Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 43 perasaan lega


__ADS_3

Namun, Dia sangat khawatir dengan Naria. Sudah 20 hari dia tidak keluar, bahkan tidak ada satu pun pelayan yang memberitahu keadaannya. Jika bertanya kepada pangeran kerajaan matahari terbit, pangeran itu dengan sombong menjawab, “Untuk apa kau mengkhawatirkannya? Orang sepertimu tidak di perlukan. Kau bukan siapa-siapa, enyahlah! Jangan ganggu tunanganku!”


Mendengar itu, tentu saja Simo marah, namun dia tidak berani melawannya. Akan sangat bermasalah jika dia mencari masalah dengannya. Oleh karena itu, dia tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan menahan emosi di dalam hatinya.


Safia menghibur simo untuk tetap tenang dan mengatakan Naria baik-baik saja. Namun simo tidak bisa tenang jika dia belum melihatnya, dan bagaimana mungkin dia bisa tenang jika satu pun informasi tidak dia dapatkan?


Rina yang mengetahui sikap pangeran itu, menjadi sangat marah, namun ketika hendak pergi memberi pelajaran kepada pangeran itu, simo menghentikannya, dan mengatakan tidak usah.


“Dia sudah bersikap tidak sopan kepadamu, bagaimana aku bisa tenang sebelum membalasnya? Simo, biarkan aku pergi, aku akan memberi pelajaran kepada pangeran sombong itu supaya tidak ada yang berani bersikap seperti itu kepadamu.”


“Tidak usah,” tolak simo dengan nada lembut. Namun, bukan berarti dia mengalah begitu saja, dia hanya ingin tidak membuat masalah!


“Kau tenang saja, aku akan kembali dengan selamat. Pangeran itu tidak akan bisa melukaiku.” Rina ingin meyakini simo dan tersenyum mengisyaratkan untuk tenang karena dia akan kembali selamat.


“Bukan begitu. Aku tidak ingin membuat masalah lagi.”


“simo, aku yang akan membuat masalah hari ini, kau tidak akan ikut. Aku juga tidak akan mengatakan akan membalas dendam atas apa yang telah dia perbuat kepadamu. Aku akan membuat masalah baru dan menanggungnya sendiri.”


Meski Rina berkata seperti itu, simo tetap tidak memberikannya pergi. Dia tidak ingin membuat masalah untuk dirinya ataupun orang terdekatnya. Biarkan naria beristirahat. Dia tahu mungkin karena Naria menyembuhkannya membuatnya seperti ini. Dia sekarang menyesal karena sudah melakukan itu.


Rina bersikeras untuk melawan simo Namun simo tetap tidak membiarkannya. Pada akhirnya Rina pergi dengan perasaan kesal.


...****************...


“Apakah karena aku, dia menjadi seperti ini?” simo bertanya-tanya kepada dirinya. Meski hasilnya, dia tidak sepenuhnya salah, dan tidak sepenuhnya benar, dia tetap menanyakan kepada dirinya.


Saat itu, dia hanya ingin membantu ibunya untuk keluar dari masalah itu, namun dia sedikit ceroboh karena tidak terlalu tahu bagaimana cara menghentikan kekuatan aneh itu keluar. Dan pada akhirnya, Naria harus bekerja keras untuk menolongnya.


Dan, pada saat itu juga hanya ada itu saja solusi, dia tidak sepenuhnya salah. Dia benar dan bergerak sesuai instingnya.

__ADS_1


Dia tidak tahu, keadaan naria ketika dia bangun, dia menduga Naria tidak apa-apa dan hanya kelelahan kecil, Namun ternyata tidak. Naria bersembunyi dengan baik di balik senyuman gembiranya.


Jika waktu bisa kembali, dia ingin mengganti Naria. Namun semua sudah terjadi; naria terbaring dan tidak tahu bagaimana kondisinya, sementara dia harus mengutuk dirinya karena kesalahan di perbuatnya.


“Apakah aku salah?” simo mengangkat wajahnya menatap bintang-bintang. Sudah beberapa kali dia menanyakan. Setiap malam, pagi dan sore. Tentu saja dia tidak akan pernah menemukan jawabannya.


“Kenapa menyalahkan diri?” tiba-tiba suara indah terdengar dari samping kanannya. Simo menoleh. Kedua matanya bergetar dan mulutnya sedikit terbuka. Sebuah perasan lega tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Itu bagaikan dia melepaskan mantel yang sangat mengganggunya dan harus di lepas; atau bagaikan dia tercebur dalam air yang jernih dan menyegarkan yang tidak pernah disentuh sebelumnya ketika menelusuri hutan belantara yang kotor.


‘apakah ini nyata?’ simo menjadi tertegun dan diam beberapa saat menatap sosok cantik di sampingnya. Dia tidak sadar jika ada seseorang di sampingnya. Dia bertanya-tanya beberapa kali dalam kedua mata terkunci pada sosok di depannya.


Sosok itu memakai gaun biru, sebuah gaun yang pertama kali dia bertemu dengannya di hutan. Gaun itu membuatnya bernostalgia.


Sosok itu memang sangat cantik dan memikat. Kulitnya bercahaya ketika bulan menyinarinya. Sebuah kulit yang halus, yang lebih halus dari giok. Kedua alis yang tertata rapi dan sedikit melengkung, membuatnya terlihat polos namun tidak terlalu polos. Dan wajah yang terbentuk sempurna dari cetakan yang sangat indah.


Selain itu, rambut panjang biru perak sangat indah ketika di hembusan sang angin.


Tidak ada cacat sama sekali! Dia sangat sempurna, begitulah kata-kata yang di utarakan kepadanya.


Simo masih tertegun.


“Anak laki-laki yang lemah. Kenapa kau menangis? Apakah karena banyaknya korban jiwa berjatuhan membuatmu seperti gadis cengeng? Aku beri tahu ya, kau tidak boleh menangi....”


Sebuah pelukan hangat tiba-tiba menyergap Naria. Sebuah pelukan pertama yang pernah dia rasakan. Kedua matanya yang tajam perlahan-lahan meredup dan melembut. Ekspresi lembut muncul di wajahnya. Dia kemudian mengangkat kedua tangannya dan melingkari tubuh simo dengan lembut. Menjatuhkan kepalanya dalam bahu pria yang di sukainya dan memejamkan matanya.


Dia merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Sebuah rasa yang dapat menggetarkan hatinya.


Meski pria di depannya suka melupakan diri dan melanggar janjinya, dia tidak marah, hanya saja dia akan terluka jika melihatnya dalam keadaan terluka. Dia tidak suka melihat hal itu. Dia membencinya.


“Aku janji, tidak akan pernah melanggarnya lagi. Aku sangat khawatir terhadap dirimu. Ini pasti ulahku, karena membuatmu sakit. Kedepannya lagi, hal ini tidak akan pernah terjadi!” ucap simo lembut dengan perasaan yang dalam.

__ADS_1


Simo berkata lirih dan memeluk dengan erat, dia sungguh-sungguh mengatakannya.


Tidak beberapa lama, Naria melepaskan pelukannya, perlahan-lahan, dan begitu pun simo.


“Aku akan mengingatnya.” Naria tersenyum lembut


“Tentu saja. Aku juga akan selalu mengingatnya.”


“Kenapa kau menangis?” Naria tersenyum nakal.


“Siapa yang menangis?” simo terkejut dan tanpa sadar mengusap kedua matanya.


Naria tersenyum melihatnya.


“baiklah, aku harus kembali ke kamar lagi.”


“Tunggu!” simo menarik tangan Naria.


Naria tersenyum. “Ada apa?”


“Kenapa singkat sekali?”


“ini adalah hukumanmu karena telah melanggarnya. Untung saja aku baik. Sebelumnya aku ingin menemui lebih lama dan membuat mu lebih cengeng dari pada ini, tapi karena aku tidak tahan, aku langsung menemuimu. Anggap saja ini adalah keberuntunganmu.”


“Aku baik-baik saja! Kau tidak perlu khawatir denganku!” Ujar Naria melambaikan tangannya dan berjalan menjauh.


Simo memperhatikannya sambil tersenyum. Dia menjadi sangat bahagia hari ini. Dia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya hari ini.


Selain melihat Naria baikkan, dia tanpa sadar memeluknya, dan ini adalah pertama kalinya dia melakukan itu!

__ADS_1


Dia tidak pernah menyangka akan senyaman ini memeluk seorang wanita. Dan tidak pernah membayangkan jika ini membuatnya ketagihan. Selain itu, orang yang di peluknya adalah seorang bidadari! Gadis cantik yang bagaikan mahkluk terindah di dunia.


__ADS_2