
Matahari sudah berada di atas, menyinari bumi yang sudah berkeringat, dan kepanasan. Angin seperti biasa berembus menyejukkan bumi kala itu. Air ombak seperti biasa menghampiri penjuru dunia dengan anginnya yang dingin. masuk ke gua, dan akhirnya terpental oleh angin kencang seperti pusaran.
Simo tidak henti-hentinya menyerang Karla dengan berbagai ayunan, tendangan, dan teknik pedang. Dia sudah beberapa tahun belajar teknik-teknik pedang. Tingkatnya sekarang sudah tinggi. Namun hanya energinya saja yang membuatnya kurang saat pertarungan. Sehingga baru beberapa menit bertarung, dia sudah mulai kelelahan.
Terlihat jelas, nafasnya sudah terburu-buru. Keringat membasahi bajunya. Kecepatannya menurun drastis.
Karla tahu hal itu. Oleh karena itu dia meningkatkan kekuatan serangannya. Walaupun simo sudah kelelahan, dia tidak boleh gegabah, dan mengklaim kemenangan awal, terlebih lagi simo baru mengeluarkan teknik-teknik pedangnya saja.
kekuatan api biru itu tidak bisa di anggap remeh!
Sementara itu, para siren semakin heran dan kagum dengan simo. Mereka mengagumkannya karena baru pertama kali seorang pemuda yang bisa bertarung dengan pemimpin mereka yang terkenal akan kekuatannya yang dahsyat.
Namila juga sedikit terkejut dengan kemampuan simo, yang bisa bertahan selama itu. Peningkatannya sungguh cepat!
Tidak beberapa lama akhirnya simo memutuskan untuk mundur. Dia beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaganya sebentar.
“apakah hanya itu saja kemampuanmu.” Kata Karla meremehkan. Hal itu tentu saja ingin membuat simo gegabah, dan menyerangnya tanpa berpikir.
Namun simo sudah berpengalaman, dia tidak akan tertipu oleh terik murahan seperti itu. Dia tersenyum, sebelum akhirnya berkata dengan nada mengancam “tidak, tapi... aku khawatir kau tidak akan bisa menerimanya.”
Walaupun simo sudah kelelahan, dia ingin tetap terlihat kuat, dan masih bisa melanjutkannya. Dia ingin membuat musuhnya lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan dengan mengatakan itu.
Selain membuat musuh dua kali berpikir, itu juga membuat ragu-ragu dalam mengambil tindakan.
Beberapa Siren bergumam mengenai hal itu.
“Apa saja yang dia sembunyikannya. Pemuda ini sungguh menarik.” Lucia bergumam dalam hati.
“ Jika apa yang dia katakan benar, maka bocah ini sungguh mengerikan.” Diana membatin.
Semua siren terpengaruh oleh kata-kata simo. Apalagi mereka sudah melihat kekuatannya yang bisa bertahan melawan Karla.
Namun, hal itu sepertinya tidak berlaku kepada Karla. Dia tersenyum seraya memandang simo.
“keluarkanlah! Sangat di sayangkan itu tidak di keluarkan di sini.” Setelah Mengatakan itu, Karla melesat dengan cepat. Membelah angin dengan kasar.
Simo yang Melihatnya, tersenyum. “baiklah.”
__ADS_1
Tiba-tiba saja aura hitam keluar dari pedang simo. Saat aura itu keluar, atmosfer di sekitar menjadi tegang dan lebih berat. Bersamaan dengan itu, kekuatan yang kuat terasa, membuat Karla melompat mundur.
“A-apa itu.” Batin Karla seraya samar-samar melihat sosok monster terbentuk dari aura hitam itu. Aura itu tepat berada di atas simo.
Wajahnya yang sebelumnya biasa saja, kini terlihat bingung, takut dan heran. Kedua alisnya merajut. Kedua matanya memandang tajam ke arah simo. Jelas sekali dia sedikit takut dengan aura yang di keluarkan simo
Bukan Karla saja yang melihatnya, yang lainnya juga melihat. Ekspresi keterkejutan, dan keheranan menghiasi setiap wajah yang melihatnya.
“Bocah ini sungguh menarik.” Diana membatin seraya mengerutkan keningnya.
“semoga saja tuan Jendral bisa mengalahkannya.” Lucia tidak mau kalah.
Wusss!
Simo melesat dengan kecepatan yang tinggi. Bahkan saat melesat, kayu di jembatan hancur menjadi beberapa bagian. Tidak hanya itu, saja aura hitam terasa lebih mencekam, dan berat
Trangkk!
Meski Karla terkejut, dia akhirnya bisa menahan serangan simo dengan dinding air. Walaupun begitu, kerusakan yang di timbulkan oleh kecepatan dan kekuatan simo, itu sudah cukup membuat pelindungnya hampir hancur.
Simo dengan kecepatan tinggi menyerang Karla dari berbagai arah untuk mengecohnya.
Kecepatannya sudah tidak bisa di ragukan lagi. Hanya bayangan hitam saja terlihat bergerak-gerak.
Suara benturan senjata bergema di dalam gua. Selanjutnya, percikan-percikan api kian terlihat.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Karla sepenuhnya menggunakan pengendali airnya untuk menghalau kecepatan simo. Dia menyadari biolanya sudah hancur, dan tidak mungkin mengimbangi kecepatan simo saat ini.
Karla membentuk dinding pelindung, pedang air besar seperti punya namila, hanya saja ukurannya lebih besar.
Walaupun begitu, itu hanya membuat kecepatan simo sedikit lebih lambat.
Karena sudah semakin terdesak, dan ingin mengakhiri Pertarungan ini, Karla akhirnya menggunakan ombak untuk memperlambat simo. Tentu saja itu memerlukan tenaga yang lebih besar.
Ombak setinggi 10 meter akhirnya memporanda-porandakan tempat siren. Sebelum akhirnya ombak itu datang, semua siren, dan namila melompat ke tumpuk karang yang lebih tinggi.
Simo ingin melakukan, tetapi Karla dengan cepat menarik kakinya, dan tidak membiarkannya naik ke atas. Akhirnya simo tidak punya pilihan selain bertarung dengan Karla di dalam air.
__ADS_1
...****...
Pegunungan bintang merupakan pegunungan yang membentangkan dari Utara Sampai selatan, memisahkan desa Padang pasir dengan desa -desa lainnya. Pegunungan ini sangat tinggi dan curam. Menurut kabar kadang-kadang angin kencang tertentu datang secara tiba-tiba. Oleh karena itu pegunungan ini merenggut korban setiap tahunnya.
Meski sudah di peringati, semua orang memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, dan mencobanya.
Tapi bukan itu yang menjadi fokus kita. Di atas pegunungan yang curam itu, sesosok raksasa gagah berdiri, menyaksikan bintik-bintik hijau di bawah gunung Yang tidak terhitung jumlahnya. Ya, pohon-pohon lebat tumbuh di pinggir-pinggir pegunungan. Namun anehnya tidak ada satu pun pohon tumbuh di pegunungan bintang.
Sorot matanya bergerak, dan terhenti melihat beberapa warga sedang berkumpul seperti ingin merencanakan sesuatu. Meski jauh, raksasa itu dapat melihat semua penduduk menegang senjata. Matanya bergerak, melihat seorang gadis, dan pria paru baya, yang menjadi pimpinan mereka.
Nama raksasa ini adalah Harry yang merupakan Jendral ke sepuluh raksasa. Dia di perintahkan untuk membasmi para manusia untuk mencapai keinginan rajanya.
Herry memutar tombaknya, kemudian memasukkannya dengan kasar ke tanah.
“chih, hanya seorang bocah membuatku harus turun tangan sendiri.” Geramnya. Dia tidak menyangka akan pergi jauh-jauh demi membasmi seorang pemuda yang tidak jelas asal usul dan kemampuannya.
“Manusia-manusia tidak tahu diri” dia mencibir para warga yang ingin melakukan penyerangan.
“Tunggu aku setelah menghabiskan bocah itu.” Herry pergi setelah mencabut tombaknya. Walaupun dia menyebutkan bocah, dia merasa itu adalah ancaman besar bagi rencananya. Oleh karena itu dia secara pribadi pergi menghapuskan bocah itu.
...****...
Di waktu bersamaan, simo bertarung di dalam air. Jelas saja itu membuatnya sulit bergerak menyerang Karla, sehingga pertarungannya menjadi seimbang. Selain itu, kekuatan api birunya secara otomatis akan menurun.
Dan, sementara itu, semua siren terlihat penasaran apa yang tengah terjadi di dalam air. Beberapa terlihat kecewa, mengutuk air itu tidak surut.
Tapi, berbeda dengan namila, gadis itu tersenyum, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Jika ada orang yang melihatnya, pasti akan bertanya. Namun sayangnya orang itu tidak ada.
Meski terdengar suara-suara pertarungan, itu belum cukup untuk memuaskan rasa penasaran mereka.
“huh! Apakah air ini akan tetap membanjiri markas ini.” Celoteh dari salah satu siren.
1 jam kemudian akhirnya air pun surut dengan kemenangan terlihat di pihak Karla yang masih berdiri. Walaupun begitu dampak serangan simo sungguh fatal. Beberapa sudut tubuhnya mengeluarkan darah. Bajunya robek beberapa bagian, dan untungnya tidak robek di bagian sensitif.
Simo bersandar dengan pedangnya. Kondisi tubuhnya sama, tetapi dampaknya lebih besar. Beberapa pakaian robek. Luka tersebar di segala tubuhnya.
Meski begitu, itu sudah cukup membuat para siren kagum dengannya.
__ADS_1