Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 17 latihan part 2


__ADS_3

Simo melesat dan namila lalu menembakkan gumpalan itu yang langsung di tebas oleh simo. Saat simo mengarahkan serangannya ke tubuh namila, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi air dan menghilang, lalu melayang di atas.


“kecepatanmu sungguh meningkat dari sebelumnya ya, tapi aku harus mengalahkanmu lagi, seperti dulu.” Namila melayang beberapa meter dari tanah. Segera setelah mengatakan itu, buih-buih air kembali bersatu, seperti di gerakan oleh satu pikiran. Buih-buih itu menari-nari melingkari tubuh namila.


Namila mengangkat satu tangannya, segera gumpalan air terbentuk. Gumpalan itu semakin membesar, hingga berukuran 10 dan membesar lagi.


Simo yang menyadari, jika gumpalan itu mengancamnya, oleh karena itu dia melesat dengan kecepatan yang tidak di bayangkan. Saat simo mengayunkan pedangnya, lagi-lagi tubuh namila berubah menjadi air dan muncul di belakang simo.


“Maaf ya kecepatanmu tidak berguna untukku.” Namila masih mengangkat tangan dan tentu saja gumpalan air itu masih ada, tapi sekarang gumpalan itu semakin membesar.


Ekspresi simo menjadi lebih serius, dia lalu melesat seperti elang, tapi lagi-lagi namila menghilang. Tidak mau kalah, simo terus melesat dan menyerang namila sesuai instingnya.


Beberapa kali itu terjadi, akan tetapi hasilnya tetap saja namila mampu menghindari simo. Meski begitu simo mulai memikirkan cara lain untuk melawannya. Selain itu, dia juga mengetahui jika Namila terus menggunakan teknik yang sama, kelak akan kehabisan energi dan tidak bisa menggunakannya.


“apa kau menyerah?” tanya namila yang masih melayang dan memandang simo yang sudah kelihatan kelelahan.


“Menyerah? Maaf kata itu tidak ada dalam kamusku.” Simo melempar pedangnya.


Pedang simo berputar-putar dan akhirnya berhenti saat hendak menebas namila. “kau lupa jika aku pengendali air. Seluruh air adalah senjataku di mana ada air di situ aku akan kuat, jadi selama ada itu kau akan kesulitan untuk melawanku. Apalagi kau tidak menggunakan energi mikrosmos melawanku, maka bersiaplah untuk kalah.” Namila melempar gumpalan air bersamaan dengan pedang simo.


Bomm!!!


Ledakan pun terjadi hingga menimbulkan asap jamur 10 meter. Ekspresi Namila yang sebelumnya tersenyum, kini berubah drastis setelah Melihat bayangan dan api biru di kumpulan asap Ledakan.


Perlahan lahan-lahan simo terlihat seraya menggenggam pedang dan gumpalan api biru. Ekspresi kini lebih dingin dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat. “maaf, tapi aku sekarang akan mengalahkanmu.” Seraya mengatakan itu, simo mengalirkan api birunya ke bilah pedangnya. Di sekitar simo sudah menjadi bekas ledakan tadi.


“Menarik.” Namila tersenyum setelah melihat perubahan simo yang drastis. Apalagi dia sangat mengenal sikap ini, sikap yang selalu dia temui saat di hutan.

__ADS_1


Simo menghilang sangat cepat, lalu muncul di depan namila dan mengayunkan pedangnya. Dengan refleks namila membuat dinding-dinding air dengan cepat. Meski dia bisa menggunakan teknik berubah bentuk akan tetapi pemakainya sangat terbatas dan tentu saja akan menguras energi namila dengan cepat.


Trangkk bomm!!!


Namila terpental, lalu menabrak tanah dengan keras dan menimbulkan lubang yang cukup besar.


Sedetik kemudian, Namila terlihat seraya batuk-batuk. “bagaimana bisa?” batin namila yang terkejut setelah menyadari serangan simo sangat kuat dan bahkan mampu mendesak dalam beberapa detik saja.


Tidak memberikan namila menarik nafas, simo menyerangnya dengan berbagai ayunan pedang. Simo sedikit senang setelah melihat namila yang terus mundur, karena tidak mampu menangani serangannya. Dia mulai menyadari jika kecepatan dan kekuatannya di satukan itu akan menimbulkan efek yang kuat. Apalagi di kombinasikan dengan api birunya, akan berkali-kali lebih kuat. Meski simo melakukan itu dengan kekuatan aslinya.


Tidak beberapa lama akhirnya namila melompat mundur, Karena semakin terdesak.


“kau ternyata lebih cepat berkembang dari yang aku pikirkan ya.” Kata namila dengan nada normal, seperti tidak merasa terdesak oleh serangan simo.


Simo melesat akan tetapi sebelum mencapainya namila, Namila secara refleks melayang lalu menusukkan pedangnya ke tanah. Seketika tanah bergetar dan retak. Selanjutnya air-air yang melimpah keluar dalam tanah, kemudian membentuk tentakel-tentakel yang besar dan panjang segera menerjang simo.


Memanfaatkan itu, namila mendekati simo seraya mengeluarkan pedang airnya. Nafasnya terengah-engah. Beberapa buih-buih keringat mulai bermunculan di pelipis namila. Pertarungan melawan simo memang merepotkan.


Namila menghujani simo berbagai teknik pedang. Dia tidak menyerang dari satu arah, melainkan berbagai arah dengan kecepatan tinggi bagaikan cahaya, tetapi simo yang merupakan ahli pedang bisa mengendalikan serangan Namila dan tentakel air yang terus keluar itu.


3 menit kemudian akhirnya kedua belah pihak mundur ke belakang. Nafas mereka terengah-engah. Keringat sudah membasahi tubuh mereka.


“aku akan mengakhirinya ini.” Kata simo lalu mempersiapkan pedangnya. Meski dia sudah kelelahan dalam fisik, dia masih bisa menggunakan api biru.


Menanggapi simo, namila menggelengkan kepalanya pelan lalu duduk. Seperti gadis itu sudah sangat kelelahan. “aku mengaku kalah.” Katanya dengan lirih.


“Bukankah latihannya baru beberapa menit?”

__ADS_1


“walaupun begitu aku sudah mengaku kalah, dan juga aku harus memberikan pelajaran dasar sihir. Apa kau tidak ingin belajar sihir?”


“baiklah, kalau begitu.” Simo mendekati namila. Apa yang Namila katakan memang benar.


Namila dan simo memutuskan untuk beristirahat seraya menikmati pemandangan langit dan kota di malam hari yang cerah. Ribuan Lampu-lampu kota menyebabkan suasana malam terasa lebih hangat.


Setelah sekian lama akhirnya namila bangkit dari duduknya. Gadis itu lalu meletakkan kedua telapak tangan di dada dan pada saat itu muncul buku kuno, kemudian kembali duduk. “ini adalah buku dasar cara menggunakan sihir. Di dalamnya sudah ada berbagai macam cara dan teknik-teknik sihir. Meski begitu aku akan tetap mengajarkanmu lagi, tapi sebelum itu aku ingin tanya apa kau tahu sihir itu apa?” Tanya namila sesudah memberikan buku itu.


Saat Namila mengatakan itu, simo sudah melihat-lihat buku itu yang memang sangat kuno dan berdebu. “aku tidak tahu pasti, kalau menurutku itu semacam energi mikrosmos yang di gunakan para ahli bela diri.”


“ah, sudah aku duga. Bisa dibilang begitu, tapi sihir memiliki beberapa perbedaan dengan energi mikrosmos. Pertama sihir itu tidak di bangkitkan, melainkan di latih, kedua, sihir itu tidak terbatas pada elemen saja, dan terakhir sihir lebih sulit untuk di pelajaran ketimbang energi mikrosmos.”


“aku akan mengajarimu teknik dasar dalam sihir. Pertama kau harus membayangkan jika ada energi yang keluar dari jantung, dan mengarahkannya ke tangan. Kau harus membayangkan jika kau ingin membuat sihir penyembuh, kau Harus membayangkan bagaimana bentuk obat dan bau dari obat penyakit itu. Apa kau paham?”


Simo mengangguk. Meski terdengar sulit untuk di lakukan, simo terlihat lebih bergembira, karena dia mendapatkan pengetahuan lagi tentang Dunia ini. Dia juga mengutuk dirinya, karena tidak membaca buku satu pun tentang dunia yang dia tempati sekarang.


Namila lalu mempraktikkan bagaimana cara mengeluarkan sihir. Dia menyentuh kulit pohon yang sedikit robek karena cuaca. Saat melakukan itu, namila mulai menjelaskan, bahwa saat melakukannya harus memiliki fokus yang tinggi, dan kejernihan pikiran yang tinggi juga.


Namila memejamkan matanya. Sedetik kemudian energi berwarna hijau keluar dari telapak tangan gadis itu. Beberapa detik kemudian, namila mengangkat tangan dan memperlihatkan kulit pohon itu sudah sembuh. “Sekarang coba kau lakukan.”


“Bagaimana cara melakukannya?” tanya simo ragu-ragu. Dia ragu-ragu untuk melakukannya. Apalagi namila berkata jika haru mengingat obat dan bau dari obat penyakit yang ingin di sembuhkan.


“Kau tenang saja.” Namila mengeluarkan bungkus. “ini adalah obatnya, kau lihat dan cium dengan baik ya.”


...****...


penulis off 2 hari

__ADS_1


__ADS_2