
Selain itu, para siswa yang berada tidak jauh dari pusat pertarungan, memilih lari dari awal setelah menyadari gadis kupu-kupu itu merupakan monster yang sangat mengerikan. Mereka juga tidak habis pikir gadis cantik nan mungil itu memiliki kekuatan sekuat itu, rasanya itu mustahil.
Sebelumnya, mereka pikir Tristan akan mengalahkannya dengan mudah, tapi perkiraan mereka sangat jauh meleset, bukan hanya Tristan yang kalah, tapi juga mati.
Sekarang 5 siswa bawahan Tristan berlari terbirit-birit dengan perasaan yang sangat takut. mereka takut jika sasaran gadis kupu-kupu selanjutnya adalah mereka. Meski mereka tidak ikut campur ingin bertarung dengan lasmaya, bukan berarti mereka bebas dari ancamannya. Terlebih lagi, awalnya mereka berada di pihak Tristan dan menghalangi simo dan Namila pergi.
“Kalian mau ke mana?” Tanya Lasmaya berbalik melihat 5 Siswa yang berlari. Gadis ini tersenyum manis setelah mengatakannya, seolah dia sedang bercanda. Namun, siapa pun akan takut meski lasmaya berkata seperti itu, terlebih lagi dengan 5 Siswa bawahan Tristan.
Seketika 5 siswa terkejut. Dengan lutut dan kedua tangan bergetar, mereka berbalik. “A-ampun.” Ucap mereka seraya di dalam hati memohon ke selamat dari malaikat maut yang tengah terbang di depannya.
“ampuni kami.” Ujar mereka beberapa kali Seraya berlutut. Di antara mereka ada yang menangis. Ada juga yang mengompol karena ketakutan. Suara mereka sangat lirih dan ketakutan
Lasmaya ingin membunuh lagi, maka dari itu dia menoleh memandang simo, memberi isyarat apa dirinya boleh membunuh siswa di depannya sekarang. Akan tetapi, simo menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak membolehkannya. Melihat wajah simo, seketika lasmaya jadi kesal, terlihat jelas di wajahnya. jika saja ibunya tidak memerintahkannya untuk menghormati simo, maka dia pasti akan membunuh mereka tanpa tersisa. Dan jika saja simo tidak menolongnya, mungkin saja dia tidak akan mendengarkannya.
Namun, terlepas dari itu, dia bersyukur di selamatkan oleh simo. oleh karena itu, meski kesal, dia harus tetap menghormatinya
“pergilah,” kata lasmaya kesal.
“Terima kasih, Terima kasih, terima kasih,” ujar mereka serentak, lalu lari terbirit-birit.
Setelah mereka pergi, Lasmaya terbang ke arah simo dan namila berada.
“ada yang kakak inginkan dariku lagi?” katanya dengan lembut seolah rasa kesalnya telah hilang sekejap. Memang begitulah kenyataannya. Meski lasmaya kesal, saat melihat wajah simo, entah mengapa rasa kesalnya menghilang seketika, dan di gantikan dengan rasa ceria.
“Tidak. Terima kasih kau telah melakukannya.” Kata simo seraya menyentuh kepala Lasmaya dan mengucek rambutnya yang hitam itu.
Lasmaya Tertawa kecil, lalu berkata, “Jika ada apa-apa, lain kali kakak panggil aku lagi, aku pasti akan datang.”
Simo menarik tangannya lalu tersenyum, kemudian berkata, “baiklah. Kakak akan memanggilmu nanti. Kau pergilah sekarang.”
“baiklah.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Lasmaya di selubungi cahaya putih lalu tersenyum sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
“simo, kita harus pergi dari sini,” kata Namila takut dan khawatir karena telah membunuh seseorang di sini, ditambah itu anak jendral Theo yang tentu saja akan balas dendam.
Simo menepis tangan namila dengan lembut. “kau tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Katakan saja, dia yang ingin menjinakkannya.”
“Tapi, ini masih berhubungan denganmu. Bagaimana kalau 5 siswa itu mengatakan kau yang membunuhnya? Dan Lasmaya adalah bawahanmu, kau tidak akan bisa mengelaknya. Di Tambah, bukan mereka saja yang melihatnya.” Namila menyarankan.
“Aku tau. Biarkan mereka melaporkannya. Jika tidak ada bukti, aku akan baik-baik saja. Ayo pergi.” Simo menarik tangan namila dan mengajaknya pergi.
Namila terlihat takut dan khawatir dengan simo, bagaimana tidak. Jenderal Theo pasti akan mendatangi mereka dan meminta penjelasan. Jendral theo sendiri, bukan orang baik, jadi tentu saja jika tidak memilih bertarung pasti hukum berat yang akan menanti mereka. Terakhir, bila anaknya mati tentu saja dia tidak akan tinggal diam.
‘apa yang akan kau lakukan, simo,” batinnya seraya memandang punggung simo yang sedang berjalan.
Sementara itu, dari balik jendela hoshi tersenyum. Dia berada dari sana sejak Tristan datang, dan tanpa sengaja melihat peristiwa besar seperti itu terjadi di akademinya. Dia tidak marah ataupun ingin menghukum simo. Sebaliknya dia senang dan memujinya, dia tahu mengapa simo melakukan itu, dan mengapa juga Tristan harus berakhir mengenaskan seperti itu. Jika bukan karena kesombongannya dan keserakahannya, tentu hal ini tidak akan terjadi. Dan tentu saja peristiwa seperti itu tidak terjadi.
Namun, Tristan teralu sombong dan meninggikan dirinya sendiri, dia tidak sadar, jika di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah.
Untuk simo sendiri, jika bukan memujinya, lalu apa lagi? Dia memuji simo, karena kecerdikannya dan kehebatan dalam mendapatkan teman seperti itu, apalagi jika itu seorang monster, tentu saja hal ini sangat mengejutkan, terlebih lagi dia masih muda. Di tambah dia berani membunuh Tristan untuk membalas dendam yang telah lama terjadi.
Pemberontakan itu adalah kecerobohan terbesar baginya. Meski begitu, dia dapat mengetahui beberapa hal mengenai kaisar galen dan beberapa antek-antek, termasuk theo.
...****************...
Sementara itu, klarika mengambil sebuah buku. Membukanya, lalu membacanya. Setelah mengamati Talina, dia jadi penasaran elemen apa sebenarnya yang di keluarkan Talina. Walau Dia tahu ada beberapa jenis elemen di dunia ini, Tapi yang paling dia ketahui hannyalah elemen alam.
Bahkan saking penasarannya, dia memilih meninggalkan tempat ujian demi mendapatkan sebuah jawaban.
Setelah membuka beberapa halaman dari buku itu, klarika kembali menaruhnya. Waktu terus berlalu. Beberapa kali Klarika membuka buku, Namun, dia belum menemukannya.
Setelah beberapa saat, terlintas di pikirannya, kenapa tidak menanyakannya langsung kepada talina? Tanpa berpikir panjang, klarika langsung mencari talina, dan menemukan sedang makan di kantin.
__ADS_1
Maksud klarika menemui talina, itu tidak lain karena ingin mendapatkan beberapa informasi mengenai dirinya
Klarika langsung ingin menghampirinya, akan tetapi ada pembicaraan yang merenggut perhatiannya.
“sayang sekali, Tristan mati seperti itu. Padahal dia salah satu siswa jenius yang memiliki segudang potensi di masa depan,” ucap Salah satu Siswa yang sedang makan.
Mati? Siapa yang membunuhnya? Muncul rasa penasaran di dalam hati klarika. Dia memutuskan untuk diam sejenak.
“Biarkan saja dia mati. Dia terlalu sombong dan meremehkan lawannya. Walau lawannya tersebut anak kecil, ternyata anak itu tidak lebih seekor monster.”
“Apa Jendral theo akan membunuhnya?”
“Tentu saja, siapa yang akan diam saja saat anaknya terbunuh dengan tragis.”
“apa kalian tahu siapa yang kalian bicarakan?” klarika bertanya kepada dua siswa yang sedang bercakap-cakap itu.
Melihat klarika, Mendadak membuat dua Siswa itu terkejut, tanpa sadar berdiri. “b-bu Klarika.”
“Katakan siapa yang kalian bicarakan?”
Setelah itu dua siswa itu menceritakan semuanya dengan rinci dan jujur.
“kami tidak tahu siapa gadis cantik dengan sayap kupu-kupu itu. Jika ibu menginginkannya, ibu bisa mencari informasinya kepada dua orang yang melihatnya secara langsung. Kami hanya melihatnya dari jauh, sehingga tidak tahu. Satu orang laki-laki dengan rambut pirang kuning kebiruan dan satunya lagi seorang Gadis cantik rambut panjang terurai.”
Mendengar itu, Klarika diam sejenak, menelusuri Ingatannya. Setelah beberapa saat, dia mengucap syukur terima kasih. Kini dia akhirnya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Dia memutuskan untuk pergi ke taman belakang, melihat apa yang dikatakan dua Siswa itu benar atau tidak.
Sebelumnya, memang dia menyadari ada aura yang kuat, tapi dia tidak mempedulikannya, karena terlalu fokus dengan tujuannya.
Saat tiba, tempat itu sudah ramai di penuhi orang-orang yang ingin melihatnya secara langsung.
Semuanya terlihat kagum dan heran. Tentu saja, kejadian ini sangat mendadak dan mengerikan.
__ADS_1
“Apa kalian mengetahui sesuatu?” Tanya klarika kepada hendry dan kai yang sedang mengamati lubang itu.
Baik kai maupun herdry menggelengkan kepalanya.