akan berhasil?”
Jerome mempunyai keraguan mengenai rencana ini. Beberapa kali dia merasakan kekuatan fisik simo yang kuat, jelas membuatnya sangat meragukan rencana ini.
“Kita hanya perlu mencobanya. Aku akan berusaha melakukannya!” Amara melesat ke depan dengan kecepatan tinggi melayani simo yang dari tadi sudah berlari mendekati mereka.
...****************...
“pemuda itu sungguh luar biasa! Dia bahkan bisa meminimalkan efek serangan Jerome. Aku akan bertarung melawannya nanti!” ujar salah seorang siswa perempuan. Kedua matanya berbinar menyaksikan pertandingan itu.
“Untuk apa kau melawannya, yang hanya akan membuat akademi kita menanggung malu?” tanya siswa di samping. Dia tidak senang mendengar ucapan siswa perempuan di sampingnya.
“Tidak peduli. Aku ingin merasakan kekuatannya. Jika kau ingin menjaga nama akademi, kau tidak usah bertarung, biarkan aku saja yang melawannya.”
“Kau....! Huh.... Baiklah, kau saja yang bertarung, aku akan tertawa di sini untuk menyaksikan kebodohanmu. Biarkan anak muda itu menendang pantatmu hingga terjatuh.”
“kau...!” gadis itu tidak senang mendengarnya, tetapi dia berhasil mengendalikan emosinya. Setelah menarik nafas, dia berkata, “setelah pertarungan ini selesai, aku akan menyuruhnya untuk menendang belalaimu dan memasaknya menjadi sosis bakar.”
Tiba-tiba wajah siswa laki-laki pucat pasi dan merasa ngeri jika hal itu terjadi. “Tidak baik mencari masalah dengan gadis sepertimu.”
“itulah sebabnya kau tidak boleh mengejekku.”
Sementara mereka bercakap-cakap, simo mulai bertarung dengan Amara. Amara kali ini sangat serius. Dia beberapa kali mengeluarkan pilar cahaya mengunci simo. Namun simo sudah mengetahui cara menangkalnya. Dia hanya perlu memejamkan mata ketika cahaya itu di keluarkan, sehingga dia tidak akan terkena efeknya.
__ADS_1