Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 29 para siswa tiba di ibu kota


__ADS_3

Di langit terlihat kilatan-kilatan hitam dan percikan-percikan api yang sangat cepat. Kilatan-kilatan itu tidak lain adalah simo dan Jiro, sementara percikan-percikan api itu adalah akibat benturan dari Serangan mereka.


Simo bergerak cepat dengan teknik lauthing linght. Dia muncul dari samping, kanan, kiri dan lain sebagainya untuk mengecoh musuh. Meski akan memakan energi yang lebih banyak setidaknya, dia berhasil membuat musuhnya kebingungan dengan keberadaannya.


Jiro walaupun bingung, dia masih bisa menahan serangan simo. Namun tentu saja dia tidak selalu bisa menahannya, kadang-kadang dia akan menghindar dengan kekuatan asapnya.


Dia tidak mencoba mengeluarkan menhurse karena kekuatannya tidak sebanyak sebelumnya. Jiro harus menghemat energi alam untuk melawan simo. Di tambah lagi simo memiliki peningkatan kekuatan yang aneh baginya.


Setelah menyerang jiro beberapa kali menggunakan pedang, simo mencoba menggunakan kaki dan tangannya untuk menyerangnya.


Ketika pedang di ayunkan, simo langsung mengarah kakinya ke perut jiro.


“bocah! Kau terlalu meremehkanku!”


Walaupun simo bergerak cepat, bagi jiro yang memiliki kekuatan, hal itu bukan apa-apa baginya. Dengan tangan kirinya, jiro menangkap kaki simo dan membantingnya ke bawah.


Tepat ketika hendak di banting, simo melepas pedangnya dan mengeluarkan bola api biru dan mengarahnya langsung ke wajah jiro.


Api biru meledak di udara, tepat di wajah jiro. Meski dia bisa melihat pergerakan simo, dia tentunya mempunyai batas. Jiro terlambat mengelak karena terlalu dekat dengan simo.


Dia meraung kesakitan dan melepaskan simo.


Simo tentu tidak menyia-nyiakan ini, setelah meraih pedangnya, dia melesat menyerang jiro dari segala arah.


Jiro meraung kesakitan dan mengumpat. Rasa sakit yang di deritanya sangat sakit, apalagi Jika itu ada salah satu api terkuat.


Meski dia mempunyai kekuatan, itu hanya berdampak sedikit kepadanya.


Setelah mendarat, simo mengangkat kedua tangannya ke atas. Api biru bercampur merah dan hitam keluar dari telapak tangannya.


Seiring api membesar, tekanan yang kuat terus bertambah di area sekitarnya. Api yang di keluarkan simo sungguh sangat panas, menyebabkan rumput-rumput di sekitarnya langsung hangus.


Dengan tekad di wajahnya, simo berseru, “terima ini!!”


Bola api biru yang besar melesat ke langit, menyebabkan cahaya matahari terhalangi.


Jiro tentu merasakan itu, dia cepat-cepat mengarahkan tombak dan melemparnya sambil mengumpat.

__ADS_1


“aku tidak akan memberikanmu lolos hari ini bocah!”


Kemarahan tampak di wajah jiro sambil memegang setengah wajahnya. Dia tidak pernah menyangka dan berpikir, wajahnya akan menjadi sasaran musuhnya.


Tombak melesat dengan kecepatan melebihi bola api simo.


Ketika bola api satu meter dari tombak, ledakan energi pun terjadi. Itu bagaikan gelombang air yang di jatuhkan sesuatu, hanya saja di sini terbuat dari angin.


Pohon-pohon melengkung dan di paksa melepaskan daun-daun mereka. Beberapa ada yang berterbangan karena terlalu kuat.


Beberapa detik fenomena itu terjadi. Perlahan-lahan bola api bisa di paksa mundur. Awalnya perlahan-lahan, tapi semakin lama semakin cepat. Jelas sekali bola api simo mampu di pukul mundur.


“hahahaha! Bocah, kekuatanmu masih lemah dariku!” ujar jiro setelah memandang tombaknya, dan menatap simo.


Awalnya dia berniat untuk sombong, tapi setelah melihat apa yang di lakukan simo membuatnya terkejut dan keheranan. ‘bagaimana bisa bocah itu mengeluarkan kekuatan itu lagi!’


Jiro tidak menyangka simo bisa mengeluarkan bola api besar lagi. Jika sebelumnya bola api biru, maka kali ini yang keluar adalah bola api merah membara dan juga sangat panas.


“tidak hanya itu saja kekuatanku!” serunya dan melempar bola api itu.


Jiro yang melihatnya tentu saja tidak bisa diam, dia melambaikan tangannya ke depan.


Jiro tidak ingin mundur, dia ingin berjuang hingga titik penghabisan.


Perlahan-lahan tubuhnya menjadi asap dan pecah menjadi beberapa ular. Ular-ular itu semakin membesar dan membesar.


Setelah memiliki ukuran 20 meter, ular itu melesat menabrakkan dirinya ke bola api simo.


Ada lima ular besar yang melakukan itu.


Melihat itu, tidak ada ekspresi apa pun di wajah simo selain dingin.


“Karena kau telah berjuang hingga seperti ini, maka aku harus menghormatimu.”


Simo mengeluarkan busur api birunya dan dengan cepat menggunakan pedang sebagai anak panah.


“ini adalah serangan terakhirku!” simo melepaskan pedangnya, dan membiarkannya melesat menuju langit.

__ADS_1


Simo tersenyum dingin.


Dia berbalik, kemudian ledakan besar terdengar dari belakangnya.


Walaupun ledakan itu sangat keras dan kuat, dia masih bisa berdiri dengan baik di tanah.


Simo tersenyum dan perlahan-lahan roboh tidak sadarkan diri.


Mengeluarkan beberapa serangan seperti itu membuat tubuhnya sangat lemah, apalagi serangan-serangan yang dia lontarkan bukanlah serangan yang lemah.


Selain itu, ini adalah pertama kalinya dia bisa menggunakan kekuatan naga hitam, sehingga memerlukan pikiran dan tenaga yang kuat untuk mengendalikannya.


Tidak lama setelahnya, Naria dan Safia datang. Mereka langsung menghampiri simo. Ketika mereka mendengar ledakan itu, mereka sangat khawatir dengan simo sehingga membuat mereka memaksakan diri untuk melihat apa yang terjadi.


Naria langsung memeriksa keadaan tubuhnya. Dia sangat ahli dalam memeriksa tubuh. Ini tidak lain dia dapatkan ketika mendapat sebagian ingatannya kembali.


Setelah merasa simo baik-baik saja, Naria bisa menghela nafas dan memberitahu Safia di sampingnya.


Begitu mendengarnya, ekspresi Safia perlahan-lahan membaik.


“kak, apa yang kita lakukan sekarang?”


“kita hanya bisa menunggu,” jawab Naria sambil meletakkan kepala simo di pangkuannya.


Gadis itu mengerti dan mengangguk.


*****


Sementara di kota keributan terus terjadi. Berbagai pertarungan terjadi dan menimbulkan korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak. Mereka tidak lain adalah para siswa akademi kerajaan radia melawan para pemberontak.


Ketika para siswa tiba, mereka langsung bertarung dengan para prajurit dan menyerang para penduduk, Bahkan mereka tidak sempat melihat indahnya ibu kota karena harus mengurusi orang-orang yang berteriak meminta tolong.


Hal itu sungguh membuat mereka kesal lantaran berjalan jauh, sudah di sambut dengan pertarungan, tapi banyak juga yang bersemangat ingin bertarung dengan para pemberontak itu karena geram telah berani mengacaukan ibu kota.


Para penduduk yang mereka selamatkan tidak lain adalah penduduk yang tidak ikut dalam parade.


Selama pertarungan, hal yang membuat para guru dan siswa keheranan, adalah tidak ada jejak ketakutan dan sayang nyawa setiap prajurit itu, mereka tampak seperti bukan manusia, bahkan mirip dengan mesin pembunuh.

__ADS_1


Karena jumlah siswa dan guru yang datang tidak memadai, mereka memilih untuk mengurung mereka dan membunuh yang di perlukan saja, bagaimana pun juga mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada para prajurit itu.


__ADS_2