Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 15 bola angin


__ADS_3

7 pedang itu kemudian melayang-layang di belakang Amara, layaknya seperti burung yang di kendalikan oleh satu pikiran.


Ini adalah salah satu hal yang bisa di lakukan seseorang pengendali angin. Amara mengendalikan tuju pedang dan kipasnya dengan angin. Semua pengendali angin sama persis, tapi dengan senjata mereka, mereka terlihat berbeda-beda, dan tergantung dari seberapa besar pengendaliannya.


Selain itu, ada juga yang memiliki api yang berbeda. Dari warnanya, teknik yang di pakai, dan hal-hal lainnya, yang membuat mereka unik.


Kipas itu melayang, lalu melesat ke arah joshu dengan cepat.


Joshu melompat, menghindarinya. Namun dia tidak bisa melanjutkannya lagi, karena kipas itu menghentikannya dan menyerangnya.


Kipas itu berusaha menyerang Joshu dari segala arah, yang membuatnya terhenti dan berusaha menghindarinya.


Namun, langkah itu tidak efektif di lakukan. Oleh karena itu, joshu memutuskan menyerangnya. Walau dia tahu mungkin saja kekuatannya tidak bisa menghancurkannya, dia ingin mencobanya sekali lagi.


Kali ini bukan menyerang bagian tengah kipas, tapi ujungnya.


Setelah beberapa menit mencari kesempatan, akhirnya joshu mampu melompat tinggi. Dia lalu mengangkat pedangnya dengan tinggi. Seraya meraung, dia menebaskan dengan keras, akan tetapi serangannya masih tidak mempan.


‘terbuat dari apa kipas ini? Dan mengapa bisa sebesar ini?’ pertanyaan itu muncul dalam pikiran joshu. Baginya kipas bisa membesar, itu terlalu aneh, apalagi kipas di depannya sekarang ini, sulit di kalahkan.


Seraya berusaha menghancurkan kipas yang mengincarnya, joshu memikirkan cara menghancurkannya.


Di lain sisi, Amara tetap tenang dan mulai kelihatan kesal dengan adegan di depannya.


“Huh... ayah kau telah menyiksaku!”


Karena tidak ingin berlama-lama menonton, akhirnya tuju pedang itu melayang ke arah joshu. Walau ini akan menghabiskan energinya, dia tidak memedulikannya. Terlebih lagi dia ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat, dan pergi dari sini secepatnya yang dia bisa.


Melihat tuju pedang itu, ekspresi joshu meningkat dua kali lipat.


‘karena kau yang memaksa ku, aku tidak ada pilihan lain’


Angin terhempas dari dalam tubuh Joshu. Kecepatan joshu berangsur-angsur mencepat.


Tanpa banyak berpikir, dia langsung menyerang kipas dan tuju pedang itu dengan tebasan angin.


Semua orang terkejut dan kagum, tapi bukan karena kekuatan joshu atau kipasnya. Melainkan karena ini adalah pertama kalinya ada seseorang bertarung dengan elemen yang sama.


Tapi bukan berarti mereka seimbang. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan, lalu beberapa teknik yang bisa mereka kuasai untuk memenangkan pertarungan.

__ADS_1


Selain itu, tingkat juga mempengaruhi jalannya pertarungan. Jika seseorang bertarung dengan musuh yang berada di atas satu tingkat, dapat di pastikan yang berada di atas satu tingkat itu lebih kuat. Namun, tidak hanya kekuatan saja yang di perlukan. Teknik, strategi, dan mampu mengendalikan jalannya pertarungan yang akan menang, meski lawan lebih kuat.


Joshu terus mengayunkan pedangnya untuk menciptakan tebasan-tebasan angin, tapi hal itu lagi-lagi tidak memberikan dampak signifikan terhadap senjata Amara.


Hingga tebasan ke dua puluh, dia berhenti dan menargetkan Amara. Dia mengetahui bukan tuju pedang dan kipas itu harus dihancurkan atau di jinakkan, melainkan Amara. Oleh karena itu, dia mulai merencanakan menyerang Amara. Dengan begitu kemenangan sudah pasti di pihaknya.


Menyeimbangkan tubuhnya, joshu melompat ke belakang, 30 langkah dari kipas dan pedang itu. Lalu tangan kirinya di arahkan. Sebuah semburan angin mengalir dari telapak tangan joshu. Membuat laju senjata Amara terhambat dan akhirnya berhenti.


Setelah 3 tarikan nafas,. Akhirnya semburan angin berhenti dan membentuk pusaran, yang mengelilingi kipas dan pedang Amara.


“kau tidak akan bisa menghentikan senjata ku seperti itu!” Amara kemudian mengarahkan kedua tangan ke arah senjatanya, lalu dengan keras berkata, “kemarilah, senjataku!”


Kipas dan pedang Amara bergetar tiba-tiba, kemudian berusaha menghancurkan dinding angin yang mengurungnya.


Di saat bersamaan, joshu bergerak cepat, berusaha menyerang Amara selagi senjatanya di kurung.


Beberapa meter dari Amara, joshu melompat, lalu melontarkan beberapa tebasan angin secara bersamaan.


Amara tersenyum, lalu mengarahkan salah satu tangannya ke arah tebasan itu.


Namun serangan itu adalah langkah pertama joshu. Dalam sekejap mata, joshu berada di belakang Amara. Dia tersenyum dan mengayunkan pedangnya.


Wuss...!


Angin seperti tornado keluar dari kedua telapak tangan Amara, yang membuat gerakan Joshu melambat dan begitu pun dengan serangannya.


“Aku masih bisa mengatasinya.” Ujar Amara lalu tersenyum.


Setelah beberapa saat menahan, Amara melompat ke belakang dan membiarkan joshu bertabrakan dengan serangannya. Ini adalah langkah yang bijak.


Namun joshu dengan cepat mengeluarkan tebasan angin untuk melawan serangannya itu. Lalu melompat menyerang Amara dengan mengangkat Pedang dengan tinggi.


Trangkk!!!


Sial bagi Joshu kipas besar itu muncul di saat bersamaan, membendung serangan Joshu.


Mau tidak mau joshu harus mundur.


“Chih, hampir saja.” Gumamnya geram. Sedikit saja lagi mungkin saja joshu yang akan keluar menjadi pemenangnya.

__ADS_1


Joshu lagi-lagi berlari dan mulai mempersiapkan serangannya. Kipas itu lagi-lagi mulai bergerak menyerang joshu.


Saat berada di depan kipas, joshu melompat, menginjak kipas itu lalu melempar pedangnya. Pedangnya berputar-putar. Walau kecepatannya tinggi, itu tidak berpengaruh terhadap Amara. Dia dengan cepat memiringkan kepalanya. Namun serangan joshu tidak hanya itu saja. Seketika dia muncul di belakang Amara, lalu menangkap pedangnya, kemudian menebaskannya.


Trangkk!!!


Namun lagi-lagi keberuntungan masih berpihak kepada Amara, pedangnya dapat di tahan oleh pedang Amara.


Melihat itu, joshu dengan cepat menghindar dan mengayunkan pedangnya ke segala arah untuk mengalahkan pedang Amara.


Sementara Amara, dia dengan cepat menjaga jarak dari joshu dan mulai mengendalikan semua senjatanya untuk bertarung melawan joshu.


Percikan-percikan api terlihat, saat pertarungan 7 pedang dan kipas itu melawan pedang joshu. Itu terjadi beberapa menit sebelum akhirnya joshu memilih mundur lagi.


Kini nafasnya tersengal-sengal, keringat membasahi pakaiannya. Seraya menarik nafas, dia mulai memikirkan bagaimana caranya mengakhiri pertarungan ini.


Selain karena kekuatannya sudah terkuras, dia tidak bisa terus bertahan seperti ini. Maka dari itu, joshu hanya punya satu pilihan.


Memejamkan matanya, merasakan energi yang masih tersisa. Beberapa detik berlangsung, dia membuka matanya dan di saat bersamaan mengangkat kedua tangannya.


Angin mulai berputar-putar di telapak tangan, semakin lama semakin besar.


Melihat itu, Amara langsung mengarahkan senjatanya untuk menyerangnya. Dia khawatir joshu akan menggunakan teknik yang kuat. Meski dalam pengendalian senjata, Amara lebih mahir, tapi jika dalam teknik angin dia masih awam. Oleh karena itu, menghentikan serangan joshu adalah salah satu kuncinya untuk menang.


“kau tidak akan bisa menghentikan ku!” setelah mengatakan itu, joshu mengarahkan salah satu tangannya.


Seketika kipas dan 7 pedang itu berhenti. Itu adalah salah satu teknik terkuat yang di miliki Joshu. Menghentikan senjata Amara dengan mengurung dengan angin, membuat pergerakannya berhenti dan akhirnya berputar-putar di tempat.


Ekspresi takut mulai terlihat di wajah Amara. Dia berusaha menarik senjatanya, Namun teknik joshu begitu kuat.


Setelah beberapa saat pusaran itu akhirnya membentuk bola angin berukuran besar.


“sekarang terima ini!” ujar Joshu bersamaan mengayunkan tangannya, membiarkan bola angin itu melayang.


Saat di layangkan, angin bertiup kencang. Semua perhatian orang-orang meningkat , karena mungkin saja ini adalah akhir dari pertarungan yang panjang.


Melihat itu, kedua mata Amara membesar. Seraya di liputi rasa takut, dia berusaha menarik senjatanya dan membuat dinding pertahanan sebanyak mungkin yang dia bisa. Walau pertahanan anginnya lemah, dia yakin akan bisa menahan bola itu sebelum dia bisa menghindarinya.


Bomm!!!

__ADS_1


Tabrakan pun terjadi saat bola itu menghantam pertahanan Amara. Namun sayang pertahanan itu seketika hancur dan akhirnya meledak sebelum akhirnya Amara berhasil menghindar.


__ADS_2