Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 54 jiwa


__ADS_3

Namila terkejut dengan gadis itu, namun setelah sadar, dia langsung membantunya berdiri.


Gadis ini perlahan-lahan membuka matanya. Tubuhnya kini terlalu lemah. “t-terima kasih.” Bahkan mengucap itu, dia memerlukan separuh dari tenaganya.


“bukankah kau anulika!?” setelah menoleh dan mencermati wajah gadis di sampingnya, namila menyimpulkan itu adalah Anulika.


Karena dia memakai baju yang tebal dan bulu-bulu di lehernya, serta di topinya, membuatnya tampak orang lain.


“ternyata kau mengenaliku.” Anulika tersenyum sebelum akhirnya menutup matanya dan pingsan.


‘Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana bisa dia berada di sini?’ beragam pertanyaan muncul di pikiran namila ketika dia membawanya masuk.


...****************...


Di akademi, pertarungan terus berlanjut hingga bala bantuan keamanan muncul. Rani, nayaka dan dara, terpaksa harus mundur dan berusaha lari dari kejaran para pasukan keamanan. Padahal sebentar lagi mereka akan mengalahkan musuhnya.


Setelah tiba, sebagian dari mereka di kerahkan untuk membantu para korban yang sebelumnya bertarung.


Lasmaya cepat-cepat pergi mencari simo, sedangkan Carissa dengan cepat memakai penyamarannya. Dia lalu membantu Talina yang pingsan karena kelelahan, dan menginstruksikan beberapa orang untuk membawanya. Dia juga menjelaskan Talina pingsan karena terkena dampak dari serangan musuh, bukan karena kehabisan energi.


Hal itu dia lakukan untuk menghindari ketertarikan orang banyak untuk mencari tahu lebih dalam mengapa Talina bisa melakukannya. Selain itu, dia juga ingin melindunginya dari orang-orang jahat yang mengincarnya.


Petugas yang mengurusinya hanya mengangguk tanpa curiga sedikit pun.


Sementara Klarika akhirnya kembali bersama Anna dan Camila dalam keadaan aman.


Di sisi lain Hoshi juga sudah di rawat oleh seseorang yang sebelumnya di perintahkan dira.


Maka semuanya pun mendapatkan pengobatan.


...****************...


“kenapa anda bisa sampai seperti ini?” kata Pietro seraya menyerahkan secangkir minuman hangat kepada anulika.


Anulika mengambilnya. “ceritanya panjang, aku tidak ada waktu untuk mengatakannya. Kau pasti tahu apa yang terjadi di sini?”


Anulika memejamkan matanya dan menikmati Setiap tetes air yang masuk ke dalam mulutnya.


Tidak jauh dari mereka, simo dan namila berdiri. Mereka terlihat bingung dan aneh. Bagaimana bisa Anulika muncul di tempat ini, tanpa terluka sedikit pun? Tapi meski begitu, mereka lega karena anulika berhasil lolos dari kematian.

__ADS_1


Pietro mengangguk. “ dia berubah.”


“aku tahu. Ini pasti karena penelitian yang telah mereka lakukan.” Kedua mata anulika memerah karena marah, gelas di tangannya tanpa sadar di genggam erat.


“anda tenang dulu, aku telah menemukan tempat di mana jiwanya di segel. Kita harus berusaha membebaskannya, demi mencegah hal-hal buruk terjadi di kedepannya nanti.”


“kau benar.”


“simo.” Panggil anulika.


Simo langsung mendekat bersama namila, sedangkan Pietro memilih undur diri karena Tidak di perlukan lagi.


“kita harus pergi sekarang.” Nada anulika dan wajahnya sangat serius seperti tidak bisa di bantah.


Simo mengangguk. Meski dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dia tahu, situasinya sedang buruk dan tergesa-gesa.


“tapi, kau masih sakit.” Saran Namila.


“Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah mati.”


“Mati!?” Ucap serentak simo dan Namila. Mereka tidak menyangka anulika sudah mati, padahal kini anulika duduk di depannya, bahkan wajah dan tubuhnya masih dapat di sentuh.


“Iya, tapi tidak Perlu di bicarakan lagi.” Mendengar reaksi simo dan namila, anulika tidak ingin membicarakannya lagi.


Selain itu, Pietro juga sudah memberitahu informasi mengenai tempat yang harus mereka tuju. Namun hanya anulika saja yang di beritahu, sedangkan simo dan Namila tidak, entah apa alasannya.


“semoga berhasil.” Ucap Pietro seraya menyerahkan pedang simo.


“Iya paman.”


“tolong selamatkan dia, dan kembali dengan aman.”


Simo mengangguk, meski tidak tahu.


Mereka lalu pergi dengan anulika sebagai pemimpin, kemudian di susul Namila, lalu simo.


Pietro tersenyum melihat tiga remaja itu perlahan-lahan menghilang dari badai salju yang dingin itu.


“semoga kalian berhasil.”

__ADS_1


Dia lalu menutup pintu.


Di luar memang sangat dingin, deru salju yang di tiup, membuat siapa saja akan enggan untuk keluar dan memilih tidur dengan selimut yang hangat dan hibernasi seperti beruang.


Butiran-butiran salju terus menari-nari ketika rombongan Anulika terus bergerak. Mereka tampak kesulitan untuk menghadapi perlawanan angin kencang.


Untung saja mereka memakai jaket tebal dan energinya untuk menghadapinya. Jika tidak, mereka pasti sudah kedinginan dan sulit untuk melanjutkan lagi.


Anulika tampak tidak kesulitan, namun, dia berjalan lambat, sementara namila dan simo yang tidak memiliki pengalaman seperti ini, membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Apalagi butiran-butiran salju yang tebal membuat mereka kesulitan untuk melihat.


Mereka kini berjalan mendaki bukit yang berada jauh di belakang perumahan. Waktu yang mereka sudah habiskan sehari untuk melewati pemukiman yang sepi itu.


Keringat dingin terlihat di pelipis mereka atau juga ada yang baru muncul.


Di sekitar mereka pohon-pohon cemara tumbuh subur, namun tidak lebat.


“Anulika, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Namila di dalam deru angin dan salju yang dingin itu. Dia sudah menahan lama untuk bertanya seperti itu.


Awalnya ketika sudah di luar, dia ingin bertanya, namun dia terus undur karena ingin menikmati pemandangan di sekitarnya.


“Aku akan mengatakannya nanti.” Jawabnya tidak menoleh dan tetap berjalan.


Namila tidak bertanya lagi, dia memilih diam dan mengusap-usap salju di bulu matanya. Meski dia penasaran, dia juga tidak mau membuat anulika terganggu olehnya.


Simo hanya diam dan berusaha berjalan, mendaki gunung.


Ketika angin reda, mereka sudah tiba di atas bukit. Di sana ada gua yang dipenuhi bunga- bunga ungu yang tumbuh di sekitar lubang. Karena musim ini musim dingin, kelopak-kelopak bunga itu tertutup salju, Namun masih terlihat warna ungunya.


“kita akan beristirahat di sini.” Kata anulika ketika memandang mulut gua itu.


Aura dingin menyebar seperti gelombang mengarah ke dalam gua. Anulika ingin memastikan gua itu aman dari beruang atau hewan lainnya yang mengancam keselamatan mereka.


Setelah di rasa aman anulika menoleh ke arah namila dan simo, lalu mengangguk.


Yang paling awal masuk adalah anulika, Simo dan namila mengikutinya.


Setelah berjalan beberapa langkah dari mulut gua, mereka memutuskan untuk menyalakan api, dan kemudian beristirahat. Tentu saja, simo yang menyalakan api, dia melakukan tanpa kesulitan apa pun.


Mereka lalu makan dan beristirahat. Yang paling cepat tertidur adalah namila. Dia tidur di pangkuan simo dengan meringkuk. Simo memegang tangannya dan menyalurkan sedikit api untuk membuatnya nyaman.

__ADS_1


Meski simo ingin menghemat energinya, dia tentu tidak akan melakukan, jika itu menyangkut Namila.


Nafas namila sangat lembut ketika tidur, seolah dia merasakan kenyamanan dan ketenangan, bahkan wajahnya juga lembut dan indah. Simo memandang seraya tersenyum


__ADS_2