
Setelah kejadian yang merugikan itu terjadi, sang Kaisar datang ke akademi untuk melihat semua yang telah terjadi. Saat tiba, Betapa terkejutnya dia melihat bangunan hancur berantakan. Lubang besar terbentuk di tanah. Tentu saja sikap itu di buat-buat olehnya karena dia sudah mengetahui semua yang terjadi, hanya saja secara diam-diam.
Dengan pengawalnya, dia bertemu dengan pihak akademi dan menyatakan turut prihatin dengan semua kerugian yang terjadi. Demi menegakkan keadilan, sang Kaisar akan memberikan dana untuk membangun semuanya kembali normal, dan akan memberikan bantuan bagi pihak yang terluka. Selain karena bertanggung jawab karena Jenderalnya, dia juga berkewajiban untuk membangun itu semua karena merupakan induk dari orang-orang kuat di kekaisaran.
Meski di daerah tempat lain ada, akademi gunung salju adalah tempat terbaik untuk pendidikan.
“Aku juga akan memburu tiga kelompok pembunuh itu dan tidak akan berhenti sebelum mereka membayar semua yang telah mereka perbuat, ” katanya kepada Hoshi dan beberapa wali kelas di sebuah ruangan lalu pergi meninggalkan mereka. Yang kaisar maksud tidak lain nayaka, dara dan rani.
Dan dapat di pastikan dia tidak akan bersungguh-sungguh melakukannya, walaupun di wajahnya terlihat keseriusan dan rasa prihatin yang tinggi. Bisa di bilang kaisar ahli dalam berakting.
Tentu saja Hoshi dan Klarika tahu, jika semua yang telah terjadi ada hubungannya dengan kaisar, namun mereka tidak memperlihatkan, dan menerimanya dengan pura-pura.
Setelah pergi dari sana, kaisar memerintahkan beberapa prajurit untuk menyelidiki gedung tua yang ada di hutan, tapi bukan untuk kebaikan, melainkan untuk mencari apakah masih ada beberapa orang hasil penelitiannya di sana. Namun sayang sekali, hasil penelitiannya tidak ada di sana. Meski begitu pencarian terus di lakukan karena ada beberapa orang kuat yang harus dia dapatkan seperti Azka dan yang lainnya.
Lalu di lain sisi, setelah simo pulih, dia akhirnya kembali beraktivitas seperti biasa, akan tetapi dia tidak melakukannya. Sebab, dia harus mencari namila kekasihnya yang entah di mana.
Walaupun aoba menyarankan untuk tidak melakukannya karena tidak ada petunjuk, simo tidak mempedulikannya, rasa takut, cemas menguasai dirinya. Di pagi hari yang cerah ini dia berencana akan berangkat.
Namun, ketika hendak menggunakan teknik lauthing linght, seseorang memanggil dari belakang.
“ayah! Ayah mau ke mana? Kenapa tidak mengajakku!” Azka kecil berlari dan memeluk kaki simo.
Simo hanya bisa tersenyum getir melihat ini dan merasa malu jika di panggil ayah. Dia sudah berjuang beberapa hari untuk menyuruh tidak memanggilnya ayah akan tetap semuanya tidak membuahkan hasil, Azka kecil tetap memanggilnya ayah dan tetap selalu memanggilnya begitu.
Selama berada di rumah sakit, Azka kecil sangat perhatian kepada simo. Setiap hari, dia akan selalu melayani simo makan. Dia juga selalu siap melayani simo, meski tubuhnya kecil.
Simo yang melihatnya merasa keheranan, mengapa Azka Melayaninya seperti itu? Hingga akhirnya dia mengerti, Azka di depannya bukan Azka dewasa yang dia kenal, tapi Azka yang baru lahir dan masih polos. Namun terlepas dari itu, mengapa Azka kecil memanggilnya ayah?
Itu tidak bisa di Jawab, hanya waktu saja yang bisa menjawabnya.
Selain itu, simo juga memberi nama baru kepada gadis itu. Dia memberi nama Safia. Jika simo bertanya apakah dia menyukainya, maka Azka kecil akan menjawab, “iya! Aku menyukainya, nama itu sangat bagus. Terima kasih ayah!”
“Ayah akan pergi sebentar, ada sesuatu penting yang harus ayah lakukan.” Rasanya untuk pertama kali memanggil dirinya ayah, adalah hal yang sangat aneh. Apalagi jika orang lain mendengarnya mengatakan itu, maka orang itu pasti akan terkejut melihat simo yang berusia 16 tahun sudah mempunya anak, apalagi sudah berumur 6 tahun dan sangat cantik.
__ADS_1
Safia kini memakai rok merah muda dengan rambut di ikat kuncir kuda yang lembut. Kedua mata bercahaya. poninya sangat indah dan lembut, jika orang melihatnya, maka akan tidak tahan untuk menyentuhnya. Di tambah kulitnya yang lembut, putih dan kenyal membuat siapa saja ingin menciumnya.
“ayah, aku ikut...” Safia memeluk kaki simo dan menengadah. Kedua matanya bercahaya seolah ingin sekali pergi bersamanya.
Melihat itu, simo menghela nafas dan berkata, “baiklah, tapi jangan nakal-nakal.”
“iya! Safia tidak akan nakal.” Simo menggandeng tangan Safia kecil. Dia dapat merasakan kelembutan dari tangan gadis itu. “ayah! Ke mana kita akan pergi?”
“kita akan jalan-jalan.”
“Ini pasti akan asyik! Aku tidak sabar ingin merasakannya.”
Meski ini akan berbahaya, simo tidak boleh membiarkan Safia di rumah sendirian, dia takut orang Kaisar Galen akan menculiknya dan melakukan penelitiannya lagi. Dia juga akan berusaha menjaga jarak yang sangat jauh dari tempat yang akan dia kunjungi.
Tempat itu tidak lain adalah gedung penelitian itu! Dia ingin melihat apakah semua tahanan sudah kabur atau masih di sana. Selain itu, dia juga ingin mencari namila. Jika memang Namila sudah mati seharusnya dia menemukan mayatnya atau petunjuk lain.
Tapi semoga saja dia tidak menemukannya, karena itu akan membuatnya sedih.
Sembari memikirkan ini, ekspresi simo redup seolah telah kehilangan cahaya di dalam hidupnya. Tapi, memang begitulah. Namila adalah seorang yang sangat dia sayangi dan sangat dia lindungi.
“tidak, kita akan menelusuri hutan, moga-moga kau menikmatinya.”
“tentu saja ayah! Aku suka hutan, aku ingin mendapatkan kupu-kupu dan kunang-kunang, dan belalang!”
“ayah akan berusaha mendapatkannya.”
“Kau tidak bisa ke mana-mana!” klarika tiba-tiba berada di depan simo.
Simo dan Safia terkejut dan berhenti.
“Kau harus mengatakan semua yang kau alami Ibu, ingin mengetahui semuanya.”
Simo mulai teringat dengan ucapan klarika sebelumnya. Jika Klarika tidak muncul, dia pasti sudah pergi dan melupakannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, ekspresi Safia menjadi marah, dia cepat-cepat berdiri di depan simo dan mengeluarkan aura dingin yang mencekam.
Aura itu seketika membuat klarika terkejut. Dia lalu memandang gadis kecil di depannya.
“Jika kau ingin melukai ayah! Kau harus melangkahiku dulu!” di tangan kana Safia muncul pedang es hijau. Dari bilah-bilah muncul asap kecil yang menandakan pedang itu sangat dingin.
“Simo... Dia...”
Melihat keterkejutan klarika, simo menghela nafas dan menjawab, “aku tidak mengetahuinya, dia tiba-tiba saja muncul di hidupku dan memanggilku ayah. Ikuti saja apa yang dia katakan.”
Klarika memandang lekat-lekat Safia yang memperlihatkan sikap protektifnya. Dia penasaran bagaimana bisa gadis kecil di depannya bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu.
Saat tengah memikirkannya, tiba-tiba Safia berkata, “jika tidak ada yang bibi inginkan, aku dan ayah akan pergi. Tolong jangan ganggu kami.”
Mendengar itu Klarika tersenyum, dan berkata, “ah tidak, bibi hanya ada urusan sebentar dengan ayahmu, apa cantik mengizinkannya?”
“tidak!” Safia menggandeng tangan simo. Simo hanya bisa memandangnya. “aku dan ayah sibuk hari ini, tolong bibi datang lain waktu.”
“hanya seben–”
“Tidak! Aku tidak ada waktu untuk hal seperti itu! Jika bibi tidak hengkang dari sini, jangan salahkan aku jika berbuat kasar.”
“kau!” tiba-tiba klarika menjadi marah, namun setelah itu, dia berusaha mengendalikan dirinya. Bagaimana pun juga di depannya adalah seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa, berdebat dengannya hanya membuatnya tampak konyol.
Dengan terpaksa, klarika membiarkan simo pergi, namun dia mengatakan akan kembali setelah itu.
Setelah itu, simo dan Safia berjalan-jalan ke dalam hutan tanpa hambatan.
“Safia, apa ayah bisa menggendongmu?”
“tentu saja! Aku sangat menyukainya.”
“baiklah.”
__ADS_1
Simo mengangkat tubuh Safia dan mengendongnya di depan. Dia ingin bergerak cepat untuk tiba di tujuan.