Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 27 penyerangan malam


__ADS_3

“itu Amelia.” Ujar simo seraya melihat Amelia yang melayang di atas jebakan.


“Amelia?” Jauzan menoleh tidak percaya ke arah simo.


“Iya, dia adalah temanku. Kami bertemu saat aku pertama kali pergi ke akademi untuk mendaftar. Dia yang mengajakku keliling akademi dan menjelaskan semuanya tentang akademi.”


“Kau masih ingat ya. Baguslah jika begitu.” Amelia muncul di depan jauzan dan simo dengan tiba-tiba yang membuat mereka terkejut.


“ah, simo lama tidak berjumpa. Apa yang kau lakukan di tengah hutan seperti ini dan di sampingmu siapa dia. Apakah teman atau saudara?”


“Dia temanku, namanya jauzan. Jauzan ini Amelia.”


“Amelia ya....” jauzan terlihat mendung dan melihat Amelia dari atas ke bawah yang memang cantik dan mempesona.


“Ya. Perkenalan aku Amelia dari kelas A. Salam kenal.” Amelia menyambar tangan jauzan.


“ah, iya. Namaku jauzan dan merupakan teman simo.” Jauzan sedikit canggung dengan Amelia.


“aneh ya, kenapa tanganmu sangat lembut dan juga bau tumbuhmu sangat wangi. Apa jangan-jangan kau ingin menembak seorang gadis atau kau ingin berkencan dengan seseorang?” Tanya Amelia dengan nada riang.


Mendengar itu, jauzan sedikit takut, tapi setelah mengetahui ke mana arah perkataan Amelia dia sedikit lega.


“Begitulah. Aku akan bertemu seseorang setelah ini.” Jawab jauzan sebisa mungkin bersikap tenang.


“Simo kau sedangkan mencari apa ke sini?” tanya Amelia kepada simo.


“Kami ingin mencari kenzo dan kakaknya, apa kau melihatnya?”


“ Kenzo? Ada apa dengannya?”


Simo mulai menjelaskan apa yang terjadi, mulai dari kenzo terancam karena merupakan hasil penelitian dan ayahnya yang seperti ingin menjebaknya. Selama simo menjelaskan Amelia mengangguk mengerti.


Sementara itu jauzan menatap Amelia dengan curiga. Saat memegang tangan Amelia dia dapat merasakan sesuatu yang aneh dan sangat mencurigakan. Dia juga sebenarnya sangat ingin menghentikan simo mengatakan semuanya, tapi dia juga khawatir jika itu akan mengundang kecurigaan Amelia. Oleh karena itu dia memilih untuk diam saja.

__ADS_1


Setalah mengetahui semuanya, Amelia hanya menggeleng kepala pelan, sebab dia tidak melihatnya, tapi dia akan ikut mencarinya.


“Tapi... apa kau tidak keberatan jika harus membantu kami?” tanya simo.


“Tidak, lagi pula aku kesini hanya mencari tanaman herbal untuk kesehatan, jadi aku bisa mencarinya sambil menolong kalian. Jangan khawatir ya.”


Setelah itu mereka memutuskan untuk mengelilingi bekas pertarungan itu. Sepanjang perjalanan simo bertanya kepada Amelia, tentang bekas pertarungan itu, tapi gadis itu tidak mengetahui apa pun tentang itu. Maka selanjutnya simo bertanya tentang jebakan yang ada di dalamnya, untuk apa? Dan mengapa jebakan itu di buat, tapi lagi-lagi Amelia tidak mengetahuinya.


Mendengar itu, simo menjadi kesal dan akan berjanji akan menemukannya di perpustakaan.


Sementara itu, jauzan berjalan seraya memegang pedangnya. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, dia bersikap waspada di sekitarnya. Apalagi dengan Amelia dia tidak pernah mengalihkan perhatiannya ke arah lain, agar dia dapat memantau pergerakan Amelia.


Walau Amelia seperti gadis baik, jauzan tidak percaya semudah itu. Mengetahui ada hal yang aneh dari tangan Amelia membuat jauzan memiliki pikiran negatif dengannya.


Sebenarnya jauzan sangat keberatan dengan bergabungnya Amelia dalam pencariannya, dia ingin sekali mencarinya bersama simo. Selain itu dia tidak suka dengan keakrabannya dengan simo.


Sepanjang pencarian, Amelia sesekali mendapatkan tanaman herbal dan menawarkannya kepada simo, tapi saat mengambilnya jauzan terlebih dahulu mengambilnya dan mengatakan dia sangat membutuhkan untuk membuat ramuan. Itu di dilakukan beberapa kali yang membuat Amelia kesal dengannya.


Saat jauzan mengambilnya, ekspresi Amelia menjadi tajam dan begitu pun dengan jauzan, dia tidak ingin kalah, apalagi dengan perempuan.


Malam mulai turun, simo, jauzan dan Amelia memutuskan untuk beristirahat di pinggir sungai yang tidak begitu dalam. Alasan mereka memilihnya, karena mereka dapat menangkap ikan di sungai, mandi, dan menjadi sumber air mereka jika kehausan.


Selain itu, alasannya lainnya karena jauzan pengendalian air. Dia ingin berjaga-jaga jika ada hal-hal yang berbahaya terjadi. Walau sejak dari tadi Amelia tidak memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan, itu belum cukup untuk membuatnya percaya.


Setelah membuat api unggun, simo mengajak jauzan untuk mandi, karena mereka sama-sama lelaki, jadi akan lebih bagus, tapi jauzan menolak dan mengatakan, dia sudah mandi. Tentu saja simo merasa heran, sebab seharian dia bersama jauzan dan tidak pernah meninggalkannya sedetik pun.


Namun, dia juga tidak akan memaksanya, karena itu merupakan haknya untuk memilih, maka simo meninggal jauzan dan Amelia di tempat peristirahatan.


“Kenapa kau tidak mandi saja? Meski kau sudah wangi, aku tahu kau belum mandi seharian Atau jangan-jangan kecurigaanku benar, kau adalah seorang gadis yang menyamar?” tanya Amelia yang duduk berseberangan dengan jauzan. Dia memandang jauzan dengan tatapan curiga.


“aku hanya tidak ingin mandi. Apalagi jika di tengah hutan seperti ini. Seharusnya kau tau jika di tengah hutan seperti ini ada banyak sekali hewan pengisap darah. Apalagi jika saat ini musim hujan. Maka akan banyak yang keluar mencari makan, aku tidak mau jika akan menjadi makanan mereka.” Jawab jauzan dengan nada tenang, tapi di dalam hatinya dia takut jika Amelia mencurigainya.


Saat Amelia menuduh jauzan, dia terkejut dan dengan cepat berusaha terlihat tenang.

__ADS_1


“begitu ya, baru kali ini aku bertemu dengan seorang pria yang takut mandi sepertimu. Biasanya, semua laki-laki yang aku temui tidak mengenal takut, terlebih lagi bila ingin melindungi seseorang perempuan. Ah, mungkin aku belum mengenal banyak laki-laki ya.”


Mendengar itu jauzan mengangguk, setelahnya tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, Amelia sibuk memandang api unggun dan berusaha membuatnya tetap hidup, sedangkan jauzan memandang Amelia dengan curiga, tapi tidak satu pun ekspresi atau gerak-gerik mencurigakan darinya yang membuat jauzan kembali memikirkan, apakah diri salah menilai Amelia?


Tidak beberapa lama, jauzan memutuskan untuk menangkap ikan dan meninggalkan Amelia sendirian, dia mengajak Amelia, tapi gadis itu tidak menerimanya dan hanya ingin menghangatkan tubuhnya.


“Apakah diriku salah?” gumam jauzan seraya menggerak-gerakkan tangannya untuk mengendalikan air dan mencari-cari ikan di sungai itu. Tidak terasa beberapa ikan sudah dia tangkap, itu pun, tanpa dia sadari saking memikirkan tentang Amelia.


Setelah mendapat cukup banyak ikan, jauzan memutuskan untuk kembali, tapi saat berbalik, dia di kejutkan dengan belati yang mengarah ke lehernya.


“jangan bergerak.” Ancam seseorang dari kegelapan malam, tapi jauzan sedikit familiar dengan suara itu. Meski tidak mengetahui wajahnya, jauzan tahu Jika yang membawa belati itu seorang wanita


“siapa kau?”


“untuk apa kau bertanya seperti itu? Orang yang akan mati tidak pantas mengetahui nama membunuhnya bukan?”


“Eh, sebelum belati itu merasakan kulitku, aku dapat dengan mudah menghindarinya.” Jawab jauzan dengan tenang, tapi di dalam hatinya dia berusaha mencari informasi sebanyak mungkin mengenai musuhnya.


“benarkah? Jika aku katakan kau tidak bisa bergerak apakah kau akan mempercayainya?”


Ekspresi jauzan menjadi sedikit lebih serius. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi tidak ada satu pun anggota tubuhnya bergerak. Tubuh Jauzan seperti membantu; dia tidak bisa bergerak ke mana-mana. Bahkan jika menggunakan kekuatan sekalipun, itu tidak mempan.


“siapa kau sebenarnya?”


“sudah aku bilang kan, untuk apa kau menanyakan hal tidak penting seperti itu. Sekarang kau hanya perlu mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang yang kau sayangi.”


“Tidak akan.”


“sekarang matilah!”


Trangkkk!!


Sebelum belati itu mengenai leher jauzan cahaya biru melesat mengenainya. Saat itu jauzan mampu menggerakkan tubuhnya dan melihat sekilas wajah orang itu yang seperti wajah Amelia. Tanpa membuang waktu, jauzan langsung mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


...****...


mohon Dong tinggal komentarnya biar author tahu di mana kekurangannya.


__ADS_2