Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 41 pertarungan di akademi part 2


__ADS_3

“tuan Jendral, anda tanpa bukti menyerang salah satu siswa kami, bukankah itu di sebut kejahatan?”


Hoshi muncul seketika, menghadang Theo. Wajahnya yang tua dan penuh kebijaksanaan terlihat saat berhadapan dengan Theo. Hoshi tahu, menghadapi seseorang seperti Theo yang sedang emosi harus dengan tenang dan berusaha mengurangi emosi di dalam hatinya, atau jika bisa membuatnya melupakannya.


Namun, untuk melakukan itu bukanlah sesuatu yang mudah, dan terbilang mustahil untuk melakukannya. Karena jika seseorang kehilangan orang yang paling penting di dalam hidupnya, dia tidak akan bisa melupakannya ataupun tidak marah dan benci terhadap orang yang membunuhnya.


“Tuan jendral, aku tahu anda kini sedang tidak baik. Anda marah, sedih dan benci anak anda mati tanpa jejak, tapi...bukan anda saja yang merasakannya, kami juga. Kami bukan sengaja untuk tidak meminta maaf mengenai itu, tapi kami sedang sibuk hari ini. Anda tahu, kan jumlah siswa di sini sangat banyak, jadi, kami harus mengatur itu semua. Setelah semuanya selesai, kami pastikan akan menghukum....”


“Hoshi! Aku tidak perlu mendengar ocehanmu yang tidak berguna itu! Aku sudah mengetahuinya, untuk apa lagi mencari penjahatnya lagi!? Penjahatnya tidak lain siswamu itu!” ujar Theo seraya menunjuk simo.


Simo yang di tunjuk hanya diam saja, dia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Walaupun dia membunuh Tristan bukan dengan tangannya sendiri, dia tetap terlibat di dalamnya. Walaupun takut, simo tetap berusaha tenang dan tidak gugup.


Namila yang ada di sampingnya, memegang erat tubuh simo, membuatnya menoleh.


“tenang saja, kakekku sangat kuat. Kau akan aman,” ucap Namila dengan wajah gembira seperti memberikan semangat kepada simo.


Simo mengangguk pelan.


“apa anda punya bukti?” tanya Hoshi setelah melihat ke mana arah Theo menunjuk.


“tidak! Tapi aku yakin, dialah pembunuhnya! Aku dengar dia berada di tempat kejadian saat anakku mati.”


“masalah ini belum bisa kami putuskan. Kembalilah, kami akan membawa pelakunya kepada anda.”


“Tidak! Kau pikir kau siapa? Aku sangat yakin dia yang telah membunuh anakku! Jika kau tidak memberikanku membunuhnya, aku akan membunuhmu!”


Setelah mengatakannya, Theo melompat mundur, lalu mengarahkan beberapa pedang terbangnya untuk menyerang Hoshi.


Hoshi dengan sigap menghindari semua serangan Theo. Walaupun Hoshi terlihat mudah melakukannya, sebenarnya, dia sulit melakukannya, apalagi kecepatan pedang Theo sangat cepat dan bergerak sangat bervariasi.


Wajah yang sebelumnya tenang, kini berubah tajam dan menusuk jika ada orang yang melihatnya.


Dari kejauhan nampak para siswa menonton pertarungan. Mereka terlihat bersemangat dan bergembira. Tentu saja, hal ini tidak lain karena mereka baru pertama kali melihat pertarungan dua orang kuat.


“Simo ayo.” Ajak Namila pergi.


Simo mengangguk.


“Dasar pembunuh! Apa kalian bisa lari sekarang? Nayaka, rani, dara, bunuh anak itu! Ha ha ha!” ujar Theo di udara.


“baik tuan!” ujar mereka kompak muncul dari langit, lalu melesat seperti elang menerjang simo.


Melihat ini, simo mempersiapkan kerincingannya jika terjadi apa-apa.


“Bocah! Hari ini kau akan mati!” rani berteriak Seraya tertawa menuju simo.


Namun sebelum mencapai simo, klarika menghadangnya Seraya berkata, “kalian cepat pergi! biarkan kami yang menahannya.”

__ADS_1


Namila mengangguk dan membawa simo pergi dari sana.


“Kalian para lalat pengganggu,” ucap rani tersenyum seraya mendorong tubuh klarika.


“Jika kami lalat lalu kalian nyamuk pengganggu.” Balas klarika lalu adu pedang dengan rani.


Di samping itu, kai dan Hendry menahan dua orang lainnya.


“Teman, kau harus memberikan pertunjukan yang menarik untukku.” Ucap kai kepada Nayaka.


Nayaka dengan dingin menjawab, “aku akan berusaha melakukannya.”


Di udara hoshi dan Theo terus bertarung dengan sengit seperti kilatan cahaya atau lebih tepatnya lebih cepat dari itu. Mereka berusaha saling menjatuhkan.


“ayo kita lihat pedang dan anginku yang lebih kuat atau punyamu!” ujar Theo seraya menyerang dengan beberapa bilah pedangnya yang kini pecah menjadi puluhan keping.


“kita lihat saja.” Balas hoshi Seraya menyerang dengan pedang angin di tangannya.


Pertarungan mereka sungguh menegangkan. Dengan kekuatan yang sama-sama berada di tingkat surgawi, mereka terlihat seimbang. Meski pun di sini hoshi yang memiliki tingkat kultivasi yang lebih rendah, hal itu tidak terlihat ketika mereka bertarung bersama-sama.


Hoshi bergerak cepat dengan mengayunkan pedang angin ke segala arah. Kecepatannya tidak bisa di lihat oleh mata telanjang, Bahkan jika orang itu berada sangat dekat sekali pun. Tangan hoshi hanya terlihat bayangannya saja yang bergerak-gerak.


Serpihan-serpihan kecil pedang Theo tidak kalah cepat. Pedang-pedang itu bergerak-gerak cepat dan bervariasi, sehingga membuat hoshi sedikit kewalahan dengannya. Di tambah Theo yang bergerak cepat menyerang Hoshi dari segala arah, itu jelas membuatnya tambah kesulitan.


Meski begitu, Hoshi masih dapat bertahan.


Di bawah mereka, klarika mengeluarkan tangan tanahnya untuk menyerang dan pedangnya sebagai pilihan ke dua. Kini dia melompat, meninju rani, akan tetapi Rani menahannya dengan pedang.


Melihat ini, Klarika mengayunkan pedangnya dan menendang rani. Rani dengan refleks melompat mundur.


“Nyamuk ini ternyata juga hebat menghindar ya.” Ejek Klarika yang sudah mendarat.


“Oleh karena itu aku harus menjadi nyamuk.”


Rani mengeluarkan bola angin merah lalu melesat mengarah klarika. Klarika tidak mau kalah, dia ikut melesat.


Tidak jauh dari mereka Hendry mengeluarkan 5 bola petir di tangannya. Bola-bola itu berputar-putar seperti gangsing di tangannya.


“Hehehe. Bola yang indah, ayo lempar, ayo.” Ucap dara lalu bergerak seraya menyeret pilar di tangannya.


“kau yang memintanya.” Hendry langsung melempar bola petir di tangannya.


Saat bola-bola itu mendekat, dara langsung mengayunkan pilarnya. Menyebabkan bola-bola itu meledak dan hancur seketika, tapi sayangnya itu tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap dara.


Seraya menyeringai, dara melompat lalu mengayunkan pilarnya.


Di tempat kai, pertarungan pedang terus berlanjut. Kecepatan keduanya sangat cepat dan seimbang.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu di sisi lain, simo dan namila berusaha lari. Namun saat berada di luar, sosok pria gemuk menghalanginya. Di tangannya ada tongkat yang tidak terlalu panjang, berputar-putar seperti baling-baling.


“Anak muda, kita bertemu lagi.” Ucapnya dengan santai.


Melihat itu, namila dengan cepat ingin melindungi simo, akan tetapi simo tidak membiarkannya. Dia langsung menarik tangan namila dan memerintahkan untuk berada di belakangnya.


Meski pun simo kini terluka, dia masih bisa berdiri.


Namila mendengar itu terlihat tidak mau, tapi dia tidak bisa menolaknya. Dia diam-diam mempersiapkan pedang airnya dari punggungnya untuk berjaga-jaga jika terjadi apa-apa.


“Latif, lawanmu Adalah aku!”


Seketika anulika muncul, lalu mengayunkan pedangnya dengan keras tepat ke arah Latif.


Latif dengan sigap mengambil tongkat, lalu mengayunkannya ke atas untuk antisipasi dari serangan anulika.


Walaupun itu kayu, tidak ada goresan sedikit pun terlihat di tongkat itu. Hal itulah yang membuatnya aneh.


“Akhirnya aku bertemu denganmu lagi.” Seraya mendorong, anulika berucap.


“kenapa kau menghalangiku?”


“Karena aku tahu, kau ternyata ketua dari kelompok peneliti salju hitam, jadi aku harus membunuhmu.”


Mendengar itu, latif tertawa keras sebelum akhirnya berkata, “membunuhku? Bahkan tiga lawan satu pun kau tidak bisa mengalahkanku. Bagaimana bisa kau mengalahkanku sekarang?”


Setelah mengatakan itu, latif mengarahkan tendangannya ke arah perut anulika.


Meski anulika sudah membuat pelindung es, hal itu tidak berdampak dengan serangan Latif. Al hasil, dia harus merasakan perutnya di tendang dan akhirnya mundur.


“kalian bertiga, hari ini harus mati!”


Setelah mengamati beberapa saat, simo akhirnya berkata, “kenapa kau ingin membunuhku? Aku heran mengapa setiap orang hari ini ingin sekali membunuhku?”


“pikirkan saja sendiri. aku membunuhmu hanya untuk menjalankan tugas. Anak muda bersiap-siaplah untuk mati!” setelah mengeluarkan pedang kayu, latif berlari ke arah simo.


Namila dengan sigap berdiri di depan simo.


Namun, sebelum akhirnya Latif mencapai simo, Delisa muncul tepat di depan latif dan mengayunkan pedangnya, dan begitu pun dengan latif.


Tabrakan energi kuat pun terpancar di keduanya. Awalnya latif masih percaya diri dengan kekuatannya saat berhadapan dengan Delisa, tapi setelah beberapa saat dia menyadari kekuatannya lebih lemah dari gadis di depannya. Sehingga membuatnya mundur ke belakang.


Siapa gadis ini? Bagaimana dia bisa sekuat ini? Begitulah pikiran latif.


“Maaf tuan latif, kau harus megalahkanku dulu.” Kata Delisa seraya melepas topeng manusia di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2