
Dengan menghela nafas, Klarika kembali menyapu semua Peristiwa yang ada di lapangan.
Setelah beberapa saat saling mendorong, akhirnya serigala kepala dua akhirnya meraung dan perlahan-lahan menghilang.
Kini hanya tinggal tombaknya saja yang terlihat. Tidak beberapa lama akhirnya tombak itu berhasil di pukul mundur.
Walau lais masih pusing, dia masih bisa melihat dengan jelas. Oleh karena itu, dia dengan cepat berlari dan meraih tombaknya. Karena dorongan begitu kuat, akhirnya dia terdorong beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
Nafas tergesa-gesa, keringat mulai berjatuhan dari rambutnya. Ekspresi redup mulai di perlihatkan di Wajahnya. Dia sudah tidak ada harapan untuk menang ataupun membalas semua perlakuan anulika kepadanya.
Lais juga tidak percaya, anulika adalah seorang anak jenius yang tersembunyi. Awalnya, karena anulika tidak pernah memperlihatkan kekuatannya, dia menganggap anulika adalah seorang gadis lemah, yang selalu memanfaatkan bawahannya, tapi ternyata anulika tidak mau berurusan dengannya. Itu adalah salah satu kesalah terbesar yang pernah dia lakukan.
“Apakah kau sudah mempersiapkan akhir dari pertemuan kita?” tanya anulika yang jelas-jelas mengejek lais.
Lais mengertakkan giginya. Dengan marah dia berujar, “suatu hari nanti aku pastikan akan mengalahkanmu dan mempermalukanmu, hingga kau tidak memiliki satu pun wajah yang layak kau pasang. Hari ini, walau aku kalah, tapi nanti kau pasti akan di kalahkan oleh orang lain! Di saat itu semua wajah kesombonganmu akan lenyap bagaikan es yang meleleh karena panas. Ingat itu!”
Mendengar itu anulika tersenyum, “benarkah? Tapi kenapa kau mengatakan hal yang belum terjadi, kenapa kau tidak berusaha menyelamatkan diri. Membungkuk dan memohon kepadaku, mungkin aku akan memberikan pengampunan, atau setidaknya mukamu tidak babak belur.”
“Mustahil!”
Lais berlari dengan cepat, walau kecepatan menurun, itu masih lebih cepat dari orang biasa berlari. Dengan tombaknya, dia ingin segera mengalahkan anulika, walau itu mustahil, tapi setidaknya dia berusaha melakukannya.
Sebelum mencapai anulika, dia harus berhadapan dengan Dewi es yang dingin.
Lais dengan segera bertarung dengan dewi es tersebut. Walau dengan udara yang semakin menekan dan membuat pusing, dia masih tetap berusaha melawannya.
Lais mengayunkan tombaknya ke segala arah, mencari celah untuk menyerang, tapi semua serangannya berhasil di tahan, bahkan dia sesekali terkenal serangan dewi es.
Sementara itu, Anulika dengan anggun memainkan serulingnya untuk mengendalikan dewi es. Tanpa itu, mustahil bertarung dengan lais yang ahli tombak.
Walau es itu dapat di hancurkan, tapi dengan kekuatan lais sekarang, dia tidak mungkin melakukannya.
Tidak beberapa lama, lais terpukul mundur, dia melawan lagi, namun lagi-lagi terpukul sebelum akhirnya dia terjatuh. Dia ingin bangkit, tapi mata tombak Dewi es sudah mengarah ke lehernya.
__ADS_1
“Kau sudah kalah!” ujar anulika.
Melihat itu, lais tidak bisa berbuat apa-apa, dia sudah kalah dan merupakan kekalahan yang sangat memalukan. Dengan wajah pucat, dia keluar lapangan. Dia menunduk dan terus memandangi tanah.
Walau dia tidak babak belur, dia merasakan malu yang besar.
Setelah itu, kai memerintahkan semua siswa untuk bubar, karena hari sudah sore, dia juga mengumumkan ujian akan di lanjutkan besok.
Semua siswa memperlihatkan ekspresi kecewa, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ingin melihat pertarungan hebat seperti itu lagi, tapi harus di tahan karena waktu.
Selain itu, beberapa siswa menghela nafas lega karena tidak di panggil, dengan begitu mereka bisa berlatih lagi dan mempersiapkan ujian yang akan datang.
“Bagaimana? Apakah siswaku hebat bukan?” ujar kai tersenyum puas dengan siswanya yang bertarung hebat di lapangan. Walau sebenarnya dia terkejut dengan kemampuan anulika, dia bangga dengan itu.
“Biasa saja.” Jawab Klarika, tapi di dalam hatinya, dia mau tidak mau harus tetap memuji siswa kai.
Dalam sebuah kelas, hal pertama yang terpenting adalah kualitas, hal itu banyak di miliki kelas B, tapi jika tanpa didikan yang baik, semua itu tidak ada gunanya, jadi karena kai adalah guru di kelas B, maka dia sudah dapat dikatakan berhasil menjadi guru yang baik. Tentu saja itu merupakan suatu kebanggaan baginya.
“kau jangan sombong dulu, ujian masih berlangsung.” Hendry ikut dalam percakapan.
“bilang saja kau iri.” Ujar kai kepada Hendry.
“tidak juga, lagi pula siswaku hebat-hebat juga, untuk apa aku iri.” Jawab Hendry berusaha tidak terpengaruh.
“Hahaha, sudah, sudah, jangan dipikirkan, ayo kita pulang.” Kata kai lalu merangkul Hendry.
Melihat kai dan Hendry pergi, Klarika memutuskan untuk pergi ke tempat terakhir kali simo dan namila pergi. Di dalam hatinya, Klarika masih berharap jika mereka bisa kembali dengan utuh.
Saat tiba, dia menghela nafas seraya bergumam, “kenapa aku harus ke sini? Bukankah hal itu tidak akan terjadi?”
Di dalam hati Klarika, dia masih berharap, tapi dia juga pasrah dengan semua yang telah terjadi.
Walau beberapa siswanya tidak kembali, itu bukan sepenuhnya salahnya, karena semua orang tua sudah menanda tangani perjanjian sebelum mereka memberikan putra putri mereka masuk ke akademi.
__ADS_1
Hal itu di lakukan supaya orang tua tidak menuntut tanggung jawab kepada pihak akademi, jika telah terjadi apa-apa dengan anak mereka.
Walau begitu, Klarika masih tetap merasa bersalah dan berusaha melupakannya. Sebagai seorang manusia, dia jelas tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang di dalam hidup, apalagi jika itu orang yang sangat berharga.
“Ah, aku harus cepat-cepat melupakannya.”
Klarika memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Saat beberapa langkah dia berjalan, seseorang memanggilnya. Dia terkejut dan dengan cepat berbalik.
“akhirnya kalian datang.” Ujar Klarika senang setelah melihat simo dan namila muncul. Kedua matanya terlihat bercahaya.
Dia dengan cepat memeluk namila dan simo dengan erat, layaknya seorang ibu memeluk anaknya atau, seperti seseorang yang telah lama tidak bertemu.
“Bu Klarika, kau terlalu erat memeluk kami.” Komentar namila yang sudah mulai kehabisan nafas.
Sementara simo, dia menikmati pelukan hangat itu. Dia juga tidak menyangka wali kelas memeluknya dengan erat dan sehangat ini. Awalnya simo takut Klarika akan menghukumnya setelah dia kembali, tapi hal itu sepertinya sudah terlalu berlebih-lebihan.
“Kalian membuatku takut.” Kata Klarika seraya meneteskan air mata.
Setelah beberapa saat berpelukan, Klarika melepaskan simo dan namila. Dia dengan cepat mengusap air matanya dan berusaha berperilaku seperti biasa di depan dua siswanya sekarang.
Simo dan namila hanya tersenyum melihat itu.
“Kalian telah terlambat beberapa hari, tapi karena sekarang masih ada ujian, jadi hukuman kalian ibu tunda.”
Mendengar ucapan Klarika, wajah simo lemas, dia tidak menyangka perubahan sikap wali kelas bisa secepat itu.
“Baiklah, karena sudah larut malam, ibu hanya bisa mengantar kalian untuk mendapatkan nomor.”
Simo dan namila mengangguk. Mereka kemudian di bawa Klarika ke tempat pengambilan nomor. Sepanjang perjalanan, Klarika menjelaskan semua hal mengenai ujian termasuk mengapa dia tidak terkejut setelah melihat namila.
Setelah mengambil nomor, simo dan namila akhirnya bisa beristirahat
__ADS_1