
Setelah beberapa saat menelusuri gedung itu, kelompok simo menemukan berbagai alat-alat penelitian untuk meneliti ataupun untuk hal lainya yang keji. Sepanjang perjalanan, mereka melihat meja besi, tabung dan berbagai cairan yang berwarna warni.
Gedung itu memiliki 5 lantai, mereka baru menelusuri dua lantai.
Ketika memasuki lantai ke tiga, bau busuk yang menyengat masuk ke lubang hidung mereka. Namila langsung menutup hidungnya karena tidak tahan, sedangkan simo dan anulika terlihat biasa-biasa saja, mereka sudah terbiasa dengan bau-bau seperti itu.
Lampu ruangan yang berwarna biru gelap membuat suasana lebih mencekam, di tambah munculnya asap putih yang entah dari mana.
Simo sedikit mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, lalu menoleh ke arah anulika.
Anulika mengerti apa yang ingin di katakan simo, dia langsung mengangguk kemudian membekukan seisi ruangan tersebut. Bau yang tadinya menusuk, kini memudar dan di gantikan oleh aura dingin yang menusuk tulang.
Alasan anulika melakukan itu, karena ada jebakan dan kamera pengawas. Dia membekukan semuanya karena ruangannya penuh berair dan dingin, sangat pas untuk elemen esnya, dan juga tidak memerlukan terlalu banyak energi. Oleh karena itu anulika melakukan tanpa khawatir kehabisan energi.
Namila langsung menurunkan tangannya ketikan tidak mencium bau tersebut. Dia kemudian menoleh ke arah simo dan berkata, “bukankah kita harusnya pergi ke ruangan bawah?”
Kelompok simo tadi sudah menemukan peta dan berkas di mana letak para tahanan berada. Itu tidak lain berada di ruangan bawah tanah.
Ketika menyadarinya simo dan anulika memutus untuk naik, namila tidak bertanya, walaupun dia penasaran. Namun karena bau yang muncul membuatnya ingin bertanya. Dia khawatir jika akan mencium bau tersebut jika naik lebih tinggi lagi, meski bisa di bekukan.
“Kita akan ke sana, Namun kita harus memberi mereka pelajaran dulu.” Jawab simo yang mengetahui ada tiga orang lagi yang masih hidup di gedung itu.
Anulika di samping simo memilih untuk pergi. Dia sebenarnya juga ingin pergi ke ruangan bawah tanah dan bertemu adiknya secepat mungkin. Tapi, dia harus membunuh orang yang telah menyakitinya dulu, rasa balas dendamnya meluap-luap ketika berada gadung ini.
“simo, aku akan menyerangnya dari jarak jauh, kita pergi saja dari sini. Tidak ada untungnya juga menghadapi mereka secara langsung.” Tiba-tiba Anulika berubah pikiran.
Simo sedikit terkejut dan kecewa mendengarnya. Dia ingin sekali menjelajahi gedung ini sebelum menyelamatkan Kenzo dan invander. Meski dia tahu ada tiga orang lagi yang belum mati dan juga mereka semuanya lemah-lemah, dia tidak mempedulikannya, asalkan dia bisa bertarung, maka itu sudah di anggap cukup.
“tapi, bukankah menelusuri gedung ini adalah sesuatu yang menyenangkan?” simo berkata seraya mengangkat sedikit alisnya.
“Dan juga kita harus memberi pelajaran kepada tiga orang itu. Mereka sangat kejam, mereka harus mendapatkan hukuman yang berat. Aku ingin menyiksanya sebelum mereka mati.” Imbuhnya.
__ADS_1
“Tidak perlu. Dari jarak jauh saja kita sudah bisa membunuh dan menyiksanya.” Anulika tidak terlihat tertarik.
“Huh... Baiklah.” Akhirnya simo menyetujui dengan pasrah.
Melihat simo yang ingin bertarung, Namila langsung menepuk bahunya.
“Tenang saja, Setelah kita menyelesaikan ini, aku akan menjadi teman latihanmu.”
Simo mengangguk lemas.
Setelah anulika mengeluarkan dewi es dan memerintahkannya pergi, mereka langsung pergi ke ruangan bawah tanah.
Ketika tiba di ujung tangga, mereka melihat ruangan yang sangat besar. Di sana ada penjara yang sangat banyak.
Mendengar suara langkah kaki, orang-orang di penjara berdiri untuk melihatnya. Kondisi mereka sungguh memprihatinkan, mereka kurus, bau dan seperti tidak pernah mandi.
Harapan muncul di mata mereka ketika melihat kelompok simo muncul. Mereka sedikit yakin, orang yang datang mungkin akan menyelamatkan mereka.
Simo yang menyadarinya, langsung mendekati Kenzo dan ivander.
“kenapa kalian bisa ada di sini?” Tanya ivander seraya mengerutkan kening. Memasuki ruangan ini sungguh sulit untuk dilakukan, bahkan jika itu untuk simo, rasanya sungguh mustahil. Dengan penjaga yang ketat dan orang-orang kuat yang selalu muncul, itu sungguh Tidak terduga kelompok simo bisa masuk.
“Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya nanti. Yang pertama kita lakukan sekarang adalah menyelamatkan kalian berdua.”
“simo kau....” ivander tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Dia sungguh berterima kasih dan menyesal karena telah mencari masalah dengan simo. Dia juga tidak menyangka simo akan berusaha menyelamatkannya.
Kenzo di sisinya juga seperti itu. Buih-buih air mata pun mengalir dari kedua matanya. Dia tidak tahan lagi dan tidak menyangka bisa selamat setelah penderitaan yang telah dia alami sebelumnya.
“Dramanya nanti saja. Apa kalian tahu bagaimana cara untuk membuka sel tahanan ini?” tanya namila. Meski itu terlihat tahanan biasa, mungkin saja ada pelindung yang tidak terlihat. Jika tidak ada itu sungguh mustahil.
“Tuan tolong kami!” ujar beberapa orang di sel tahanan lainnya yang telah menyadari simo akan menyelamatkan seseorang. Awalnya mereka tidak berani karena masih ragu-ragu dan menduga simo adalah salah satu anggota organisasi.
__ADS_1
“aku akan menyelamatkan kalian, tapi Kalian harus diam!” akhirnya yang menjawab Namila.
Mendengarnya itu, mereka semua diam dan tetap berdiri Seraya memegang besi di hadapannya. Harapan tercermin di masing-masing mata para tahanan.
“Kalian harus mendapatkan kuncinya, jika tidak kalian mustahil untuk membukanya.”
“Di mana kuncinya?” tanya namila.
“Kuncinya di bawah oleh salah satu orang penjaga di sini. Biasanya mereka pergi bersama dan muncul bersama. Apa kalian menemukan dua orang gendut dan satu orang kurus?”
Simo dan namila menggeleng.
“mereka yang membawanya. Kalian harus mendapatkannya.”
Tiba-tiba harapan muncul di mata simo. “sepertinya kita harus menghabisi mereka dulu. Apa kalian tahu di mana mereka berada?”
Ivander dan kenzo menggelengkan kepala tanda mereka tidak tahu. Meski simo sudah menduga dan yakin mereka ada di ruangan paling atas, dia masih harus menanyakannya untuk mendapat kepastian untuk hal itu.
Sementara di sisi lain, anulika terus menelusuri ruangan itu untuk mencari adiknya. Jantungnya berdegup kencang kala terus menelusurinya. Ada rasa takut jika adiknya kenapa-kenapa. Dia terus menoleh ke segala arah untuk mencarinya.
Meski pun para tahanan berteriak-teriak memanggil untuk di selamatkan, dia tidak mempedulikannya, bahkan hanya menganggapnya sesuatu yang tidak berguna.
“jika seperti itu, kita harus mendapatkannya sesegera mungkin.” Ucap Namila dengan nada Khawatir. Walaupun dia tahu, latif di tahan oleh Carissa dan Lasmaya, tentu saja, mereka belum tentu bisa mengalahkannya. Terlebih lagi dari tadi tidak ada orang kuat, semakin khawatiran tumbuh di hati namila.
Simo mengangguk lalu pergi tanpa membekukan ataupun menghancurkan kamera pengawas. Hal itu membuat rencana mereka di ketahui.
Di depan layar, orang yang menjadi ketuanya tersenyum gembira menyadari simo dan Namila akan datang.
“Bos, apa rencanamu sekarang?” Tanya salah satu gendut.
“Kau ikuti saja rencanaku.” Katanya seraya tersenyum menyeringai penuh kejahatan.
__ADS_1