
Simo menikmati Ucapan pembukaan ibunya. Setelah pembukaan selesai dira maju ke depan. Kemudian salah seorang pelayan mendatanginya. Dia membungkuk sambil menyerahkan seikat bunga yang indah dan bermacam-macam. Dira mengangguk kepada pelayan itu kemudian melangkah maju.
Semuanya ikut berdiri dan memberi hormat. Dira dengan anggun berjalan menuju pintu keluar bersama lestari di sampingnya. Dia akan pergi ke pemakaman sang raja, memberikan persembahan. Tapi sebelum itu, dia akan berjalan memutari istana.
Semua orang mengikuti Dira dari belakang. Di antara orang-orang, simo berjalan seraya menggendong Safia. Gadis itu sangat gembira melihat hal-hal seperti ini. Terlihat jelas wajahnya sangat berkilauan dan terang, seolah matahari berada pada tubuhnya.
Ketika Dira keluar, berbagai musik terdengar. Ada yang memainkan drum, trompet. Dan tari-tarian. Suasana sangat meriah dan penuh warna-warni.
Dira berjalan di tengah suara drum di kanan dan trompet di kiri. Dia memegang serikat bunga di depan dadanya. Dan menatap arah depan. Berjalan dengan anggun.
Maka dimulailah acaranya seperti parade. Setelah memutari istana, dia kemudian berjalan menuju pemakaman. Semua orang melempar- lempar bunga ketika arak-arakan berjalan di tengah kota. Beberapa juga memainkan alat musik untuk meriahkan suasana. Suasana sangat meriah. Bagaimana pun juga raja terdahulu adalah raja yang membangun kerajaan radia dan berperan besar dalam kemajuan kerajaan. Oleh karena itu dia pantas mendapatkannya.
Selain itu, raja yang sebelumnya juga akan di hormati, namun tentunya raja pertamalah yang paling di hormati. Saat ini sudah ada 3 raja dan satu ratu memerintah. Semua berperan besar dalam kerajaan Radia.
Selain memeriahkan, para penduduk juga ikut pergi ke kuburan demi mendoakan para raja agar bahagia di alam lain.
Beberapa jam berlalu, akhirnya dira tiba di pemakaman. Setelah dia meletakkan bunga dan berdoa, tiba-tiba seekor burung menjatuhkan gulungan tepat di depannya.
Karena penasaran dia mengambilnya, kemudian setelah membacanya, alisnya terajut. Ekspresinya lebih tajam, seolah sedang melihat musuh di depannya.
Dia berbalik dan menyerahkan semuanya kepada lestari kemudian pergi dari sana tanpa sepatah kata apa pun.
Lestari ingin menghentikannya, akan tetapi Dira menghilang dengan cepat.
Semua orang mulai bergumam apa yang terjadi. Keributan pun pecah. Lestari terlihat heran dengan apa yang terjadi. Tetapi dia yakin pasti ada sesuatu yang mendesak dan berbahaya.
Karena ini adalah upacara penghormatan, dia tentu harus melanjutkannya. Setelah selesai berdoa, dia kemudian pergi ke makam berikutnya.
Simo mengerti apa yang terjadi, walaupun sepenuhnya dia tidak mengetahui apa yang terjadi. Simo ingin mengejar Ibunya, tetapi dia tidak tahu di mana ibunya pergi.
Semua orang menutup mata dan mendoakan roh raja semoga bahagia di alam lain, namun tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dari langit. Suaranya bergema di sekitar, membuat semua orang terkejut dan menoleh ke sumber suara.
Seorang pria paru baya melayang di udara. Dia memiliki kumis dan jenggot yang panjang. Rambut panjangnya berterbangan karena angin.
Semuanya mulai mempertanyakan siapa orang yang melayang itu.
Lestari memicingkan matanya, berusaha melihat wajah pria tersebut. Setelah mengetahuinya, dia terkejut, karena dia adalah salah satu penjahat yang melarikan diri dari penangkapan.
Beberapa orang yang memiliki energi alam kecil ingin melompat, akan tetapi muncul perisai seperti kubah mengelilingi mereka. Beberapa orang yang ada di pinggir langsung melompat-lompat keluar. Di antaranya ada simo dan Putri Naria.
__ADS_1
Perisai merah mengurung ratusan orang di dalam.
Orang yang memiliki energi alam kecil langsung mengeluarkan energi alam dan elemennya, namun sayang sekali, energi mereka terkuras dan melemah. Mereka yang ada di dalam perlahan-lahan ambruk dan tidak sadarkan diri. Sementara di luar, orang-orang yang selamat hanya orang-orang biasa, mereka hanya bisa berlari ketakutan kecuali simo dan putri Naria.
Setelah menurunkan Safia, Simo mengambil pedang dan menariknya. Dia menduga ibunya pergi pasti ada hubungannya dengan pria paru baya yang ada di atas. Simo merasakan kekuatan pria itu berada di tingkat alam tahap menengah, setidaknya dengan berusaha dia bisa mengalahkannya.
Ketika simo hendak melompat tiba-tiba tanah di bawahnya bergetar dan terbelah. Simo langsung menyelamatkan Safia dengan melemparkannya, akan tetapi sayang sekali dia sendiri tidak terselamatkan. Beberapa orang juga masuk ke dalam, di antaranya ada putri daria.
Safia berteriak memanggil ayahnya. Setelah tanah tertutup, dia berdiri dan memandang tajam ke arah pria paru baya itu, lalu berkata, “kau! Kembalikan ayahku!
“Hahaha! Tidak semudah itu gadis kecil!” pria itu menyeringai dan tersenyum. Tentu saja dia merasakan kekuatan simo, sehingga membuatnya tertelan tanah. Jika tidak dia tidak perlu melakukan hal itu.
Mengurung dan membuat para penduduk lemah adalah salah satu rencana yang mereka siapkan jika terjadi kenapa-kenapa dengan Benito.
Namun tentunya apa yang di lakukan mereka menghabiskan energi alam kecil yang sangat banyak, perlu 10 orang yang memiliki elemen yang kuat untuk melakukan ini. Mereka ada di tempat lain dengan pria itu sebagai wadah kekuatan.
“cepat kembali, kan!” kedua tangan Safia mengepal kuat. Ekspresi penuh marah sangat jelas terlihat, meskipun berada sangat jauh dari pria itu.
“Adik kecil! Bagaimana kalau kau pergi ke surga saja! Hahaha!”
Pria itu hendak menjentikkan jarinya, namun dia di kejutkan dengan serpihan-serpihan es yang mengelilingi Safia. Kemudian dengan bangga dia berkata, “hahaha! Aku mendapatkan sesuatu yang berharga!”
Setelah di lahap dari tanah tersebut, simo tersadar di sebuah gua yang gelap. Dengan kekuatan apinya dia lalu melihat-lihat sekeliling. Dia kemudian menyentuh dinding gua dan merasakan getaran.
Simo menghela nafas karena tidak merasakan adanya getaran, sehingga dapat di simpulkan, dia berada sangat dalam.
Setelah mengambil pedangnya, Simo mulai berjalan. Setelah berjalan beberapa meter, ada dua jalan; yang satu lurus dan satunya lagi melengkung. Simo memilih yang lurus karena merasakan suara dari sana. Dia menduga itu adalah orang lain.
4 menit pun berlalu, dan benar saja, putri daria duduk di sebuah batu di dalam ruangan yang sedikit besar.
Karena mendengar suara langkah kaki, putri daria menoleh dan berkata, “kita bertemu lagi.” Wajahnya terlihat ceria dan berseri-seri.
Simo mengangguk kemudian berkata, “apa kau mendapatkan petunjuk untuk keluar dari sini?”
Dengan lemah putri Naria menggelengkan kepalanya. “bagaimana mungkin gadis sepertiku ini bisa menemukan petunjuk? Bahkan untuk berjalan beberapa meter saja, aku sudah ketakutan. Untungnya kau datang.” Putri Naria menuding gua yang gelap di arah lainnya.
Simo mengerti. Bagi Seorang putri sepertinya, wajar saja ketakutan di tempat seperti ini.
“Ayo ikut aku. Kita akan mencari jalan keluar bersama-sama.”
__ADS_1
Putri Naria mengangguk kemudian mengikuti simo.
10 menit pun berlalu, simo sudah berjalan 100 meter lebih. Namun dia belum bisa menemukan petunjuk keluar. Malahan ketika dia tiba di tempat yang agak besar, dia bertemu dengan seorang gadis yang tersenyum menyeringai. Sangat jelas dia memiliki niat jahat. Gadis itu berdiri di atas tebing.
Dia tertawa ketika melihat simo. Dengan nada sedikit sombong, dia berkata, “aku tidak menyangka, akan ada seorang pemuda berbakat seperti ini.”
“tapi sayang sekali, sungguh sayang sekali. Kau tidak bisa kembali hidup-hidup saat ini. Hahaha!”
Setelah dia mengatakan itu, tanah di sekitar mulai bergetar, menyebabkan beberapa batu-batu gua berjatuhan. 5 detik kemudian beberapa lantai gua retak, dan dari sana muncul beberapa golem tanah yang memiliki besar sama dengan gorila. Mereka juga sama persis dengan gorila, hanya saja memiliki tangan-tangan panjang dan besar.
Di bandingkan dengan sebelumnya, putri Naria tidak terlihat takut dengan golem- golem tersebut. Dia hanya memperlihatkan ekspresi dingin di wajahnya dan memandang tajam ke arah para golem tersebut.
5 golem itu mulai berjalan ke arah simo, membuat tanah-tanah dan Bebatuan bergetar di sekitar.
Melihat golem-golem itu mulai maju, wanita itu tertawa dan berkata, “nikmatikah mangsa kalian!” dan dalam sekejap mata dia menghilang kemudian menyatu dengan tanah.
Simo mengambil pedang di punggungnya. Dia kemudian menarik dan melepaskan perban yang menahan kekuatan pedangnya.
Ketika putri Naria melihat ini, dia merasakan perasaan yang sangat familiar dengan pedang itu, Namun dia tentunya tidak tahu, apakah itu karena dia menyukai pedang seperti itu. Menyukainya karena tunangannya memilikinya, atau karena dia sering kali melihatnya.
Simo memegang pedang dengan erat. Dia kemudian mengalirkan api birunya ke bilah pedang, menyebabkan peda itu seperti terbakar. Tapi anehnya tidak meleleh sama sekali, meski dengan suhu yang sangat panas seperti itu.
Dalam sekejap mata dengan teknik lauthing linght, dia menebas para Golem itu. Dia menebas lehernya satu persatu. Ketika melakukan tebasan, api meledak dan membakar para Golem dan membakarnya hingga tidak tersisa.
Putri Naria hanya bisa diam menatap semua itu. Dia tidak menyangka pemuda di depannya bisa membunuh dan menghancurkan para golem itu dengan mudah dan tanpa menyisakan apa pun.
Jika dirinya bertemu dengan para Golem tersebut, dia belum tentu bisa melakukannya. Hanya berlari yang ada di dalam pikirannya jika di hadapkan dengan hal seperti itu.
Setelah satu menit berlangsung, akhirnya simo berhasil menyelesaikan 5 golem itu. Dia mengerutkan kening karena heran, mengapa gadis itu mengeluarkan teknik lemah seperti itu. Jika dia tidak mengetahui simo, tentu saja itu sulit, karena dia mendengar gadis itu mengatakan berbakat kepada dirinya.
Simo memilih tidak memikirkannya, sebab, cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya. Simo kemudian mendekati putri Naria dan mengajaknya pergi ke atas.
Ketika simo hendak pergi, putri Naria menarik bajunya. Dengan wajah memerah, dia berkata, “a-aku tidak bisa melakukan itu. Apa kau bisa membawaku ke atas?”
Simo mengangguk ragu-ragu. Dia kemudian membopongnya. Putri Naria hanya bisa diam dengan wajah merah. Tentu saja ini adalah hal yang memalukan, apalagi jika meminta bantuan dengan orang yang baru dia kenal, bahkan namanya pun belum dia ketahui.
Tetapi, terlepas dari itu, dia merasa nyaman ketika simo membawanya ke atas. Namun itu hanya sekejap sebelum akhirnya simo menurunkannya.
Putri Naria dengan wajah memerah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Simo mengangguk dan mulai berjalan di ikuti putri Naria di belakangnya