
Setelah simo sadar, jauzan seperti bisa memberikan minum. Jauzan juga berterima kasih, karena telah menyelamatkannya dan menyarankan untuk tidak memaksakan diri.
Saat mengatakannya, dia sangat sedih dan ingin meminta janji kepada simo untuk tidak mengulangi hal itu. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan simo dari mara bahaya yang mengancamnya. Dia sangat mengetahui apa yang mengancam simo.
Selain itu, jauzan tahu identitas simo bukalah dari keluarga bisa-bisa saja, hal itu membuatnya selalu khawatir dengannya.
Mendengar itu simo mengangguk, tapi di dalam hatinya dia akan berjanji akan selalu berusaha melakukannya, sebab dia pasti akan melakukannya jika itu sangat terdesak.
“Baiklah, apakah kita bisa pergi dari sini.”
“iya, kita bisa pergi....”
Sebelum jauzan menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja pintu terbuka dengan kasar dan memperlihatkan seseorang gadis cantik mungil dengan sayap kupu-kupu di belakangnya.
Dia memakai gaun putih bersih dengan wajah cantik, rambut hitam peka dan terakhir dua sayap kupu-kupu berwarna putih.
“Eh, kakak! Apa kakak yang menolongku?” tanya gadis itu setelah berlari mendekati simo dan jauzan.
“menolong?” tanya Jauzan kebingungan lalu memandang simo berharap mendapatkan jawaban, tapi simo pun tidak tahu tentang itu. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kakak! kenapa kakak tidak menjawabku?” tanya gadis itu dengan kesal seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
“Adik kecil, siapa namamu?” Tanya jauzan menunduk.
“aku bukan adik kecil! umurku sudah 18 tahun, tapi karena ibuku memanggil pemuda itu dengan sebutan kak, aku harus mengikutinya, kalau tidak ibu akan menghukumku. Dan kau siapa?” ujar gadis itu seraya memandang jauzan.
“Aku temannya, jadi kau juga harus memanggilku kakak.”
“Tidak akan! Aku hanya mengikuti perintah ibu. Kakak apa kak yang menyelamatkanku?” gadis itu memandang simo.
Simo diam dengan wajah bingung. Setahunya dia hanya mengambil telur dan bertemu monster mengerikan seharian ini. Dia juga tidak pernah bertemu seorang gadis selama ini.
“Kakak jawab!?”
“i-iya, maaf, tapi siapa kau?”
“Huh, kak sangat pelupa, aku adalah telur yang kakak selamatkan.”
“Telur!?” ujar jauzan tidak percaya. Bagaimana bisa telur bisa menetaskan seorang gadis cantik di depannya ini.
“emm, kak lah yang menyelamatkanku dari burung Garuda jahat itu.”
Simo dan jauzan terlihat kebingungan dan tidak mengerti apa yang di katakan gadis di depannya. Oleh karena itu, gadis itu menceritakan secara rinci dirinya adalah seorang siluman kupu-kupu lembah yang sebelumnya lahir di culik oleh seekor burung Garuda dan menempatkan di atas jurang yang tinggi.
Ibunya berusaha menolongnya, tapi dia tidak pandai dalam menaiki tebing. Apalagi sang burung Garuda juga menambah pemberat di tebing itu, sehingga ibunya tidak bisa menyelamatkannya.
“Aku sangat berterima kasih atas kebaikan kakak, jika kakak perlu sesuatu, kakak bisa memanggilku dengan krincingan ini, maka aku akan datang.” Kata gadis itu seraya menyerahkan dua krincingan untuk simo.
__ADS_1
“Dan untukku?” tanya jauzan dengan mata berbinar-binar.
“Maaf kau tidak mendapatkannya.” Jawab gadis itu cuek.
Ekspresi jauzan menjadi marah setelah mendengar itu dan memilih diam menyilang kedua tangannya
“siapa namammu?” tanya simo setelah mengamati dua krincingan di tangannya.
“Ah, maaf, maaf, aku lupa, namaku... Maaf ibu belum memberikanku nama hehehe.” Kata gadis itu malu seraya mengusap-ngusap belakang kepalnya yang tidak gatal.
“Biar aku beri kau nama, bagaimana kalau siluman kupu-kupu jelek.”
Kreak bomm
“Maaf siapa kau beraninya memberikan ku nama seperti itu. Biar ku beritahu, hanya ibuku saja yang boleh menamaiku.” Ujar gadis itu dengan dingin setelah memukul lantai rumah, membuat semua bagian rumah hancur sebelum menyentuh tanah dan hanya menyisakan ranjang yang simo duduk.
Sementara jauzan sudah bergetar ketakutan dan bersembunyi di balik simo. Dia mengutuk dirinya, karena sudah membuat marah gadis di depannya.
“upss maaf, maaf aku tidak sengaja.”
“dan kau ingat jangan pernah mengatakan itu lagi.” Kata gadis itu kepada jauzan. Tatapan dingin dan mencekam menusuk kedua mata jauzan.
“Kakak terima kasih, aku pergi dulu.” Seperti Petir yang merambat, gadis itu dengan cepat mengubah sikapnya.
“gadis itu benar-benar monster.” Ujar jauzan keluar dari persembunyiannya dan menghela nafas lega. Dia tidak menyangka hanya karena mengatakan itu membuat satu rumah hancur tanpa sisa.
Mereka lalu berjalan keliling halaman rumah. Tidak seperti apa yang jauzan bayangkan, halaman rumah itu sangat indah. Di penuhi berbagai jenis bunga dan baunya. Jika saja itu bukan rumah siluman dia akan memetik berbagai bunga untuk di bawaannya pulang.
Tidak beberapa lama, mereka melihat gadis tadi bersama ibunya sedang mencuci pakaian di pinggir sungai. Ada rasa heran dan aneh jika seekor siluman melakukan itu.
Mereka memutuskan untuk pergi, tapi Seketika gadis tadi muncul dan memanggil simo kakak.
“Apa kakak akan pergi?” tanyanya kepada simo.
“Begitulah, aku pergi, tapi kau tidak perlu khawatir ataupun bersedih, karena kita akan bertemu lagi.”
“baiklah kak, tapi aku memanggil ibuku dulu.”
Saat gadis itu hendak memanggil ibunya dengan cepat jauzan dan simo menghentikannya.
“Mengapa?”
“ka-kami sudah mengucapkan salam Perpisahan kepada ibumu.” Jawab simo dan jauza seraya menyembunyikan ketakutannya. Membayangkannya saja membuat Simo dan jauzan mengeri, bagaimana tidak, hanya sekali serangan saja sudah membuat mereka terluka parah, jika siluman itu ingin membunuhnya, maka mereka pasti sudah mati sebelumnya
“Benarkah?”
“Maaf sekali kalian berdua, aku sudah mendengarnya.” Ibu gadis itu muncul seketika, membuat simo dan jauzan terkejut.
__ADS_1
“Ibu.”
“anak gadisku yang cantik.” Ibunya mengusap-usap kepala gadis itu sebelum akhirnya menggendongnya di depan.
“Kenapa kalian secepat ini?” siluman itu memandang simo dan jauzan heran.
“k-kami ingin menyelesaikan tugas kami.” Jawab simo dan jauzan mengangguk. Mereka berusaha untuk tetap tenang.
“Bukannya aku melarang, tapi bagaimana kalian bisa pergi dari sini?”
“Kami akan menelusuri sungai.”
“apa kalian baru pertama kali ke sini?”
Kedua mengangguk.
“biar ku beritahu kalian tidak akan menemukan jalan jika menelusuri sungai.”
Mendengar itu simo terkejut dengan cepat bertanya.
Siluman itu menjelaskan semakin seseorang menelusuri arus sungai maka semakin orang itu masuk ke dalam jurang, maka semakin kuat juga monster dan siluman – siluman di sana.
Lalu simo bertanya jika melawan arus sungai, apakah bisa naik ke atas.
Lagi-lagi siluman itu menjawab tidak, karena semakin seseorang melawan arus sungai, orang itu hanya akan berputar-putar di tempat layaknya labirin.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya jauzan setelah mendengar semua penjelasan. Dia sungguh kecewa, karena tidak mengetahuinya di dalam buku ataupun secara langsung. Di dalam hatinya dia mengumpat tidak karuan, karena terjun tanpa memikirkan resikonya.
“Kalian bisa memanjat tebing, tapi itu akan memakan waktu dan tenaga kalian. Dari banyak orang yang ku ketahui hanya 5 persen saja yang bisa naik ke atas dengan selamat dan sisanya hanya menunggu ajalnya saja di tempat ini.”
Mendengar itu ekspresi wajah simo dan jauzan menjadi mendung. Meski simo menginginkan monster yang kuat, dia tidak menyangka akan mendapatkan masalah seperti ini, sedangkan jauzan sangat menyesal dengan keputusannya itu.
“Ibu? Bisakah ibu menolong kakak itu, aku mohon.” Tanya gadis itu seraya memohon.
“iya Lasmaya, tapi ibu ingin mereka tinggal beberapa hari di sini. Jika mereka mau maka ibu akan menolongnya, jika tidak maaf ibu tidak bisa.”
Setelah mendengarnya Lasmaya langsung melompat dan menarik tangan simo. “kakak, mau kan? Ibuku pasti akan menolongmu.”
“I-iya, tapi kakak hanya memiliki waktu 3 hari saja.”
Lasmaya menunduk sedih. “jadi kakak, tidak mau.”
“bukan begitu gadis kecil, kakak hanya tidak mempunyai waktu saja, jika ada waktu lagi kita akan bertemu.” Kata simo mengangkat wajah Lasmaya yang menunduk.
“Janji?” Lasmaya mengangkat salah satu jarinya.
“Iya, janji.” Simo mengaitkan jarinya sebelum akhirnya tersenyum.
__ADS_1