
Meski Benito berada di tingkat bumi tahap lima, kekuatannya tidak bisa di pandang sebelah mata. Elemen warna adalah elemen yang sangat unik dan kuat. Selagi ada warna di sekitarnya, dia masih memiliki cara untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
Simo, Ala dan Dira setelah sadar akan hal itu menatap tajam ke arah Benito. Masing-masing dari mereka mengeluarkan senjata.
Benito tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat kepalanya. Mulutnya terbuka lebar-lebar. Dari jarak simo, siapapun akan dapat melihat langit-langit mulutnya. Dia berteriak bagaikan seseorang yang sangat jahat dan penuh intimidasi.
Setelah itu menurunkan wajahnya. Ekspresi sinis dan meremehkan tergambar jelas di wajahnya ketika matanya menyapu simo, Ala dan Dira.
“Apa kalian lupa, jika aku masih memiliki gadis itu!? Jika kalian berani melangkah maju, aku tidak akan memberikan kalian melihatnya lagi di dunia ini. Selain itu, aku juga memiliki yang satunya lagi, aku tidak tahu siapa gadis ini, tapi sepertinya dia adalah orang berharga di antara kalian. Lihat ini!”
Aura merah muncul dan memperlihatkan Delisa dan Putri Dhiya kharya melayang di udara terkulai lemas. Keduanya menunduk dalam, seolah tidak ada lagi tenaga. Kedua tangan dan kakinya mengikuti. Samar-samar terlihat aura merah keluar dari kedua mata mereka.
Simo langsung terkejut melihat Delisa dan Dhiya kharya berada di sini dalam keadaan seperti itu. Dia menjadi marah, dan menggertak giginya. Jika dia bisa, kali ini dia ingin menghajar Benito di depannya hingga babak belur.
Namun, dia harus mengubur dalam-dalam rasa marahnya, dan berusaha mencari jalan keluar yang paling baik dari masalah ini.
Simo mulai berpikir, jika ibunya berbicara kepada anak muda di depannya sebelumnya karena ingin mencapai kesepakatan, tapi ternyata dia gagal, dan berakhir seperti ini.
Ala di samping simo tidak terpengaruh sedikit pun; gadis itu menatap Benito dengan tenang. Namun, bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa, gadis itu kini sedang mencari celah untuk menyerang.
Sementara Dira, tersenyum lalu berkata, “Aku sudah melakukan apa yang kau minta, tapi ternyata kau lebih licik dari yang kubayangkan. Aku cukup kagum denganmu, yang memiliki rencana lebih matang dariku. Tidak heran kau bisa masuk dalam petinggi kelompok pemberontak itu.
Bocah kecil sepertimu jika ketahuan dariku dari awal, mungkin aku akan merekrutmu untuk di persiapkan sebagai ahli strategi dan jendral untuk kerajaan ini kedepannya, dan mendapatkan beberapa pujian lagi dariku. Namun, sayang sekali, kau memilih jalan yang salah.”
“Tapi, hari ini, aku pastikan kau tidak akan bisa lolos dari sini. Kau harus membayar apa yang telah kau perbuat. Hukuman harus di tegakkan hari ini.” Ketika Dira berkata seperti itu, sepasang matanya terlihat memerah karena marah. Dia kemudian berlari ke belakangnya, dan Benito berbalik memandangnya.
“Apa yang akan kau lakukan? Kuakui kau adalah orang terkuat saat ini di kerajaan, tapi apakah kau tega menyerangku dengan risiko kematian dua gadis ini? Aku harap kau yang mulia ratu tidak mengambil tindakan tergesa-gesa dalam melakukan tindakan.” Benito tersenyum jahat. Dia cukup bangga dengan apa yang telah di milikinya. Meski dalam kondisi terdesak seperti itu, jika tidak bisa membunuh, setidaknya dia bisa melarikan diri dengan aman.
__ADS_1
“Ya. Kau benar, tapi hari ini aku akan mengambil tindakan yang berbahaya dari sebelumnya. Aku harap kau sudah memiliki rencana untuk ini.”
“Sebelumnya, setelah kita melakukan kesepakatan itu, aku akan menangkapmu hidup-hidup dan memanfaatkanmu, tapi ternyata kau sangat licik dan tidak akan bisa menggenggam kepercayaan orang lain.”
Ketika dira berkata, dia mengangkat setengah tangannya. Akar-akar muncul dan menari-nari di sana.
Ekspresi Benito semakin serius. Dia mempersiapkan tangannya untuk menggapai leher Dhiya kahrya.
“Sudah aku bilang, jika kau melangkah maju, aku akan membunuh kedua gadis ini. Pikirkan baik-baik!”
Benito semakin terdesak. Jika dira berani maju tanpa mempedulikan kedua gadis di genggamnya, bagaimana mungkin dia bisa selamat? Hanya kematian yang bisa menghampirinya, atau lebih jauh lagi, dia akan mutilasi dan di bunuh secara perlahan-lahan. Dia tidak mungkin mendapatkan hukuman yang ringan, terlebih lagi jika dia membunuh dua gadis yang menjadi sanderanya.
Ekspresi Benito sudah runtuh; dia tidak seperti sebelumnya, yang tenang dan penuh kelicikan. Sekarang, dia bagaikan orang yang di kejar bandit dan tidak tahu harus berbuat apa selain menjatuhkan diri ke lembah mematikan. Tidak ada yang baik, semuanya buruk!
Tangan Benito sedikit gemetaran. Kedua alisnya layu, dan mulutnya sedikit bergetar. Dengan kondisi seperti itu, dia menggapai leher putri Dhiya kahrya.
Meski dalam ancaman seperti itu, Dira masih tersenyum jahat dan mulai melangkahkan kakinya ke depan.
“Aku bilang, jangan mendekat!”
Saking takutnya, dia telah lupa memiliki kekuatan untuk menghadang sedikit pergerakan dira. Dia yang masih muda memang sulit menahan dira, namun setidaknya jika dia melakukannya, dia bisa menghadang dira.
Jika sebelumnya, Delisa mudah dia kalahkan, maka untuk melawan dira yang mengetahui kekuatannya, ini akan jauh lebih sulit.
“Apakah kau berani melakukannya?” tanya Dira yang masih mempertahankan wajah senyuman jahatnya. Ketika dia berkata seperti itu, dia sudah melangkah.
“Kenapa tidak!”
__ADS_1
Tangan Benito mulai mencengkeram leher putri Dhiya kahrya. Namun ketika dia mulai menggeratkan genggamnya, ekspresi aneh muncul di wajahnya. Ekspresi itu terlihat keheranan dan bercampur ketakutan.
Dengan kedua mata yang sedikit bergetar, dia memandang dira. “Apa yang telah kau lakukan!?”
Tidak mungkin ada orang lain yang melakukan ini selain Dira. Tubuhnya tiba-tiba terasa kaku dan tidak bisa di gerakan. Darahnya terasa berhenti bergerak.
“Ala, kau melakukan tugasmu dengan baik,” ucap Dira sambil memandang jauh ke belakang tempat Ala dan simo berdiri.
Ala hanya sedikit mengangguk dan memejamkan mata. Gerakannya sangat anggun, dan tidak terlalu rendah dan tinggi. Dia bergerak bagaikan seseorang tuan putri yang anggun.
“Ala??” simo yang ada di sampingnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin Ala bisa melakukannya. Selama dia berada di sampingnya, Ala tidak bergerak sedikit pun, bahkan ekspresi wajahnya tetap datar selama beberapa saat di sana. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?
Dalam lebih jauh lagi, seharusnya, simo dapat merasakan energi alam kecil yang di keluarkan Ala ketika melakukan suatu gerakan. Namun, tidak hanya merasakan, bahkan samar-samar pun dia tidak merasakannya.
Aneh!
Namun meski simo berkata seperti itu, Ala tidak menoleh sedikit pun kepadanya. Dia bukanya bersikap acuh tak acuh dengan simo, namun begitulah sikapnya sejak kecil, ingin setenang air pagi dan sesejuk cahaya matahari jam 8.
Mendengar ucapan Dira, Benito tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ekspresinya sangat pucat dan kulitnya bergetar hebat.
Dia berusaha melawan apa yang menahannya, Namun apa pun tidak bisa dia lakukan sekarang.
“Baiklah, Karena semuanya sudah terjadi, maka ini sudah bisa di katakan selesai. Meski kau adalah salah satu orang jenius, Namun berhadapan dengan diriku yang sudah berumur ini, kau tidak akan pernah bisa menyaingiku. Anak kecil seharusnya tidak bermain api jika itu belum waktunya. Sekarang, terima kekuatanku ini!” dira melentangkan tangannya ke depan. Di saat bersamaan muncul akar-akar merembet. Kecepatan lebih cepat dari pada cahaya.
Simo dan Ala tidak tahu apa yang terjadi, namun mereka sudah melihat akar-akar itu menembus perut Benito dan mengeluarkan darah segar.
Mulut Benito terperangah, kedua matanya menatap tajam dan seolah mau keluar. Darah keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terlentang dan membeku. Dia kemudian perlahan-lahan ambruk setelah dira menarik akarnya kembali.
__ADS_1