Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 23 pria paru baya


__ADS_3

“tidak. Sepertinya aku harus mengeluarkan kekuatanku lagi." Jauzan lalu melesat dan mengeluarkan 10 pedang airnya untuk menyerang. Namun seperti ada yang menghalangi pedang-pedang itu hancur seketika sebelum mengenai Sakya.


“Kau tidak akan bisa menyerangku dengan pedang lembek seperti itu!” Ujar Sakya seraya berjalan terus mendekat. Ekspresinya sekarang lebih kejam dari serigala lapar. Kedua matanya memerah seperti mengandung kebencian yang mendalam.


Setiap langkah kaki yang dia lakukan, itu akan meninggalkan jejak seperti jejak terbakar.


Klarika yang menyadari ada yang aneh dengan segera membuat pelindung 3 lapis untuk menahan serangan dan aura yang di pancarkan pedang Sakya. Selain melenyapkan kehidupan di sekitarnya, aura pedang itu juga menimbulkan sesak bagi seseorang yang tidak mampu menahannya.


Wulin yang tidak jauh berada, merasakan kekuatan yang mengerikan di pancarkan oleh pedang itu. Dia sekarang gemetar dan berusaha menahan aura yang di pancarkan oleh Sakya. “apakah ini kekuatan Sakya yang sebenarnya?” Batin Wulin seraya menahan aura sebelum akhirnya tidak sadarkan diri dan segera Klarika menolongnya.


Wuss trangkk!!!


Jauzan menyerang Sakya dengan kecepatan yang lebih tinggi, namun seperti serangan anak kecil, Sakya dapat dengan mudah menahannya. Bahkan dirinya tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.


“bagaimana bisa?” batin jauzan.


“maaf ya siswa baru kau harus mati!” Sakya berhasil mencengkeram leher jauzan dengan kecepatan yang sangat tinggi.


“ahahaha!” tawa Sakya seraya melihat jauzan yang berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya. Dia juga berusaha mengeluarkan teknik-teknik airnya, namun seperti berada di suhu yang panas, saat tekniknya terbentuk tiba-tiba saja meleleh.


“Matilah!!”


Plak duar!!!


Saat Sakya hendak mencengkeram dan mengakhiri hidup jauzan tiba-tiba saja simo muncul dan menghantam dadanya dengan keras. Awalnya Sakya tersenyum melihat serangan simo. Dia mengira serangan simo hanya gigitan nyamuk saja, tetapi tidak sesuai prediksinya. Dia terlempar beberapa meter hingga menabrak dinding pelindung lapis 1.


“Apa kau tidak apa-apa?” Tanya simo seraya memegang tubuh jauzan yang terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar. Saat memegangnya seperti radar, jantung simo berdetak lebih kencang dan juga simo dapat merasakan tubuh jauzan kecil dan lembut seperti perempuan.


“M-maaf aku tidak bisa.” Ucap jauzan dengan nada parau sebelum akhirnya pingsan. Meski jauzan di katakan cucu dari kepala sekolah dan memiliki kekuatan yang kuat, dia belum bisa menahan kekuatan Sakya. Bahkan hanya sekali serangan saja itu hampir membunuhnya. Itu menandakan pedang itu memiliki kekuatan yang kuat.


“kalian pergilah, biar ibu yang akan mengani ini.” Ucap Klarika seketika muncul di depan simo dan jauzan. Dari tangan Klarika muncul pedang tanah yang panjang dan langsing.


Mendengar itu, simo mengangguk lalu pergi dari sana dan tidak beberapa lama dia kembali lagi.


“Bukankah ibu sudah bilang pergilah, kenapa kau kembali?” tanya Klarika dengan heran.


“Maaf bu Klarika, aku ingin membantumu” ucap simo dengan wajah serius. Bagaimana pun jauzan adalah temannya. Jika ada temannya terluka tentu saja simo tidak tinggal diam. Selain membalaskan apa yang telah Sakya perbuat, simo juga ingin bertarung dengannya. Apalagi jika sekarang Sakya memiliki kekuatan pedang yang melegenda itu.


Melihat keseriusan simo, Klarika hanya bisa menghela nafas dan mengizinkannya.

__ADS_1


“apa kalian sudah selesai diskusikan?”


Saat Klarika dan simo menoleh, tiba-tiba saja Sakya melempar pedangnya yang seketika refleks Klarika dan simo menghindar ke samping. Walaupun menghindar beberapa sudut baju simo dan Klarika terbakar.


“sudah aku duga, pedang itu telah mengendalikannya.” Batin Klarika dan melihat aura mengerikan terpancar dari pedang Sakya yang kembali ke tangannya.


Simo melihat itu menjadi lebih bersemangat untuk melawannya sehingga memutuskan untuk melesat. Walaupun Klarika menyuruhnya berhenti dia tidak memperdulikannya.


“siswa baru, kau tidak perlu terburu-buru seperti itu untuk merasakan pedangku ini, karena kau akan merasakannya segera. Ha-ha-ha!” saat mengatakan itu Sakya menghunuskan pedangnya ke tanah dan segera aura merah darah muncul lalu membentuk sosok moster yang besar dan melindungi Sakya seperti amor.


Monster itu berwujud aura dan hanya setengah badannya saja yang terbentuk. Monster itu memiliki kepala dengan dua tanduk panjang. Di tangannya ada pedang besar dengan aura kematian yang mencekam


Monster itu menebaskan pedangnya ke tanah, tepat ke arah simo yang melesat.


Bomm!!!


Ledakan aura pun terjadi dan menyebabkan pelindung lapisan pertama hancur berkeping-keping dan meninggalkan lubang di tanah. Namun simo tidak terlihat di sana membuat Sakya terkejut dan Klarika menghela nafas lega.


Wuss trangkk!!


Simo muncul di belakang Sakya dan mengayunkan pedangnya, tetapi dengan cepat moster itu Menahannya.


“menarik, menarik!” ucap Sakya seraya bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai melihat simo berusaha menahan pedang aura merah besar dan tentu saja simo terlihat sangat kewalahan.


“Maaf ya siswa baru, kau harus mati!”


Bomm!!!


Simo menghantam tanah dan menyebabkan lubang. Saat menghantamnya simo dapat merasakan tulang punggungnya patah dan retak.


“Matilah!”


Monster itu mulai mengayunkan pedangnya ke bawah.


Simo secara refleks menghindar walaupun tubuhnya sakit dia tetap berusaha menghindar dan kembali menyerang monster itu, akan tetapi beberapa kali pun dia menyerangnya moster itu dapat dengan mudah menahannya. Bahkan beberapa kali moster itu dapat mengenainya dan membuatnya terluka.


Klarika yang melihatnya itu berusaha menyerangnya dengan berbagai ayunan pedang, tapi itu masih tidak mempan dengan moster itu, sehingga Klarika ingin menggunakan teknik terkuatnya.


Yaitu bola meteor. Dia mengangkat kedua tangannya. Perlahan-lahan tanah di sekitar terangkat dan menjadi bola tanah yang besar, bahkan ukuran setara dengan ukuran Monster itu.

__ADS_1


“simo!” pekik Klarika mengisyaratkan untuk menyerang Sakya dan membuatnya sibuk.


Simo mengangguk dan mengeluarkan bola-bola api biru beberapa kali. Walaupun bola api itu kecil, itu sudah bisa memberikan kerusakan pada moster itu. Simo kemudian mengeluarkan busur api dan meluncurkan ribuan panah-panah api.


“Aku tidak akan terkecoh!” ujar Sakya yang menyadari simo ingin membuatnya terkecoh dan sibuk, sementara Klarika terus memperbesar bola tanahnya.


“sepertinya kau harus mati sekarang siswa baru!” Sakya mencabut pedangnya kemudian melesat dengan kecepatan yang tinggi, yang membuat simo tidak sempat mengetahui pergerakannya.


“mati!”


Bomm!!!


Satu serangan Berhasil mendaratkan di tubuh simo dan membuat debu-debu beterbangan. Sakya mendarat dan tersenyum sebelum akhirnya berubah kecewa setelah melihat simo masih hidup, walaupun dia sudah menyerang dengan kekuatan penuh.


“sungguh menarik, sungguh menarik, tapi maaf keberuntunganmu sampai di sini saja.” Monster itu mulai mengayunkan pedangnya. Saat pedang itu terayun, angin begitu besar terbentuk yang menyebabkan debu-debu dan pasir beterbangan.


Simo yang melihatnya berusaha berdiri dan hendak menggunakan api birunya lagi, Namun saat hendak menggunakannya, tiba-tiba saja moster itu berhenti mengayunkan pedangnya. Simo menoleh melihat Klarika sudah menyentuh punggung Sakya dan ada segel aneh terbentuk dari tangannya.


Simo ingin menghampirinya, tapi sekarang tubuhnya sangat kelelahan. Selain menguras tenaganya akibat menahan serangan Sakya. Dia juga harus menahan tekanan yang begitu kuat, sehingga wajar saja dia akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.


...****...


“Dasar bodoh, kenapa kau harus melawannya.” Ujar seorang perempuan yang tidak jauh dari simo. Suara itu sangat simo kenal, suara orang yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang dan merasakan kasih sayang.


Perlahan-lahan simo membuka matanya, dia dapat melihat namila yang menyembuhkan. Dia ingin memanggil, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk sekarang, sehingga dia hanya bisa melihat namila yang berusaha menyembuhkannya dan akhirnya kembali tidak sadarkan diri.


Saat membuka matanya kembali, simo seketika berada di hamparan Padang rumput yang luas. Dirinya bingung lalu menoleh ke sana sini dan menemukan seorang pria paru baya sudah berada di belakangnya dan membuatnya tersontak kaget.


Pria itu memiliki rambut pirang putih dan pedang di punggungnya.


“siapa kau?”


“jangan terkejut seperti itu. Aku tidak akan melukaimu.” Pria itu, kemudian duduk.


“di mana ini?”


“kau berada di alam mimpimu sendiri. Seharusnya kau mengetahuinya.”


...****...

__ADS_1


jika ada typo mohon di beritahu ya.


jangan lupa like dan komentar nya biar author semangat nulisnya.


__ADS_2