Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 4 akar-akar beracun


__ADS_3

“t...tuan aku tidak bisa...” Jawab penduduk di depan dengan tangan dan tubuh gemetar karena takut.


“Ah?” Prajurit itu langsung menarik pedangnya. “Aku tidak mau tahu, pajak harus di bayar. Jika tidak, maka matilah!!” Prajurit itu langsung menarik pedangnya, lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga.


Penduduk itu memejamkan matanya karena takut. Di dalam hatinya dia terus berdoa demi keselamatannya yang sudah di ujung tanduk. Beberapa detik berlangsung, bilah pedang itu tidak mengenai lehernya. Bahkan angin yang tadinya terasa, kini menjadi lebih tenang.


Saat pendudukan itu membuka matanya, dia terkejut dengan sosok wanita berdiri di depannya seraya menahan pedang prajurit itu dengan satu tangannya tanpa kesulitan sedikit pun.


Prajurit dan irina terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Apalagi sepertinya memiliki kekuatan yang tidak bisa di pandang remer.


Walau begitu, prajurit itu tidak memperdulikannya, dia dengan kasar ingin menarik pedangnya, tapi tidak sedikit pun bilah pedangnya tertarik. Dia mencobanya dengan kedua tangannya, tapi lagi-lagi tidak membuahkan hasil.


“Beraninya kau menindas penduduk.” Kata dira dengan tatapan dan nada yang tajam.


Irina mengerutkan keningnya, mengingat siapa wanita di depannya. Dia seperti mengenal nada dan bentuk wajahnya, tapi dia tidak tahu di mana. Yang pasti wanita di depannya bukanlah berasal dari keluarga yang rendah.


Dira langsung mengangkat tangannya dan merapatkannya, seperti bilah pedang, lalu dengan kecepatan yang tinggi memotong bilah pedang prajurit. Prajurit itu terkejut, lalu ingin segera menyeimbangkan tubuhnya, namun, dia terlambat. Dia akhirnya terjungkal ke belakang.


Dengan bibir gemetar dan tidak percaya, dia memandang pedangnya yang hanya tersisa sepotong. Bahkan potongannya sangat rapi, seperti di potong oleh sesuatu yang sangat tajam. Bahkan melebihi tajam sebuah pedang.


Tidak hanya prajurit itu saja yang terkejut, irina yang berada tidak jauh darinya sedikit terkejut dengan kemampuan wanita di depannya ini. Selain itu, dia juga merasakan aura pembunuhan yang kejam mengalir ke segala arah darinya.


Para penduduk terlihat takut, namun mereka tidak bisa kabur. Bahkan yang paling depan tidak bisa mengontrol tubuhnya; kedua kakinya gemetar, kedua matanya terbuka lebar dan terakhir bibirnya yang rapat-rapat tertutup bergertak. Jika dia bisa lari, maka sudah dari tadi dia melakukannya.


“K-k-kau siap?” tanya prajurit itu seraya mundur. Kini dia menyadari orang di depannya bukanlah orang tepat dia propokasi.


Dira tersenyum menyaksikan wajah ketakutan prajurit itu, tapi dia belum puas jika belum melihatnya terpasang di wajah saudaranya. Dia menoleh dan berkata dengan meremhkan, “kakak, lama tidak berjumpa.”


Mendengar ini, irina terkejut. Dia mengerutkan keningnya, berpikir memeriksa semua saudaranya. Setelah mengingatnya, dia terkejut, lalu berkata tidak percaya, “Bukankah kau dira!?”


Dira tersenyum, “ternyata kakak masih mengingatnya.”


Irina seketika tersenyum meremehkan. “bagaimana tidak. Seorang putri yang selalu di siksa dan penuh dengan aib sepertimu. Patesan saja aku sulit mengingatnya, ternyata putri aib yang pernah aku jadikan boneka rupanya.”


Mendengar ucapan irina, wajah Dira tidak terlihat sedikit pun kemarahan, tapi sebaliknya dia menjawab dengan tegas, “karena aku seorang putri aib lah, aku harus mengingatkan kakak yang pelupa ini; yang sampai melupakan bonekanya sendiri hingga tumbuh sebesar ini.”


Ekspresi wajah Irina menjadi lebih rendah. Dia tidak menyangka adiknya yang pernah memohon dan menganggapnya penyelamatan bisa berkata seperti itu. Dengan cepat irina menatap perajut tadi yang masih ketakutan. “kau! Cepat pungut pajak sebelum malam semakin larut!”


“Baik. Baik.”


Setelah memberi hormat, prajurit itu mendekati dira dan memberi hormat. “Tuan putri, maaf atas kelancangan hamba. Bisakah aku menemungut pajak? Ini adalah aturan yang harus di taati semua orang di kerajaan ini.”

__ADS_1


“Tidak, sebelum aku bertemu ayahku sendiri.”


Prajurit itu hendak membalas, tetapi dira dengan cepat menoleh ke arah penduduk yang ketakutan dan berkata, “berapa harga pajak di sini?”


Penduduk itu bingung; entah menjawab atau tidak, sampai dira menjamin keselamatannya, barulah penduduk itu menjawab.


“ 50 gram emas.” Jawab salah satu penduduk ragu-ragu.


“Setiap kapan di bayarkan?”


Penduduk itu diam sejenak, kemudian menjawab, “ setiap bulan.”


“Apa kalian tidak mempunyai hati! bagaimana bisa mereka membayarnya dalam sebulan.” Ujar dira kepada prajurit dan irina, kemudian melanjutkan, “aku ingin bertemu ayah dan mencari keadilan Kepadanya.”


Dira ingin pergi, tapi irina menghentikannya dan berkata, “itu sudah menjadi ketentuan bertahun-tahun dan sudah resmi, kau tidak bisa menentangnya, itu sudah adil.”


“adil katamu? Lihatlah mereka, Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah. Apalagi membayar pajak dengan emas. Seharusnya kau membantu mereka dalam kesusahan seperti ini.”


“Itu salah mereka yang tidak becus mencari pekerjaan. Bayar pajak juga untuk kepentingan mereka dalam membuat pertahanan negara menjadi aman.”


“baik, jika mereka memiliki uang untuk membayarnya, tapi lihatlah, mereka semua tidak mempunyai sepeser pun uang itu membayarnya.”


Melihat irina terdiam, dira langsung memerintahkan orang-orang untuk pergi. Tapi, tidak satu pun orang berani pergi. Mereka hanya terdiam seraya memasang ekspresi wajah bingung.


“apa kalian tuli? cepatlah kesabaranku tidak banyak.”


Orang-orang mengangguk dan bubar. Walaupun Irina berteriak tidak boleh bubar, mereka tetap pergi dan tidak mempedulikan irina. Jelas sekali mereka lebih takut kepada dira ketimbang irina.


“kau harus Mempertanggung jawab atas perbuatanmu!!” ujar irina terhadap dira.


Dira dengan tenang menjawab, “aku hanya melakukan apa yang baik bagi kita semua.” Dira lalu melangkah pergi.


Wajah irina menjadi marah. Tatapan tajam seperti pisau tergambar di wajahnya. Kedua alisnya merajut. “setelah apa yang kau lakukan, kau ingin pergi begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya!”


Pedang prajurit di samping bergetar, lalu melesat. Dalam seperempat detik, pedang itu sudah di tangan irina. Tanpa berbicara, irina melesat mengarahkan pedangnya.


Saat setengah meter dari dira, tiba-tiba saja muncul akar-akar besar dari tanah, lalu menahan serangan irina.


Akar-akar itu memiliki cairan ungu di ujungnya, yang selalu menetes.


Menyadari cairan aneh itu, irina dengan cepat melompat ke belakang dan membiarkan pedangnya di lilit oleh akar-akar itu.

__ADS_1


‘apa itu racun!?’


“Kakak, jangan buang-buang tenagamu, aku akan pergi ke istana.” Kata dira tenang, kemudian melangkah maju.


Irina mau tidak mau membiarkan dira pergi. Kini dia bukan tandingannya. Apalagi sepertinya cairan itu adalah rancun. Menyentuhnya sekarang sudah susah, apalagi mengalahkannya.


Selain itu, dia sadar tidak mengetahui seberapa menakutkan dan mengerikan racun itu.


...****...


“Nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah prajurit Kepada dira.


“Aku ingin bertemu raja.”


“maaf, apakah ada janji pertemuannya dengannya?”


“Tidak, tapi aku adalah anaknya, sudah seharusnya bertemu tanpa janji ataupun jadwal.”


Mendengar ini, prajurit itu terdiam dan memandangnnya teliti. Memang secara penampilan dira bisa di sebut tuan putri, Tapi prajurit itu selalu menjaga gerbang, dan tidak pernah melihat dira sebagai tuan putri atau mendengar raja mengangkat seorang anak. Bahkan wajah dira terlalu asing baginya.


“Anak raja!?” ujar prajurit satunya lagi seperti tidak percaya apa yang dia dengar.


“Iya, namaku dira.”


“Dira?” ujar prajurit itu terkejut dan tidak menyangka.


“Apa kau mengenalnya?” tanya satunya lagi.


Prajurit itu mengangguk, “aku dengar yang mulia memiliki seorang putri yang membuat istri kesayangan meninggal saat persalinan, itu terjadi sekitar 30 tahun lebih. Karena kematian istrinya, yang mulia membenci putrinya, bahkan dia tidak pernah berbicara kepada Putri. Bukan hanya itu saja, melihatnya saja yang mulia tidak mau. Dia bernama dira.”


“apa kau sudah memastikannya?” temannya tidak percaya.


“aku sudah memastikannya. Aku mendapatkannya dari pelayan yang mulia, jadi kemungkinan salahnya sangat kecil.”


“jika begitu, aku tidak akan...”


Prajurit menghentikan kata-kata, karena akar-akar sudah berada beberapa cm dari lehernya.


Melihat itu, prajurit satunya lagi terkejut dan takut.


“jika kalian tidak membiarkanku masuk, maka jangan pernah berharap melihat anak dan istri kalian lagi.” Ancam Dira dengan nada serius dan terlihat ketidak pedulian di dalam matanya.

__ADS_1


__ADS_2