Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 36 meminta bantuan


__ADS_3

Desa padang pasir merupakan salah satu desa ujung barat kekaisaran gunung salju. Desa ini terletak di pinggir pantai dengan semua keindahan dan keasrian sumber daya lautnya, wajar jika sebagai besar penduduknya bermata pencarian sebagai nelayan dan sebagiannya lainnya Memilih menjadi pedagang yang berkeliling menjual hasil laut.


Di sebelah baratnya tidak ada lagi negara atau sejenisnya, hanya ada beberapa pulau-pulau kecil yang salin terhubung dengan jembatan yang selalu di ganti beberapa tahun oleh penduduknya.


Setiap hari penduduk desa padang pasir mendapatkan hasil laut yang sangat melimpah. Hal itu membuat para penduduknya makmur dan bahagia.


Namun hal itu tentu tidak akan bertahan selamanya dan mereka tahu, sehingga para penduduk melestarikannya dan tidak menangkap secara besar-besaran. Oleh karena itu para penduduk mulai menjangkau lautan yang lebih luas dan mulai berpenghasilan lebih besar lagi.


Tapi tidak sesuai harapan mereka, meski mendapat penghasilan besar, mereka harus menanggung risiko tinggi. Selain badai dan curah hujan yang tinggi ada sesosok makhluk yang cantik seperti malaikat.


Sosok itu memiliki kulit seputih dan seindah awan, wajah yang cantik, rambut panjang terurai, wajar saja membuat penduduk terlena dengannya, tapi kenyataannya makhluk itu merupakan pembunuh yang keji.


Setiap orang mendekat maka makhluk itu akan membakarnya tanpa siksa. Makhluk itu adalah siren yang memiliki wujud wanita cantik yang selalu memainkan arpa setiap kali mereka muncul.


Tujuannya, tidak lain membunuh manusia sebayak mungkin yang mereka bisa. Biasanya suara petikan arpa itulah yang membuat setiap orang seperti terhipnotis olehnya dan memutuskan untuk mendekatinya, walaupun sedang ada badai ataupun tidak.


Beberapa kali mereka muncul dan membuat para penduduk Khawatir dan takut dengannya, sehingga sekarang di bawah langit cerah, ombak yang selalu membasahi pasir dan angin yang berderu-deru mereka berkumpul membicarakan rencana penyerangan melawan para siren itu.


“Hari ini, di hari yang baik ini kita akan pergi ke lautan melawan para siren biadab itu! Entah kita berhasil ataupun tidak kita harus mencobanya!”


Seorang gadis cantik berdiri menghadap beberapa warga dengan tatapan tajam dan penuh kebencian. Gadis itu memiliki wajah oval seperti telur dan rambut panjang terurai. Dia adalah orang yang ingin melawan para siren.


Semua orang terdiam, tidak ada yang memiliki respon positif ataupun negatif, hanya keragu-raguan yang menghiasi wajah mereka.


“kalian tidak perlu khawatir Walau kita mati, kita harus berhasil memberantas para siren itu dan mengembalikan semuanya seperti sediakala. Selain itu melawan mereka adalah Perjuangan masa depan para anak-anak kita dan cucu kita. Apa kalian mengerti!”


Semuanya masih terlihat ragu, yang membuat gadis itu kesal dan menyentuh keningnya. Dia tidak menyangka sulit sekali mengobarkan semangat perjuangan melawan para siren yang telah merebut kebahagiaannya beberapa tahun, padahal itu juga untuk kepentingan semuanya.


Walau dia terlahir sebagai anak kepala desa, dia masih tidak memiliki pidato dan suara yang mampu membangkitkan semangat perjuangan. Gadis itu hendak berkata lagi, tapi sesuatu yang aneh terjadi.


Tiba-tiba saja langit menjadi gelap gulita dengan petir menyambar ke segala arah, membuat gadis itu dan sebagian penduduk heran seraya mengerutkan keningnya, sebagai lagi bergumam bermacam-macam seraya menyelamatkan diri.


Tidak beberapa lama semua penduduk berlarian menyelamatkan diri, mereka seperti di lempari ular.


Gadis itu lagi-lagi hendak berbicara, tapi sebuah pusaran muncul di sampingnya dan mengeluarkan dua orang yang satu laki-laki dan satunya lagi perempuan.

__ADS_1


Setelah mereka keluar langit tiba-tiba saja kembali cerah seperti tidak terjadi apa-apa.


Mereka yang keluar tidak lain simo dan namila dalam wujud aslinya, tanpa dia sadari. Entah kapan dia kembali ke wujud aslinya.


Setelah simo dan namila mengusap-usap kepala dan kakinya terasa sakit, akibat membentur platform yang lumayan keras. Mereka terlihat kebingungan dan memandang sekitar.


“S-siapa kalian!” pekik gadis di sampingnya dengan ragu-ragu. Dia tidak bisa membayangkan entah apa yang terjadi di sampingnya sekarang. Sebuah pusaran mengeluarkan dua orang itu sang aneh baginya. Apalagi dia belum pernah melihat hal-hal seperti itu selama hidupnya.


“Bisakah kau menjelaskan di mana ini?” tanya simo.


“hah!? Apa yang terjadi dengan kalian? Apakah kalian orang jahat?”


Namila tertawa kecil setelah melihat wajah gadis itu yang menang lumayan lucu saat mengatakan itu, tapi dia berusaha menutupinya dengan kedua tangannya. Walau begitu tetap saja karena jaraknya lumayan dekat gadis menjadi kesal dan marah.


“Hey! Aku bertanya!?”


“kami dari kota gunung salju, tapi karena ada sebuah musibah kami sampai di tempat ini. Kau tenang saja, kami orang baik dan kami bersedia membantu jika itu di perlukan.” Jawab simo sebisa mungkin hormat. Dia juga memberi tanda namila untuk diam dan meminta maaf.


Tapi namila tidak melakukan. Dia tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan simo.


“Namaku simo dan dia namila temanku.”


Namila hendak mengangguk, tapi dia terkejut dengan perkataan simo dan hendak membantah, tapi setelah melihat kakinya selembut salju, dia terkejut. Bagaimana bisa dia kembali tanpa keinginannya? Padahal kakek sudah mengatakan penyamarannya akan kembali sesuai keinginannya, entah itu saat energinya habis atau pun tidak.


Namila baru menyadari mengapa Pria gemuk tadi mengatakan gadis cantik kepadanya, ternyata dia sudah kembali ke wujud asli saat itu. Menurut pemikiran namila pasti ada hubungannya dengan waktu saat dia beristirahat atau saat berlari.


“Oh, begitu salam kenal.” Ujar ayu seraya melambaikan tangannya. Simo dan namila mengangguk.


“kau tadi berkata akan menolongku apa pun itu kan?” tanya ayu dengan nada lemah seperti mengandung kesedihan di dalam kata-katanya. Kedua mata redup saat mengatakan itu dan sepasang tangannya di letakan di perut saling menyilang.


Simo ragu-ragu mengangguk, sebab dia takut akan mengecewakan sosok gadis di depannya. Meski simo Kurang mengerti apa yang di rasakan ayu, dia sangat yakin jika itu bukanlah sesuatu yang baik.


“aku akan ikut membantu.” Ujar namila tersenyum.


Setelah itu, ayu mengantarkan simo dan namila ke rumahnya. Tanpa memperdulikan para penduduk yang sudah lari entah ke mana.

__ADS_1


Setelah tiba gadis itu langsung membuatkan dua cangkir teh.


Awalnya simo tidak mau, karena khawatir ayu akan memasukkan sesuatu ke dalam tehnya. Walau ayu terlihat orang baik, simo tidak gampang percaya, terlebih lagi dia mengingat kejadian bertemu Amelia yang ternyata rani yang menyamar.


Tapi namila sangat keras kepala, dia sangat ingin mendapatkan teh. Simo sudah mengisyaratkannya, tapi dia tidak memperdulikannya. Akhirnya simo dengan terpaksa ikut dengannya.


“Tenang saja aku bukan orang jahat kok.” Ujar rani yang melihat kewaspadaan simo.


“Kau dengar.” Timpa namila.


Simo menarik nafas panjang lalu mengangguk.


Setelah dua teh di hidangkan, simo menanyakan apakah teh itu mengandung racun Kepada kaisar pedang.


“Emm, kau aman meminumnya.” Jawab kaisar pedang yang membuat simo lega. Apalagi namila sangat keras kepala hari ini, padahal simo sudah mengisyaratkan untuk menunggu konfirmasi untuk meminumnya, tapi dia tidak memperdulikannya. Entah apa yang terjadi jika teh itu memiliki racun.


“Sekarang kau bisa menceritakan apa yang terjadi kepada kami.” Tanya simo kepada ayu sesudah meminum sedikit teh hangatnya.


“ah, Iya.”


Ayu menceritakan dirinya adalah seorang anak kepala desa terdahulu. Ibunya meninggal beberapa tahun dan ayahnya mati karena mendekati siren di tengah lautan.


Siren itulah yang menjadi masalah yang dia hadapi, selain sulit untuk di kalahkan, para penduduk seperti tidak berdaya setelah mendengar petikan arpa yang di mainkannya. Oleh karena itu sudah banyak para penduduk menjadi korban dan ayu sangat membutuhkan bantuan simo dan namila.


“jadi begitu?” Tanya simo seraya duduk dan meminum secangkir teh yang telah di persiapkan.


“iya, aku mohon bantu kami. Meski sedikit aneh meminta bantuan kepada orang asing, aku percaya kalian tidak akan mengecewakan kami.” Ujar ayu Seketika bertekuk lutut.


“apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu melakukan itu. Bangunlah.” Kata namila berdiri dan mengangkat ayu.


“t-terima kasih.”


“Kami akan bersedia membantu kalian. benarkan simo?” namila menoleh simo yang langsung di jawab anggukan olehnya.


“Kalian memang baik.”

__ADS_1


__ADS_2