Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 42 pertempuran di akademi part 3


__ADS_3

Di tengah ramainya kota, di sebuah gang terlihat seorang gadis cantik berjalan kesal seraya menghela nafas kesal. Di sekitarnya ada orang yang lalu-lalang, dan tidak mempedulikannya.


“Dasar wanita tua! Jika bukan karena aku anakmu, jangan harap kau bisa memerintahku seperti ini.”


Seraya kesal, Delisa berjalan menelusuri kota. Dia kesal karena ibunya menggantikannya bertarung yang seharusnya dia yang bertarung. Dia sudah menantikannya untuk bertarung, tapi sayang sekali sepertinya dia tidak berjodoh dengan namila.


Delisa menengadah, lalu mengusap keringat di dahinya yang mulus.


“satu tugas sudah selesai,” Gumamnya lalu berjalan lagi.


Tugas yang di berikan oleh ibunya. Yang pertama membunuh 5 bawahan Tristan. Ibunya tahu, jika mereka di biarkan hidup, pasti akan berbahaya, kedua, menyebarkan huru-hara di kota mengenai gedung penelitian itu.


Walaupun sebenarnya Delisa tidak tega membunuh mereka, tapi dia tidak punya pilihan lain lagi.


Awalnya dia menduga para siswa itu berada di akademi, akan tetapi dia salah, ternyata para siswa itu bersembunyi untuk menyelamatkan diri di hutan. Jadi, Delisa dapat dengan mudah membunuhnya dan menghilang jejak dengan api ungunya.


Wajah, rambut, tubuh dan pakaian Delisa pakai tentu dalam mode penyamar untuk menyamakan identitas aslinya. Jika hari ini dia belum menyelesaikan tugasnya, dia akan melakukan besok, dan tentu saja dengan penyamaran yang baru.


Wajah Delisa di tutupi cadar, rambutnya hitam terurai dengan bunga mawar di poninya. Dia memakai gaun merah yang indah. Siapa saja yang melihatnya akan tertarik, hal inilah yang membuatnya lebih mudah menjalankan tugasnya.


...****************...


Setelah membuka topeng wajannya, dengan praktis tubuh Delisa perlahan-lahan menjadi lebih tinggi dan lebih tua.


“Latif lawanmu adalah aku,” ucap Carissa tersenyum menikmati keterkejutan di wajah latif.


Tidak hanya latif saja, anulika, simo dan namila juga terkejut dengan penyamaran Carissa.


“Jangan khawatir anak-anak, aku pasti akan membunuhnya hari ini.” Ucap gembira Carissa seraya berjalan.


Simo, anulika dan namila mengangguk ragu-ragu.


Setelah menyadari dirinya sulit untuk menang, latif tidak memilih kabur, melainkan bertarung sampai titik akhir. Walaupun dia tahu kemungkinan menang tidak terlalu besar, dia akan berusaha semampunya.


Walaupun dia berada di tingkat alam tahap akhir, bukan berarti bisa bersaing dengan tahap surgawi, ada perbedaan yang cukup jauh di antaranya, meski itu tahap pertama.


Perlahan-lahan selendang Carissa berterbangan, seperti hidup, kemudian menari-nari ke atas. Dengan mengarahkan pedang ke arah latif, Carissa berkata, “ayo kita mulai.” Ucapannya jelas sangat serius ingin bertarung.


Tanpa menunggu jawaban latif, seketika Carissa muncul di belakang latif. Ini jelas membuatnya terkejut, sebab Carissa muncul sangat cepat dan tidak dapat di prediksi oleh latif. Dengan memegang erat pedangnya Carissa mengayunkannya dengan anggun.


“Tebasan rendah!” seraya berujar, Carissa mengayunkan pedangnya. Bersamaan dengannya, muncul api ungu dari tangan Carissa, lalu menyelimuti pedangnya.


Wussss! Bommmm!

__ADS_1


Ledakan pun terjadi saat pedangnya bersentuhan dengan senjata latif. Jika sebelumnya senjata latif yang terbuat dari kayu itu bisa menahan serangan anulika, maka sekarang senjatanya hancur berkeping-keping, bahkan tidak menyisakan apa pun. Terlepas dari itu, latif akhirnya bisa menghindari serangan Carissa, walaupun ada beberapa bagian baju hitamnya robek-robek, dan ada bekas luka bakar.


“bagaimana?” tanya Carissa tersenyum puas setelah Melihat dampak serangnya terhadap latif. Meskipun serangannya tidak mengenai latif secara langsung, tapi hal itu sudah membuatnya bangga. Itu juga menandakan pertarungan mungkin akan di menanginya.


Latif tidak menjawab, dia diam seraya menahan rasa sakit di tubuhnya, terutama tangan kanannya yang memegang senjata sebelumnya. Meski tidak mengenainya, tetap saja Tangannya terasa sakit dan sedikit mati rasa.


Seraya memegang tangannya, latif memandang Carissa yang tersenyum puas atas serangannya, Dia tidak menyangka perbedaan kekuatan di antara keduanya cukup jauh, meski hanya satu level di atasnya.


Setelah dirasa sudah baikkan, Latif berjalan Seraya memandang tajam ke arah Carissa yang memperlihatkan wajah sombongnya. Di kedua telapak tangannya, perlahan-lahan muncul gagang hingga ujung pedang kayu yang utuh.


Pedang ini sangat panjang, sekitar 4 meter dan langsing. Sangat baik untuk menyerang jarak jauh. Sepertinya latif ingin menyerang Carissa dari jarak jauh, Meski dia tahu Carissa juga tipe jarak jauh.


Melawan sesuai dengan kemampuan lawan, itulah yang dia lakukan sekarang.


Ekspresi yang sebelumnya tersenyum kemudian berubah menjadi serius setelah latif mengeluarkan pedangnya.


“mari kita mulai lagi!” ujar Carissa lalu berlari secepat kilat. Menyebabkan angin di sekitarnya terhempas begitu keras, menciptakan hembusan yang besar.


Saat dekat dengan latif, dengan keras Carissa mengayunkan pedangnya. Dan begitu pun dengan Latif, dia menggunakan kedua pedangnya.


Trangkkk! Wussss bomm!!!


Ketika bilah pedang sama-sama beradu, itu menciptakan angin yang besar di sekitar mereka. Lalu membuat ledakan yang menimbulkan cekungan dan retakan-retakan di tanah.


“Apakah ini kekuatan sebenarnya dari tingkat alam tahap akhir dan tingkat surgawi?” gumam anulika seraya berusaha melihat ke arah Carissa dan latif, yang kini saling memojokkan.


“Ini terlalu kuat!” gumam namila seraya membentuk pelindung air di depannya.


‘mereka monster!’ simo tidak mau kalah.


Dari jarak jauh akan terlihat aura yang mencekam seperti asap keluar dari tubuh Carissa dan latif. Mereka berdua berteriak seolah memacu kekuatan keduanya untuk keluar Semaksimal mungkin.


Selendang Carissa juga tidak diam, perlahan-lahan dua ujungnya bergerak mengikat dua pedang latif.


Setelah 2 detik berlalu, akhirnya Latif tidak kuat lagi. Dia akhirnya mengeluarkan seteguk darah segar, lalu terpental dan Menabrak pohon di dekatnya. Menyebabkan pohon itu hancur berkeping-keping.


Pedang di kedua tangannya akhirnya retak.


“huh. aku pikir kau hebat, ternyata hanya sampai di sini saja.” Ejek Carissa seraya berjalan ingin mengakhiri hidup Latif.


“Ukh, ukh, ukh, kau pikir aku bisa di kalahkan semudah itu?” Ucap latif berusaha berdiri.


Saat sudah berdiri dan masih tidak seimbang. Wajahnya menunduk membuat rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya seolah sedang mabuk. Latif kemudian berkata, “kau lupa, aku adalah pemimpin organisasi salju hitam.”

__ADS_1


“terus Kenapa?” balas Carissa dengan nada dan wajah tidak peduli.


“hehehe. Ukh, ukh, ukh, tidak apa-apa... hanya saja... Akulah yang akan membunuhmu!” bersama dengan itu, latif mengangkat wajahnya, sepasang mata merah seperti tidak pernah tidur terlihat di sela-sela rambutnya. Menimbulkan kesan tidak enak.


Selain itu, juga menimbulkan rasa ngeri dan ketakutan saat memandangnya. Namila dan Anulika menelan ludah saat melihatnya seraya memikirkan apa yang menyebabkannya semenyeramkan seperti itu.


Berbeda dengan keduanya, simo mengamatinya dengan cermat, setelah itu berkata, “ini pasti hasil dari penelitiannya.”


Anulika yang mendengarnya mengangguk.


Namila terlihat tertarik, tapi dia tidak ada waktu untuk menanyakannya. Gadis ini memilih membuat pelindung air dengan sisa tenaganya. Ada rasa kekhawatiran saat melihat wajah latif seperti monster yang berada tidak jauh darinya sekarang.


“menjijikkan! inikah penelitian yang kalian hasilkan?”


“hehehe. Matilah!”


Latif mengambil ancang-ancang kemudian melesat. Tanah yang dia pijaki hancur.


Kecepatan latif lebih cepat dari sebelumnya.


‘Ini.... bagaimana mungkin!’ kedua alis Carissa terangkat setelah menyadari kekuatan latif meningkat drastis.


Wusss bommm!!!


Latif mengarahkan pukulan tepat di atas kepala Carissa, akan tetapi Carissa mampu menghindar.


Namila, anulika dan simo juga terkejut merasa aura yang lebih kuat terpancar dari tubuh latif.


Namila dengan cepat menarik tangan simo untuk pergi dari sana, tetapi simo menolaknya.


“kenapa?”


“tunggu sebentar.” Simo lalu mengeluarkan kerincingannya, kemudian membunyikannya.


Setelah beberapa saat muncul Lasmaya dengan wajah cerianya.


“kakak, apa kakak memerlukan bantuanku lagi?”


“Iya. Kau lihat laki-laki itu.” Simo menunjuk latif, yang di jawab anggukan oleh Lasmaya. “bunuh dia, dan bantu bibi itu.”


“baik.”


Setelah mengatakan itu, Lasmaya melakukan apa yang di perintahkan simo.

__ADS_1


__ADS_2