
Di pagi hari yang cerah, simo memutuskan pergi ke pasar untuk membeli beberapa makanan yang ingin sekali dia rasakan. Ini adalah ke-tiga kalinya dia pergi ke pasar, perasaannya menggebu-gebu untuk membeli makanan, apalagi setelah beberapa hari berpetualang, semangat memuncak.
Dia berjalan melewati gang seperti biasa dilaluinya saat pergi ke sekolah. Saat tiba di jalan besar, semua orang lalu lalang, simo memutuskan tidak memperhatikannya, dia tetap dengan tujuannya.
Jarak pasar dari rumahannya tidak terlalu jauh, hanya butuh 10 menit untuk mencapainya. Jika ingin cepat, simo bisa melompat-lompat di atas rumah. Tapi hari ini, dia ingin berjalan menikmati suasana kota gunung salju di pagi hari. Saat berjalan, dia tanpa sadar memandang gunung salju putih itu. Di dalam hatinya, dia ingin pergi ke sana suatu hari nanti.
Ketika tiba di depan pasar, wajahnya berseri-seri, perasaannya sangat senang. Dia dengan cepat berjalan, tapi sebelum itu, sebuah pedang ramping terlempar dan mendarat tepat di depan simo. Pedang itu menancap dengan baik.
Ekspresi simo seketika pucat menyadari itu. Dia dengan pelan berbalik. Aoba sudah ada di belakangnya dengan tatapan tajam dan wajah marah.
“Dasar cucu tidak tahu diri! Kau pikir di rumahku tidak ada aturan?”
“Maaf kakek, maaf, aku lupa.” Jawab simo dengan wajah pucat. Dia lupa meminta ijin kepada kakeknya sebelum pergi ke pasar. Mengabari itu, adalah sebuah peraturan yang di buat aoba. Peraturan itu di mulai ketika simo tiba di rumahnya. Alasan kenapa aoba melakukan itu tidak simo tahu. Simo sudah menanyakannya, tapi aoba tidak memberikannya.
Aoba menghela nafas dan di saat bersamaan memejamkan matanya. Ketika kembali di buka, dia mengarahkan tangannya ke depan seperti ingin menangkap sesuatu. Seperti mengerti apa yang aoba maksud, pedang yang tertancap di tanah bergetar, lalu kembali ke tangan aoba.
“kakek punya dua pilihan, bertarung atau hukum gantung selama satu hari.”
Mendengar itu, ekspresi prihatin terlihat di wajah simo, baginya kedua hukuman itu sama-sama mengerikan. Jika di hukum gantung, dia tidak bisa ke mana-mana, dan jika bertarung dengan kakeknya, simo akan terluka dan kelelahan. Meski kelihatannya tidak berat, tapi bagi simo itu berat.
“Kakek akan menahan diri. Bagaimana?” aoba menyadari cucunya takut mendapatkan hukuman, oleh karena itu, dia meringankan hukumannya.
“kakek, bisakah kau tidak menghukumku kali ini? Aku ingin berbelanja dan pergi menyelidiki gedung itu. Kasihanilah cucumu ini, hanya untuk hari ini saja. Untuk besok aku bisa memilih salah satu dari pilihan kakek.” Ucap simo memelas.
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, aoba menjawab, “baiklah, tapi akan di tambah.”
“tapi....” simo tidak sempat mengutarakan komentarnya, sebab aoba sudah menghilang entah ke mana.
Melihat kakeknya sudah pergi, simo hanya bisa pasrah.
“Simo.” Seseorang menepuk bahunya dengan tiba-tiba, membuatnya terkejut, dan tanpa sadar berteriak.
Setelah melihat pelakunya namila, simo dengan cepat berkata, “apa yang kau lakukan disini?”
Melihat simo terkejut, namila Tertawa.
Melihat itu, simo menjadi kesal, ini adalah pertama kalinya dia terkejut, dan itu sangat memalukan.
__ADS_1
Setelah puas tertawa, namila perlahan-lahan mulai bersungguh-sungguh, lalu menjawab, “seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ke sini?”
“Aku ingin berbelanja beberapa makanan.”
“jadi kau berbelanja sendirian tanpa mengajakku?” ekspresi marah terlihat di wajah namila.
“bukan begitu, aku lupa.” Jawab simo dengan wajah bersalah.
“baiklah, hari ini aku maafkan, tapi jika terulang lagi, jangan harap mendapatkan pengampunan dariku.”
“Ba....”
“sudah ayo kita pergi.” Namila memotong kata-kata simo dan langsung menariknya.
Setelah itu mereka berkeliling menelusuri seluk-beluk pasar. Hati namila gembira setelah melihat berbagai macam kue dan makanan. Setiap kali melihat, dia akan membelinya, hingga kedua tangan simo penuh.
Jika namila senang, maka berbalik dengan simo, dia terlihat sedih dan menyedihkan, bukan karena dia tidak bisa memakan makanan kesukaannya, tapi uangnya sudah tersisa sedikit, bahkan itu hanya bisa membeli beberapa kue saja.
Ketika tiba di warung terakhir, namila ingin membeli kue terakhir yang sangat dia inginkan, tapi simo tidak punya uang. Oleh karena itu dia bertanya kepada namila, apakah dirinya punya uang.
“tidak juga. Baiklah, jika tidak punya uang aku tidak akan membelinya. Lagi pula, makanannya sudah banyak.” Jawab namila pasrah. Dari kedua matanya terlihat jelas rasa kekecewaan dan kesedihan.
Dengan ekspresi redup, namila kembali meletakan kue yang diinginkannya, tapi sebelum itu, seseorang tiba-tiba memegang tangannya.
Seorang pria tampan dengan pakaian mewah memegang tangan namila. Pria itu tersenyum melihat kecantikan namila. Lalu berkata, “nona, jika kau ingin membelinya, maka belilah, aku akan membayarnya.”
Mendengar itu, ekspresi cerah kembali terlihat di wajah namila, tapi setelah itu, dia kembali redup.
“Ada apa nona?” tanya pria itu setelah melihat ekspresi namila.
“Aku tidak mau. Lagi pula makanan yang kubeli sudah banyak. Tidak baik membeli makanan terlalu banyak. Jika aku tidak membelinya terlalu banyak, aku pasti akan menerima tawaranmu, tapi aku sudah membelinya. Terima kasih untuk tawarannya.”
“ayo simo.” Namila menarik tangan simo, tapi sebelum namila bisa pergi, pemuda itu lagi-lagi memegang tangan namila.
Kini ekspresi namila menjadi tajam. Dan dengan dingin berkata, “maaf, aku ingin pergi sekarang.”
Mendengar itu, pemuda itu tersenyum menyeringai dan tetap memegang tangan namila.
__ADS_1
Simo yang melihatnya tidak melakukan apa-apa, karena dia yakin namila bisa mengatasinya, apalagi pemuda di depannya ini memiliki kekuatan yang tidak terlalu kuat.
“Nona, katakan saja bila kau ingin laki-lakimu yang membelikannya. Biar kuberitahu, aku adalah anak Jendral terkenal di kekaisaran ini yang tidak bisa di bandingkan dengan laki-lakimu itu yang tidak bisa membelikanmu kue. Aku heran, kenapa kau bisa bertemu dengan laki-laki rongsokan seperti itu. Dan kau terlalu bodoh karena telah menolak tawaranku.”
“aku tidak mempedulikannya.” Kata namila dingin. Dia lalu pergi tanpa mempedulikan pemuda itu.
Pemuda itu dengan mudahnya membiarkannya pergi tanpa halangan sedikit pun.
Setelah Namila dan simo pergi, 5 orang mendekati pria itu. Semuanya memberi hormat. Dan salah satunya bertanya, “tuan, mengapa anda membiarkannya?”
“Kenapa aku harus menghalanginya? Lagi pula cepat atau lambat, dia akan datang ke pelukanku dengan sendirinya.”
“Lalu, apa yang akan tuan rencanakan?”
“kau tidak perlu tahu. Ayo pergi.”
...****************...
Di Siang hari yang cerah, simo dan namila memutuskan untuk pergi ke hutan yang berada dekat dengan kota gunung salju. Saat tiba di gerbang, mereka meminta ijin kepada dua penjaga untuk pergi ke hutan. Hal itu mereka lakukan, jika terjadi apa-apa saat di hutan.
Dua penjaga itu mengizinkannya dengan senang hati dan memberikan kembang api kepada mereka untuk memberikan tanda bahaya.
Setelah itu mereka pergi dari sana. Mereka berpapasan beberapa penduduk ketika melewati jalan di hutan.
Saat beberapa jam berjalan, mereka memutuskan berbelok dan beristirahat di dekat sungai. Simo langsung menangkap beberapa ikan, mengulitinya dan membuang isinya. Dia lalu memanggang ikannya dengan kayu bakar yang telah Namila persiapkan.
Seraya menunggu ikan matang, namila memakan kue yang telah dia beli. Namila memakannya dengan lahap.
Simo yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan bersyukur uangnya tidak sia-sia.
“kenapa kau tersenyum?” namila heran menyadari simo memperhatikannya.
“tidak ada.”
Namila memandang Simo beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan makanannya.
“aku akan pergi sebentar.” Simo beranjak pergi. Saat beberapa langkah, namila memanggilnya untuk jangan terlalu jauh. Simo mengangguk dan pergi.
__ADS_1
Setelah berjalan tidak jauh dari tempat namila, simo duduk memandang aliran air sungai yang jernih dan tenang. Setelah puas, dia memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang dekat sungai.
Saat hendak duduk, kedua matanya menjadi tajam, simo merasakan ada seseorang mengawasinya. Tanpa berpikir lagi, simo langsung mengambil ranting pohon dan melemparkannya ke tempat yang dia curigai.