Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 66 akhir pertarungan


__ADS_3

Setelah beberapa saat, butiran-butiran salju menyatu membentuk sosok Azka melayang. Ekspresi sedih terlihat di wajahnya. Meski dia berada di pihak kaisar, bagaimana pun juga anulika adalah Kakaknya, dia tentu merasa iba dengannya.


Dia melayang dengan beberapa pakaian robek karena ledakan. Perlahan-lahan butiran salju berputar di tangannya, membentuk bunga yang indah. Dia kemudian menjatuhkannya perlahan-lahan di dalam kawah bekas ledakan Anulika.


“meski kita berbeda tujuan, aku tetap adikmu.”


Setelah itu Azka hendak pergi, akan tetapi ada suara teriakan terdengar.


Simo masih hidup. Dia berdiri dengan kedua tangannya sudah hancur, dan di gantikan dua naga hitam.


Simo meraung lalu melesat. Saat melesat, samar-samar naga hitam muncul. Sangat besar dan memancar aura yang kental.


“Kekuatan apa ini?” Azka terkejut. Kekuatan simo sudah sangat aneh dan tidak masuk akal!


Aska dengan cepat mengarahkan telapak tangan ke depan. Lalu muncul tiga elemen berbeda. Api, air dan es hijau. memancar dengan tekanan yang keras. Meski begitu, sosok naga itu tidak gentar. Ekspresi wajah simo pun tidak terlihat takut. Sebaliknya, dia tersenyum menyeringai.


Naga hitam meraung, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Kemudian melahap semuanya elemen yang di pancarkan tanpa sedikit pun kesulitan. Dan tidak berpengaruh kepada Kecepatannya.


Ekspresi serius dan sedikit takut kini menghiasi wajah Azka. Sebab, sudah setengah kekuatan terkuras. Di tambah lagi dia masih setengah abadi.


“aku tidak akan membiarkanmu mendekat!” Azka meraung dan mengeluarkan semua kekuatan yang tersisa.


Namun itu hanya menghambat sedikit pergerakan naga itu. Naga itu meraung dengan keras, dan terus bergerak maju.


“Dasar monster! Jangan mendekat!” Azka menambah semburan elemennya. Akan tetapi tidak juga menghambatnya. Naga itu semakin mendekat dan mendekat. Ketika satu meter dari Azka, tiba-tiba saja semuanya menjadi lambat, seolah waktu berjalan sangat lambat.


Azka membelalakkan matanya dan memandang bingung di sekitarnya.


Cahaya kuning indah tiba-tiba muncul di udara, lalu bersinar terang, sangat terang. Salju-salju dan hamparan putih di sekitar pegunungan, seperti di mandikan oleh cahaya tersebut.


Perlahan-lahan butiran-butiran salju melambat dan akhirnya berhenti seperti Waktu telah berhenti. Naga yang menyelimuti simo berhenti bergerak. Waktu seolah sudah berakhir.


Dari cahaya tersebut perlahan-lahan sosok dewi kehidupan yang sangat besar dan anggun berdiri. Ekspresi sedikit sedih terlihat di wajahnya. Dia menghela nafas.


Teratai hijau di tangannya bergerak menuju simo. Kemudian mengelilinginya. Perlahan-lahan tubuh simo kembali utuh dan perlahan-lahan turun.


Teratai itu kemudian berputar-putar di tubuh Azka. Sedetik kemudian tubuh Azka mengecil, dan akhirnya menjadi seorang gadis kecil dengan rambut perak yang indah.


Dewi kehidupan memandang Azka, dan berkata, “kau harus menjaganya.”


Butiran sinar kuning muncul di tangan kanan Dewi kehidupan, lalu mendarat di dahi Azka kecil dengan lembut.


Setelah itu perlahan-lahan Dewi kehidupan menghilang. Samar-samar cahaya kuning yang indah menghilang.


Tubuh simo dan Azka perlahan-lahan menghilang.


...****************...


Perlahan-lahan kedua mata simo terbuka. Pertama-tama yang dia lihat buram. Namun dia masih bisa melihat samar-samar kepala kecil dengan rambut ungu keperakan, seperti seorang gadis kecil.


Penglihatannya semakin jelas dan jelas. Simo melihat seorang gadis kecil cantik berdiri di depannya. Kedua matanya bercahaya ketika melihat simo membuka matanya.


Dia cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke atas. “hore! Ayah sudah bangun.”

__ADS_1


Simo terkejut, tapi dia memilih tidak menghiraukannya, mungkin saja yang gadis itu maksud bukan dirinya.


“Cucuku, akhirnya kau sadar juga.” aoba mendekat. Dia terlihat lega setelah melihat simo siuman.


Simo memandang sekitarnya. Di sana sudah ada kakeknya, Hoshi dan Klarika.


“kakek, siapa gadis ini?” tanya simo bingung.


“kakek tidak tahu. Ketika kami menemukanmu, sudah ada gadis kecil ini di sampingmu. Dia menangisimu dan menggoyang-goyangkan tubuhmu untuk bangun. Apa yang sebenarnya terjadi?”


“di mana kakek menemukanku?”


“di hutan perbatasan. Kenapa bisa sampai di sana, dan di mana yang lainnya?”


Simo mengerutkan kening, seingatnya dia tidak sampai sejauh itu. Pasti ada yang membawanya hingga sampai di sana, tapi mengapa? Dan mengapa tidak membunuhnya?


“ayah, ayah, apa ayah baik-baik saja? Aku takut loh, ayah tidak bangun-bangun. Aku sudah menunggumu selama 15 hati. Tapi hari ini syukurlah, ayah bisa siuman.”


Simo tersenyum aneh ketika gadis di depannya memanggilnya ayah. Tapi tentu dia tidak mau membuat gadis ceria ini sedih dan menyia-nyiakan kebaikannya. Oleh karena itu Simo ragu-ragu mengangguk.


“apa ayah masih merasakan sakit?” gadis kecil itu duduk di samping ranjang, kemudian mengambil tangan simo.


“t-tidak.”


“Syukurlah. Aku sangat takut jika ayah kenapa-kenapa.”


“adik manis kenapa kau memanggilku ayah?”


“Sepertinya dia hilang ingatan. Kakek akan menyerahkannya kepada pihak yang berwajib.” Aoba ikut dalam pembicaraan. Dia juga merasa aneh dengan gadis di depannya, yang memanggil simo dengan sebutan ayah. Tapi di dalam hatinya ada satu hal yang membuatnya penasaran, meski hilang ingatan mengapa gadis kecil itu menyebut simo ayah dengan yakin?


Apa mungkin simo mirip dengan ayah kandungnya? Ini mungkin saja, tapi bukankah sikap seseorang berbeda-beda? Mungkin saja mirip juga. Mungkin begitulah yang gadis kecil itu rasakan.


Simo mengangguk.


Klarika mendekat, lalu bertanya, “kenapa kau bisa ada di sana? Apa yang sebenarnya terjadi? Ibu ingin kau menceritakan semuanya.” Wajah klarika tegas.


“kau tidak boleh seperti itu. Cucuku baru siuman, kau harus menunggunya.”


Klarika menghela nafas. “aku akan kembali nanti.”


Setelah Klarika pergi, aoba dan Hoshi turut ikut pergi.


Sebelum pergi, Simo memerintahkan kakeknya untuk membawa gadis kecil itu pergi, akan Tetapi gadis itu tidak mau pergi, hanya ingin diam di sana menemani ayahnya.


“Kau bisa menemui ayahmu nanti. Dia sekarang ingin beristirahat. Nanti Kakek akan membawamu keliling rumah sakit, kita akan membeli berbagai mainan dan makanan. Mau?”


“tidak!”


“Ayo gadis kecil, tidak lama, setelah itu juga kau akan bertemu dengan ayahmu.” Aoba mendekat.


“tidak!” Seketika hawa dingin menyebar dari tubuh gadis itu. Kemudian di atas kepalanya serpihan es-es hijau yang tajam terbentuk. “jika Kakek ingin memaksaku, aku tidak akan diam lagi!”


“ini ....” aoba tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Bagaimana bisa gadis kecil ini bisa mengendalikan es, apalagi itu es hijau. Apa dia musuh yang ingin membunuh simo?

__ADS_1


Aoba memandangnya lekat-lekat. Tidak, tidak ada seperti itu, cerminan kedua matanya sangat tulus dan di penuhi perlindungan tinggi akan sosok yang sangat dia cintai.


“Baiklah, Kakek tidak akan memaksamu.” Aoba pergi dari sana.


Hoshi juga terkejut dengan kekuatan gadis itu, tapi dia tidak mempedulikannya, ada hal sedih membuatnya seperti itu.


Setelah aoba pergi, gadis kecil itu menghela nafas. Aura dinginnya perlahan-lahan menghilang bersama dengan es-es hijau itu.


“Maafkan aku ayah, aku tidak sengaja. Apa ayah tidak apa-apa?”


Simo tersenyum getir dan mengangguk. Bagaimana bisa baik-baik saja jika gadis kecil di depannya mirip Azka hanya saja tubuhnya masih bayi. Apa yang terjadi? Simo memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Ingatan terakhir dia mendengar kematian Namila yang membuatnya tenggelam dalam kesedihan dan kegelapan. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Namun jika benar di depannya adalah Azka, dia harus membunuhnya, dia sangat berbahaya, mungkin saja dia menyamar dan ingin membunuh simo diam-diam karena sebelumnya dia tidak bisa melakukannya.


“Ayah, minumlah.” Sosok Azka kecil menyodorkan air kepada simo.


“Tidak, ayah belum haus.” Simo harus menolak semua pemberiannya, mungkin saja di dalamnya ada racun atau hal lainnya yang berbahaya.


Mendengar itu, Azka kecil mengangguk. Ada sedikit kesedihan di wajahnya ketika dia menaruhnya kembali. Simo yang melihatnya tersenyum diam-diam, ternyata benar, Azka kecil ini pasti ingin membunuhnya.


“ayah.” Azka kecil mengambil tangan ayahnya.


Simo menoleh.


“kapan lagi ayah akan bisa berjalan?”


“Mungkin tiga hari ke depan.”


“sungguh?” kedua mata Azka kecil berbinar-binar.


Simo mengangguk. “memangnya kenapa?”


“aku ingin pergi ke taman dan jalan-jalan. Apa ayah mau mengajakku?”


“kenapa kau tidak bersama kakek?”


“Aku hanya ingin bersama ayah.”


‘bilang saja kau ingin menjebakku’ simo memandang langit-langit, lalu berkata, “baiklah.”


...****************...


Di bawah langit malam yang di penuhi bintang-bintang, seorang wanita paru baya berdiri di depan puing-puing bangunan yang di penuhi tanaman-tanaman rambat.


Semua ingatan dan kenangan tergambar jelas di dalam benaknya. Suara germicik air dari sungai dan kodok turut meramaikan suasana.


Wanita memakai gaun kuning yang cantik itu berjalan, kemudian menaruh bunga di atas puing bangunan tersebut. Senyuman bermekaran di wajahnya dan satu tetes air matanya jatuh.


“Aku sudah membalaskan dendammu. Tenanglah di sana, aku dan anak kita baik-baik saja.”


Wanita itu kemudian pergi dan kembali memandang bangunan itu dari jauh. Dia tersenyum dan berkata, “selamat tinggal.”


Season 3 tamat.

__ADS_1


__ADS_2