
“Maaf jika temanku mengganggumu.” Ucap Karla meminta maaf seraya menundukkan kepalanya sebentar. Dia melakukan dengan tulus seperti dia yang telah melakukan kesalahan itu.
Semua siren yang bersama Karla tertegun setelah mendengar kata-kata yang keluar. Terutama temannya yang menegurnya tadi. Dia tidak menyangka pemimpin yang ingin menolong temannya malahan berperilaku sopan di depan musuhnya.
Sementara itu, simo dan namila terkejut dan bingung, entah apa yang membuat siren di depannya berperilaku sopan kepada mereka.
“aku tidak mengerti. Apa maksudnya semua ini. Asal kalian tahu, kami datang untuk membunuh para siren dan mengembalikan ketenangan laut.” Ujar namila Kepada Karla, dan simo mengangguk membenarkan.
“apa kalian tahu apa yang menyebabkan kami melakukan itu? Jika kalian ingin membunuh kami, maka lakukanlah, tapi dengarkanlah ceritaku sebentar.” Ujar Karla dengan nada sedih dan tinggi.
“Apa kau sudah gila Karla!” pekik temannya.
“Diam! Sekarang aku adalah pemimpin kalian. Jika kalian ingin melawan atau pun melaporkannya, maka aku tidak akan segan-segan membunuh Kalian. Meski kalian adalah bangsaku!” Pekik Karla yang membuat semua teman-temannya terdiam dan bergidik ngeri. Klara adalah Salah seorang pimpinan siren dari 10 pimpinan mereka yang paling kuat.
Setiap pimpinan akan memerintahkan 50 siren, yang tersebar di wilayah perairan tertentu. Tentu saja, mereka akan memiliki perairan yang biasanya di lalui oleh kapal-kapal pedagang yang lemah dan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan bela diri.
Di perairan desa pasir putih ini di pimpin oleh Karla. Selama kepemimpinannya, dia membagi beberapa shift untuk bawahannya supaya tidak memberatkan beban mereka. Apalagi sangat mudah untuk membunuh para manusia di perairan itu.
Namun, seiring waktu dia sadar, tidak ingin di kendalikan oleh jendral raksasa yang terkenal akan kekuatan aura merahnya, yang dapat mengendalikan bangsanya sesuka hati, dan memerintahkan bangsanya untuk membunuh para manusia yang mengganggu mereka. Oleh karena itu, membuat Karla mencari-cari orang yang mau membantunya.
Dia terus mencarinya sampai akhirnya menemukan seseorang yang mungkin bisa menolongnya. Itulah alasan dia bersikap baik kepada Namila dan simo.
“maaf mengganggu kalian, tapi aku ingin bertanya mengapa kau bersikap baik kepada kami? Padahal kami telah menyerang salah satu teman kalian?” tanya simo sopan. Meski ada kabar para siren selalu membunuh manusia, dia merasa ada ketulusan dalam perkataan Karla lontarkan.
“aku akan mengatakannya.”
...****...
“Wah inikah kediaman kalian? Mengapa sangat indah?” Tanya namila seraya menyebarkan Pandangannya ke seluruh dinding-dinding gua. Kedua matanya berbinar-binar menyaksikan hal menakjubkan di depannya.
Di depan namila terdapat air laut berwarna biru seperti menyala-nyala yang membuat gua itu seperti ada penerangan alami, dan di belakangnya ada bangun seperti kastil tinggi yang merupakan markas kelompok Karla.
Di dalam air, terlihat beberapa ikan-ikan berenang mundar madir seperti kebingungan. Tapi itulah yang membuatnya terlihat indah dengan warnanya yang warna-warni.
Tidak jauh dari Namila, ayu dan Andros ikut melihatnya, tapi tidak ada kesenangan dan kegembiraan di wajah keduanya.
“Iya nona, jika anda ingin berenang, silakan, kami tidak akan keberatan.” Jawa siren yang menjadi pengawal mereka. Siren itu di tugaskan oleh Karla untuk membuat kesan terbaik yang pernah mereka rasakan.
__ADS_1
Awalnya siren itu tidak suka, tapi lama-lama dia mulai menyukainya. Dia juga tidak menyangka para manusia yang dia bawa tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan yang mungkin mengancam nyawanya. Terlepas dari dia tidak leluasa mengendalikan air, dia juga merasa kekuatan yang tinggi terkandung di dalam tubuh namila. Walaupun begitu, ternyata namila yang paling baik dan ceria di antara mereka bertiga.
Sebelum mereka memutuskan untuk mengunjungi markas para siren, Karla menceritakan semua hal yang terjadi.
Saat simo Mendengar raksasa, dia mengepalkan tangannya erat-erat. Dia menahan emosinya yang memuncak setelah nama raksasa dikatakan, dan tanpa berpikir panjang dia memutuskan untuk bertarung melawan jendral raksasa itu, Meski dia sekarang bukan lawannya.
Karla yang mendengar itu langsung menjadi gembira dan langsung mengantarkan mereka ke markasnya.
Setelah puas menyaksikan pemandangan itu, siren yang menemani namila, ayu dan Andros menyarankan untuk mengunjungi tempat lain yang lebih indah.
“tidak, aku ingin menikmatinya lebih lama.” Jawab namila yang membuat siren itu tidak bisa menolaknya.
...****...
Sementara itu, simo, Karla dan beberapa siren lainya sedang rapat mendadak mengenai perencanaan penyerangan Jendral raksasa yang ada di kampung halaman para siren.
Simo tersenyum kepada semua siren yang ada, Walaupun dia tahu ada siren yang tidak menyukainya. Dia dapat mengetahui ada tiga orang yang tidak menyukainya, terutama Diana yang telah bertarung dengannya. Meski tidak ada tanda-tanda tidak suka, simo tahu, walaupun hanya melihatnya saja.
Beberapa juga ada yang menyukainya, dan tersenyum kepadanya.
“Baiklah, aku mulai dulu.” Kata Karla yang ingin menyampaikan pembuka rapat yang sebenarnya tidak perlu.
Karla menarik nafas, lalu melanjutkan, “aku sudah secara diam-diam mengamati Jendral raksasa itu. Mulai dari apa kesehariannya, kesukaan, sampai jam beberapa dia tidur. Selain itu, aku juga sudah mencari informasi mengenai ketahanan raksasa, dan kelemahannya. Untuk kekuatannya tidak perlu di pertanyakan lagi, sementara untuk kelemahannya ada, akan tetapi tidak satu pun di antaranya yang bisa kita lakukan.”
“mustahil! Bagaimana kau bisa berkata Seperti itu? Apakah memang sesulit itu!?” ujar Lucia, teman Karla.
Walaupun Karla sebagai pemimpinnya, semua kelompoknya tetap bersikap seperti bisa, hanya saja mereka tetap menjaga batasannya.
Karla dengan sedih mengangguk. “ iya. Oleh sebab itu aku mengundang simo kesini. Dari yang aku ketahui simo bukanlah orang biasa. Apalagi aku merasakan ada kekuatan kuat di dalamnya, yang mungkin bisa membunuh raksasa itu.”
“apakah sesulit itu kah?” Lucia masih tidak percaya.
Karla lagi-lagi mengangguk.
Mendengar itu, Lucia menghela nafas lalu menunduk.
Sementara itu, simo heran, bagaimana bisa Karla mengetahui ada kekuatan tersembunyi di dalam tubuhnya. Pemuda itu menerka- nerka apakah kekuatan kaisar pedang yang Karla maksud atau yang lainnya. Dia ingin menanyakan, akan tetapi dia telat oleh Diana.
__ADS_1
“Bisakah kau jelaskan kelemahannya? Mungkin kami bisa membantumu.”
Semua siren mengangguk termasuk simo.
Dengan begitu, Karla menjelaskan semuanya dengan detail. Jendral itu bernama Herry, yang merupakan Jendral ke sepuluh pasukan raksasa. Walaupun dia berada nomor terbesar bukan berarti dia paling lemah. Bisa di bilang dia memiliki kekuatan yang setara dengan semua Jendral raksasa. Di tangannya, dia memegang senjata berupa tombak panjang dengan aura merah yang mencekam.
Dengan tombak itu, dia mencabik- cabik lawannya tanpa belas kasihan sedikit pun. Itu juga di lakukannya saat menyerang kampung para siren, yang membuat metal semua siren jatuh dan akhirnya tunduk kepadanya. Meski para siren memiliki orang-orang kuat seperti Karla, itu belum bisa menyaingi kekuatannya. Malahan baginya itu hanya gigit semut.
Bahkan, jika di gabungkan semua siren juga belum cukup.
Untuk kelemahannya, Jendral itu bisa di kalahkan dengan sebuah tanaman yang sangat langkat dan mustahil untuk di dapatkan, sebab selain letaknya jauh, tanaman itu juga di jaga oleh monster yang kuat di pulau sijiriah yang sulit untuk di jangkau para siren. Oleh karena itulah dikatakan sulit, meski ada kelemahannya.
Selain itu, ada satu lagi yang kelemahannya. Yang tidak lain orang yang lebih kuat darinya. Tentu saja itu akan lebih sulit dilakukan. Apalagi desa Padang pasir tidak ada orang demikian, sementara di kelompok Siren tidak bisa mencarinya.
Alasan mengapa siren tidak meminta bantuan kepada manusia adalah karena mereka tidak ingin bekerja sama dengan manusia, tetapi beda dengan Karla, dia sangat ingin bekerja sama dengan manusia.
Mengapa para siren tidak pergi saja bersama-sama ke pulau sijiriah dan mencari orang kuat?
Sebagai siren, mereka tahu apa jadinya jika terlalu lama di daratan. Selain kehausan, mereka akan mati kering, jika tidak mendapatkan air selama beberapa jam saja.
Mereka mungkin saja membawa air, tapi itu tidaklah mudah untuk dilakukan.
“itu mustahil! Bagaimana bisa para siren di gabungkan tidak bisa melawannya!?” ujar Lucia lagi, tidak percaya apa yang di katakan Karla.
“percaya atau tidak, memang begitulah kenyataannya. Selain karena kekuatan yang dahsyat, dia juga memiliki aura merah yang beracun yang siapa saja akan mati dalam hitungan detik.”
Mendengar itu, Lucia terlihat sedih, seraya mengingat apa yang di katakan Karla apa adanya. Dia sendiri juga melihat beberapa anggota keluarga begitu saat penyerangan.
“aku pernah pergi ke pulau sijiriah, tapi aku memasuki salah satu portal sehingga muncul di sini.” Ujar simo.
“Benarkan! Tapi mungkin ini akan menjadi rencana yang panjang, aku harap kau bisa mendapatkan tanaman itu.” Kata Karla.
“Kenapa tidak aku coba saja, kau juga berkata, ada kekuatan tersembunyi di dalam tubuhku?”
“iya, aku berkata seperti itu, tapi kekuatanmu akan di gunakan di saat yang tepat.”
“biar aku pikirkan.” Jawab simo ragu-ragu. Di dalam hatinya, dia memiliki pendapat lain mengenai rencana yang akan di lakukan. Menurutnya tidaklah efektif rencana mendapatkan tanaman itu di lakukan, selain letaknya jauh, tanaman itu juga belum tentu di dapatkan. Di tambah lagi ada monster kuat yang menjaganya. Tentu saja apa yang berharga tidaklah mudah untuk di dapatkan.
__ADS_1
Setelah itu mereka membicarakan hal-hal yang akan di lakukan selanjutnya setelah simo mendapatkan tanaman itu, yang mungkin saja tidak akan simo lakukan.