Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 1 sebuah tantangan


__ADS_3

Setelah melihatnya, Rina lalu pergi dari sana, dan berlari menjauh. Dia terlalu lemah melihat hal itu. Dia adalah gadis yang lemah. Dia berlari tanpa arah. Rina sudah melupakan tujuannya.


Akan tetapi, dia menabrak seseorang. Saat mengangkat wajahnya, dia langsung mengusap air matanya dan mengubah tampilannya. “Oh, ternyata pangeran matahari terbit. Kenapa anda bisa berada di sini? Jangan bilang anda mengikuti kami dari istana, aku tidak menyangka pangeran yang mempunyai reputasi yang tinggi, melakukan tindakan seperti ini.”


“Jaga mulutmu. Aku mengikuti Kalian karena takut dengan keadaan Naria. Walaupun dia kuat dan di lindungi oleh orang-orang di sekitarnya, seperti simo, aku harus menjamin keselamatannya. Lagi pula dia adalah tunanganku.”


“Tunanganmu...? Aku rasa itu hanya sebuah nama saja. Dia tidak menyukaimu. Aku melihat dia sangat menyukai simo, temanku yang anda rendahkan itu. Berhentilah memanggilnya seperti itu, dia tidak akan pernah menjadi milikmu.”


“kau juga, berhentilah mengejar orang itu, dia sudah memiliki orang lain di hatinya. Tidak ada gunanya menangis, kau tidak akan pernah mendapatkannya. Dan, meski Naria menyukainya, aku akan tetap memperjuangkannya.”


“Aku tidak mempedulikannya! Aku harus mendapatkannya! Aku sudah berjuang selama ini. Dia harus menjadi miliku. Kau yang seharusnya berhenti memperjuangkannya.”


“Bagaimana kalau kita bekerja sama? Aku ingin mendapatkan tunanganku, dan kau mendapatkan orang itu. Bagaimana?”


“aku lebih memilih menjadi pengemis daripada bekerja sama denganmu.” Rina berjalan melintasi pangeran matahari terbit.


“hey, tunggu... Apakah kau tidak memperjuangkannya?” pangeran matahari terbit menghentikan Rina sambil memegang tangannya.


“Lepaskan!” pangeran melepaskan tangannya. “Aku mempunyai rencanaku sendiri, aku pergi dulu. Permi...” Rina tidak menyelesaikan kata-katanya, ada suara yang tidak mengenakkan keluar dari perutnya.


“Kau lapar?”


“Tidak. Tentu saja aku lapar! Permisi... Aku harus pergi.” Rina lalu pergi.


Pangeran matahari terbit mengikutinya.


Sepanjang perjalanan, pangeran terus membujuknya untuk bekerja sama untuk mendapatkan orang yang di cintainya. Tentu saja rina menolaknya. Dia mempunyai rencananya sendiri. Namun, pangeran itu tidak menyerah begitu saja. Dia menawarkan berbagai penawaran yang menggiurkan, tetapi lagi-lagi Rina tidak tertarik sama sekali. Bahkan dia acuh tak acuh dengannya.


“Pikirkan baik-baik...”

__ADS_1


Akhirnya mereka tiba di perkumpulan pohon apel. Rina memandang buah-buahan apel. Ternyata ada beberapa buah yang matang.


“pangeran... Aku akan memikirkannya nanti jika kau mau memanjat pohon untuk mencarikanku apel.”


“di mana otakmu!? Aku ini adalah pangeran, aku tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.”


“dasar manja.” Rina mendengus dan mengentakkan kaki kanannya. Dalam sekejap dia melompat tinggi dan mendarat di salah satu pohon. Mengambil satu buah apel dan memakannya. Dia duduk menikmati angin sepoi-sepoi.


“bagaimana kau bisa melakukan itu?”


“Hanya perlu melepaskan kemanjaan.... Jika anda ingin bisa melakukannya, anda harus belajar. Sungguh sayang, pangeran yang akan memerintah nantinya tidak bisa memanjat.”


“Aku bisa. Kau rendahan, tentu saja bisa melakukannya. Aku tidak pernah memanjat, tetapi, aku akan melakukannya hari ini. Lihat ini.” Pangeran matahari terbit mendekati satu pohon dan mulai memanjatnya.


Meski pangeran matahari terbit berada di peringkat bumi tahap lima, dia tidak akan menggunakan kekuatannya. Dia ingin membuktikan, bahwa dirinya bisa melakukannya tanpa kekuatan seperti itu. Akan tetapi, seberapa kuat dia berusaha, dia hanya bisa memanjat dengan ketinggian tiga meter saja, dan itu pun menggunakan semua tenaganya.


“Biarkan aku yang mencarikanmu buah apel. Dasar pangeran manja.” Rina akhirnya berbelas kasihan. Dia melompat indah di dahan-dahan pohon. Kelincahan ini dia dapatkan ketika masih menjadi peri. Tidak dapat di pungkiri dia juga bisa melakukannya di saat seperti ini.


“ini, pangeran manja. Makanlah.”


Pangeran matahari terbit menerimanya dengan mudah. Dia juga tidak makan di pagi hari karena mendadak mendapatkan informasi, bahwa rombongan simo pergi pagi-pagi sekali.


...****************...


Setelah beberapa saat, akhirnya simo dan yang lainnya menyelesaikan sarapannya. Ketika mereka mulai berdiri, tepat pada waktu itu Rina bersama pangeran datang. Di tangan rina ada bungkusan dari daun. Dia menyiapkan beberapa buah-buahan untuk makanannya dalam perjalanan. Dia tidak tahu, di mana dia akan menemukan buah-buahan lagi, dan di mana mendapatkan banyak buah-buahan segar. Ada baiknya untuk berjaga.


Naria langsung mengerutkan kening ketika menyadari pangeran matahari terbit datang mengikutinya, dan berkata, “bukankah, kau akan pulang? Di mana suratku Andra?”


“Tenang, tunanga—”

__ADS_1


“jangan memanggilku seperti itu!”


Andra sedikit terkejut melihatnya. Kemudian dengan suara lebih rendah berkata, “aku sudah memberikannya kepada salah satu prajurit dan memerintahkan untuk mengirimkannya ke istana. Aku menjadi heran, kau akan berpetualang ke arah timur, dan akan melewati rumahmu dan rumahku, kenapa kau harus memberikan surat itu kepadaku? Aku menjadi penasaran, apa yang kau pikirkan...”


Ketika mendengar tunangan, simo sedikit kecewa. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang, karena menyadari, Naria telah kehilangan ingatannya beberapa bulan ini. Menjadi tunangannya merupakan sebuah kesalahan yang tidak di sengaja.


“aku... karena...aku tidak mau membuat mereka menahanku! Jika aku pergi meminta ijin kepada mereka secara pribadi, mereka tidak akan setuju. Mereka sangat menyayangiku, mereka pasti akan melarang keras saat aku mengatakan ingin pergi. Terutama ibuku, dia sangat menyayangiku, aku tidak tega melihatnya bersedih karena putrinya pergi lagi.”


“jika kau mengirim surat, ibumu pasti akan bersedih juga?”


“aku tahu. Bagiku itu lebih baik daripada tidak ada keterangan sama sekali. Aku lebih tenang tidak melihatnya menangis dan bersedih di depanku. Meski aku akan melewati rumahku, aku tidak akan mampir ke dalam Istana.”


“Alasan aku mengirimu, itu juga untuk meyakinkannya, tetapi aku tidak menduga kau mengikutiku. Sekarang, terserah kepadamu, jika kau tidak membiarkanku pergi, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak menurutinya. Aku harus tetap pergi. Jika kau mau ikut, aku tidak melarangmu, tetapi, kau harus mengikuti arahan kami. Petualangan ini tidak mudah, jika kau gegabah, nyawamu bisa menghilang sewaktu-waktu.


Satu lagi, aku bukan tunanganmu. Itu adalah sebuah kesalahan. Aku terlalu ceroboh memilihmu. Sebenarnya, aku ingin mengatakannya setelah aku kembali ke istana dan dalam suasana yang tenang, tetapi aku tidak akan mendapatkannya dalam waktu dekat ini. Maaf jika ini sangat menyakitkan.”


Mendengar itu, Andra menjadi marah, dan tanpa sengaja menekan giginya. “Tetapi, kita sudah di restui oleh kedua orang tua kita. Apakah kau memutuskannya dengan sepihak saja? Tanpa memikirkan hal-hal lainnya. Dengan kita menikah, hubungan dua negara akan lebih baik dan saling membantu. Itu memperkuat dua negara dari ancaman di masa depan.”


Meski dia sudah mengetahui Naria akan mengatakan itu, dia akan tetap berusaha untuk mempertahankannya. Terlebih lagi, ini adalah sebuah hinaan baginya.


“Lupakan tentang itu. Bagiku itu tidak terlalu penting. Kehidupanku, aku yang harus mengaturnya. Aku mengetahui lebih baik yang mana yang harus aku pilih. Jika kau tidak menerimanya, kau bisa melaporkannya kepada ayah dan ibuku. Aku tidak takut sama sekali. Aku akan tetap memperjuangkan keputusanku ini.”


Mendengar itu, tentu saja dia sangat sakit dan menderita, terlebih lagi kedua mata Naria memiliki tekad yang sangat kuat. Dia tidak bisa membantahnya sama sekali.


“Baiklah. Jika itu keputusanmu, aku harus menantangnya! Aku tidak mau kau berada di sisi orang yang salah! Aku tahu, kau pasti sangat menyukainya kan? Tunjukkan di sini kemampuannya! Aku ingin merasakannya..”


Rina yang ada di sampingnya mengejek dan mengatakan bodoh kepadanya.


Naria terkejut mendengar itu. Tetapi semuanya sudah terungkap. Dia tidak bisa menyembunyikannya lagi.

__ADS_1


“baik. Jika itu yang kau mau.”


__ADS_2