
Klarika, kai dan semua orang di sana, cepat-cepat menghindarinya. Mereka juga secara otomatis mengeluarkan pertahanan yang mereka bisa. Namun, hempasan itu terlalu kuat, membuat mereka luka lecet dan luka goresan di beberapa bagian tubuhnya. Hempasan itu sangat kuat!
Setelah cekungan terbentuk Seperti kawah danau, terlihat kai, Klarika, dan Hendry berhadapan dengan musuhnya masing-masing. Mereka terlihat batuk-batuk dan memegang tubuh yang terluka seiring debu menghilang.
Musuhnya juga ikut seperti itu, tidak jauh dari kondisi mereka saat ini.
“apa yang terjadi?” semuanya bertanya demikian Seraya melihat-lihat ke arah sekitar, dan melihat tanah sekitar mereka seperti digauk dengan paksa. Mereka juga menemukan Carissa dan Lasmaya dari kejauhan. Tetapi, mereka tidak melihatnya dengan jelas karena letaknya terlalu jauh.
Kelompok Klarika ingin sekali melihat Carissa dan Lasmaya. Akan tetapi mereka harus menangguhkannya, karena masih berhadapan dengan musuh mereka masing-masing.
‘gadis ini Monster!’ Carissa membatin seraya terbatuk-batuk. Tentu saja, mengeluarkan kekuatan sebesar itu saat usia masih dini, bukanlah sesuatu yang mungkin bisa di lakukan, jika itu bukan monster!
Namun, meski kekuatan itu begitu dahsyat, Latif masih bisa menahannya dengan kokok, walau bajunya sudah hancur lebur, dan memperlihatkan otot-otot yang keras dan kuat. Dia kemudian meraung keras seraya melihat Carissa melayang di udara tanpa selendangnya dan Lasmaya yang tersenyum. Entah mengapa Lasmaya tersenyum.
“Gadis kecil, apa kau sungguh anak kecil?” tanya Carissa menoleh. Baginya ini sangat aneh mengeluarkan kekuatan sekuat itu di usia yang masih terbilang belia.
“Bibi, sekarang bukan saatnya untuk membicarakan hal itu, kita harus membereskan makhluk menjijikkan ini dulu. Aku duluan!” ujar Lasmaya lalu terbang melesat ke arah latif dengan sayap kupu-kupu yang cantik.
“baiklah. Setelah ini kau harus mengatakannya.” Api keluar dari tangan Carissa lalu menyelubungi pedangnya dengan rapat-rapat kemudian melesat.
Lasmaya mengeluarkan beberapa serangan anginnya, seperti angin ****** beliung untuk membuat latif sulit melihat dan beberapa serangan panah angin yang sangat banyak seperti hujan.
Setelah serangannya selesai, Carissa lalu melempar pedangnya. Pedangnya berputar-putar. Lalu saat beberapa meter dari latif, pedang itu pecah menjadi 10, kemudian menyerang latif dari segala arah.
Hal ini membuat latif geram. Dia kemudian meraung lalu melesat. Sedetik kemudian muncul di depan Lasmaya dan mengarahkan pukulannya.
“Maaf monster, kau memerlukan usaha lebih untuk melakukannya!” Lasmaya mengarahkan telapak tangan ke depan, membentuk perisai angin.
Latif terus mencoba menghancurkannya, akan tetapi Carissa muncul di belakangnya, kemudian mengayunkan pedangnya.
“monster! Terima ini!”
Latif meraung dan melesat ke tanah dengan keras.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Carissa mengeluarkan ribuan pedang api di langit lalu menerjang tubuh Latif seperti hujan deras.
__ADS_1
Saat serangannya mengenai Latif, dia meraung kesakitan.
Setelah itu giliran Lasmaya, gadis ini sekali lagi mengeluarkan hempasan angin yang membuat lubang besar di bawahnya.
“Sepertinya kita berhasil.” Kata Carissa setelah melihat tubuh latif tergeletak tidak bergerak. Wajahnya kini terlihat lebih santai.
Namun tidak untuk Lasmaya, gadis ini masih terlihat serius. Kemudian berkata, “tidak, kita belum membunuhnya.”
Mendengar itu, Carissa pun memusatkan perhatiannya kepada latif. Dan benar saja, latif perlahan-lahan mulai bergerak. Carissa langsung mengeluarkan sebuah pedang api besar sekitar 10 meter lalu mengarahkannya langsung.
Namun, sayang sekali latif berhasil menahannya dengan salah satu telapak tangannya. Kemudian dia mencengkeram pedang itu hingga hancur lebur.
“Dia memang Monster.” Gumam Carissa setelah melihat apa yang di lakukan latif. Walaupun dia mengetahui memang benar Latif bisa menghancurkan serangannya, akan tetapi jika seseorang sudah terluka seperti itu, itu sudah tidak bisa di anggap wajar. Bagaimana pun juga meski latif adalah hasil penelitian, dia juga seorang manusia yang tentu ada batasnya.
Di langit, pedang itu masih di tahan oleh Hoshi, walaupun kini kondisinya lebih buruk dari yang tadi. Bibirnya keluar darah, tangan dan kaki gemetaran menahan serangan Theo.
Tapi, pedang itu juga mulai retak dan perlahan-lahan hancur. Tentu saja, Melihat ini ekspresi yang sebelumnya lebih percaya diri di wajah Theo kini sedikit mendung.
‘aku harus membunuhnya dengan cepat’
“Matilah!”
Melihat ini, tentu saja Hoshi tidak bisa menahannya karena semua kekuatan sudah terpusat pada dua tangan raksasa di atasnya.
“Apa aku akan mati?” gumamnya seiring melihat 10 pedang itu mendekat seolah menjadi malaikat mautnya sekarang.
“hahaha! Matilah!” Theo yang melihat ekspresi Hoshi yang penuh dengan kepasrahan merasa senang karena telah membuat satu musuhnya mati.
“Tuan, biar aku yang akan menolongmu!”
Terdengar suara yang entah dari mana, kemudian di susul oleh panah-panah api yang menyerang 10 pedang Theo kemudian meledakkannya di langit.
“tetua, apa anda melupakanku?” aoba muncul di depan Hoshi seraya menginjak bola api di bawahnya.
“aoba, ternyata kau.” Gumam Hoshi sedikit lega karena aoba muncul.
__ADS_1
“biarkan aku yang melindungimu, kau pusatkan saja semua kekuatanmu untuk menahan pedang itu.” Setelah mengatakan itu, aoba melesat menyerang Theo.
“Baiklah.” Hoshi kemudian mulai memusatkan kembali perhatian dan kekuatannya untuk menghancurkan pedang besar di atasnya.
Di bawah, kelompok klarika masih berjuang, walaupun sudah kelelahan dan mulai kehabisan energi. Musuhnya juga tidak lebih baik dari mereka.
“Hahaha, teman, kau hebat juga.” Gumam kai Seraya melesat mengayunkan pedangnya lagi.
“dasar nyamuk pengganggu!” ucap rani kesal Seraya terus menyerang Klarika.
Sementara Hendry terus berjuang dengan elemen petirnya.
...****************...
Di tempat lain seorang pemuda dan dua gadis tengah berjalan mendekati gedung tua yang penuh semak belukar. Setelah tiba di depan gedung, mereka berhenti.
Namila memandang ke setiap jendela di gedung itu. Rasa takut mulai merajalela di dalam hatinya, dia cepat memegang tangan simo yang berada di sampingnya.
Melihat namila cemberut karena takut, simo tersenyum tipis lalu berkata, “jangan takut, ini masih siang. Aku dengar hantu tidak akan muncul saat siang hari seperti ini.”
“Bukan karena itu! Kau lihat, jendela-jendelanya terlihat hitam seolah terbuat dari kaca hitam yang tidak tembus pandang, aku merasa ada pirasat buruk yang akan terjadi dari jendela-jendela itu.”
Saat mendengar jendela, simo memandang semua jendela dan mengamatinya satu persatu. Memang benar ada yang aneh dari jendela tersebut, tapi simo tidak mengetahui apa yang di sembunyikan dari balik jendela tersebut.
“Cih, dasar penakut.” Ejek anulika dengan wajah tidak suka kepada Namila. Dia menyilangkan kedua tangannya seraya melihat jendela. Meski dia berkata seperti itu kepada namila, dia tentu tidak menganggap hal itu remeh.
“jika kau pemberani, seharusnya kau saja yang masuk dan menyelamatkan para tahanan!” ujar Namila tidak suka mendengar perkataan anulika.
Kedatangan mereka ke gedung ini, tidak lain karena ingin menyelamatkan para tahanan dan teman-teman mereka. Mereka memanfaatkan kekacauan yang ada untuk menyelamatkan para tahanan. Selain itu, latif, ketua organisasi dan orang yang paling kuat tengah bertarung.
Mereka memiliki rasa percaya diri untuk melakukannya setelah menghabisi beberapa orang berjubah dari gedung dengan diam-diam. Mereka juga sudah mengamati semua sudut ruangan dengan kekuatan simo, sehingga mereka lebih yakin untuk keberhasilannya.
Meski begitu, mereka masih waspada dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Karena ini adalah tempat yang sangat penting, tentu saja memiliki keamanan yang tidak rendah.
Simo mengeluarkan pedangnya. Dia mengambil ancang-ancang, kemudian melemparkannya seperti gangsing ke salah satu jendela.
__ADS_1
Dam benar saja, sebuah rantai melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Anulika dengan sigap melompat mundur, sedangkan simo memegang pinggang namila melompat lalu mengambil pedangnya kembali yang muncul lewat jendela yang satunya lagi, lalu melompat mundur seiring muncul rantai yang satunya lagi.